Degil Zine

Setelah absen selama beberapa pekan dikarenakan penggalian parit bajingan yang engga kunjung selesai, Sabtu (20/1) kemarin, gigs bertajuk Teras Folk Night yang digagas oleh anak-anak Geng Cobra kembali diselenggarakan di Teras Benji Cafe, Jalan Sendok, No.11, Medan. Perhelatan yang kabarnya bakal rutin ini diselenggarakan dengan segala kesederhanaan dan kesahajaan para pelaku skena musik indie Medan. Sederhana? Betul! Sahaja? Betul lagi! Tak ada amplifier merek Orange, Marshall, atau Ampeg di sini; tak ada pencahayaan gegap gempita; kesenangan seronok yang tak jelas apa maksudnya, juga tak ada pundi-pundi uang yang berserakan di sana sini. Toh begitu, Teras Folk Night tetap mampu merangkum segala yang dibutuhkan oleh sebuah gigs dalam memanjakan pendengaran sekaligus penglihatan bagi para penikmatnya. Teras Folk Night dikerjakan dengan kesahajaan dan kesederhanaan anak-anak Geng Kobra. Silaturahmi antar para pelaku dan penikmat skena, itulah poin utama yang kami dapati ketika ikut datang menghadiri acara ini.

Foto: Koleksi Teras Benji

Selain tim Degilzine, terdapat pula kawan-kawan dari Medan Blues Society, Balada Kopi, Pitu Room, juga para muralis muda anarkis yang turut pula aktif dalam Perpustakaan Jalanan Medan. Jika kau datang kemarin, kami jamin kau tidak akan merasa asing atau diasingkan, atau pula dianggap sekadar tamu belaka. Semua saling sapa dengan hangat, antar para musisi maupun sekadar para penikmat skena (sungguh mati tak kami jumpai raut-raut poker-face di sini). Beberapa musisi indie yang pernah terjun di skena 2000-an juga tampak hadir seraya menggandeng anaknya masing-masing, menunjukkan tidak ada perbedaan kelas antara junior dan senior yang belakangan ini mulai marak kembali menghantui skena indie Medan.

Kesederhanaan Teras Folk Night malam itu dibuka dengan dahsyat oleh Jansen Ras Guru Patimpus, disusul oleh unit new indo-rock/rockabilly, Derau Serumpun dan solois Teo. Zal Puteh hadir selanjutnya; di sini ia seakan menepuk kepala kami, bagaimana seharusnya musik folk dikemas dan disajikan secara nge-folk (baca: merakyat). Kristian Glahita menyusul kemudian. Leo dan Rio, sebagai penutup line-up Folk Night, tampil sangat apik dalam menyajikan jazz back to the roads, seakan berniat untuk mengembalikan harkat musik jazz untuk kembali pulang ke ranahnya yang sesungguhnya: cafe-cafe sederhana yang jauh dari tetek bengek para pelayan rapi yang keringatnya habis diperas oleh para bos, di mana kemesraan dan keintiman malam menjadi buaian untuk membangkitkan kolektifisme, bukan malah dihadirkan secara glamor dan penuh dengan kesenjangan sosial (asyik!). Namun malam belum berakhir kawan-kawan. Anak-anak dari Medan Blues Society yang sedari awal hanya atang untuk menonton, mau tak mau terpancing juga gairahnya. Yah, inilah blues yang kami tahu dan kami setujui. Tak perlu latihan yang bagaimana, semuanya serba dadakan, soul yang saling bertaut, menyempurnakan perayaan malam itu terhadap apa yang dengan bangga terus-terusan kami sebut sebagai kesederhanaan dan kesahajaan skena indie. Ah, indahnya. Kami merasa dilontarkan jauh ke zaman di mana musik masih disajikan di pub-pub hanya untuk dinikmati, untuk saling mengobrol, saling bertatapmuka, saling bercanda, sebelum uang dan segala omong kosong modern age mengambil semua kesahajaan itu.

Tabik Mr. Benjito!

Leave a Comment

Baca Juga

Setelah absen selama beberapa pekan dikarenakan penggalian parit bajingan yang engga kunjung selesai, Sabtu (20/1) kemarin, gigs bertajuk Teras Folk Night yang digagas oleh anak-anak Geng Cobra kembali diselenggarakan di Teras Benji Cafe, Jalan Sendok, No.11, Medan. Perhelatan yang kabarnya bakal rutin ini diselenggarakan dengan segala kesederhanaan dan kesahajaan para pelaku skena musik indie Medan. Sederhana? Betul! Sahaja? Betul lagi! Tak ada amplifier merek Orange, Marshall, atau Ampeg di sini; tak ada pencahayaan gegap gempita; kesenangan seronok yang tak jelas apa maksudnya, juga tak ada pundi-pundi uang yang berserakan di sana sini. Toh begitu, Teras Folk Night tetap mampu merangkum segala yang dibutuhkan oleh sebuah gigs dalam memanjakan pendengaran sekaligus penglihatan bagi para penikmatnya. Teras Folk Night dikerjakan dengan kesahajaan dan kesederhanaan anak-anak Geng Kobra. Silaturahmi antar para pelaku dan penikmat skena, itulah poin utama yang kami dapati ketika ikut datang menghadiri acara ini.

Foto: Koleksi Teras Benji

Selain tim Degilzine, terdapat pula kawan-kawan dari Medan Blues Society, Balada Kopi, Pitu Room, juga para muralis muda anarkis yang turut pula aktif dalam Perpustakaan Jalanan Medan. Jika kau datang kemarin, kami jamin kau tidak akan merasa asing atau diasingkan, atau pula dianggap sekadar tamu belaka. Semua saling sapa dengan hangat, antar para musisi maupun sekadar para penikmat skena (sungguh mati tak kami jumpai raut-raut poker-face di sini). Beberapa musisi indie yang pernah terjun di skena 2000-an juga tampak hadir seraya menggandeng anaknya masing-masing, menunjukkan tidak ada perbedaan kelas antara junior dan senior yang belakangan ini mulai marak kembali menghantui skena indie Medan.

Kesederhanaan Teras Folk Night malam itu dibuka dengan dahsyat oleh Jansen Ras Guru Patimpus, disusul oleh unit new indo-rock/rockabilly, Derau Serumpun dan solois Teo. Zal Puteh hadir selanjutnya; di sini ia seakan menepuk kepala kami, bagaimana seharusnya musik folk dikemas dan disajikan secara nge-folk (baca: merakyat). Kristian Glahita menyusul kemudian. Leo dan Rio, sebagai penutup line-up Folk Night, tampil sangat apik dalam menyajikan jazz back to the roads, seakan berniat untuk mengembalikan harkat musik jazz untuk kembali pulang ke ranahnya yang sesungguhnya: cafe-cafe sederhana yang jauh dari tetek bengek para pelayan rapi yang keringatnya habis diperas oleh para bos, di mana kemesraan dan keintiman malam menjadi buaian untuk membangkitkan kolektifisme, bukan malah dihadirkan secara glamor dan penuh dengan kesenjangan sosial (asyik!). Namun malam belum berakhir kawan-kawan. Anak-anak dari Medan Blues Society yang sedari awal hanya atang untuk menonton, mau tak mau terpancing juga gairahnya. Yah, inilah blues yang kami tahu dan kami setujui. Tak perlu latihan yang bagaimana, semuanya serba dadakan, soul yang saling bertaut, menyempurnakan perayaan malam itu terhadap apa yang dengan bangga terus-terusan kami sebut sebagai kesederhanaan dan kesahajaan skena indie. Ah, indahnya. Kami merasa dilontarkan jauh ke zaman di mana musik masih disajikan di pub-pub hanya untuk dinikmati, untuk saling mengobrol, saling bertatapmuka, saling bercanda, sebelum uang dan segala omong kosong modern age mengambil semua kesahajaan itu.

Tabik Mr. Benjito!

Leave a Comment

Baca Juga