Degil Zine

Zal Puteh adalah musisi folk kota Medan yang seringkali mengangkat isu kerusakan alam dan realitas sosial perkotaan dalam tiap liriknya. Selain sebagai musisi, Zal juga aktif membangun jejaring perlawanan dalam menghadapi korporasi-korporasi yang merusak alam, menindas para petani kopi, juga perburuan liar terhadap binatang-binatang hutan. Banyak yang bisa kita petik dari musik Zal Puteh. Ada sekam di sana. Leo Sihombing dari Degilzine berkesempatan untuk mengajak Zal Puteh ngobrolin segala macam. Macam apa saja? Langsung saja deh.

 

Kenapa Abang memilih musik folk? 

Karena itu simbol kemerdekaan personal. Aku pengen bebas menyampaikan apa yang kualami.

Apakah lewat folk bahasa kemerdekaan itu bisa Abang sampaikan? 

Itu yang aku lihat dari artis-artis folk kayak Bob Dylan atau Woody Guthrie. Dengan musik folk, mereka berkisah seputar perbudakan dan pergolakan sosial. Di dalam Indonesia sendiri ada Iwan Fals, Sawung Jabo, Franky dan Jane, dan semacamnya..

Apa yang ingin abang sampaikan lewat musik abang? 

Di dalam musikku ini, aku memberi perhatian pada 3 hal: kegelisahanku, kegelisahan orang banyak dan kegelisahan ekologi/alam. Dan dari 3 hal tersebut, aku yakin bisa menerjemahkan banyak hal.

Apa yang membuat Abang tertarik membahas ekologi lewat musik? 

Aku dulu sering menghabiskan banyak waktu di tengah alam. Kegelisahanku tentang ekologi itu buah dari observasiku langsung. Intinya tentang keseimbangan. Manusia butuh alam dan alam juga butuh manusia. Berbicara tentang keseimbangan itu di manusia nih yang kadang gak betul… Gak tahu mesti sebanyak apa sih yang dia butuhkan dari alam? Kalau mau mengambil ya silakan, tapi manfaatkan yang secukupnya. Kalau gak puas jadinya kan gak seimbang lagi. Janganlah ambil terlalu berebihan. Bahkan fauna sendiri bisa dianggap "hama" kan, karena benturan kebutuhan dalam keseimbangan ini. Makanya kita lihat ada berita orang utan dan harimau dibunuh.

Dan orang harus tahu soal isu-isu lingkungan? 

Bagiku, iya, orang harus tahu. Soal mereka mau menanggapi ya belakangan. Oh iya, dalam konteks berkarya inilah kenapa aku jadi lebih memilih menyampaikan kisah itu dibanding bermain di keindahan musik. Karena di kisah itulah kegelisahanku bisa keluar dari musik.

Apa kesibukan sehari-hari Abang? 

Macam-macamlah, hahaha, termasuk juga menjadi tur guide (pariwisata). Dan ini salah satu pekerjaanku yang bersinggungan langsung dengan alam. Secara pribadi bagiku konotasi pariwisata itu luas, gak cuma sebatas liburan aja, tapi termasuk juga soal tradisi dan adat.

Terus, apa inspirasi mencipta lagu datang saat Abang sibuk menjadi tur guide? 

Hahaha, ya semua lagu yang kutulis berangkat dari pengalaman langsung, Le. Misalnya kalau aku berbicara tentang hutan, ya menurutku aku harus menghabiskan waktu di dalam hutan. Contohnya kayak di lagu Teriakan Rangkong, Hutan Hujan dan Pongo Abeli (Orangutan Sumatera).

Dulu sebelum memutuskan untuk serius solo, Abang udah main bareng band apa aja? 

Dulu bareng Herb Roots di 2011. Terus sekitar setahun cabut dan bareng Santus Sitorus ngebentuk Filsafatian sampai akhirnya cabut. Sejak 2014 lalu aku mulai memutuskan untuk bersolo.

Sejak 2014, sudah berapa lagu yang abang tulis? 

Ada nulis 20an lagu. Tapi sampai saat ini yang udah betul-betul rampung baru 10. Beberapa yang udah sering aku bawain seperti Debu, 3 Mei 1999, Pongoh Abeli.

Satu lagu yang paling ngeri buatku itu Debu, Bang. Kemarin nonton waktu Abang bawain di Teras Benji. Dari mana proses kreatif dibalik Debu, Bang? 

Debu itu kisah nyata tentang kota Medan. Kapan sih kita bisa bebas dari debu? Belum lagi masalah sehari-hari di jalan. Kebisingan-kebisingan kota. Ini menjijikkan buatku. Bayangkan aja suara knalpot bolong di jalan kota ini, apakah itu udah jadi kebanggaan? Tapi ya apa daya, kita ini tinggal di kota megapolitan, hahaha.

Kalau menurut Abang nih, kenapa masih sedikit kawan-kawan band di Medan yang mau mengambil inspirasi dari realitas sosial di kota ini? 

Aku pikir setiap pelaku itu berhak berbicara sesuai pengalamannya masing-masing. Sesuai realitas masing-masing aja.

Bagaimana skena folk di kota Medan hari ini? 

Aku belum banyak melihat musisi folk di skena Medan. Mudah-mudahan, besok-besok makin ramai ya, terutama yang mau berbagi kisahnya.

Siapa musisi folk Medan yang cukup mencuri perhatian Abang? 

Ada... Pengamen! Ada tuh satu pengamen yang karyanya asik buatku. Aku ngelihat dia malah jadi kayak pemain teater, karena dia itu selain ngamen dengan karyanya sendiri, dia juga membawakannya dengan bahasa tubuh yang asyik. Sayangnya aku lupa namanya. Beberapa kali sih aku sempat jumpa di warung makan daerah Ring Road.

Bakal merilis single apa nih untuk tahun ini, Bang? 

Belum kayaknya. Aku gak mau buru-buru. Tapi untuk ke depan, ya, ada rencana juga kok untuk membuat album. Sementara ini sih mau lebih sering aja perform di gigs-gigs lokal.

Band Medan yang menurut abang wajib untuk dengar? 

Hello Benji & The Cobra! Mereka ini jadi salah satu inspirasiku juga. Yang lain ada Selat Malaka, yang menurutku musiknya cukup unik. Terus ada Depresi Demon dan juga RKA, yang aku salut karena mereka kuat sekali spirit D.I.Y nya. Secara keseluruhan sih aku senang dengan band-band Medan sekarang ini. Penuh warna, apalagi udah mudah untuk mengakses karya-karya mereka sekarang.

Kan musim tuh Bang, lagu folk bertema kopi dan senja. Apa Abang juga menulis lagu dengan tema serupa? 

Kopinya aja, ada. Judulnya Semangat Sumatera. Tentang pertanian kopi di sini.

Tidur sambil minum kopi atau tidur sambil merokok? 

Aku milih gak tidur tapi merokok sambil ngopi.

Berapa banyak kopi yang Abang habiskan per hari? 

Bisa sampai 5 cangkir, hahaha.

Pesan Abang untuk pelaku skena di kota Medan. 

Budayakan mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Jangan menuntut orang lain yang melakukan. Karena sesungguhnya musisi itu adalah orang-orang yang paling merdeka.

 

 

1 thought on “ZAL PUTEH: MUSISI ITU ORANG-ORANG YANG PALING MERDEKA

Leave a Comment

Baca Juga

Zal Puteh adalah musisi folk kota Medan yang seringkali mengangkat isu kerusakan alam dan realitas sosial perkotaan dalam tiap liriknya. Selain sebagai musisi, Zal juga aktif membangun jejaring perlawanan dalam menghadapi korporasi-korporasi yang merusak alam, menindas para petani kopi, juga perburuan liar terhadap binatang-binatang hutan. Banyak yang bisa kita petik dari musik Zal Puteh. Ada sekam di sana. Leo Sihombing dari Degilzine berkesempatan untuk mengajak Zal Puteh ngobrolin segala macam. Macam apa saja? Langsung saja deh.

 

Kenapa Abang memilih musik folk? 

Karena itu simbol kemerdekaan personal. Aku pengen bebas menyampaikan apa yang kualami.

Apakah lewat folk bahasa kemerdekaan itu bisa Abang sampaikan? 

Itu yang aku lihat dari artis-artis folk kayak Bob Dylan atau Woody Guthrie. Dengan musik folk, mereka berkisah seputar perbudakan dan pergolakan sosial. Di dalam Indonesia sendiri ada Iwan Fals, Sawung Jabo, Franky dan Jane, dan semacamnya..

Apa yang ingin abang sampaikan lewat musik abang? 

Di dalam musikku ini, aku memberi perhatian pada 3 hal: kegelisahanku, kegelisahan orang banyak dan kegelisahan ekologi/alam. Dan dari 3 hal tersebut, aku yakin bisa menerjemahkan banyak hal.

Apa yang membuat Abang tertarik membahas ekologi lewat musik? 

Aku dulu sering menghabiskan banyak waktu di tengah alam. Kegelisahanku tentang ekologi itu buah dari observasiku langsung. Intinya tentang keseimbangan. Manusia butuh alam dan alam juga butuh manusia. Berbicara tentang keseimbangan itu di manusia nih yang kadang gak betul… Gak tahu mesti sebanyak apa sih yang dia butuhkan dari alam? Kalau mau mengambil ya silakan, tapi manfaatkan yang secukupnya. Kalau gak puas jadinya kan gak seimbang lagi. Janganlah ambil terlalu berebihan. Bahkan fauna sendiri bisa dianggap "hama" kan, karena benturan kebutuhan dalam keseimbangan ini. Makanya kita lihat ada berita orang utan dan harimau dibunuh.

Dan orang harus tahu soal isu-isu lingkungan? 

Bagiku, iya, orang harus tahu. Soal mereka mau menanggapi ya belakangan. Oh iya, dalam konteks berkarya inilah kenapa aku jadi lebih memilih menyampaikan kisah itu dibanding bermain di keindahan musik. Karena di kisah itulah kegelisahanku bisa keluar dari musik.

Apa kesibukan sehari-hari Abang? 

Macam-macamlah, hahaha, termasuk juga menjadi tur guide (pariwisata). Dan ini salah satu pekerjaanku yang bersinggungan langsung dengan alam. Secara pribadi bagiku konotasi pariwisata itu luas, gak cuma sebatas liburan aja, tapi termasuk juga soal tradisi dan adat.

Terus, apa inspirasi mencipta lagu datang saat Abang sibuk menjadi tur guide? 

Hahaha, ya semua lagu yang kutulis berangkat dari pengalaman langsung, Le. Misalnya kalau aku berbicara tentang hutan, ya menurutku aku harus menghabiskan waktu di dalam hutan. Contohnya kayak di lagu Teriakan Rangkong, Hutan Hujan dan Pongo Abeli (Orangutan Sumatera).

Dulu sebelum memutuskan untuk serius solo, Abang udah main bareng band apa aja? 

Dulu bareng Herb Roots di 2011. Terus sekitar setahun cabut dan bareng Santus Sitorus ngebentuk Filsafatian sampai akhirnya cabut. Sejak 2014 lalu aku mulai memutuskan untuk bersolo.

Sejak 2014, sudah berapa lagu yang abang tulis? 

Ada nulis 20an lagu. Tapi sampai saat ini yang udah betul-betul rampung baru 10. Beberapa yang udah sering aku bawain seperti Debu, 3 Mei 1999, Pongoh Abeli.

Satu lagu yang paling ngeri buatku itu Debu, Bang. Kemarin nonton waktu Abang bawain di Teras Benji. Dari mana proses kreatif dibalik Debu, Bang? 

Debu itu kisah nyata tentang kota Medan. Kapan sih kita bisa bebas dari debu? Belum lagi masalah sehari-hari di jalan. Kebisingan-kebisingan kota. Ini menjijikkan buatku. Bayangkan aja suara knalpot bolong di jalan kota ini, apakah itu udah jadi kebanggaan? Tapi ya apa daya, kita ini tinggal di kota megapolitan, hahaha.

Kalau menurut Abang nih, kenapa masih sedikit kawan-kawan band di Medan yang mau mengambil inspirasi dari realitas sosial di kota ini? 

Aku pikir setiap pelaku itu berhak berbicara sesuai pengalamannya masing-masing. Sesuai realitas masing-masing aja.

Bagaimana skena folk di kota Medan hari ini? 

Aku belum banyak melihat musisi folk di skena Medan. Mudah-mudahan, besok-besok makin ramai ya, terutama yang mau berbagi kisahnya.

Siapa musisi folk Medan yang cukup mencuri perhatian Abang? 

Ada... Pengamen! Ada tuh satu pengamen yang karyanya asik buatku. Aku ngelihat dia malah jadi kayak pemain teater, karena dia itu selain ngamen dengan karyanya sendiri, dia juga membawakannya dengan bahasa tubuh yang asyik. Sayangnya aku lupa namanya. Beberapa kali sih aku sempat jumpa di warung makan daerah Ring Road.

Bakal merilis single apa nih untuk tahun ini, Bang? 

Belum kayaknya. Aku gak mau buru-buru. Tapi untuk ke depan, ya, ada rencana juga kok untuk membuat album. Sementara ini sih mau lebih sering aja perform di gigs-gigs lokal.

Band Medan yang menurut abang wajib untuk dengar? 

Hello Benji & The Cobra! Mereka ini jadi salah satu inspirasiku juga. Yang lain ada Selat Malaka, yang menurutku musiknya cukup unik. Terus ada Depresi Demon dan juga RKA, yang aku salut karena mereka kuat sekali spirit D.I.Y nya. Secara keseluruhan sih aku senang dengan band-band Medan sekarang ini. Penuh warna, apalagi udah mudah untuk mengakses karya-karya mereka sekarang.

Kan musim tuh Bang, lagu folk bertema kopi dan senja. Apa Abang juga menulis lagu dengan tema serupa? 

Kopinya aja, ada. Judulnya Semangat Sumatera. Tentang pertanian kopi di sini.

Tidur sambil minum kopi atau tidur sambil merokok? 

Aku milih gak tidur tapi merokok sambil ngopi.

Berapa banyak kopi yang Abang habiskan per hari? 

Bisa sampai 5 cangkir, hahaha.

Pesan Abang untuk pelaku skena di kota Medan. 

Budayakan mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Jangan menuntut orang lain yang melakukan. Karena sesungguhnya musisi itu adalah orang-orang yang paling merdeka.

 

 

1 thought on “ZAL PUTEH: MUSISI ITU ORANG-ORANG YANG PALING MERDEKA

Leave a Comment

Baca Juga