Degil Zine

Tonenet to net net... tonenet to net net! Yo, itu merupakan sepenggal nada gitar paling melodius sepanjang masa, Sweet Child O Mine dari Guns n Roses. Band yang memilik skill di atas rata-rata ini menjadikan gitarisnya, Slash, sebagai ikon nyentrik mereka. Rambut mode Indomie, celana ketat membentuk belahan pantat, dan posisi gitar menutup alat kelamin, mustahil umat di Bumi ini lupa dengan beliau. Nah bor!!! Kali ini saya akan bahas gitaris namun dari sudut pandang absurd. Saya akan memaparkan beberapa gaya gitaris Medan dalam memainkan gitarnya. Saya akan menjabarkannya berdasarkan penelitian ilmiah saya dari beberapa gigs dan event yang pernah saya hampiri di kota terkorup ini. Mari, bung.

 

  1. Strap gitar sedada/seleher

Pertama sekali di benak saya melihat gitaris dengan style ini seperti sedang melihat orang yang coba mencari ilham dengan menambah penyakit, yaitu bengek dan sesak napas. Betapa sesaknya dada ketika anda menggantungkan gitar sejajar dengan puting dan mendekati leher. Tak terbayangkan sesaknya. Saya pernah mencoba style ini (ketika masih shredder dulu). Tak sampai 5 menit, dada saya terasa seperti diserang Woody Woodpecker. Entah apa maksudnya gitaris menggantungkan gitarnya dengan mode seperti ini. Tapi di sisi lain, cara ini memiliki beberapa keunggulan. Ketika anda melakukan solo gitar, kenikmatan tiada tara menghampiri. Apalagi ketika menggunakan gitar semi hollow, percayalah, penonton akan melihat anda seperti seorang maestro yang menguasai jazz tingkat langit dan memiliki soul yang terbakar (padahal hanya menguasai chord dasar). Dari mata kaum hawa, gitaris dengan mode ini banyak dikagumi. Mengapa? Ya, secara logika gitaris rela merasakan sesak demi bercumbu lebih dekat dengan gitarnya. Gitar aja rela dicumbu, apalagi wanita? Untuk menambah ilmu lebih mantap, saya sarankan anda konsultasi dengan Bung Leo, sang pengarah grafis Degilzine, atau bisa juga ke Hasbi dari Retired. Menurut telaah saya, cara ini mungkin dapat memuluskan cita-cita anda menggaet wanita sehabis manggung.

  1. Sepinggang/perut

Nah, ini adalah posisi paling standar gitaris di galaksi bima sakti. Secara nalar, gaya ini tidak menyulitkan para gitaris untuk beraksi di atas panggung. Jarak pandang ke gitar aman, posisi tangan melakukan strumming dan melodi aman, bergerak ke sana ke mari di atas panggung juga cukup aman. Yang kurang dari style ini adalah ekspresi di panggung, terutama dalam beberapa aliran musik. Untuk musik yang santai dan merdu, saya rasa gaya ini cukup membuat anda menguap, apalagi didukung dengan gaya absurd misterius seperti Jansen dari JRGP. Ingin melempar sesuatu, takut dibilang tak respek. Ingin mengkritik takut dibilang sok hebat. Tapi ya, begitulah. Jika ingin membuktikan tipe no 2 ini, coba saja anda datang ke gigs atau event musik di kota ini. Saya rasa anda akan sepakat bahwa 80% gitaris kota Medan memilih gaya ini ketika di atas panggung.

  1. Sepaha/selutut

Gaya yang ketiga ini merupakan gaya favorit saya (padahal belum pernah coba). Dari segi kenyamanan, menurut saya jauh dari kata nyaman. Mengapa? Banyak gitaris merasa kesulitan untuk "merambas" gitarnya ketika di atas panggung. Jangankan merambas, untuk bergerak jalan saja sulitnya luar biasa. Bayangkan saja ketika di panggung anda harus membungkukkan badan untuk merambas gitar.  Bagaimana jika membawakan 15 lagu ketika manggung? Apa daya anda harus mengoleskan balsem ke punggung sebelum manggung untuk menjaga performa anda ketika membungkukkan badan dan menyiapkan kartu BPJS untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, seperti encok berkepanjangan, tulang keropos, dan bongkok permanen. Namun rasa takjub saya terhadap gaya ini tak bisa dielakkan, khususnya pada genre punk dan grunge. Tahu sendirilah bagaimana band punk dan grunge beraksi. Lasak, beringas, loncat indah 5 meter, semua ada pada genre ini. Ditambah dengan posisi gitar sepaha, makin menambah daya tarik penonton dan menambah nilai "waw" tersendiri bagi si gitaris. Tak percaya? lihatlah Aga, sang desain grafis Degilzine ketika beraksi bersama bandnya, Depresi Demon. Atau Fadly dari 86. Saya pikir mulut anda akan mengucapkan kata "waw" secara terus menerus dan mencoba ikut larut dengan aksi sang gitaris. Coba saja di rumah kalau penasaran. Dan jangan lupakan cermin sebagai penunjang uji coba anda nanti.

Wassalam.

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Leave a Comment

Baca Juga

Tonenet to net net... tonenet to net net! Yo, itu merupakan sepenggal nada gitar paling melodius sepanjang masa, Sweet Child O Mine dari Guns n Roses. Band yang memilik skill di atas rata-rata ini menjadikan gitarisnya, Slash, sebagai ikon nyentrik mereka. Rambut mode Indomie, celana ketat membentuk belahan pantat, dan posisi gitar menutup alat kelamin, mustahil umat di Bumi ini lupa dengan beliau. Nah bor!!! Kali ini saya akan bahas gitaris namun dari sudut pandang absurd. Saya akan memaparkan beberapa gaya gitaris Medan dalam memainkan gitarnya. Saya akan menjabarkannya berdasarkan penelitian ilmiah saya dari beberapa gigs dan event yang pernah saya hampiri di kota terkorup ini. Mari, bung.

 

  1. Strap gitar sedada/seleher

Pertama sekali di benak saya melihat gitaris dengan style ini seperti sedang melihat orang yang coba mencari ilham dengan menambah penyakit, yaitu bengek dan sesak napas. Betapa sesaknya dada ketika anda menggantungkan gitar sejajar dengan puting dan mendekati leher. Tak terbayangkan sesaknya. Saya pernah mencoba style ini (ketika masih shredder dulu). Tak sampai 5 menit, dada saya terasa seperti diserang Woody Woodpecker. Entah apa maksudnya gitaris menggantungkan gitarnya dengan mode seperti ini. Tapi di sisi lain, cara ini memiliki beberapa keunggulan. Ketika anda melakukan solo gitar, kenikmatan tiada tara menghampiri. Apalagi ketika menggunakan gitar semi hollow, percayalah, penonton akan melihat anda seperti seorang maestro yang menguasai jazz tingkat langit dan memiliki soul yang terbakar (padahal hanya menguasai chord dasar). Dari mata kaum hawa, gitaris dengan mode ini banyak dikagumi. Mengapa? Ya, secara logika gitaris rela merasakan sesak demi bercumbu lebih dekat dengan gitarnya. Gitar aja rela dicumbu, apalagi wanita? Untuk menambah ilmu lebih mantap, saya sarankan anda konsultasi dengan Bung Leo, sang pengarah grafis Degilzine, atau bisa juga ke Hasbi dari Retired. Menurut telaah saya, cara ini mungkin dapat memuluskan cita-cita anda menggaet wanita sehabis manggung.

  1. Sepinggang/perut

Nah, ini adalah posisi paling standar gitaris di galaksi bima sakti. Secara nalar, gaya ini tidak menyulitkan para gitaris untuk beraksi di atas panggung. Jarak pandang ke gitar aman, posisi tangan melakukan strumming dan melodi aman, bergerak ke sana ke mari di atas panggung juga cukup aman. Yang kurang dari style ini adalah ekspresi di panggung, terutama dalam beberapa aliran musik. Untuk musik yang santai dan merdu, saya rasa gaya ini cukup membuat anda menguap, apalagi didukung dengan gaya absurd misterius seperti Jansen dari JRGP. Ingin melempar sesuatu, takut dibilang tak respek. Ingin mengkritik takut dibilang sok hebat. Tapi ya, begitulah. Jika ingin membuktikan tipe no 2 ini, coba saja anda datang ke gigs atau event musik di kota ini. Saya rasa anda akan sepakat bahwa 80% gitaris kota Medan memilih gaya ini ketika di atas panggung.

  1. Sepaha/selutut

Gaya yang ketiga ini merupakan gaya favorit saya (padahal belum pernah coba). Dari segi kenyamanan, menurut saya jauh dari kata nyaman. Mengapa? Banyak gitaris merasa kesulitan untuk "merambas" gitarnya ketika di atas panggung. Jangankan merambas, untuk bergerak jalan saja sulitnya luar biasa. Bayangkan saja ketika di panggung anda harus membungkukkan badan untuk merambas gitar.  Bagaimana jika membawakan 15 lagu ketika manggung? Apa daya anda harus mengoleskan balsem ke punggung sebelum manggung untuk menjaga performa anda ketika membungkukkan badan dan menyiapkan kartu BPJS untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, seperti encok berkepanjangan, tulang keropos, dan bongkok permanen. Namun rasa takjub saya terhadap gaya ini tak bisa dielakkan, khususnya pada genre punk dan grunge. Tahu sendirilah bagaimana band punk dan grunge beraksi. Lasak, beringas, loncat indah 5 meter, semua ada pada genre ini. Ditambah dengan posisi gitar sepaha, makin menambah daya tarik penonton dan menambah nilai "waw" tersendiri bagi si gitaris. Tak percaya? lihatlah Aga, sang desain grafis Degilzine ketika beraksi bersama bandnya, Depresi Demon. Atau Fadly dari 86. Saya pikir mulut anda akan mengucapkan kata "waw" secara terus menerus dan mencoba ikut larut dengan aksi sang gitaris. Coba saja di rumah kalau penasaran. Dan jangan lupakan cermin sebagai penunjang uji coba anda nanti.

Wassalam.

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Leave a Comment

Baca Juga