Degil Zine

Pada 26 Januari 2018 lalu, Nanin, Neshia dan Yashinta akhirnya merilis album pertama mereka yang bertajuk sama dengan nama grup mereka (self-titled) Nonaria, setelah sekitar setahun sejak dikerjakan. Nesia Ardi di vokal dan snare, Nanin Wardani di akordion dan Yashinta Pattasina di biola tampil dengan pakaian merah tua polkadot yang gayanya terlihat usang.

Grup musik ini cukup menarik karena digawangi oleh perempuan semua. Mereka mengusung musik jazz. Walaupun ketika dikonfirmasi kepada Nesia, ia malah menjawab "Apa itu jazz? Sejenis kerupuk?" Entah mengapa memang musisi jazz sekarang menolak untuk disematkan kata jazz untuk musik mereka.

Bagi sebagian musisi, kata jazz memang menjadi beban, namun hal ini pun menciptakan bias untuk indikator jazz itu sendiri. Semakin lama maka justru tak ada lagi lagu jazz di Indonesia kalau musisi jazz-nya malas mengaku lagunya bergaya jazz. Jazz menjadi rumit karena ulah kritikus, menurut saya.

Tapi statement Nesia tadi juga ada benarnya, rasanya tak perlu mengurung musik itu sendiri. Toh semua kembali kepada ibunya, yaitu musik itu sendiri. Tak perlu memperdebatkan genre karena semua indah jika dituangkan dalam karya.

Nonaria misalnya, mereka menelurkan karya mereka dengan sempurna dan berhasil menggambarkan kejadian biasa menjadi terdengar luar biasa. Banyak kejadian sehari-hari yang dikisahkan ke dalam lagu-lagu mereka. Pada saat peluncuran album Nonaria, ada bahasan menarik terjadi yaitu, "Lagu berbahasa Indonesia itu belum tentu Indonesia."

Jika dipikir-pikir ulang, perkataan ini ada benarnya. Lagu-lagu dengan lirik bahasa Indonesia belum tentu menceritakan atau minimal punya nilai ke-Indonesiaan. Tapi berbeda dengan Nonaria, hampir semua lagunya bercerita tentang sesuatu yang terjadi di Indonesia, hal biasa yang selalu terlewatkan karena remeh. Misalnya saja "Antri Yuk", lagu ini hanya mengajak kita untuk antri, tak ada bahasa alien di dalam liriknya. Tapi begitulah budaya antri di Indonesia, main selap selip dan sruduk sana sruduk sini. Bagi saya pribadi ini sangat pas untuk lalu lintas kota Medan yang mengartikan karena merah adalah berani maka berlaku untuk semua hal apalagi lampu merah. Siap itu beserak dia di simpang jalan.

Kemudian anda akan menjumpai lagu berjudul "Santai". Lagu ini hanya mengajak istirahat sejenak sehabis beraktifitas. Ritme dan alunannya seakan menghardik tapi ceria.

Kemudian yang paling berkesan bagi saya adalah "Maling Jemuran". Rasanya tak ada gelar demikian akan kita temukan di belahan dunia mana pun selain di Indonesia. Walaupun pasti ada saja orang kurang kerjaan yang mencuri sempak. Anda pasti kenal benda paling sakti di jagad raya itu kan? Adakah di antara kalian yang pernah maling sempak? We serius dulu, untuk apa kelen itu, we? Kalian pasti waktu SD pernah terjepit karena ga pake sempak, hacit nai puang! Siapa lagi yang mau mengangkat kisah maling jemuran, walaupun di lagu ini sebenarnya dia bukan maling tapi sosok plontos menggunakan pakaian biru polos yang hampir dijotos.

Sejak awal memutarkan album Nonaria, kita sudah di antarkan kembali ke era jazz yang menyenangkan tanpa improvisasi yang rumit-rumit, seperti di lagu "Salam Nonaria". Semua lagu penuh riang gembira, ada juga yang berirama ragtime. Pokoknya, semuanya akan membawa kita kembali ke era kesederhanaan Indonesia.

 

*Foto Albert Simanungkalit

Leave a Comment

Baca Juga

Pada 26 Januari 2018 lalu, Nanin, Neshia dan Yashinta akhirnya merilis album pertama mereka yang bertajuk sama dengan nama grup mereka (self-titled) Nonaria, setelah sekitar setahun sejak dikerjakan. Nesia Ardi di vokal dan snare, Nanin Wardani di akordion dan Yashinta Pattasina di biola tampil dengan pakaian merah tua polkadot yang gayanya terlihat usang.

Grup musik ini cukup menarik karena digawangi oleh perempuan semua. Mereka mengusung musik jazz. Walaupun ketika dikonfirmasi kepada Nesia, ia malah menjawab "Apa itu jazz? Sejenis kerupuk?" Entah mengapa memang musisi jazz sekarang menolak untuk disematkan kata jazz untuk musik mereka.

Bagi sebagian musisi, kata jazz memang menjadi beban, namun hal ini pun menciptakan bias untuk indikator jazz itu sendiri. Semakin lama maka justru tak ada lagi lagu jazz di Indonesia kalau musisi jazz-nya malas mengaku lagunya bergaya jazz. Jazz menjadi rumit karena ulah kritikus, menurut saya.

Tapi statement Nesia tadi juga ada benarnya, rasanya tak perlu mengurung musik itu sendiri. Toh semua kembali kepada ibunya, yaitu musik itu sendiri. Tak perlu memperdebatkan genre karena semua indah jika dituangkan dalam karya.

Nonaria misalnya, mereka menelurkan karya mereka dengan sempurna dan berhasil menggambarkan kejadian biasa menjadi terdengar luar biasa. Banyak kejadian sehari-hari yang dikisahkan ke dalam lagu-lagu mereka. Pada saat peluncuran album Nonaria, ada bahasan menarik terjadi yaitu, "Lagu berbahasa Indonesia itu belum tentu Indonesia."

Jika dipikir-pikir ulang, perkataan ini ada benarnya. Lagu-lagu dengan lirik bahasa Indonesia belum tentu menceritakan atau minimal punya nilai ke-Indonesiaan. Tapi berbeda dengan Nonaria, hampir semua lagunya bercerita tentang sesuatu yang terjadi di Indonesia, hal biasa yang selalu terlewatkan karena remeh. Misalnya saja "Antri Yuk", lagu ini hanya mengajak kita untuk antri, tak ada bahasa alien di dalam liriknya. Tapi begitulah budaya antri di Indonesia, main selap selip dan sruduk sana sruduk sini. Bagi saya pribadi ini sangat pas untuk lalu lintas kota Medan yang mengartikan karena merah adalah berani maka berlaku untuk semua hal apalagi lampu merah. Siap itu beserak dia di simpang jalan.

Kemudian anda akan menjumpai lagu berjudul "Santai". Lagu ini hanya mengajak istirahat sejenak sehabis beraktifitas. Ritme dan alunannya seakan menghardik tapi ceria.

Kemudian yang paling berkesan bagi saya adalah "Maling Jemuran". Rasanya tak ada gelar demikian akan kita temukan di belahan dunia mana pun selain di Indonesia. Walaupun pasti ada saja orang kurang kerjaan yang mencuri sempak. Anda pasti kenal benda paling sakti di jagad raya itu kan? Adakah di antara kalian yang pernah maling sempak? We serius dulu, untuk apa kelen itu, we? Kalian pasti waktu SD pernah terjepit karena ga pake sempak, hacit nai puang! Siapa lagi yang mau mengangkat kisah maling jemuran, walaupun di lagu ini sebenarnya dia bukan maling tapi sosok plontos menggunakan pakaian biru polos yang hampir dijotos.

Sejak awal memutarkan album Nonaria, kita sudah di antarkan kembali ke era jazz yang menyenangkan tanpa improvisasi yang rumit-rumit, seperti di lagu "Salam Nonaria". Semua lagu penuh riang gembira, ada juga yang berirama ragtime. Pokoknya, semuanya akan membawa kita kembali ke era kesederhanaan Indonesia.

 

*Foto Albert Simanungkalit

Leave a Comment

Baca Juga