HAN FARHANI DAN

HAN FARHANI DAN “SAJAK SAMPAH” SAUT SITUMORANG

Skena musik tanah air sedang diserang virus sendu melagu. Kenapa saya sebut sendu melagu? Bayangin saja, puisi/sajak plus alat musik akustik; puisinya soal keresahan hati anak manusia pada persoalan cinta segala macam pula. Masih “Cinta-Cinta Melulu” seperti apa yang pernah dinyatakan oleh Cholil ERK, namun kini telah dikemas sedemikian rapi, sedemikian mahal, sedemikian memabukkan. Ya, perpaduan antara puisi dan lagu (yang dikemas secara akustik) sedang mewabah di tanah tumpah darah kita ini, baik diambil dari puisi seorang Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi, Asrul Sani, Subagio Sastrowardoyo ataupun puisi ngga jelas miliknya Tere Liye (emang ada?)

Di antara hegemoni itu, muncul seorang Han Farhani dari kota Malang. Masih dengan peralatan akustik, namun kali ini doi mengangkat puisi-puisi milik seorang penyair degil kelahiran Tebing Tinggi bernama Saut Situmorang, yang alih-alih berbicara soal cinta lawan jenis dan kegelisahan individualistik, sang penyair lebih memilih kata-kata sebagai medium untuk melawan monopoli dari apa yang disebut “kemutlakan”. Lihat saja salah satu puisi Saut yang berjudul Aku MencintaiMu dengan Seluruh JembutKu, yang juga digarap Han menjadi sebuah lagu.

Ada jembut nyangkut

di sela gigiMu!

seruKu

sambil menjauhkan mulutKu

dari mulutMu

yang ingin mencium itu.

sehelai jembut

bangkit dari sela kata-kata puisi

tersesat dalam mimpi

tercampak dalam igauan birahi semalaman

dan menyapa lembut

dari mulut

antara langit langit dan gusi merah mudaMu

yang selalu tersenyum padaKu.

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu

tapi bersihkan dulu gigiMu

sebelum Kau menciumKu!

Bukan, sajak di atas bukan ditujukan untuk-Mu yang di atas sana. Seperti beberapa kali pengakuannya sebelum membacakan puisi ini, Saut “mempersembahkan” puisi ini pada seorang Sapardi, seperti pada sajak-sajak lainnya yang seringkali ia bidikkan secara langsung pada orang lain. Jangan bohong, sudah berapa ribu kali kalian mendengar penyair amatiran membacakan puisi Aku Ingin-nya Sapardi dengan kebanggaan yang berlebih-lebihan, seakan hanya itulah puisi yang pernah lahir di muka bumi ini.

Lantas kenapa Han Farhani memilih sajak Saut yang seringkali dikritik lawannya sebagai “hanya bermain libido untuk meresepsi (menekan) dunia khayalan belaka” itu (saya kurang paham, ini maksudnya bagaimana?), Han Farhani mengatakan, “Intinya sih karena Saut adalah penyair yang dibalik permainan intertekstual dalam puisi-puisinya, dia juga sangat getol melawan “politik kebudayaan” yang dilakukan oleh Goenawan Mohamad.”

Dari sini kita bisa menilai, bahwa musik bagi seorang Han Farhani adalah medium untuk mendegil, melawan kemapanan pikiran “politik kebudayaan”, yang jika mau kita telisik lebih dalam pastinya berasal dari informasi intens yang terus menerus ditekankan kepada masyarakat. Lantas kenapa pula “politik kebudayaan” GM cs harus dilawan? Han menjawab, “Karena saya sepakat bahwa GM dengan Teater Utan Kayu-nya (TUK) telah menjadi sang dominan tunggal dalam sastra Indonesia dan berkali-kali memanfaatkan jaringan kekuasaannya ini. Saya juga sependapat dengan Martin Suryajaya, bahwa GM memegang peran penting sebagai makelar filsafat Prancis dalam membentuk selera intelektual Indonesia untuk kepentingan konsolidasi kapitalisme di Indonesia paska ‘65.” Han Farhani menambahkan, bahwa album ini semacam alat baginya untuk “Memunculkan kesadaran di dalam masyarakat sehingga manipulasi-manipulasi akibat kekuatan dominasi di dalam dunia kesenian tidak terjadi lagi.”

Pendeknya, dengan tujuan untuk melawan itulah Han akhirnya memutuskan menggarap sajak-sajak Saut Situmorang dalam sebuah album musik. Pengerjaannya dilakukan secara mandiri dan sedang dalam proses penyelesaian. Han mengatakan bahwa, “Kalau tidak ada aral, bulan Maret ini juga bakal launching.” Meskipun belum kelar, Han dan kawan-kawannya sudah sering mengadakan gigs bertajuk Pra Peluncuran Album “disebabkan oleh Saut”. Yoi, album yang akan segera brojol ini memiliki nama yang unik, disebabkan oleh Saut (dengan “d” kecil sebagai huruf pembuka kalimat).

Foto: Koleksi Saut Situmorang

Mengenai musik, Han tampaknya ingin bermain-main dengan perpaduan black music dengan white music yang populer di Amerika pada medio ’60-an. Cappucino Blues misalnya, lengkingan saksofon dibalut dengan chord-chord yang “60”an abisss ala-ala The Beatles, Elvis Presley atau Everly Brothers. Asyik sekali lagu ini. Dalam Sajak Sampah, entah kenapa saya malah jadi ingat pada Charles Manson dan rasa-rasanya setuju padanya, bahwa “apocalyptic race war” di dalam “Helter Skelter” memang diperlukan (just joke!). Yang paling asik sebenarnya saya temukan di track Aku Ingin – Ibu Seorang Penyair. Nuansanya 70an sekali. Mendayu dan mesra, meskipun ada ironi yang membabibuta di dalam lirik (puisi) lagu ini. Cermati dan renungkanlah, seraya ingatlah senyum menyebalkan Ayu Utami di pojokan sana.

Aku ingin mencintaimu dengan membabi buta

Dengan sebotol racun yang diteguk

Romeo tanpa sangsi

yang membuat kematiannya jadi puisi

Aku ingin kau mencintaiku dengan membabi buta

Dengan sebilah belati yang ditikamkan

Juliet ke dada sendiri

yang membuatnya jadi abadi

Foto: Koleksi Han Farhani

Pada akhirnya, untuk kalian, para pencinta senja dan segala kunang-kunang, jangan coba-coba menyebut Han Farhani sebagai musisi folk hanya karena dia bermain secara akustikan. Bisa-bisa kalian nanti bakal digamparnya. Seperti kataya, “Arti musik folk saat ini sudah sangat bergeser. Musik folknya Indonesia itu ya dangdut. Musik folk itu seperti kuliner, tiap daerah akan berbeda jenisnya.” Jadi saya rasa cukup kita sebut ia sebagai Han Farhani yang memainkan musik untuk melawan kemutlakan. Asyik ya. Memang asyik kok kalau bermusik dengan tujuan untuk melawan (apa pun). Untuk penutup, ingatlah kata-kata lawas berikut, bahwa segala yang mutlak harus kita curigai.

Share this post

Recent post