CADILLAC RECORDS: LABEL RECORDING PARA PENUNGGANG CADILLAC

CADILLAC RECORDS: LABEL RECORDING PARA PENUNGGANG CADILLAC

Sutradara: Darnell Martin

Penulis: Darnell Martin

Produser: Sofia Sondervan, Andrew Lack

Sinematografi: Anastas Michos

Genre: Drama Musikal Biografi

Bahasa: Inggris

Negara: Amerika Serikat

Pemeran: Adrien Brody, Beyonce Knowles, Jeffrey Wright

Tanggal rilis : 5 Desember 2008

Tahun 1941 Muddy Waters masih sibuk mencangkul tanah para pemilik lahan bajingan kulit putih kala itu. Namun jiwa blues dalam dirinya memang telah mendarah daging, hingga ia diminta rekaman untuk kebutuhan universitas. Kala itu dengan ring di jemarinya, ia memainkan gitarnya dan menyanyikan lagunya.

Kala itu mencipta digambarkan sebagai sebuah proses sederhana, hanya mengungkapkan apa yang dirasakan dan apa yang dilihat. Tak ada not yang dipersiapkan khusus untuk memberi keindahan tertentu. Begitupun dengan lirik, rasanya mereka hanya membicarakan keseharian mereka, gitar mereka, kereta api yang mereka naiki, rumah kayu mereka, gadis yang mereka idamkan, hingga cambuk yang memecut mereka. Ya, gaya folk asal Missisipi ala Muddy Waters memang sejujur itu.
Film ini penting untuk melihat gambaran sejarah beberapa tokoh R n B, blues dan rock n’ roll yang sangat luas itu. Nama label rekaman yang sangat tersohor itu adalah Chess Records milik Leonard Chess yang sesungguhnya berasal dari Polandia. Ia mendirikan Chess Record di Chicago, Amerika.

Muddy Waters yang diperankan oleh Jeffrey Wright. Sumber : http://openloadmovies.tv/movies/cadillac-records-2008/

Film yang dirilis pada tahun 2008 ini menceritakan bagaimana Len (Leonard Chess) membangun bisnis musik hingga bisa memberikan mobil Cadillac kepada setiap artis yang ditanganinya. Cadillac itu bukan barang murah, wak! Bayangkan bisa dikasinya satu-satu seorang. Itu sekaligus menjadi gambaran bahwa menjadi musisi adalah pekerjaan yang menjanjikan pada tahun-tahun itu. Anda akan menjumpai bagaimana sistem industri itu terbangun. Mulai dari penyiar radio yang bisa mendapatkan uang tambahan dari setiap lagu yang dia putarkan ke dalam playlist. Walaupun sebenarnya hal itu adalah bentuk sogokan, tapi dalam bisnis itu adalah variabel yang digunakan untuk menunjang karir artis Anda.

Karir Muddy Waters melejit dan akhirnya ia pun membawa Walter Junior, sang maestro harmonika, untuk bermain bersamanya. Kemudian ia dikenalkan kepada Willie Dixon, sang basis dan pencipta hits di Chess Records. Willie tahu persis apa yang dibutuhkan Muddy untuk memecah kebuntuan pola yang sama yang ada di dalam setiap lagunya. Film ini memberi gambaran gamblang bagaimana caranya sebuah perusahaan mengarahkan selera pasar kala itu. Willie Dixon memiliki sihir ajaibnya untuk proses itu.

Dan berbicara soal rock n’ roll tentu tak bisa tanpa membicarakan Chuck Berry. Dalam film ini juga terlihat bagaimana situasi pertikaian rasial pada era itu terjadi dan tokoh-tokoh yang turut mendorong perubahan itu terjadi lewat musik. Pada konser Chuck Berry, ia adalah musisi kulit hitam yang akhirnya bisa menggabungkan ras kulit hitam dan ras kulit putih berjoget di ruangan yang sama tanpa pemisah apa pun. Dan pertikaian ini masih terjadi setelah hampir seabad berlalu karena ada orang gila yang sedang berkuasa sekarang.
Para penikmat lagu era klasik pasti tahu dengan lagu “At Last“. Lagu ini dibawakan oleh Etta James yang juga direkam di Chess Records. Sekalipun bukan “At Last” original yang diputarkan, tetap saja rasanya bulu saya bergidik mendengar lagu ini dilantunkan.

Beyonce yang memerankan Etta James menurut saya sukses terutama ketika ia menyanyikan lagu “All I Could Do Is Crying“; setiap penggalan lirik disampaikan dengan baik oleh Beyonce kala menjelma sebagai Etta James.

Film ini penting ditonton apalagi oleh musisi yang biasanya hanya memikirkan musiknya saja. Penonton dapat melihat proses di balik sebuah lagu tercipta dan musisi bisa melihat proses penjualan itu dijalankan.

Share this post

Recent post