RIP: RADIO IKUT PADAM

RIP: RADIO IKUT PADAM

 

Di Indonesia sendiri, radio itu sebenarnya sangat populer. Bagi yang sempat merasakan pengalaman kirim salam lewat radio atau curhat kepada penyiar, cobalah cium badan kalian! Bisa dipastikan baunya bau tanah. Ya, kalian sudah tua pastinya! Atau menunggu tangga lagu favorit tiap minggunya pun rasanya sudah hampir punah. Karena diterpa keseruan berbagi selfi muka anjing atau muncung selebar sampan.

Sepertinya tak banyak yang menyangka kalau radio seluruh Indonesia sempat dibajak oleh Presiden Jokowi. Seluruh radio di Indonesia berhenti beroperasi selama beberapa menit. Kemudian muncul suara sang Presiden, “Emang enak ga ada radio?”. Bahkan jauh sebelum pembajakan ini terjadi, suara Presiden yang mengajak untuk tetap mendengarkan radio berkeliaran di setiap jam dan setiap stasiun radio. Jika dipikir-pikir, seserius itukah pentingnya radio? Sampai-sampai seorang Presiden pun harus turun tangan (ya, kayaknya ujung-ujungnya slot kampanye aja tuh!) Tetapi berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa akademisi, ternyata radio tetap dijaga di seluruh dunia karena memiliki jangkauan paling stabil. Bila terjadi kejadian luar biasa yang mematikan seluruh jaringan komunikasi, radio adalah saluran informasi utama yang akan memandu masyarakat luas. Kalau pernah menonton serial “Lost”, pasti kalian ingat bagaimana Sayid, sang engineer, ngotot mencari sinyal radio supaya dia dan yang lainnya bisa ditemukan di pulau terpencil itu.

Lalu kemudian apa fungsi utama radio sekarang?

Mau dengar lagu sudah bisa lewat Ipod. Mau dengar berita sekarang sudah bisa browsing di situs manapun. Mau ikut kuis pun sudah bisa lewat telepon pintar. Lah terus denger radio untuk apa donk?

Rasanya kalau ini dijadikan pertanyaan ujian CPNS sudah pastilah kalian mampus tak akan lulus. Banyak penyiar radio juga yang hanya bisa memberi jawaban standar, misalnya lagu baru, playlist tak tertebak, berita nge-tren, dan sebagainya. Tapi rasanya tak ada yang mampu memberi jawaban mutakhir mengapa kita masih harus mendengarkan radio, terutama sebagai mahkluk perkotaan.

Mari kita kecilkan skalanya menjadi kota Medan saja. Hampir seluruh radio tugasnya adalah memutarkan musik. Maka,radio sudah seharusnya menjadi stakeholder penting bagi industri musik. Sudah seharusnya radio adalah pemain utama dalam keberlangsungan industri musik, terutama sinergitas antara band dan radio yang berada di kota yang sama.

Di Medan, ada kurang lebih sekitar 17 radio yang beroperasi aktif. Nah, di antara 17 radio tersebut, hanya ada 7 radio yang mau memutarkan lagu-lagu lokal. Ketujuh radio tersebut hanya memberikan porsi sebanyak 1 jam/minggu. Artinya jika dirata-ratakan, sebuah radio beroperasi 18 jam per hari (126 jam/minggu). Maka porsi lagu lokal adalah 1/126 atau sama dengan 0,0079. Dengan kata lain jatah lagu lokal hanya 0,8% dari keseluruhan jam operasi. Nilai ini berlaku jika kita berasumsi 1 jam dalam seminggu itu digunakan full untuk memutarkan lagu lokal tanpa dipotong interview dan iklan.

Nah! Sekarang saya akan mengajak kalian untuk terus berasumsi. Mari kita asumsikan jika dalam 1 jam itu ada interview 2 segmen dan tiap segmen ada 10 menit, maka hanya ada sisa 40 menit. Mari kita abaikan persoalan iklan. Jika kita pukul rata seluruh lagu 3 menit, maka hanya ada 13 lagu lokal yang akan terputar dalam 1 minggu. Mari kita tarik lebih jauh. Jumlah 13 slot ini harus dibagi kembali dengan band yang telah mengirimkan karya dan melewati proses kurasi music director untuk uji kelayakan sampel yang dikirimkan. Jika seandainya, di Medan hanya ada sekitar 50 band yang menelurkan lagu, maka 13 slot lagu yang disediakan tersebut harus dibagi lagi dengan 50 band itu. Artinya hanya ada kemungkinan 26% untuk sebuah lagu lokal sebuah band diputar di satu stasiun radio lokal. Minggu depan pertarungan ini harus kembali terulang. Singkat cerita, sebuah band di Medan hanya memiliki tingkat kemungkinan sebesar 26% untuk diputarkan di sebuah radio lokal yang hanya rela memberi 0,8% dari keseluruhan jam radio beroperasi seminggu.

Bandingkan porsi tersebut dengan lagu-lagu internasional. Bahkan lagu Korea pun rasanya masih punya jatah lebih banyak. Radio hari ini tidak lagi dianggap menjadi sarana primer untuk menyebarkan lagu, mulai ditinggalkan dan dianggap hanya formalitas saja. Ya itu karena impact yang terlalu sedikit yang bisa didulang. Hal ini pun merambah semakin jauh hingga ke level keterlibatan terhadap acara-acara gigs lokal.

Para punggawa band yang seyogyanya bisa menjadi influencer dan bisa mempengaruhi banyak orang untuk tetap mendengar radio rasanya dikhianati dengan porsi seupil yang mau dibagi tersebut. Simbiosis mutualisme antara band lokal dan radio lokal padam. Akhirnya ini yang memicu penurunan popularitas radio-radio lokal dan membuatnya kian padam.

Akhir kata, RIP-nya radio itu sebenarnya bisa diselamatkan dengan pelibatan terhadap musik lokal. Radio selamat. Musik lokal selamat. Semua bahagia. Kan enak barang tu ya kan?

*ILustrasi oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post