hantubgary

ADA HANTU BERNAMA PATRIARKI DI SEKITAR KITA!

“Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti.”
-Charless Bressler

Sejak kecil saya diajarkan di sekolah, bahwa laki-laki (secara kelamin) adalah pemimpin (bagi kelamin lainnya). Hak istimewa dibangun untuk melapangkan gagasan ini; bahwasanya kami (laki-laki) diciptakan untuk memimpin kaum perempuan. Hal ini diimplementasikan secara vulgar pada pemilihan ketua kelas, di mana hanya kaum lelaki yang pantas menjadi calonnya. Sedangkan di rumah, kita (lelaki) diberi hak lebih untuk bebas bermain-main, bebas keluar malam, bebas mengendarai kendaraan, sedangkan perempuan cukuplah ngendon di dalam rumah. Tanpa sadar, sejak kecil kita telah dituntun untuk menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua; segala apa yang hendak mereka lakukan mesti terlebih dahulu melewati sensor pikiran dari laki-laki. Bahkan kemudian menjurus, apa pun yang dilakukan perempuan sudah pasti adalah hal yang ngga becus. Saya ingat percakapan saya dan beberapa senior waktu SMA, ketika salah seorang dari kami menganjurkan agar Siska (perempuan) memimpin acara hiking sekolah. Sang ketua OSIS berkata; “Jangan perempuanlah. Payah nanti kalau ada apa-apa.” Ngga usah ngeles, dialog macam di atas sudah dianggap wajar oleh masyarakat arus utama se-Indonesia Raya. Tak ada yang mau bertanya; “Payah kenapa?” Atau “Kalau laki-laki apa ga bakal payah juga?” Stereotip kalau perempuan adalah mahkluk yang lemah, tidak bertanggungjawab, bahkan tolol, sudah merasuk ke dalam pola pikir masyarakat, dan tentu saja karena diajarkan terus menerus secara intensif semenjak kita kecil.

Foto: irishhealth.com

Apesnya, kaum perempuan juga terus-terusan dibimbing untuk berpikir kalau mereka adalah makhluk yang lemah semenjak masa buaian pula. Gagasan itu, mau tak mau, merasuk dan mendompleng hingga mereka dewasa. Tak jarang kita melihat perempuan yang berkata: “Masak perempuan yang ngerjain ini. Malulah kelen, laki-laki.” atau dengan mindernya “Aduh, gak mungkinlah aku jadi koordinator. Gak sanggup aku. Kasih ke laki-laki aja.” Alhasil, kedua makhluk yang sebenarnya cuma berbeda kelamin ini saling menguatkan gagasan konyol yang telah kita bahas di atas. Padahal kalau mau dipikir-pikir secara komprehensif, masalah kuat dan tidak kuat tergantung dari individunya masing-masing, begitu pula soal pintar dan tidak pintar. Tak ada hubungannya sama sekali dengan jenis kelamin. Mau saya buktikan? Yoklah. Sedikit saja.

Marie Curie (1867-1934) adalah MANUSIA pertama yang memenangkan penghargaan Nobel untuk dua kategori terpisah. Yang pertama adalah untuk penelitian radioaktivitas dan kedua dalam bidang ilmu Kimia. Beberapa tahun kemudian ia juga mengembangkan mesin X-ray pertama di dunia. Apa Marie sepintar itu karena dia lelaki? No, men, secara kelamin, dia perempuan.

Marie Curie. Foto: http://profilbos.com

Billie Holiday (1915-1959) diakui sebagai MUSISI jazz termasyur dan paling ekspresif sepanjang masa. Apa karena dia laki-laki? No, men, Billie seorang perempuan!

Billie Holiday. Foto: Istimewa

Beralih ke dalam negeri.

Malahayati (1585-1604) adalah Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah Kerajaan Aceh.  Pada tanggal 11 September 1599, Malahayati menewaskan Cornelis de Houtman, panglima Belanda, dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Nah, menurut kalian mana yang lelaki mana yang perempuan? Apakah Cornelis de Houtmann adalah perempuan, makanya ia kalah wan-de-wan dengan Malahayati? No, men, Cornelis adalah laki-laki!

Malahayati. Foto: http://www.acehkita.com

Jadi, sudah setuju belum, kalau perbedaan perempuan dan laki-laki hanyalah sebatas perbedaan kelamin? Setuju tidak! Perbedaan lelaki dan perempuan yang ada di kepala kita saat ini adalah bentukan dari kebudayaan leluhur, men! Hanya sebatas soal kebudayaan! Kebudayaan patriarki namanya.

Dengan ini pula saya katakan, patriarki bukanlah idealisme secara filsafat, yang berarti telah ada di dalam pikiran, atau sebentuk kesadaran alam bawah sadar seperti teori “srigala”-nya Rene Descartes, yang berarti telah ada semenjak manusia masih berada di dalam janin. Tidak, patriarki adalah kebudayaan yang diciptakan oleh suatu masyarakat jahiliyah, yang tanpa sadar masih dilanggengkan hingga sekarang. Kalau begitu seperti kata Njoto (musisi dan sastrawan era Soekarno) dong, sebuah wawasan (kebudayaan) hanya bisa dihancurkan oleh wawasan (kebudayaan) yang baru. Setuju tidak?

Seperti halnya dengan hantu, ia ngga kelihatan, tapi menakutkan (bagi yang percaya). Begitupula kalau sudah berbicara soal patriarki di zaman serba canggih ini. Intinya sih sadar dan tidak sadar. Itulah persoalan yang paling utama kalau kita sudah berbicara soal kebudayaan. Ngga usah ngeles (lagi) deh. Seorang aktivis kelas kakap yang katanya khatam dengan teori feminisme, marxisme, buayaisme, kampretisme dan isme-isme lainnya, masih sering kok mendominasi percakapan, memotong argumen (laki/perempuan), juga memaksakan man’s planning-nya. Kalau dia berdalih demi kebaikan, halah, bullshit! Semuanya karena ego sentris yang berasal dari kebudayaan masa kecil! Ngaku saja deh!

Di lain pihak, seorang perempuan feminis juga tanpa sadar sering melecehkan laki-laki, menganggap mereka tak ada gunanya, bahkan yang paling parah, menyebar gagasan bahwa dunia akan lebih indah jika tak ada laki-laki mendiami bumi. Halah, bilang saja kau mau menjadi patriarki dengan kelamin berbeda plus memasukkan unsur Nazisme dalam teori pemusnahan ras. Masyaallah.

Foto: http://www.esocsci.org.nz

Jadi sebenarnya, persoalan kita sekarang bukan lagi soal kelamin ataupun gender (jenis), tapi budaya, men, budaya patriarki tadi. Kebudayaan konyol itulah yang membuat kita saling bermusuhan hingga kini. Fredrich Engels mengatakan bahwa budaya patriarki menyebabkan sistem keluarga modern menjadi cenderung berkelas, laki-laki sebagai kaum borjuis, perempuan dan anak sebagai kaum proletar. Nah, kalau sudah begini, wajar saja jika banyak kaum perempuan zaman ini yang sampai membenci laki-laki. Ya, ngga bisa disalahkan juga. Ingat Revolusi Bolshevik Rusia? Tak ada istilah “tuan tanah baik” pada waktu itu. Nah, bayangin kalau perempuan dan anak-anak kecil menyadari status mereka seperti yang dikatakan oleh Engels, lantas bersatu di seluruh dunia dan mengadakan revolusi berdarah-darah semacam Revolusi Bolshevik? Ngga ada juga lho istilah “laki-laki” baik nantinya. Ngeri lho ngebayangin ketika Citra Hasan Nasution atau Mahalia Nola Pohan menyerukan “Kaum perempuan seluruh dunia, bersatulah! Ganyang kaum laki-laki!”

Jadi mulailah kita (laki-laki) mengikis budaya tak berguna itu pelan-pelan dan menggantinya dengan kebudayaan yang baru. Kenapa mesti kita? Karena kita yang selama ini diuntungkan oleh budaya patriarki, men! Mulailah untuk tidak memotong percakapan seorang perempuan. Mulailah untuk mengajaknya diskusi dalam setiap timbang keputusan. Mulailah jadi pendengar yang baik. Mulailah sama-sama bekerja dalam segala bidang. Mulailah bersama-sama (bukan malah diambil alih pula!) dalam suka dan duka (asyik). Dipikir-pikir sebenarnya gampang, kan? Kalau pikiran sudah adil, perbuatan bakal adil juga kok. Ngga akan lagi deh kita menyiul-nyiul kayak orang idiot waktu seorang perempuan sedang melintas, jika pikiran kita sudah menganggap bahwa perempuan bukanlah suatu objek untuk ditaklukkan. Ngga akan lagi kita berani menggampar perempuan jika dalam pikiran kita sudah tertanam bahwa mereka bukan mahkluk lemah, yang tentunya punya kekuatan untuk menggampar kita balik. Ngga akan lagi kalau kita sudah berlaku adil sejak dalam pikiran. Marilah kita (kaum lelaki) menciptakan budaya baru sebagai anti-tesis dari budaya lama (patriarki) yang super konyol tersebut. Masa sih kita rela, pikiran modern kita didikte oleh kebudayaan kuno para mbah kakung tersebut? Malu dong!

Foto: http://www.medicaltourismmag.com

Eit, tunggu dulu, seperti judulnya, ini cuma sedikit saja membahas patriarki yang ada di sekitar kita (baca: masyarakat perkotaan). Saya butuh menulis berjilid-jilid buku lagi untuk membahas patriarki di pinggiran kota, apalagi pedesaan serta daerah yang belum terpapar modernisasi (meskipun sebenarnya banyak pula daerah yang masih menganut matriarkal, di mana kepala sukunya berkelamin perempuan). Kejam, men! Seriusan. Di sana perempuan masih dianggap mahkluk rendah. Mahkluk tak berguna yang tugasnya di dunia ini “cuma” untuk melahirkan anak. Melanjutkan generasi pakai kata “cuma”? Sadis ngga? Belum lagi soal misoginisme yang belakangan makin marak dikampanyekan oleh kaum-kaum patriarki sejati berkedok agamais. Innalillah! Ah, next time kita bahas deh!

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post