Melancholic Bitch

MELANCHOLIC BITCH, SI BINAL YANG TAHU BENAR CARA MENCIPTAKAN RINDU

Masuk satu per satu tanpa permisi dan langsung menghajar dua lagu. Benar-benar kurang ajar, mbok ya kami yang rela menerobos hujan itu diberi salam sambutan terlebih dahulu gitu biar semangat saat menonton kalian. Ini kita semua sedang kangen kangennya, lho! Di antara ambang kesadaran dan ketidakterimaan, hantu-hantu masa kecil mengingatkan saya bahwa konsernya telah dimulai. Oke, gan, ente jual ane beli! Selepas lirik “bahaya anjing gila” pada lagu Norma, Moral, saya tidak dapat menahan diri lagi. Saya biarkan diri saya larut dalam melodi-melodi jahanam Melbi (Melancholic Bitch). Seolah ingin menyampaikan betapa berkuasanya si yang punya hajat, Melbi tak memberi napas dalam memasuki lagu kedua. Cahaya, Harga, tentunya berkarakter lebih menggebu-gebu dibanding Norma, Moral. Benar saja, ternyata pengumuman matinya harga cabai dari radio menggetarkan dinding Teater Garasi yang tak terlalu besar namun intim itu.

Dua lagu pertama selesai. Barulah Ugoran Prasad menyapa para penonton. Pada kesempatan itu Ugo juga mengatakan bahwa ia sempat kehabisan napas. Ah tak apalah Mas Ugo, riang kami siap untuk memberimu energi agar kau mampu terus bernyanyi. Malam  itu konser dibagi menjadi dua set. Set pertama membawakan album NKKBS Bagian Pertama dengan urutan lagu sesuai yang tertera pada album. Sedangkan set kedua membawakan hits dari album Anamnesis dan Balada Joni dan Susi. Entah mengapa lagu Selat, Malaka  terasa begitu membius malam itu. Keriangan di moshpit telah terjadi, tapi mengapa saya merasa masih banyak insan yang malu malu gemay untuk bergoyang. Ayolah, konser penutup dari acara “Buka Sudio 7 Hari 7 Malam: JALAN TIKUS” ini tiketnya dibatasi hanya untuk 100 orang. Karena sudah tidak tahan, saya memutuskan untuk meningkatkan suhu. Memasuki lirik “ini pasti jimat orang kota” pada lagu Aspal, Dukun, saya mendorong kaki saya yang bertumpu pada level panggung untuk melesat mundur ke dalam mosh pit. Terima kasih semesta, usaha saya tidak sia sia, saya dan beberapa kawan berhasil membuat arena goyang sedikit lebih liar.

Tiba tiba saja set pertama sudah membawa kami ke Lagu untuk Resepsi Pernikahan. Saya terjebak dalam rasa senang, bingung, dan sedih. Senang karena set kedua menawarkan keriangan yang lebih besar, bingung karena set pertama terasa benar-benar singkat, sedih karena saya langsung menyadari bahwa set kedua ini berarti akan terasa lebih singkat lagi. Set pertama pun selesai, penonton dan penampil bersantai sejenak. Ada yang ke kamar mandi, ada yang beli bir, ada yang sekadar bercengkrama dengan kawannya. Intinya adalah kami memiliki sedikit waktu untuk mengisi energi kembali.

Solo drum dimainkan, disusul instrument-instrumen lain yang menandakan bahwa sekarang saatnya Anamnesis serta Balada Joni dan Susi unjuk gigi. Curhatnya Joni pada Susi mengenai pengalamannya “masup tipi mengawali set kedua tersebut. Selesai menyampaikan keresahan hati Joni, Ugo dan kawan kawan membawakan Tentang Cinta. Walaupun kedua lagu di awal set kedua ini sangat menggoda untuk ber-sing-along ria, ternyata crowd kembali seperti semula, yaitu malu-malu gemay. Walaupun saya sangat yakin banyak juga yang bernyanyi dengan lantang dan bergoyang dengan riang. Benar-benar tak bisa dibiarkan, gigs ini masih belum sempurna. Demi menghangatkan kembali suhu mosh pit, saya memutuskan untuk menumbalkan salah seorang dari dua kawan yang datang bersama saya untuk dicrowd-surf. Lagi pula sedari tadi tangan saya belum berpartisipasi untuk mengangkat siapa pun. Setelah banyak lagu dimainkan, akhirnya pada 7 Hari Menuju Semesta, ada yang melakukan crowd surf. Baru setelahnya beberapa penonton yang lain melakukan hal serupa. “Katakanlah jika aku Israel kau Palestina”, gerak satu baru gerak semua. 7 Hari Menuju Semesta  menjadi penanda awal crowd surfing selama konser berlangsung.

Selanjutnya adalah Mars Penyembah Berhala. Lagu ini memang sudah spesial, namun konser tunggal Melbi kemarin menambah nilai spesial lagu tersebut bagi saya pribadi. Tepat sebelum Ugo bersabda pada “sodara sodara,” kedua teman saya yang mendadak sangat baik hatinya, mencoba mengangkat saya untuk di-crowd-surf. Mengingat semasa kuliah ini jarang olah raga, tentu timbangan naik secara semena-mena. Maka dari itu saya hanya berpikir, “Yaelah, gagal nih paling kaya kemaren-kemaren.” Tapi ternyata saudara saudara, badan saya yang tidak ringan ini lambat laun makin lama makin naik dan akhirnya bisa diangkat ke udara! Wuanjengggggg!! Demi apa sih akhirnya gua crowd surfing??? Setelah terpana selama beberapa detik, saya merasa badan saya mulai turun. Saya sudah hampir bersyukur saat itu, tapi ternyata badan saya tidak jadi menyentuh tanah, malah diangkat lebih tinggi dari sebelumnya! Sekitar lima belas detik berlalu, saya pun kembali ke lantai dansa. Speechless. Astaga, saya jatuh cinta sama crowd jogja. Kalian ini kalau masih dingin suka malu-malu gemay. Tapi kalau udah panas, hhhhh edanlah kalian! Saat itu Ugo tengah bersabda dan para penonton bergerumul di depannya. Melihat momen itu saya langsung menyelinap ke kerumunan, tak mau ketinggalan momen menyanyikan “siapa yang membutuhkan imajinasi? Jika kita sudah punya televisi! Woo! Hoo!” dengan lantang secara bersama-sama. Saya berani jamin, pada momen itu banyak fotografer yang mendapatkan hasil foto yang bagus. Di akhir lagu, bak seorang nabi yang bangga pada pengikutnya, Ugo mengusap kepala salah satu penonton.

7 Hari Menuju Semesta telah berlalu, selanjutnya gigs berlangsung lebih syahdu. Ugo kembali “mengumpat”, karena ia dan kawan-kawan harus menyanyikan kembali lagu lama mereka di album Anamnesis, yaitu The Street. Lah? Lagu bagus gitu kok ngeluh? Yaudah ndak papa, lupa lirik atau kunci memang hal biasa, tapi apa pun kondisinya, cintaku pada Melbi tak akan pernah sirna. Ihiw! Follow the street, follow the lamp line… Allahuakbarrrr astaga Gustiii, masuk ke dimensi mana lagi ini saya? Benar benar intro yang menggetarkan lagi menghanyutkan. Saat The Street dibawakan, posisi saya berada tepat di depan Ugo. Saya sudah tidak fokus pada sekitar saat itu. Perhatian saya sepenuhnya dicuri oleh Melbi. Entah berapa kali tangan saya terangkat seolah ingin menyembah dan entah berapa kali pula mata saya terpejam karena dihipnotis oleh lagu ini. The Street selesai. Tanpa banyak babibu, paguyuban berkedok band asal Jogja ini langsung menghajar penonton melalui rayuan jahanam berupa nikmatnya menjadi Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Kami berandai-andai bagaimana rasanya. Seketika semua orang terbang. Seketika kami semua menjauh. Seketika kami semua bergoyang dan tenggelam dalam fantasi masing masing. Seketika kami semua disambut Joni dan Susi di luar angkasa. Seketika kami menyatu kembali. Seketika kami sepakat bahwa kami adalah Joni dan Susi. Alunan-alunan jahat itu memaksa kuping kami untuk masturbasi dan terperangkap lebih dalam lagi. Lalu seketika kami bersepakat kembali bahwa kami telah bercinta di luar angkasa.

Nasihat yang Baik merupakan sebuah tamparan kecil bagi para Joni dan Susi setelah bekelana ke luar angkasa. Intronya membisikan pesan berupa “hei sadar, kamu masih di sini. Di Teater Garasi. Dan ini adalah lagu terakhir”. Pada lagu ini sepertinya Susi merasuk pada raga para personel Melbi. Karena “Susi lelah bermain seharian”. Haduh, sesungguhnya kami masih mau bermain bersamamu, Melbi. Tapi apa daya, nasihat yang baik adalah benar-benar nasihat yang baik. Kami mulai berkompromi bahwa memang sudah seharusnya Melbi istirahat dulu karena hajatan ini sesungguhnya telah berlangsung selama satu pekan penuh. Nada Nasihat yang Baik begitu membuai untuk menyadarkan kami bahwa perjalanan ini akan segera usai. Akhirnya Nasihat yang Baik mengeluarkan jurus pamungkasnya berupa picking dan ambient ala post-rock (walaupun tak semua post-rock identik dengan itu) di akhir lagu. Picking dan ambient ini memaksa kami untuk setuju bahwa perjalanan takkan lama lagi. Hingga akhirnya Ugo mengucapkan “tiiiduuurlaaah…”. Usai sudah hajatan intim nan syahdu bersama Melancholic Bitch.

Songlist yang telah ketumpahan bir itu buru buru saya cabut sebelum diambil orang lain. Saya benar-benar bahagia! Perjalanan Bandung – Jogja ternyata tidak berlangsung sia-sia. Sebelumnya saya dan kawan-kawan sempat berkecil hati karena tertimpa berbagai kesialan. Mulai dari salah turun stasiun, hingga kehujanan saat menuju venue. Tapi konspirasi alam semesta ternyata memang tidak dapat ditebak. Konser tunggal Melbi pada acara “Buka Studio 7 Hari 7 Malam: JALAN TIKUS” di Teater Garasi rupanya menambah daftar salah satu konser terbaik dalam hidup saya. Kegembiraan saya tambah lengkap ketika saya beserta kedua teman saya sama-sama melakukan crowd surfing dan kami sama-sama mendapatkan songlist. Sebuah kejadian yang memang tidak seberapa tapi dapat melengkapi kegembiraan saya hingga tak terkira.

Misi selanjutnya adalah legalisir, sayang kami hanya dapat menemui Yennu dan Yossy. Saat menemui Yossy, saya bilang “Wah, Mas, padahal aku ngarep lagu-lagu Anamnesis lho Mas.” Dengan senyum tipis Yossy dengan santainya menjawab “Walah Mas, wes lupa kunci. Wes, Mas sante wae. Wong band e wes bubar kok Mas!” Jawaban macam apa itu. Band ini memang memang memiliki hal-hal tertentu yang menciptakan alasan agar kita menyukai Melancholic Bitch. Saking puasnya, saya sampai sempat merasa bodo amat bila yang dikatakan Yossy tadi benar adanya. Banyaknya rasa bahagia yang saya dapatkan membuat saya siap menerima kenyataan bila pada akhirnya Melbi benar-benar bubar. Konser ini teramat sangat berkesan! Terima kasih duo beking vokal yang membuat lagu-lagu Melbi terdengar lebih manis! Terima kasih para penonton yang telah berbagi energi! Terima kasih semua pihak yang telah mewujudkan konser ini! Terakhir, terima kasih Melancholic Bitch! Selamat kembali menjadi “mitos”!

*Foto Oleh Alfarizie

Share this post

Recent post