perempuan-bersatu

YANG NYINYIR AMA FEMINIS, COBA TUKARAN KELAMIN SEHARI AJA YUK!

Urusan kelamin memang paling hot kalau dibahas. Topik yang paling tua se-dunianya Hawa dan Adam ini tidak akan pernah kehabisan materi. Apalagi kalau masalah gender. Gender berasal dari kata “genus” yang artinya jenis. Namun, gender bukan hanya tentang ciri-ciri, tetapi juga peran dan tanggung jawab yang dibebankan pada perempuan, laki-laki, dan gender lainnya. Jika kelamin adalah konstruksi biologis, maka gender ciptaan manusia yang dipengaruhi oleh nilai budaya maupun agama komunitas tersebut.  Nah, di sini kita tidak akan membahas tentang apa itu gender dan jenis-jenisnya. Kita hanya akan bermain-main dalam pikiran, dan harus nakal, tentang gerakan gender yang sudah cukup tua umurnya juga. Iya. Feminisme!

Apa sih yang kepikiran di benak kalian ketika mendengar atau membaca kata “feminis/feminisme”?

Berani?

Garang?

Nyolot?

Nyinyir?

Nyebelin?

Kumpulan cewek-cewek gak cantik?

Anti cukur bulu ketek?

Anti laki-laki?

Tukang seks bebas?

Pro-aborsi?

Feliks Miaw Haters?

“Boikot Marilah Teguh” fanbase?

Dan stigma-stigma lainnya (wah, banyak juga ya!).

Tapi apa sih sebenarnya feminisme ini? Siapa sih yang repot-repot bikin gerakan “nyebelin” ini?

Gerakan feminisme atau yang serupa sebenarnya sudah lama adanya. Bukan hanya di dunia Barat, di Timur dunia pun banyak gerakan yang menuntut kesetaraan gender. Salah satunya berawal dari seorang penulis bernama Mary Wollstonecraft pada abad ke-18. Lewat pena tajamnya, ia mengkritisi Revolusi Perancis yang menurutnya hanya berlaku untuk laki-laki (perempuan cuma jadi penonton aja). Satu abad setelahnya, Kartini mulai mencuri-curi kesempatan untuk baca buku-buku kiriman mas-nya di sela-sela kegiatannya belajar jalan merangkak, menunduk – nunduk, atau meramu jamu pewangi badan untuk kepuasan suaminya kelak. Ia pun ternganga bahwa ternyata perempuan juga bisa membaca. Dan, dengan degilnya, anak Bupati Jepara ini ngotot untuk mengajar perempuan-perempuan buta huruf di sekitarnya, walau mati tertekan batin karena menjadi istri ketiga (atau keempat?). Dan pada tulisan Eda sebelumnya, tahun 1928 juga terjadi pergolakan batin para perempuan Indonesia (utamanya yang aliran kiri). Mereka berbondong-bondong berkumpul untuk bertanya dan merumuskan, “Mengapa perempuan selalu dikucilkan? Bagaimana caranya agar perempuan juga bisa diperhitungkan?” Pada tahun 60-an, perempuan Amerika juga ikut menyingsingkan lengan bajunya. Betty Friedan dan kawan-kawan dalam organisasi National Organization for Woman (NOW) ikut memprotes gaji atau upah karyawan perempuan yang lebih sedikit daripada laki-laki. Padahal jam kerja sama, hasil kerja sama, dan dedikasi sama (tampaknya mereka ingin melanjutkan perjuangan Rosa Luxemburg, perempuan marxist Jerman yang dibunuh tentara karena kedegilannya itu. Atau juga Emma Goldman, sang anarkis dari Amerika).

Rosa Luxemburg, seorang feminis marxist yang juga adalah pemimpin Pemberontakan Spartacus 1919, ketika mengagitasi ribuan pejuang pria di Berlin. Foto: Istimewa

Itu sedikit dari banyaknya kisah perjuangan kawan-kawan perempuan dalam memperjuangkan hak sesamanya. “Tapi itukan dulu, Eda! Isu feminisme sekarang basi! Udah banyak kok pilot perempuan, supir perempuan, bahkan Indonesia udah pernah berpresiden perempuan lho!”

Tapi, apakah kita yakin kalau perempuan benar-benar sudah terpenuhi haknya?

Pertama, mari kita iseng jalan-jalan ke mall. Singgahlah di bagian produk kecantikan, baik merek terkenal sampai etalase produk KW. Saya bisa jamin bahwa 90% produk yang tersedia adalah untuk membuat kulit putih. “Apa yang salah dengan kulit putih?” Dan, saya tanya balik. “Apa yang salah dengan kulit gelap? Apa yang salah dengan berjerawat? Bopeng? Pipi tembem? Hidung pesek? Postur pendek? Perut buncit?” Standar tunggal tentang cantik seolah-olah menjadi satu-satunya persoalan yang genting di antara perempuan, yang tidak sadar menyibukkan kita (mulai dari cream pagi, siang, sore, malam, dilanjut beli masker emas hasil penambang di bawah umur dan dibuang sekali pakai, ditambah tekanan untuk menahan iler untuk tidak menyantap lontong Medan lengkap dengan bakwan dan kripik sambalnya. Hm..nyam…nyam!) Kesibukan-kesibukan tak berfaedah tersebut tidak disadari membuat kita menjadi lupa untuk peduli dengan kawan sesama perempuan yang sedang kesulitan belajar, yang dibentak-bentak (bahkan digebukin) pacarnya, sering dipukul suaminya, ditekan mertua, dilecehkan bosnya, diperkosa pamannya, dan persoalan memprihatinkan lainnya. Alih-alih untuk peduli, tak jarang kita malah ikut menyudutkan dan menyalahkan kawan-kawan kita. Contoh paling hits ya istilah PELAKOR itu! Istilah “dari perempuan untuk perempuan tersebut” diciptakan untuk menyudutkan perempuan. Seolah-olah laki-lakinya gak punya peran apa-apa. Langsung deh ngakunya digoda, kesirep, kena hipnotis, atau istilah paling khas = “Papa khilaf, Ma!”

Perbudakan kaum perempuan berkedok agama masih eksis hingga hari ini. Foto: https://lubpak.com/

Ada juga sentilan yang cukup sering terdengar, yaitu perempuan diciptakan tak lebih pintar (baca=goblok) daripada laki-laki. Seolah – olah kita melupakan sosok Hypatia yang berani menentang pendapat konyol bahwa bumi itu datar, Marie Curie dengan peralatan lab-nya, Jane Goodall dengan teman-teman primatanya, Maria Mayer dengan teori atomnya, Dewi Sartika dengan kapur dan papan tulisnya, Nawal El-Sadaawi dengan pena tajamnya, atau Katherine C.G. Johnson dengan rumus NASA-nya (tanpanya, apalah daya astronot laki-laki waktu itu ya?). Sama halnya dengan ketidaksetaraan dalam ras, ras Kaukasia juga tak lebih pintar daripada ras Melayunesia atau Negroid. Bukan bodoh, tetapi tidak diberi kesempatan. Hal itulah yang menyebabkan NOW menutut upah setara pada zamannya. Bahkan, dunia Hollywood nan gemerlap itu sudah mulai mempertanyakan masalah upah. Banyak juga aktor perempuan yang berani bicara atas kasus-kasus pelecehan seksual yang selama ini mereka alami. Ibu-ibu Kendeng maupun Mama Aleta dari Timor, Nusa Tenggara Timur yang tidak pernah berkesempatan mengenyam pendidikan di universitas bonafit dengan kosan springbed dan full-AC berani menjadi pejuang bukan hanya untuk perempuan, tetapi seluruh kaumnya. Beliau-beliau itu menentang perusahaan semen dan marmer bedebah yang mengobrak-abrik tanah keramat nenek moyangnya. Aduh, untuk memperjuangkan nilai mata kuliah yang sim salabim dari dosen aja, kayaknya aku udah pucat duluan.

Aksi 9 perempuan Kendeng di depan Istana Negara (13/3/2017). Aksi ini adalah bentuk protes mereka terhadap izin lingkungan yang diberikan oleh Yang Mulia Ganjar Pranowo pada perusahaan semen di pegunungan Kendeng. Foto: http://nasional.kompas.com/

Hal yang sama bisa kita lihat dalam kasus-kasus pemerkosaan. Stigma yang menyalahkan korban, seperti berbaju tidak pantaslah, keluar malamlah, terlalu agresiflah, gaya menggodalah, sampai kenapa lupa mengunci kamar pun menjadi alasan pembenaran para predator untuk melancarkan aksinya. Jadi, tidaklah mengherankan jika angka pemerkosaan semakin tinggi dan 90% dari kasus tersebut tidak dilaporkan oleh korban. Dan penelitian mutakhir menyebutkan bahwa ternyata pemerkosaan bukanlah perkara berahi semata, tetapi adanya dorongan kekuasaan untuk menaklukkan si korban dan memegang kendali. Itulah, sedihnya tidak sedikit korban pemerkosaan adalah perempuan berbaju tertutup, terjadi di siang bolong, dilakukan oleh keluarga sendiri, bahkan korbannya adalah anak-anak bahkan balita!

Nah, pertanyaan berikutnya, bagaimana nasib laki-laki dalam hal ini? Apa salah laki-laki yang menghormati perempuan? Mereka juga salahkah? Saya masih ingat, ada seorang laki-laki berbisik kepada saya pada saat kuliah umum tentang gender. Sambil tertawa, dia bilang, “Iya…iya, perempuan selalu benar. Laki-laki selalu salah.” Dengan tersenyum kecil, saya menjawab, “Bapak tidak akan mengerti. Karena kalian tidak merasakan bagaimana rasanya ditindas berabad-abad lamanya.” Tapi, apakah laki-laki tidak boleh berperan dalam gerakan ini? Sangat boleh, bahkan harus! Selaku gender yang sedang (diuntungkan) berkuasa, justru laki-laki harus ikut berjuang. Tidak usah langsung berpikir berat, cukup dengan mengesampingkan ego-nya sedikit saja dan ikut menghargai perempuan. Mulai dari tidak mendominasi percakapan, lebih banyak mendengar daripada menyela, ikut terlibat dalam urusan domestik seperti cuci piring dan pakaian (sampeyan ikut makan dan ngotorin baju juga tho?), tidak membentak dan mengancam pacar, sama-sama membuat keputusan apa pun, bahkan yang paling sederhana seperti tidak sok jijik atau menertawakan ketika melihat darah menstruasi yang tembus di celana/rok perempuan (Boys, tambahkanlah porsi melihat vagina yang dirobek jabang bayi, bukan yang dirobek aktor film porno!).

Ditambah lagi, bagi laki-laki yang bernasib menjadi ayah. Studi terkini membuktikan bahwa hubungan ayah dan anak di Indonesia cukup memprihatinkan. Tradisi bahwa ibu mengurus anak dan ayah mencari nafkah ternyata mengakibatkan banyaknya anak-anak yang kehilangan sosok ayahnya. Banyak ayah berpikir, jika semua logistik rumah tangga telah tercukupi maka bereslah perannya. Wait, nanti terasanya ketika anak sudah mulai besar lho. Ketika bertelepon dari luar kota (sedang kuliah/kerja), yang dicari pertama kali siapa? Pasti Mamalah! Ketika seorang ibu meninggal, rumah langsung berduka dan murung. Ketika seorang laki-laki berbuat kasar, intimidasi, bahkan kekerasan fisik maupun mental kepada perempuan, maka salah satu faktornya adalah sosok ayah yang keliru selama masa perkembangannya dari kecil sampai remaja.

Aduh, sebenarnya masih banyak lagi urusan feminisme yang tak kalah penting. Tapi, tenang. Hal yang penting sekarang ini adalah patutnya kita menghargai perjuangan kawan-kawan feminis. Mudah-mudahan kita mulai paham kenapa kawan-kawan feminis ada yang garang, nyinyir, dan nyebelin. Yah, wajarlah! Karena ketidakadilan ini terjadi berabad-adab lamanya. An angry woman is a free woman. Terlepas pro-kontra nilai yang kalian anut, satu hal yang patut kita sepakati bersama, bahwa ini adalah urusan kemanusiaan. Feminis (seharusnya) bukanlah musuh laki-laki. Tidak sama sekali! Feminisme adalah suara para korban. Yaitu korban sistem yang dibangun terlalu lama dan merugikan manusia. Iya, kawan! Perempuan juga manusia kok, bukan burung dalam sangkar emas, atau sekadar hewan peliharaan.

 

So, siap minta ke Doraemon untuk coba tukaran kelamin? Sehari aja kok!

😉

 

*ILustrasi oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post