Roufy Nasution

ROUFY NASUTION: MENCIPTAKAN KEHIDUPAN YANG LAIN MELALUI FILM

Roufy Nasution, biasa dipanggil Rofi, merupakan seorang pembuat film atau bahasa kerennya (movie maker) muda berbakat yang berasal dari kota tercinta kita, Medan. Awalnya ia merantau ke Bandung untuk kuliah di Telkom jurusan DKV dengan cita-cita menjadi seorang desainer baju bola. Kemudian banting setir menjadi seorang pembuat film sampai sekarang. Sampai saat ini ia telah berhasil membuat lebih kurang 6 film pendek, di antaranya “Luna”, “It’s Not Your Home Anymore”, “Dara Puspita Dianti”, “Jeni Lova”, “Elise and Unseen Foot”, dan “The Hotel Water”. Beberapa di antara filmnya telah melanglang buana diputar di berbagai festival film di dunia yang bahkan si pembuatnya belum pernah ke sana. Ibaratkan penulis tanpa pena, pembuat film muda kita ini tidak punya kamera hingga detik ini. Lah terus kok bisa bikin film? Kurang degil apa coba? Baiklah, langsung aja kita ajak doi berbincang-bincang.

 

Baiklah, langsung saja ya. Untuk sekarang Rofi bekerja sebagai apa?

Aku tuh pekerja lepas, sutradara, penulis dan editor juga. Tapi aku lebih fokus pada sutradara sama penulis. Freelance-lah bahasa kerennya.

Bukannya dulu kau sempat bekerja di kantoran?

Dulu sih sempat kerja di iklan bentar. Kayak PH gitulah. Kemarin tuh aku kan gak ada pengalaman tentang iklan. Jadi aku tu sengaja masuk PH gitu biar tau flownya. Intinya kapan aku harus tahu kapan berkonsep untuk film, kapan untuk berkonsep untuk iklan. Intinya belajar membagi dirilah. Kapan harus idealis kapan harus ngikutin orang. Soalnya kan ada client, hehe.

Bagaimana awal kau terjun ke dunia film?

Awalnya tu sebenarnya aku gak punya tujuan ingin jadi film maker sih. Kan aku kuliah DKV,  aku pengen jadi desainer banget sebenarnya. Apalagi karena aku suka bola tapi gak bisa jadi pemain bola. Makanya aku pengen jadi desainer baju bola. Tapi waktu tahun 2014, karena aku sering lihat kawan aku ngedit-ngedit film, aku kek pengen juga, keknya seru juga ni bikin film. Terus aku coba bikin film kan. Sama habis tu ada film yang nginspirasi aku sih, ada film dari Jogja gitu, karyanya Mas Beth, judulnya Shelter. Jadi filmnya tu cuma 1 lokasi dan di bus doang. Abis nonton itu aku mikirnya bikin film itu gak susah. Kau cuma butuh 1 lokasi, asal ceritanya keren jadilah itu film. Karena film itu, aku coba bikin film yang kayak gitu juga, maksudnya kayak pake 1 lokasi doang terus aku syuting sendiri dengan talent-nya adek aku. Dan tiba-tiba film itu masuk festival. Dan itu baru film pertama, lho, hahaha.

Apa tuh judulnya?

Judulnya “Thanks Freedom”, tahun 2014. Jadi itu film asli one man show-lah kubuat. Aku yang nge-direct, aku yang kamera, aku yang ngedit. Waktu itu  pemikiran aku tu untuk jadi sutradara aku harus nguasai semuanya dulu. Jadi aku coba aja dulu. Serba sendirilah, adek aku juga itu aktornya.

Awal bikin itu tujuannya emang iseng doang atau gimana?

Awalnya buat iseng, cuma isengnya tu bukan yang iseng gitu doang. Maksudnya tu jadi, ketika aku ikut kompetisi bisa masuk nominasi gitu.

Nominasi apa tu?

Waktu itu aku ikut yang di Jogja. Namanya tu Tebas Movie Award. Aku pun masih kurang tahu tentang festival film, jadi ya aku ikut-ikut aja. Jadi tu film masuk nominasi Pengambilan Gambar Terbaik sama Penulisan Terbaik. Jadi waktu itu aku kayak sadar kalau aku bisa juga bikin film. Karena sebelumnya di desain aku juga pernah juara gitu kan, hahahaha.

Coba ceritakan sedikit tentang proses pembelajaran kau dalam membuat film?

Jadi gini, dari film pertama itu, aku diundang sama klinik film di Bandung, jadi tu kayak ada beberapa film yang mereka undang terus ada kritikusnya sama pengkajinya. Aku juga bingung kenapa mereka mau ngundang, soalnya film ini gak ada dialognya, cuma film bisu.

Karena menurut aku apa ya, ketika jadi sutradara pasti berhubungan sama audiovisual kan, jadi aku mulai coba yang bermain suara alam aja. Intinya sih ingin nguatin cara aku ber-visual. Lalu di acara itu rupanya pengkajinya suka. Sebenarnya aku nyampeinnya tu cuma tentang kebebasan, kayak cuma mikir syutingnya di rooftop. Dan ternyata dia-nya ngeresponnya juga bagus. Jadi dari situ aku kenal perfilman Bandung.

Terus waktu tahun 2015 aku iseng juga nih ikut seleksi kelas skenario. Jadi waktu tuh di Bandung ada namanya Kepompong Gendut. Itu yang bikin film cinta tentang beda agama sama “Demi Ucok”. Aku lolos ni kan, ada 5 oranglah yang lolos. Workshop tu di rumah dia 2 bulan. jadi seminggu tu datang 2 kali ke rumahnya. Disitulah aku mulai lebih mendalami tentang skenario. Walaupun awalnya aku cuma otodidak aja. Akhirnya keluar dari situ aku tahu bagaimana caranya buat skenario film yang bagus.

Untuk saat ini nih, apa sih keluh kesahnya selama jadi film director sekaligus writer?

Sebenarnya aku gak ada keluh kesah sih, karena aku juga termasuk orang yang mikirnya sesuai isi dompet. Maksudnya ketika aku nulis tuh aku juga nyesuaikan dengan uang yang aku punya untuk produksi. Karena selama ini waktu aku buat film tuh kekurangan aku tuh belum punya temen produser. Baru-baru tahun ini aku baru banyak kenal produser yang ngatur flow suting gitu. Jadi di film tuh ada namanya triangle system: produser, penulis dan sutradara. Biasanya aku buat film tuh ngambil tiga-tiganya. Jadi kebayangkan pusingnya? Hahaha. Kalau nulis sendiri, sutradara sendiri, masih enak. Karena apa yang aku pikirkan langsung aku sampaikan.

Definisi film menurut kau apa?

Film itu menciptakan kehidupan yang lain dengan Tuhan yang berbeda. Jadi kayak bisa lihat bayangan atau imajinasi di kepala ini hidup dan bergerak dalam bentuk video

Jadi bagi kau, film itu harus baik atau bagus?

Kalau aku baik sih, hahahaha.

Kenapa baik? Film yang baik itu gimana?

Aku kalau film baik tuh gimana, aku ngambil dari sutrada lain aja. Jadi apa yang dieskpektasikan di skenario bisa terjalankan di visual. Jadi kan kesalahan film Indonesia biasanya ekspektasinya visual effect ni kan, tapi pas dibuat visual effectnya jelek. Jadi kita mending buat skenario sesuai ekspektasi kita dengan pemikiran kita, tapi itu tersampaikan dan di visual itu juga jadi.

Jadi menurut kau sebuah film itu harus bagaimana?
Kalau menurut aku secara pribadi, karena aku basic-nya DKV juga. Aku tuh pengen nonton film tu ya ibarat kita apa ya? Pengennya memberi suatu pengalaman yang baru. Maksudnya Aku tuh nonton film tu bukan pengen melihat dunia yang sama dengan dunia ini, aku pengen lihat dunia yang lain. Jadi orang tu bisa memperkarakan dunia yang lain dengan versi dia dengan cara hal yang berbeda. Misalnya ketika ngebersihkan rumah gak harus pakai sapu atau apalah gitu. Kan kalo misalnya di DKV, semakin itu unik maka itu akan jadi diingat. Jadi aku tetap bawa filosofi DKV itu di film sampai sekarang.

Kalau dari yang kulihat, di beberapa film kau mengangkat tema absurditas manusia. Itu kenapa tuh ngangkatnya kayak gitu?

Apa ya, pertama tu aku bikin film basic-nya tu kegelisahan, entah kegelisahan aku sendiri, atau cara aku mandang orang atau mungkin ada curhatan orang lain. Kebetulan Jeny Lova sama Sweetnes Satan tu lebih kayak penggabungan fragmentfragment gitu. Gabungan kegelisahan yang aku rasakan. Kalau masalah absurd itu mungkin karena referensi aku juga. Keluarga, teman, sama mimpiku absurd semua. Karena ya aku prinsipnya kalau bikin film tu ya ambil dari keseharian, tapi berbeda ketika dituangkan ke film.

Kalau bikin film nih ya, tentunya ada pendekatan gitu dong. Pendekatan yang kayak mana yang kau pakai?

Kalau aku sih pakai pendekatan realisme magis. Realisme magis tu kalo aku baca teorinya tu hal irasional yang ada di dunia. Film-film yang weird, quirky, anehlah gitu. Soalnya aku banyak buku-buku karyanya Danarto sih. Sebenarnya juga film realisme magis tu banyaknya film-film Asia. Karena Asia tu konteksnya dekat dengan itu. Meskipun di Indonesia sih jarang juga yang pakai pendekatan itu, hahahah.

Jadi untuk saat ini, untuk apa aja sih penghargaan yang sudah didapat dari film-filmnya?

Sebenarnya aku jarang dapat penghargaan sih sebenarnya. Soalnya yang aku kejar itu intinya ruang. Kalau penghargaan palingan tu paling spesial juri dari ReelOzInd, Australia-Indonesia Film Festival. Baru yang lain kayak nominasi-nominasi gitulah. Cuma di tahun kemarin, aku gak tau dan aku gak nyangka ada beberapa tempat yang ngundang aku untuk pameran solo. Kalau di seni rupa namanya solo exhibition. Kalo di film tu namanya focuson. Jadi mereka tu buka ruang buat mutarin film aku aja. 2 kali di Bandung, Sukabumi 2 kali, Bogor sekali.

Di antara film yang sudah kau buat, apa film yang paling berkesan ketika dibuat?

Yang pastinya sih film “Its Not Your Home Anymore”. Karena kalau aku gak buat film itu, aku gak tahu sekarang jadi apa. Tapi kalau untuk sekarang-sekarang ini “Hotel Water” termasuk berkesan. Maksudnya gara-gara film itu, kebetulan film tu masuk festival, jadi festival tu punya program kalau film pemenang atau film pilihan juri itu dibawa keliling di beberapa kota di Indonesia. Misalnya kayak di Makassar, aku belom pernah ke sana, tapi film aku udah ke sana. Akhirnya film aku keliling gitu tanpa aku yang kelilingin, hahahaha.

Kalau yang aku lihat sih, kayaknya film Its Not Your Home tu kayaknya personal banget ya?

Ya, itu personal. Dan itu film aku yang realis. Itu ceritanya cuma kayak tentang perantau aja. Jadi dia kayak pulang ke rumah tapi bapaknya gak bukain pintu. Terakhir tu mereka ngobrol dari bawah pintu lewat surat.

Barubaru ini bukannya “Its Your Not Home” baru dapat penghargaan juga?

Jadi tahun lalu itu memang aku ada 4 kali masuk festival film internasional. Cuma aku gak tau tu itu kelasnya apa. Its Not Your Home itu kebetulan 2 kali masuk. Di Chennai, India, sama di Bigbang, Yunani. Kebetulan di Yunani tu temanya tentang pekerja. 2 lagi tu dibabat sama Hotel Water. Hotel Water tu lebih masuk ke festival film internasional, tapi  antara 2 negara kayak Australia-Indonesia sama Santos-Bandung. Tapi dari 4 festival tu aku gak mempermasalahkan sih mau festival film nasional apa internasional.

Mana festival film yang paling seru?

Screening film itu penting, cuma satu hal yang lebih penting itu diskusinya. Dari 4 ini yang dapat diskusinya tu waktu festival film Santos-Bandung. Jadi diskusinya tu interlokal kayak pake streamingan gitu kan. Jadi ada yang nanya, dia nanya warna gitu. Maksudnya tu ternyata anjing orang jauh dari Brazil. Karena asal aku screening pasti banyak orang nanyain tentang warna. Dan orang Brazil pun nanyain tentang warna. Yaudah aku jelasin aja pake bahasa Inggris-Batak, hahahaha. Karena itu momen pertama aku bisa berdialog dengan orang luar negeri dan bahas film. Cewek lagi yang nanya, hahahaha.

Kalau pandangan di industri film sekarang gimana?

Sebenarnya kalau industri gimana ya, aku juga kurang ngerti industri di Indonesia. Karena aku lebih nikmatin industri indie itunya sih. Ada yang bisa dinikmatin dari film-film indie soalnya, hahahaha.

Kalau dibandingin Medan sama Bandung?

Medan aku gak tau nih, karena aku pengen banget film aku diputar di Medan. Jadi aku pengen ngetes segmentasinya, apakah mereka bisa nerima film indie atau gak.

Kalau di Bandung?

Bandung tu ciri khas filmnya tu pop. Bandung tu kalo kata teman-teman aku yang kritikus, filmnya lebih ke bentuk, bukan meaning. Maksudnya lebih kayak keren-keren aja gitu. Jadi visual tu enak dilihat tapi secara cerita kosong gitu sih.

Jadi pulang gak bawa apaapa, ya?

Hahahaha, ya gitulah, beda sama Jogja. Jogja filmnya kalau dari gambarnya tu susah, sedih. Tapi dari meaning-nya tu kuat. Karena mereka emang bahas tentang kehidupan di sana. Kalau Bandung ini kan mungkin karena mood-nya bahagia aja kan, jadi buat filmnya yang bahagia-bahagia aja.

Jadi Bandung lebih ke kritis ke arah visual?

Iya, kalau masalah visual, Bandung tu termasuk apa ya? Banyaklah beda-beda. Pokoknya nonton film Bandung tu kalau kata kurator festival kayak makan gado-gado. Banyak warna di situ. Banyak variasinya.

Apa yang kau harapkan ketika penonton menonton film kau?

Sebenarnya aku buat film tu bukan kayak kalian harus mengerti atau enggak. Jadi aku pengennya kalian bisa merasakan film itu. Maksudnya kalian bisa merasakan emosi film itu. Adegan film aku tu rata-rata datar aja. Gak ada nangis, gak ada marah. Karena di situ aku pengen nge-tes sebenarnya. Dengan aku menampilkan bahasa visual yang cuma kayak datar. Tapi ketika penonton ketawa, terus mereka sedih, berarti aku berhasil. Tanpa adegan yang berlebihan dan dibuat-buat. Jadi itu sih yang aku inginkan dari penonton: lebih merasakan, bukan coba mengerti.

Di film “Jeni Lova” kau kerja sama dengan Oscar Lolang. Ada rencana ke depan buat kerja sama lagi dengan musisi lokal? Atau mungkin dengan musisi dari Medan?

Wah itu keren sih, tapi aku belum tahu ya. Soalnya aku kadang-kadang belum tahu siapa musisinya, jadi masih banyak suka ngambil musik-musik gratis. Kalau sama Oscar Lolang karena kebetulan tipe dia tu pas gitu masuk ke “Jeni Lova”, dan dia kan buat lagunya juga interpretasi dari filmnya kan. Awalnya sih dia mau mainin lagu orang. Tapi tiba-tiba dia bikin sendiri dan cuma direkam pakai Iphone doang, hahaha. Kalau kerja sama sih, suatu saat mungkin bisa ya. Sukanya aku lagu jazz sih sama orkestra. Jadi mungkin kalau ada musisi jazz yang lagunya kayak Louis Amstrong gitu-gitu bisalah kerja sama. Kayak “Hotel Water” tu aku minta musiknya sama orang Amerika. Jadi aku nulis Hotel Water tu karena aku dengar lagunya Louis Armstrong yang “Do You Know What it Means to Miss New Orleans”. Karena film ini dibiayain, gak mungkin aku ambil-ambil gratis aja. Ada satu orang Amerika, ku-chat aja. Jadi aku dapat hak ciptanya. Baru aku kasih filmnya sama dia. Oh, this film so funny, katanya. Emang orang Amerika otaknya jorok kali, hahahaha.

Untuk ke depannya, apa proyek yang lagi direncanakan?

Sekarang ini ada proyek video-klip Drupadi; tapi nanti tu video-klipnya terbelah dua jadi film. Baru ada 1 film pendek lagi. Pokoknya tahun ini aku pengen ngerjain film tapi emang dari kerjaan atau dibayarin orang. Yang pertama tu tadi kan, dari grup Drupadi. Baru yang kedua itu ada pianis, dia punya musik instrumental sekitar 13 menit. Jadi dia minta diinterpretasiin jadi visual, jadi film pendeklah. Cuma karena aku lagi malas mikir jadi aku suruh penulis lain yang nulis. Jadi aku biar belajar juga gimana sih nge-direct film dari tulisan orang lain.

Terakhir nih, apa pesan buat seluruh pembaca Degilzine?

Aku berjalan di tempat yang sejuk dan hijau. Sialnya aku berjumpa dengan wanita yang unik. Aku pun harus menuliskannya, sederhana saja.

 

 

*Interview oleh M.Ghifari Putra

Share this post

Recent post