PAPAH CEREWET MOAL BALEG: GIGS BAGI BAND YANG INGIN TOUR

PAPAH CEREWET MOAL BALEG: GIGS BAGI BAND YANG INGIN TOUR

Jumat, 26 Januari 2018, Bandung, telah diadakan sebuah perhelatan kolektif berbasis pertemanan di sebuah tempat bernama Route 64. Dengan membawa semangat DIY mereka mengadakan sebuah konser ugal-ugalan. Acara ini mengingatkan saya pada perkataan “ketika rakyat harus mengawal perkaranya sendiri”. Cocok tidak dengan kata “ketika band harus membuat acara mereka sendiri”? Saya rasa sangatlah cocok. Di mana ketika semangat kolektif semakin meredup, setelah dimanjakan dengan berbagai macam perusahaan rokok yang wah dan luar biasa. Mereka hadir dengan membawa semangat kolektif untuk membuat sebuah acara yang mandiri. Menepis segala anggapan yang mengatakan bahwa tanpa sponsor rokok maka sebuah acara musik tidak akan pernah ada.

Acara ini yang walau namanya terkesan lucu, “PAPAH CEREWET MOAL BALEG CATURWULAN 1” namun acaranya sangatlah jauh untuk dijadikan bahan tertawaan. Bagi tidak yang mengenal tentu, pasti akan memandang sebelah mata, mencibir, “acara yang hanya sekadar untuk mabuk-mabukan belaka.” Tentu kita tidak perlu marah, karena sesungguhnya ketidaktahuan adalah pertanda bagi sebuah kebodohan. Yasudahlah mari kita bahas acara ini saja. Ketika panitia ditanya kenapa membuat acara ini alasannya cukup sederhana, “Kebetulan ada band teman yang berasal dari Malang dan Bali sedang tur, yaudah kita bikin gigs deh.” Walaupun mereka mengaku acara ini sebenarnya dadakan, tapi untuk ukuran dadakan sudah cukup baik dan tampak matang.

Ide untuk membuat kolektif “Papah Cerewet” ini ternyata cukup sederhana, yaitu terbentuk dari beberapa kumpulan anak-anak satu tongkrongan yang punya band. Terus yaudah gitu deh mereka bikin acara isinya band-band mereka yang tampil. Nama “Papah Cerewet” ini pun diambil dari salah satu teman mereka yang bernama Kidut, yang Instagramnya menggunakan nick “Papah Cerewet”. “Karena unik jadinya kita pake nama itu,” begitu kata mereka. Niatannya untuk ke depan, ketika ditanya pada mereka, mereka sepakat untuk merutinkan acara ini, tapi dengan konsep yang sama, yaitu khusus untuk menjamu band-band dari luar kota atau luar negeri. Mungkin bagi kalian yang tertarik, sedang tur dan ingin mengadakan gigs mungkin bisa menghubungi mereka.

Sudah cukup perkenalannya ya, mari kita bahas apa saja kejadian yang ada di acara ini.

Konsep panggung yang tanpa barrier, membuat para personel band dan penonton tidak ada jarak dan membuat acara terkesan intim. Jika di tengah pertunjukan mic hilang entah ke mana, janganlah kaget karena itu hal biasa. Karena penonton di sini terlihat juga ingin menyumbangkan suaranya pada setiap lagu yang dimainkan. Senggol-senggolan, tabrak-tabrakkan, atau mungkin crowd surfing adalah pemandangan yang biasa di tiap acara gigs dengan konsep seperti ini. Jadi nikmati saja membaur bersama, bersenang bersama dan pastinya berbagai minum bersama!

Total ada 9 band yang bermain dalam acara ini. Sejujurnya saya terlambat datang ke acara ini diakibatkan hujan deras yang tiba-tiba mengguyur Bandung. Sempat kecewa karena telah melewatkan 3 band, di antaranya ASH-SHUR, KEPAL, dan DUSTY CHAIR. Kekecewaan ini hilang seketika ketika melihat Waluh Attack tampil dengan garangnya. Tanpa barrier membuat jarak antar si band dan penonton begitu dekat. Maka tidaklah heran jika ada penonton yang meloncat-loncat di hadapan si pemain band hingga menyenggol ataupun menabrak. Namun semuanya tampak bahagia dan menikmati musik yang dimainkan.Setelah Waluh Attack tampil, kami disuguhkan Self Revolution yang berasal dari Malang. Vokalisnya yang bertopeng itu menjadikan band ini punya gimmick tersendiri untuk menarik penonton. Bernyanyi liar dan lantang adalah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok sang vokalis. Para penonton langsung diajak berpogo bersama untuk menikmati lagu. Ini pertama kalinya saya menonton band ini, dan tidak terlalu tahu banyak tentang lagunya. Tapi dengan cukup sekali melihatnya sudah cukup untuk mengatakan bahwa band ini bagus dan saya berniat untuk menonton kembali jika ada kesempatan. Sekarang giliran Walking Boy dari Jakarta, band yang baru saja menelurkan EP berjudul “Uang” pada pertengahan 2017 kemarin kembali memanaskan suasana. Sama seperti sebelumnya, antusias penonton masih tinggi. Semua senang, riang, dan bahagia.

Setelah Self Revolution selesai, Rakyu langsung mengambil alih posisi untuk menghibur penonton tanpa sempat untuk membiarkan telinga ini beristirahat. Berbeda dengan band sebelumnya, kali ini mereka membawakan bebunyian heavy metal yang memekakkan telinga. Hal yang berkesan bagi saya adalah ketika mereka membawakan lagu mereka sendiri, yang jika saya tidak salah dengar berjudul Misi Neraka. Memejamkan mata dan terbawa alunan lagu yang dimainkan dan tanpa diketahui, akkh sialan sudah selesai!

Giliran Amnesia menggantikan tempat Rakyu. Sebelum tampil mereka memasang banner yang bergambarkan Tolak Reklamasi Bali. Sejauh ini ketika saya menonton band yang berasal dari Bali ini, embel-embel ini pasti selalu dibawa dan tidak pernah ketinggalan mereka tampilkan untuk menyampaikan bahwa Bali sedang tidak baik-baik saja, dan tentunnya penanda bahwa Bali dengan tegas menolak reklamasi Teluk Benoa. Vokal scream, lengkingan gitar dan gebukan drum sangatlah bagus, terutama ketika mereka membawakan lagu Lentera Kematian. Oh ya, di sela-sela pertunjukan,  salah seorang penonton mengambil mic dan berteriak bahwa bukan hanya Bali saja yang sedang bergolak, tapi Bandung sekarang sedang berada dalam masalah. “Bandung kota Penggusuran tolak rezim Ridwan Kamil, yeaaahh!! Teriakan itu terngiang di otak saya sampai pulang. Jujur saya pribadi sebenarnya heran, kenapa teriakan-teriakan melawan ketidakadilan di dunia selalu berasal dari kelompok-kelompok seperti ini, karena bagaimanapun juga protes bukan hanya milik mereka yang mengaku berpendidikan, toh?

Band terakhir yang tampil di acara ini dan tentunya yang ditunggu-tunggu adalah Hockey Hook. Sontak ketika mereka tampil ke depan penonton langsung ramai mengerumuni panggung. Band yang beraliran ska punk ini sukses mengakhiri acara dengan bagus. Penonton bergoyang dengan rianya seolah tidak hari esok. Kawan Lama adalah lagu yang terakhir dibawakan pada acara ini setelah penonton berteriak-teriak meminta tambahan lagu. Sebuah lagu yang tepat untuk mengakhiri pesta ini. Terakhir dari saya, terima kasih kepada segenap kolektif “Papah Cerewet” untuk acara yang menyenangkan seperti ini. Besar harapan saya semoga acara seperti ini untuk ke depannya dapat diperbanyak. Untuk mengakhiri tulisan ini berikut sepenggal lirik Teman Lama, semoga ke depannya kita dapat bersenang-senang bersama kembali.

Bergembira bersama teman lama, berbagi cerita yang kini jadi kenangan, angkat sekali lagi gelasmu kawan, tuangkanlah air surga dan bersenangsenang.”

 

*Foto oleh M. Gifari Putra (Jongeps)

 

 

 

 

 

Share this post

Recent post