Degil Zine

Psikedelik rock (psychedelic rock) berkembang pesat di planet Bumi pada akhir '60an sampai pertengahan '70an. Mewabahnya musik ini sedikit banyak terdongkrak oleh pola hidup generasi muda zaman itu, yang seringkali disebut hippies movement oleh banyak media. Generasi ini menolak pola hidup kapitalisme yang merusak, hingga memutuskan untuk back to nature. Sikap politik mereka adalah anti imperialisme; dijabarkan dengan protes besar-besaran terhadap pemerintahan setan Amerika yang saat itu ingin menginvasi Vietnam. Untuk penjabaran dari musik psikedelik rock sendiri sebenarnya agak sulit. Setelah loncat ke sana ke mari di dunia maya, saya mendapati aroma blues, folk, jazz bahkan hard-rock disuguhkan dari sekian daftar band internasional yang dituduh bergenre psikedelik rock. Kemudian saya pelajari pula beberapa lirik lagu dari band-band psikedelik rock tersebut, dan saya berkesimpulan bahwa genre satu ini senang menulis lirik dengan gaya esoterik, mistik, atau paling sedikit terpengaruh karya sastra klasik. Dengerin aja Sister Morphine-nya Rolling Stones, Mercedes Benz-nya Janis Joplin, Sugar Magnolia-nya Gratefull Dead, atau Sleeping Jiva-nya Kula Shaker (lirik-lirik yang kayaknya susah ditulis kalau ngga lagi mabok).

Di saat-saat sedang asyik mengulik genre inilah saya malah menemukan sebuah "permata" dari Bandar Lampung. Namanya unik, Sunsetkilla. Saya inbox mereka melalui IG, dan dengan hangat mereka membalasnya (saya selalu demen dengan band indie yang penuh cinta seperti ini). Mengenai persoalan nama, Azka, sang gitaris, menjawab, "Sunsetkilla itu kami ambil filosofinya tentang orang-orang yang bisa datang jauh-jauh sampai bela-belain ke tempat-tempat yang sulit dijangkau demi ngelihat yang namanya sunset. Maksudnya biar Sunsetkilla (meskipun ada di Bandar Lampung) tapi terus dicari-cari orang." Hemm, pemilihan nama yang benar-benar filosofis.

Seraya mengobrol, saya buka Spotify dan menemukan 4 lagu mereka yang dikemas dalam EP bertajuk 40.000 Mil. Manusia adalah track yang saya pilih untuk didengar pertama kali. Dan... anjrittt! Ini band beneran dari Bandar Lampung? Kualitas rekamannya super jernih, bro! Dengar perpaduan drum dan bassnya yang nyentrik. Ini menarik. Gaya permainan gitarnya yang ala-ala sitar India itu membuat lagu yang bercerita tentang manusia, alam dan doa ini jadi terkesan mistis. Sontak saya teringat pada salah satu scene di film Taking Woodstock (2009) di mana anak-anak hippie sedang menari meminta hujan di tengah-tengah lapangan rumput. Dan lagu ini sangat tepat untuk mengiringinya (saya yakin Sunsetkilla melakukan ritual aneh meminta hujan pada Tuhan ketika mereka menuliskan lagu ini). Dan berkat lagu inilah saya akhirnya menemukan satu garis merah di dalam genre psikedelik rock: efek-efek aneh (terserah keluar dari instrumen apa pun) yang menghadirkan suasana surealis itu. Ya, inilah syarat mutlak bagi psikedelik rock (hemm, saya kepikiran, pantas saja musik jenis ini dikatakan sangat erat berhubungan dengan LSD). Baiklah. Coba kita rangkum dari apa yang telah saya jelajahi soal psikedelik rock. Ada tiga kata kunci: lirik esoterik, suara-suara misterius yang menimbulkan efek surealis bagi pendengarnya, dan LSD... You knowlah ya... Lucy in the Sky with Diamons!

Mabok kan jadinya.

Oke. Kembali ke Sunsetkilla.

Band yang digawangi oleh Krisna Putra (vokal/gitar), Azka Gilang (gitar), Abeng (drum), dan Valerius Ivan (bass) ini terbentuk pada tahun 2013. Lima tahun bergerilya di skena Lampung, mereka akhirnya merilis EP pertama mereka pada 27 Maret 2017. Mengenai persolan musik, Azka sendiri mengatakan bahwa, "Bisa dibilang Sunsetkilla ini begitu (psikedelik rock), tapi kalau orang lain nangkepnya bukan itu pun ga masalah. Yah, intinya sih kami selalu berusaha jujur dan tidak dibuat-buat."

Saya coba mengganggu mereka dengan mengatakan bahwa psikedelik rock sudah "selesai" semenjak Amerika kabur dari perang Vietnam. Azka menanggapi, "Bagi kami rohnya tetap terasa hingga kapan pun. Tidak ada musik yang sudah “selesai”. Bahkan harus ada regenerasinya supaya terus terangkat. Kita semua tidak mau pada masa yang akan datang musik hanya berasal dari sebuah laptop yang distel menggunakan pengeras suara!"

Di saat itulah track Mati Lampu menggema dari headphone saya. Gitaris Sunsetkilla ini jenius. Drumer dan basis-nya kayaknya sudah main bersama sejak era Jim Morrison masih suka kencing sembarangan. Dan apa yang paling saya suka dari Sunsetkilla adalah: meskipun mengusung psikedelik rock, namun mereka tampaknya berkompromi dengan zaman. Sound drum, bass, hingga warna vokal dari Krisna (kurang psikedelik apa lagi namanya coba?) terdengar sangat modern. Hanya Azka saja yang tampaknya tak mau berlaku durhaka pada Jimi Hendrix.

Selain berkarya, Sunsetkilla termasuk penggerak skena indie yang aktif di Bandar Lampung. Mengenai hal ini, Azka berkata, bahwa "Penting banget bagi band indie untuk ikut dalam menyelenggarakan gigs. Dengan begitu kita ikut mengembangkan potensi yang ada. Karena membangun ekosistem di lingkungan sendiri ini yang sangat dibutuhkan, khususnya di Lampung sendiri yang masih membutuhkan perhatian yang cukup serius. Salah satu hal yang membuat skena Lampung jarang dilirik kan karena ekosistemnya belum terbentuk." Sebab itulah Sunsetkilla telah berkumpul bersama band-band indie Lampung lainnya untuk menyelenggarakan gigs rutin sebulan sekali, yang akan menerima seluruh genre musik yang ada di Lampung. Dan rencana mulia mereka ini katanya akan berjalan mulai bulan depan. Good job, men!

Pada akhirnya, saya pribadi, beranggapan bahwa Sunsetkilla sudah "selesai" dengan apa yang mereka ingin sajikan di dalam musik mereka. Mulai minggu depan pula katanya mereka akan kembali masuk studio rekaman untuk menggarap full-album pertama mereka. Salah satu lagu di album itu, Kotor, sudah bisa didengarkan di sini (tidak dianjurkan untuk didengar yang sumbu di kepalanya masih pendek). Sebelumnya, pada akhir Juli hingga awal Agustus 2017, Sunsetkilla telah menyelenggarakan tour perdananya sekaligus dalam rangka mempromosikan EP 40.000 Mil. Jakarta, Bogor, dan Bandung adalah persinggahan utama. Menurut Azka, tahun 2018 adalah giliran tanah Sumatra yang akan mereka jabanin. Medan adalah kota utama yang ingin mereka datangi; sepertinya Sunsetkilla sangat ingin mengajak penikmat skena indie Medan untuk bersama-sama menyanyikan doa pemanggil hujan. Kita tunggu saja kedatangan mereka, bro!

Foto: Lampungpost.com

Terakhir, satu pertanyaan yang selalu ingin saya tanyakan pada para pemusik di seantero planet Bumi yang mengusung psikedelik rock: Apakah kalian menjalani pola hidup hippies seperti band-band psikedelik rock '60-an? Dengan lugas Azka menjawab, "Secara tidak langsung semuanya (gaya hidup hippies) mempengaruhi gaya hidup kami juga. Tapi tidak sampai semuanya, hanya sebagian yang menurut kami positif saja." Positif bagi orang-orang hippies belum tentu dianggap positif juga oleh masyarakat arus utama. Kita sih diam-diam aja deh...

*Ingin mengalami efek surealis bersama Sunsetkilla? Bisa didengarkan di sini. Atau sapa mereka di @sunsetkilla

Leave a Comment

Baca Juga

Psikedelik rock (psychedelic rock) berkembang pesat di planet Bumi pada akhir '60an sampai pertengahan '70an. Mewabahnya musik ini sedikit banyak terdongkrak oleh pola hidup generasi muda zaman itu, yang seringkali disebut hippies movement oleh banyak media. Generasi ini menolak pola hidup kapitalisme yang merusak, hingga memutuskan untuk back to nature. Sikap politik mereka adalah anti imperialisme; dijabarkan dengan protes besar-besaran terhadap pemerintahan setan Amerika yang saat itu ingin menginvasi Vietnam. Untuk penjabaran dari musik psikedelik rock sendiri sebenarnya agak sulit. Setelah loncat ke sana ke mari di dunia maya, saya mendapati aroma blues, folk, jazz bahkan hard-rock disuguhkan dari sekian daftar band internasional yang dituduh bergenre psikedelik rock. Kemudian saya pelajari pula beberapa lirik lagu dari band-band psikedelik rock tersebut, dan saya berkesimpulan bahwa genre satu ini senang menulis lirik dengan gaya esoterik, mistik, atau paling sedikit terpengaruh karya sastra klasik. Dengerin aja Sister Morphine-nya Rolling Stones, Mercedes Benz-nya Janis Joplin, Sugar Magnolia-nya Gratefull Dead, atau Sleeping Jiva-nya Kula Shaker (lirik-lirik yang kayaknya susah ditulis kalau ngga lagi mabok).

Di saat-saat sedang asyik mengulik genre inilah saya malah menemukan sebuah "permata" dari Bandar Lampung. Namanya unik, Sunsetkilla. Saya inbox mereka melalui IG, dan dengan hangat mereka membalasnya (saya selalu demen dengan band indie yang penuh cinta seperti ini). Mengenai persoalan nama, Azka, sang gitaris, menjawab, "Sunsetkilla itu kami ambil filosofinya tentang orang-orang yang bisa datang jauh-jauh sampai bela-belain ke tempat-tempat yang sulit dijangkau demi ngelihat yang namanya sunset. Maksudnya biar Sunsetkilla (meskipun ada di Bandar Lampung) tapi terus dicari-cari orang." Hemm, pemilihan nama yang benar-benar filosofis.

Seraya mengobrol, saya buka Spotify dan menemukan 4 lagu mereka yang dikemas dalam EP bertajuk 40.000 Mil. Manusia adalah track yang saya pilih untuk didengar pertama kali. Dan... anjrittt! Ini band beneran dari Bandar Lampung? Kualitas rekamannya super jernih, bro! Dengar perpaduan drum dan bassnya yang nyentrik. Ini menarik. Gaya permainan gitarnya yang ala-ala sitar India itu membuat lagu yang bercerita tentang manusia, alam dan doa ini jadi terkesan mistis. Sontak saya teringat pada salah satu scene di film Taking Woodstock (2009) di mana anak-anak hippie sedang menari meminta hujan di tengah-tengah lapangan rumput. Dan lagu ini sangat tepat untuk mengiringinya (saya yakin Sunsetkilla melakukan ritual aneh meminta hujan pada Tuhan ketika mereka menuliskan lagu ini). Dan berkat lagu inilah saya akhirnya menemukan satu garis merah di dalam genre psikedelik rock: efek-efek aneh (terserah keluar dari instrumen apa pun) yang menghadirkan suasana surealis itu. Ya, inilah syarat mutlak bagi psikedelik rock (hemm, saya kepikiran, pantas saja musik jenis ini dikatakan sangat erat berhubungan dengan LSD). Baiklah. Coba kita rangkum dari apa yang telah saya jelajahi soal psikedelik rock. Ada tiga kata kunci: lirik esoterik, suara-suara misterius yang menimbulkan efek surealis bagi pendengarnya, dan LSD... You knowlah ya... Lucy in the Sky with Diamons!

Mabok kan jadinya.

Oke. Kembali ke Sunsetkilla.

Band yang digawangi oleh Krisna Putra (vokal/gitar), Azka Gilang (gitar), Abeng (drum), dan Valerius Ivan (bass) ini terbentuk pada tahun 2013. Lima tahun bergerilya di skena Lampung, mereka akhirnya merilis EP pertama mereka pada 27 Maret 2017. Mengenai persolan musik, Azka sendiri mengatakan bahwa, "Bisa dibilang Sunsetkilla ini begitu (psikedelik rock), tapi kalau orang lain nangkepnya bukan itu pun ga masalah. Yah, intinya sih kami selalu berusaha jujur dan tidak dibuat-buat."

Saya coba mengganggu mereka dengan mengatakan bahwa psikedelik rock sudah "selesai" semenjak Amerika kabur dari perang Vietnam. Azka menanggapi, "Bagi kami rohnya tetap terasa hingga kapan pun. Tidak ada musik yang sudah “selesai”. Bahkan harus ada regenerasinya supaya terus terangkat. Kita semua tidak mau pada masa yang akan datang musik hanya berasal dari sebuah laptop yang distel menggunakan pengeras suara!"

Di saat itulah track Mati Lampu menggema dari headphone saya. Gitaris Sunsetkilla ini jenius. Drumer dan basis-nya kayaknya sudah main bersama sejak era Jim Morrison masih suka kencing sembarangan. Dan apa yang paling saya suka dari Sunsetkilla adalah: meskipun mengusung psikedelik rock, namun mereka tampaknya berkompromi dengan zaman. Sound drum, bass, hingga warna vokal dari Krisna (kurang psikedelik apa lagi namanya coba?) terdengar sangat modern. Hanya Azka saja yang tampaknya tak mau berlaku durhaka pada Jimi Hendrix.

Selain berkarya, Sunsetkilla termasuk penggerak skena indie yang aktif di Bandar Lampung. Mengenai hal ini, Azka berkata, bahwa "Penting banget bagi band indie untuk ikut dalam menyelenggarakan gigs. Dengan begitu kita ikut mengembangkan potensi yang ada. Karena membangun ekosistem di lingkungan sendiri ini yang sangat dibutuhkan, khususnya di Lampung sendiri yang masih membutuhkan perhatian yang cukup serius. Salah satu hal yang membuat skena Lampung jarang dilirik kan karena ekosistemnya belum terbentuk." Sebab itulah Sunsetkilla telah berkumpul bersama band-band indie Lampung lainnya untuk menyelenggarakan gigs rutin sebulan sekali, yang akan menerima seluruh genre musik yang ada di Lampung. Dan rencana mulia mereka ini katanya akan berjalan mulai bulan depan. Good job, men!

Pada akhirnya, saya pribadi, beranggapan bahwa Sunsetkilla sudah "selesai" dengan apa yang mereka ingin sajikan di dalam musik mereka. Mulai minggu depan pula katanya mereka akan kembali masuk studio rekaman untuk menggarap full-album pertama mereka. Salah satu lagu di album itu, Kotor, sudah bisa didengarkan di sini (tidak dianjurkan untuk didengar yang sumbu di kepalanya masih pendek). Sebelumnya, pada akhir Juli hingga awal Agustus 2017, Sunsetkilla telah menyelenggarakan tour perdananya sekaligus dalam rangka mempromosikan EP 40.000 Mil. Jakarta, Bogor, dan Bandung adalah persinggahan utama. Menurut Azka, tahun 2018 adalah giliran tanah Sumatra yang akan mereka jabanin. Medan adalah kota utama yang ingin mereka datangi; sepertinya Sunsetkilla sangat ingin mengajak penikmat skena indie Medan untuk bersama-sama menyanyikan doa pemanggil hujan. Kita tunggu saja kedatangan mereka, bro!

Foto: Lampungpost.com

Terakhir, satu pertanyaan yang selalu ingin saya tanyakan pada para pemusik di seantero planet Bumi yang mengusung psikedelik rock: Apakah kalian menjalani pola hidup hippies seperti band-band psikedelik rock '60-an? Dengan lugas Azka menjawab, "Secara tidak langsung semuanya (gaya hidup hippies) mempengaruhi gaya hidup kami juga. Tapi tidak sampai semuanya, hanya sebagian yang menurut kami positif saja." Positif bagi orang-orang hippies belum tentu dianggap positif juga oleh masyarakat arus utama. Kita sih diam-diam aja deh...

*Ingin mengalami efek surealis bersama Sunsetkilla? Bisa didengarkan di sini. Atau sapa mereka di @sunsetkilla

Leave a Comment

Baca Juga