Degil Zine

Sore yang cerah di kota New York, 1939. Seorang mahasiswa parlente dari kelas menulis kreatif Universitas Colombia, mendapati dosennya sedang bersantai di Greenwich Village's Cafe. Dengan pongah ia masuk dan menegur sang dosen. Membuka percakapan dengan sarkasme akut khas pemuda Amerika, sebelum akhirnya sang dosen berkata dingin:

"Dengar. Kau ini bukan orang sok pintar pertama yang pernah belajar denganku. Kau menentang orang yang memiliki wewenang sepertiku karena perasaanmu tertekan saat kau ada di rumah. Dan kau juga berpikir bahwa kau orang tercerdas yang ada di muka bumi, tapi sayangnya tak ada yang menyadari betapa jeniusnya dirimu." Kata-kata si Dosen yang tak kalah sarkas itu membuat si pemuda tertegun, refleks sadar bahwa ia bukan orang yang spesial.

Potongan cerita di atas adalah salah satu scene paling menarik yang ada di film Rebel in the Rye. JD Salinger, sang pemuda (diperankan oleh Nicholas Hoult), kelak akan dikenal sebagai salah satu penulis paling berbahaya yang pernah dimiliki oleh Amerika Serikat. Jika anda belum tahu siapa itu J.D Salinger, saya sarankan anda tidak coba-coba untuk menggugling namanya, agar kenikmatan anda dalam menonton film ini tidak terganggu. Satu hal yang mungkin perlu dibocorkan mengenainya adalah, J.D Salinger adalah penulis novel Catcher in The Rye, salah satu novel paling "berbahaya" yang pernah lahir di dunia. Paling tidak, tercatat ada tiga pembunuhan yang membawa-bawa Catcher in the Rye sebagai penyebabnya. Dan yang paling dikenang dunia tentunya adalah kasus yang menimpa Jhon Lennon pada 8 Desember 1980. Lennon tewas dengan empat peluru bersarang di punggungnya yang ditembakkan oleh Mark David Chapman. Pada wartawan, Chapman mengaku terobsesi dengan tokoh utama, Holden Caulfield, dalam novel J.D Salinger itu. Menurut banyak sumber, Chapman percaya bahwa ia akan menjadi pelindung anak-anak layaknya Holden, setelah ia membunuh Lennon, karena menurutnya Lennon telah menyebarkan pengaruh buruk bagi pemuda-pemuda di seluruh dunia. Itu sih yang dipercayai dunia pada saat itu. Entah sekarang kita masih harus percaya atau tidak. Nah, dengan melihat reputasi mengerikan novel tersebut, saya yakin kalian akan ngebet untuk segera menonton film ini.

Kembali ke film.

Film ini dimulai dengan suatu lokasi misterius, di mana J.D Salinger sedang menulis dengan tangan bergetar-getar. Narasi yang diucapkannya tentu membawa kita berpikir kalau pria ini sudah gila, atau paling tidak berada di dalam rumah sakit jiwa. Setting berubah, throw back ke masa-masa muda Salinger, di mana ia sedang berada di suatu party dengan temannya. Ia tertarik dengan seorang gadis di situ, yang ternyata adalah anak dari penulis ternama, Eugene O'Neill. Dengan jumawa ia mengajak si cewek berkenalan, mendaku sebagai seorang penulis pula seperti ayah si cewek, lantas dipatahkan dengan sebuah pertanyaan mematikan dari teman si cewek. "Sudah pernah diterbitkan?"

Dendam itulah yang membawa J.D Salinger menolak usulan ayahnya untuk menjadi pengusaha babi, dan ngotot untuk melanjutkan studi di Universitas Columbia, jurusan menulis kreatif. Dan di sanalah ia bertemu dengan sang dosen pembimbing yang diperankan dengan sangat apik oleh Kevin Spacey.

Bagi saya pribadi, film ini membuka pikiran saya, bahwa menulis adalah untuk menulis, bukan sekadar diterbitkan belaka. Dan mesti ditegaskan pula, maksud "diterbitkan" itu adalah di-publish di koran, jadi bukan langsung menerbitkan sebuah buku. Jadi, di masa itu, bahkan hingga era ’90-an, seorang penulis wajib terlebih dahulu melewati proses seleksi yang sangat ketat hingga tulisannya diterbitkan di koran nasional, barulah lantas ia menerbitkan sebuah buku. Kalau di film ini, koran yang ingin ditembus J.D Salinger adalah The New Yorker dan Story (kalau di Indonesia bolehlah kita samakan dengan Kompas dan Tempo). Agak ironi jika membandingkannya dengan kebanyakan penulis di masa kini, yang bisa menerbitkan bukunya secara mandiri kalau ia punya duit, atau kalau ia mengenal dekat dengan sang redaktur atau pemilik dari sebuah penerbitan. Atau gaya yang paling baru, buatlah dirimu sepopuler mungkin di sosial media, lalu terbitkanlah bukumu. Karena di masa kini, bukan karya yang mau dijual, melainkan popularitas. Terserah karyamu cuma sebentuk kutipan para nabi yang seenak perutmu kau sitir, motivasi kelas kecoak, ataupun deretan kata-kata tanpa makna yang sering kali membuat saya hilang selera makan usai membacanya. Hemm, mungkin proses yang hilang inilah yang membuat, lagi-lagi saya pribadi, hampir tidak bisa lagi menemukan karya-karya "berbahaya" semacam miliknya J.D Salinger, Dostoevsky, Kafka, Hamsun, Lu Xun, atau Pramoedya Ananta Toer. Sebuah dialog antara Salinger dengan sang dosen, setelah karya-karya Salinger selalu ditolak oleh koran New Yorker dan Story, patut kita catat dalam ingatan kita baik-baik.

"Mengapa kau menulis?" tanya sang dosen.

Salinger menjawab, "Untuk menerbitkan ceritaku."

"Bukan, kenapa kau mau menulis?"

Salinger mematung cukup lama. Ia menatap heran. Sejenak kemudian ia menjawab, seperti keluar dari mulutnya dengan begitu saja. "Karena aku merasa marah pada banyak hal. Saat aku menulis, aku merasa bisa melakukan sesuatu untuk itu. Aku ingin menyampaikan apa yang kupikirkan tentang itu."

Sang dosen tersenyum. "Apa yang mesti kau lakukan sebenarnya adalah, jelajahi apa yang membuatmu marah lalu kemudian tuangkan itu semua ke dalam ceritamu."

Belum selesai! Sesaat terdiam, sang dosen mengajukan pertanyaan pentingnya. "Apa kau bersedia mengabaikan hidupmu untuk menceritakan kisahmu meskipun kau tidak akan mendapatkan apa-apa? Jika kau tak mau, keluar dari sini dan temukan hal lain untuk dilakukan, karena kau bukanlah penulis sejati."

Salinger tampak shock. Seperti ada godam yang memukul kepalanya. Dengan marah ia bangkit dan meninggalkan ruangan itu. Nah, bagaimana dengan kalian jika diajukan pertanyaan seperti itu? (ini terkhusus untuk penulis-penulis indie yang menulis dan menulis tanpa mendapatkan penghargaan apa pun, malah terkadang mendapatkan cibiran bahkan permusuhan).

Foto: Istimewa

Satu hal lagi yang teramat spesial dari film ini adalah: narasi yang sangat kuat dan pintar, seakan-akan benar-benar ditulis oleh J.D Salinger sendiri. Saya bersumpah demi apa pun, narasi-narasi yang bertebaran, mulai dari ketika naskahnya selalu ditolak, bahkan sampai ketika Salinger terjun ke Perang Dunia II, memotivasi saya untuk menulis lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. So, film ini sangat disarankan bagi orang-orang yang memilih jalan hidup di dunia kepenulisan. Sumpah! Oh ya, soal Perang Dunia. Jadi, film ini bukan drama tulen yang hanya menampilkan orang ngobrol di mana-mana. Buat kalian yang engga suka drama macam begitu, jangan khawatir, karena ada adegan tembak-tembakan juga kok.

Pada akhirnya film ini adalah penggambaran diri dan pengembangan kejiwaan seorang J.D Salinger sebelum dan sesudah ia menulis novel kontroversinya, Catcher in the Rye. Jika anda sudah selesai dengan buku ini, tentu saya sarankan untuk menonton film ini pula. Karena bagi saya pribadi, sebuah karya tulis tidak akan bisa dilepaskan dari diri penulisnya. Kenapa Holden, si karakter utama di novel Catcher in the Rye itu begitu nakal, dan terlalu senang menyemburkan kalimat-kalimat kotor? Kenapa Holden begitu jijiknya dengan Hollywood? Kenapa pikiran Holden begitu penuh oleh kemuakan terhadap orang dewasa, hingga ia ingin agar mereka semua musnah, dan hanya anak-anak kecil yang mendiami bumi? Ya sudah. Temukan jawabannya di dalam jiwa J.D Salinger di film ini!

Terpujilah kalian yang mau tetap menulis meskipun tidak mendapatkan apa-apa. Dunia akan selalu mengenang kalian!

1 thought on “REBEL IN THE RYE: PIKIR BAIK-BAIK SEBELUM KAU MEMUTUSKAN UNTUK MENJADI PENULIS

Leave a Comment

Baca Juga

Sore yang cerah di kota New York, 1939. Seorang mahasiswa parlente dari kelas menulis kreatif Universitas Colombia, mendapati dosennya sedang bersantai di Greenwich Village's Cafe. Dengan pongah ia masuk dan menegur sang dosen. Membuka percakapan dengan sarkasme akut khas pemuda Amerika, sebelum akhirnya sang dosen berkata dingin:

"Dengar. Kau ini bukan orang sok pintar pertama yang pernah belajar denganku. Kau menentang orang yang memiliki wewenang sepertiku karena perasaanmu tertekan saat kau ada di rumah. Dan kau juga berpikir bahwa kau orang tercerdas yang ada di muka bumi, tapi sayangnya tak ada yang menyadari betapa jeniusnya dirimu." Kata-kata si Dosen yang tak kalah sarkas itu membuat si pemuda tertegun, refleks sadar bahwa ia bukan orang yang spesial.

Potongan cerita di atas adalah salah satu scene paling menarik yang ada di film Rebel in the Rye. JD Salinger, sang pemuda (diperankan oleh Nicholas Hoult), kelak akan dikenal sebagai salah satu penulis paling berbahaya yang pernah dimiliki oleh Amerika Serikat. Jika anda belum tahu siapa itu J.D Salinger, saya sarankan anda tidak coba-coba untuk menggugling namanya, agar kenikmatan anda dalam menonton film ini tidak terganggu. Satu hal yang mungkin perlu dibocorkan mengenainya adalah, J.D Salinger adalah penulis novel Catcher in The Rye, salah satu novel paling "berbahaya" yang pernah lahir di dunia. Paling tidak, tercatat ada tiga pembunuhan yang membawa-bawa Catcher in the Rye sebagai penyebabnya. Dan yang paling dikenang dunia tentunya adalah kasus yang menimpa Jhon Lennon pada 8 Desember 1980. Lennon tewas dengan empat peluru bersarang di punggungnya yang ditembakkan oleh Mark David Chapman. Pada wartawan, Chapman mengaku terobsesi dengan tokoh utama, Holden Caulfield, dalam novel J.D Salinger itu. Menurut banyak sumber, Chapman percaya bahwa ia akan menjadi pelindung anak-anak layaknya Holden, setelah ia membunuh Lennon, karena menurutnya Lennon telah menyebarkan pengaruh buruk bagi pemuda-pemuda di seluruh dunia. Itu sih yang dipercayai dunia pada saat itu. Entah sekarang kita masih harus percaya atau tidak. Nah, dengan melihat reputasi mengerikan novel tersebut, saya yakin kalian akan ngebet untuk segera menonton film ini.

Kembali ke film.

Film ini dimulai dengan suatu lokasi misterius, di mana J.D Salinger sedang menulis dengan tangan bergetar-getar. Narasi yang diucapkannya tentu membawa kita berpikir kalau pria ini sudah gila, atau paling tidak berada di dalam rumah sakit jiwa. Setting berubah, throw back ke masa-masa muda Salinger, di mana ia sedang berada di suatu party dengan temannya. Ia tertarik dengan seorang gadis di situ, yang ternyata adalah anak dari penulis ternama, Eugene O'Neill. Dengan jumawa ia mengajak si cewek berkenalan, mendaku sebagai seorang penulis pula seperti ayah si cewek, lantas dipatahkan dengan sebuah pertanyaan mematikan dari teman si cewek. "Sudah pernah diterbitkan?"

Dendam itulah yang membawa J.D Salinger menolak usulan ayahnya untuk menjadi pengusaha babi, dan ngotot untuk melanjutkan studi di Universitas Columbia, jurusan menulis kreatif. Dan di sanalah ia bertemu dengan sang dosen pembimbing yang diperankan dengan sangat apik oleh Kevin Spacey.

Bagi saya pribadi, film ini membuka pikiran saya, bahwa menulis adalah untuk menulis, bukan sekadar diterbitkan belaka. Dan mesti ditegaskan pula, maksud "diterbitkan" itu adalah di-publish di koran, jadi bukan langsung menerbitkan sebuah buku. Jadi, di masa itu, bahkan hingga era ’90-an, seorang penulis wajib terlebih dahulu melewati proses seleksi yang sangat ketat hingga tulisannya diterbitkan di koran nasional, barulah lantas ia menerbitkan sebuah buku. Kalau di film ini, koran yang ingin ditembus J.D Salinger adalah The New Yorker dan Story (kalau di Indonesia bolehlah kita samakan dengan Kompas dan Tempo). Agak ironi jika membandingkannya dengan kebanyakan penulis di masa kini, yang bisa menerbitkan bukunya secara mandiri kalau ia punya duit, atau kalau ia mengenal dekat dengan sang redaktur atau pemilik dari sebuah penerbitan. Atau gaya yang paling baru, buatlah dirimu sepopuler mungkin di sosial media, lalu terbitkanlah bukumu. Karena di masa kini, bukan karya yang mau dijual, melainkan popularitas. Terserah karyamu cuma sebentuk kutipan para nabi yang seenak perutmu kau sitir, motivasi kelas kecoak, ataupun deretan kata-kata tanpa makna yang sering kali membuat saya hilang selera makan usai membacanya. Hemm, mungkin proses yang hilang inilah yang membuat, lagi-lagi saya pribadi, hampir tidak bisa lagi menemukan karya-karya "berbahaya" semacam miliknya J.D Salinger, Dostoevsky, Kafka, Hamsun, Lu Xun, atau Pramoedya Ananta Toer. Sebuah dialog antara Salinger dengan sang dosen, setelah karya-karya Salinger selalu ditolak oleh koran New Yorker dan Story, patut kita catat dalam ingatan kita baik-baik.

"Mengapa kau menulis?" tanya sang dosen.

Salinger menjawab, "Untuk menerbitkan ceritaku."

"Bukan, kenapa kau mau menulis?"

Salinger mematung cukup lama. Ia menatap heran. Sejenak kemudian ia menjawab, seperti keluar dari mulutnya dengan begitu saja. "Karena aku merasa marah pada banyak hal. Saat aku menulis, aku merasa bisa melakukan sesuatu untuk itu. Aku ingin menyampaikan apa yang kupikirkan tentang itu."

Sang dosen tersenyum. "Apa yang mesti kau lakukan sebenarnya adalah, jelajahi apa yang membuatmu marah lalu kemudian tuangkan itu semua ke dalam ceritamu."

Belum selesai! Sesaat terdiam, sang dosen mengajukan pertanyaan pentingnya. "Apa kau bersedia mengabaikan hidupmu untuk menceritakan kisahmu meskipun kau tidak akan mendapatkan apa-apa? Jika kau tak mau, keluar dari sini dan temukan hal lain untuk dilakukan, karena kau bukanlah penulis sejati."

Salinger tampak shock. Seperti ada godam yang memukul kepalanya. Dengan marah ia bangkit dan meninggalkan ruangan itu. Nah, bagaimana dengan kalian jika diajukan pertanyaan seperti itu? (ini terkhusus untuk penulis-penulis indie yang menulis dan menulis tanpa mendapatkan penghargaan apa pun, malah terkadang mendapatkan cibiran bahkan permusuhan).

Foto: Istimewa

Satu hal lagi yang teramat spesial dari film ini adalah: narasi yang sangat kuat dan pintar, seakan-akan benar-benar ditulis oleh J.D Salinger sendiri. Saya bersumpah demi apa pun, narasi-narasi yang bertebaran, mulai dari ketika naskahnya selalu ditolak, bahkan sampai ketika Salinger terjun ke Perang Dunia II, memotivasi saya untuk menulis lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. So, film ini sangat disarankan bagi orang-orang yang memilih jalan hidup di dunia kepenulisan. Sumpah! Oh ya, soal Perang Dunia. Jadi, film ini bukan drama tulen yang hanya menampilkan orang ngobrol di mana-mana. Buat kalian yang engga suka drama macam begitu, jangan khawatir, karena ada adegan tembak-tembakan juga kok.

Pada akhirnya film ini adalah penggambaran diri dan pengembangan kejiwaan seorang J.D Salinger sebelum dan sesudah ia menulis novel kontroversinya, Catcher in the Rye. Jika anda sudah selesai dengan buku ini, tentu saya sarankan untuk menonton film ini pula. Karena bagi saya pribadi, sebuah karya tulis tidak akan bisa dilepaskan dari diri penulisnya. Kenapa Holden, si karakter utama di novel Catcher in the Rye itu begitu nakal, dan terlalu senang menyemburkan kalimat-kalimat kotor? Kenapa Holden begitu jijiknya dengan Hollywood? Kenapa pikiran Holden begitu penuh oleh kemuakan terhadap orang dewasa, hingga ia ingin agar mereka semua musnah, dan hanya anak-anak kecil yang mendiami bumi? Ya sudah. Temukan jawabannya di dalam jiwa J.D Salinger di film ini!

Terpujilah kalian yang mau tetap menulis meskipun tidak mendapatkan apa-apa. Dunia akan selalu mengenang kalian!

1 thought on “REBEL IN THE RYE: PIKIR BAIK-BAIK SEBELUM KAU MEMUTUSKAN UNTUK MENJADI PENULIS

Leave a Comment

Baca Juga