Degil Zine

Grunge, sebuah subgenre rock yang booming di tahun 90-an. Genre yang lahir dari kota Seattle, Amerika Serikat ini akrab teridentifikasi lewat attribute jins robek, flannel, sepatu but maupun Converse, serta musik minimalis dengan distorsi yang terkesan “kotor”. Berterima kasih sebesar-besarnya pada Kurt Cobain dari Nirvana yang telah berjasa membawa gaung musik grunge keliling dunia lewat lagu "Smells Like Teen Spirit" dan album Nevermind-nya. 

Berbicara mengenai grunge sebagai sebuah genre, sampai detik ini sepertinya tidak sedikit yang salah kaprah menginterpretasikan grunge yang mutlak bermuara pada Nirvana. Sebelum membahas grunge dan Nirvana sebagai suatu genre, mungkin banyak yang berasumsi atau punya statement di luar sana yang mengatakan masa bodoh dengan adanya pengkualifikasian genre. Tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa adanya pengkualifikasian genre ibarat memberi sekat atau mengkotak-kotakan musik dan menimbulkan kelas-kelas dalam musik.

Formasi awal Nirvana dalam sesi foto album Bleach di Belltown, Seattle, 25 Februari 1989. Dari kiri: Krist Novoselic, Jason Everman, Kurt Cobain dan Chad Channing. Foto: http://www.dontpaniconline.com/

Secara subjektif saya berpendapat hal itu ada benarnya juga. Namun tidak seutuhnya. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kualifikasi terhadap genre itu penting karena membawa kemudahan bagi pendengar untuk menemukan band-band dengan jenis musik yang disukai. Misalkan saja, Mawar, seorang yang deathmetal abis, lagi bosan-bosannya dengerin band yang itu-itu saja. Nah, dengan adanya genre, dia bisa menambah dengaran baru, yaitu dengan mencari band-band yang berkaitan dengan genre deathmetal. Mumet dong pastinya si Mawar nyari band-band serupa andai kata genre tidak diperlukan di dunia yang fana ini.

Kembali lagi ke permasalahan. Grunge sebagai genre yang sering disalahartikan dengan hanya merujuk pada Nirvana. Barangkali kalian pernah mendapati diskusi dengan teman sebrengsekan yang mempertanyakan “Nirvana itu Grunge” atau “Grunge itu Nirvana” sih? Jujur nih, saya adalah salah satu dari jutaan orang yang mengagumi (sekali) Nirvana. Tapi, tentu sangatlah konyol apabila mengklaim sebuah genre hanya dari satu band yang dihambakan, bukan? Kenapa harus memakai kata grunge sebagai produk identifikasinya? Bukankah lebih mengena apabila memakai kata “Nirvanaisme” sebagai identitas genre? Terlebih lagi masih banyak nama-nama seperti TAD, Melvins, Malfunkshun, Gruntruck, Sonic Youth, Soundgarden, Pearl Jam, Alice in Chains dan sebagainya yang notabene juga mengusung atau setidaknya terlibat dalam pergerakan musik grunge.

Permasalahan berikutnya muncul dari semangat atau esensi dari suatu genre yang kian ke mari rasanya semakin terlupakan. Lebih ironisnya hanya sekadar “ikut-ikutan” belaka tanpa pernah tahu maksud dari suatu musik yang dibawakan. Lagi-lagi, secara subjektif saya percaya suatu musik bukanlah sekadar rangkaian nada yang sifatnya hedonis belaka. Ada pesan, perlawanan, atau pemberontakan yang tersirat dibalik rangkaian nada, baik itu musik dari subgenre, musik yang ditunggangi lirik sebagai penegas maksud, bahkan hingga musik tanpa lirik sekalipun.

Sama halnya dengan grunge. Tentu ada semangat yang dibawa di dalamnya. Esensi  atau hakikat grunge yang sejauh ini saya cermati dari beberapa diskusi, masih banyak dijumpai pendapat yang menyatakan bahwa hakikat musik grunge hanya sebatas: “gembel”, “anti kemapanan”, “apatis”, “blank”, “ngancurin alat” (pikiran kau yang hancur mungkin!) hingga “yang penting teriak-teriak gak jelas!" Ironisnya (walau tidak semua sih!) pendapat-pendapat  ini masih bermunculan di berbagai wilayah di Indonesia.

Apabila merujuk pada dokumenter Hype! (rilis tahun 1996), dan pergerakan Sub Pop Record (label yang banyak menaungi band grunge) pada pertengahan tahun 80 hingga awal 90an, dapat dicermati bahwa grunge bukanlah sebuah genre musik hedonisme atau ajang teriak-teriak gak jelas yang didalamnya tidak ada semangat apa pun. Kesan elit dalam bermusik yang harus mensyaratkan equipment yang bagus, tampang personel yang oke, atau yang pada intinya tidak ada tempat bagi pecundang untuk bermusik tersebut berhasil dipatahkan oleh gelombang musik grunge lewat pergerakan yang dilakukan oleh Sub Pop Record dan band-band Seattle pada waktu itu.

Dua pemuda gila pendiri Sub Pop Records. Kiri: Jonathan Poneman dan Bruce Pavitt. Foto: Jim Berry

Dapat dilihat dalam dokumenter Hype! bahwa banyak remaja yang secara mendadak ingin jadi pecundang atau setidaknya nyaman menjadi pecundang dengan mengenakan t-shirt keluaran Sub Pop dengan tulisan huruf kapital “LOSER” pada sisi depan yang membanjiri pertunjukan yang diadakan oleh Sub Pop. Belum lagi kebanyakan personel dari  band-band pengusung musik grunge yang umumnya adalah orang-orang yang “ditolak” dari kelompok sosial, atau dicap sebagai seorang pecundang. Mereka ini umumnya membawa semangat “No One Loser” yang secara tidak langsung menjadi esensi dalam pergerakan musik grunge.

Unit grunge yang sering di lupakan, TAD di New York, 1989. Foto: Ian Tilton

Yah, overall, bisa dibilang musik grunge bukan sekadar kumpulan kebisingan gak jelas dan tampang urakan. Sesungguhnya mereka membawa perlawanan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap bully atau kelas-kelas dalam sosial. Iya. Sedalam itu.

Long Life Loser!

 

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

 

 

1 thought on “ANTARA GRUNGE, NIRVANA DAN PEMBERONTAKAN PARA PECUNDANG

Leave a Comment

Baca Juga

Grunge, sebuah subgenre rock yang booming di tahun 90-an. Genre yang lahir dari kota Seattle, Amerika Serikat ini akrab teridentifikasi lewat attribute jins robek, flannel, sepatu but maupun Converse, serta musik minimalis dengan distorsi yang terkesan “kotor”. Berterima kasih sebesar-besarnya pada Kurt Cobain dari Nirvana yang telah berjasa membawa gaung musik grunge keliling dunia lewat lagu "Smells Like Teen Spirit" dan album Nevermind-nya. 

Berbicara mengenai grunge sebagai sebuah genre, sampai detik ini sepertinya tidak sedikit yang salah kaprah menginterpretasikan grunge yang mutlak bermuara pada Nirvana. Sebelum membahas grunge dan Nirvana sebagai suatu genre, mungkin banyak yang berasumsi atau punya statement di luar sana yang mengatakan masa bodoh dengan adanya pengkualifikasian genre. Tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa adanya pengkualifikasian genre ibarat memberi sekat atau mengkotak-kotakan musik dan menimbulkan kelas-kelas dalam musik.

Formasi awal Nirvana dalam sesi foto album Bleach di Belltown, Seattle, 25 Februari 1989. Dari kiri: Krist Novoselic, Jason Everman, Kurt Cobain dan Chad Channing. Foto: http://www.dontpaniconline.com/

Secara subjektif saya berpendapat hal itu ada benarnya juga. Namun tidak seutuhnya. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kualifikasi terhadap genre itu penting karena membawa kemudahan bagi pendengar untuk menemukan band-band dengan jenis musik yang disukai. Misalkan saja, Mawar, seorang yang deathmetal abis, lagi bosan-bosannya dengerin band yang itu-itu saja. Nah, dengan adanya genre, dia bisa menambah dengaran baru, yaitu dengan mencari band-band yang berkaitan dengan genre deathmetal. Mumet dong pastinya si Mawar nyari band-band serupa andai kata genre tidak diperlukan di dunia yang fana ini.

Kembali lagi ke permasalahan. Grunge sebagai genre yang sering disalahartikan dengan hanya merujuk pada Nirvana. Barangkali kalian pernah mendapati diskusi dengan teman sebrengsekan yang mempertanyakan “Nirvana itu Grunge” atau “Grunge itu Nirvana” sih? Jujur nih, saya adalah salah satu dari jutaan orang yang mengagumi (sekali) Nirvana. Tapi, tentu sangatlah konyol apabila mengklaim sebuah genre hanya dari satu band yang dihambakan, bukan? Kenapa harus memakai kata grunge sebagai produk identifikasinya? Bukankah lebih mengena apabila memakai kata “Nirvanaisme” sebagai identitas genre? Terlebih lagi masih banyak nama-nama seperti TAD, Melvins, Malfunkshun, Gruntruck, Sonic Youth, Soundgarden, Pearl Jam, Alice in Chains dan sebagainya yang notabene juga mengusung atau setidaknya terlibat dalam pergerakan musik grunge.

Permasalahan berikutnya muncul dari semangat atau esensi dari suatu genre yang kian ke mari rasanya semakin terlupakan. Lebih ironisnya hanya sekadar “ikut-ikutan” belaka tanpa pernah tahu maksud dari suatu musik yang dibawakan. Lagi-lagi, secara subjektif saya percaya suatu musik bukanlah sekadar rangkaian nada yang sifatnya hedonis belaka. Ada pesan, perlawanan, atau pemberontakan yang tersirat dibalik rangkaian nada, baik itu musik dari subgenre, musik yang ditunggangi lirik sebagai penegas maksud, bahkan hingga musik tanpa lirik sekalipun.

Sama halnya dengan grunge. Tentu ada semangat yang dibawa di dalamnya. Esensi  atau hakikat grunge yang sejauh ini saya cermati dari beberapa diskusi, masih banyak dijumpai pendapat yang menyatakan bahwa hakikat musik grunge hanya sebatas: “gembel”, “anti kemapanan”, “apatis”, “blank”, “ngancurin alat” (pikiran kau yang hancur mungkin!) hingga “yang penting teriak-teriak gak jelas!" Ironisnya (walau tidak semua sih!) pendapat-pendapat  ini masih bermunculan di berbagai wilayah di Indonesia.

Apabila merujuk pada dokumenter Hype! (rilis tahun 1996), dan pergerakan Sub Pop Record (label yang banyak menaungi band grunge) pada pertengahan tahun 80 hingga awal 90an, dapat dicermati bahwa grunge bukanlah sebuah genre musik hedonisme atau ajang teriak-teriak gak jelas yang didalamnya tidak ada semangat apa pun. Kesan elit dalam bermusik yang harus mensyaratkan equipment yang bagus, tampang personel yang oke, atau yang pada intinya tidak ada tempat bagi pecundang untuk bermusik tersebut berhasil dipatahkan oleh gelombang musik grunge lewat pergerakan yang dilakukan oleh Sub Pop Record dan band-band Seattle pada waktu itu.

Dua pemuda gila pendiri Sub Pop Records. Kiri: Jonathan Poneman dan Bruce Pavitt. Foto: Jim Berry

Dapat dilihat dalam dokumenter Hype! bahwa banyak remaja yang secara mendadak ingin jadi pecundang atau setidaknya nyaman menjadi pecundang dengan mengenakan t-shirt keluaran Sub Pop dengan tulisan huruf kapital “LOSER” pada sisi depan yang membanjiri pertunjukan yang diadakan oleh Sub Pop. Belum lagi kebanyakan personel dari  band-band pengusung musik grunge yang umumnya adalah orang-orang yang “ditolak” dari kelompok sosial, atau dicap sebagai seorang pecundang. Mereka ini umumnya membawa semangat “No One Loser” yang secara tidak langsung menjadi esensi dalam pergerakan musik grunge.

Unit grunge yang sering di lupakan, TAD di New York, 1989. Foto: Ian Tilton

Yah, overall, bisa dibilang musik grunge bukan sekadar kumpulan kebisingan gak jelas dan tampang urakan. Sesungguhnya mereka membawa perlawanan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan sikap bully atau kelas-kelas dalam sosial. Iya. Sedalam itu.

Long Life Loser!

 

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

 

 

1 thought on “ANTARA GRUNGE, NIRVANA DAN PEMBERONTAKAN PARA PECUNDANG

Leave a Comment

Baca Juga