IMANKU BUKAN URUSANMU!

IMANKU BUKAN URUSANMU!

PS: Saat membaca tulisan ini, saya harap kalian menyikapinya dengan terbuka. Jika nantinya ada tulisan yang dirasa menganggu, saya harap jalur diskusi adalah pilihan yang anda jalani.

 

2017 hingga 2018 ini adalah tahun yang bagi saya sangat absurd. Sebuah fenomena yang memilukan juga membuat saya panas; toleransi di titik terendahnya. Di saat kepalsuan perayaan Hari Toleransi Nasional beberapa minggu lalu, terselip pula kabar penyerangan sebuah gereja di Yogyakarta, persekusi seorang biksu yang mengadakan ibadah di rumahnya, dan yang lebih parah, entah dari mana orang-orang asli pedalaman sebuah daerah tiba-tiba memilih keyakinan yang tertera pada hukum yang berlaku. Ada apa ini? Apakah kebebasan menganut kepercayaan sudah tidak lagi jadi agenda kerja orang-orang yang mengatur masyarakat? Mungkin mereka sibuk merayakan menuju hari NEGARA TANPA KRITIK. Oh kalian lupa juga? Oh maaf, mungkin karena ini bukan masalah keimanan.

Saya teringat kejadian di saat saya pulang kampung untuk merayakan lebaran. Saya besar dari keluarga dengan lingkungan yang saya bilang cukup ketat jika bicara masalah iman dan ketuhanan, mungkin karena saya lahir di tanah Sumatera yang kental dengan adat Melayu dan ketimurannya. Saya pun besar dengan menganut kepercayaan yang sudah ditetapkan negara, sebuah kepercayaan mayoritas terbesar di tanah seribu pulau yang setengahnya sudah terjual di online shop kesayangan anda. Kenapa saya tidak sebut merek? Sudahlah, satu media sosial sudah mensahkan nama kepercayaan ini sebagai kepercayaan mayoritas, jangan pula kau kompromi.

Dalam kepercayaan yang saya anut, banyak sekali pantangan yang harus saya jauhi, salah satunya adalah merajah tubuh dengan alasan bahwa tinta akan menutup pori-pori kulit yang membuat salah satu syarat ibadah saya tidak terpenuhi. Singkat cerita, saya dan adik saya merajah hampir seluruh bagian tubuh dan nilai plus, adik saya pun berprofesi sebagai seniman rajah walau lulus dari akademi ilustrasi swasta di Jakarta.

Cerita ini akan berhubungan dengan akhir tulisan nanti. Kembali ke benang merah. Mungkin sebagian dari kalian pernah mendengar sebuah kalimat “Religion is the opium of the people”, sebuah quotasi dari seorang yang paling dicintai muda-mudi masa kini, Karl Marx. Penjelasan tentang quotasi tersebut secara singkat bisa dijbarkan seperti ini. Menurut beliau, keimanan memiliki fungsi yang mendekati opium yaitu memberikan ilusi ketenangan jika orang merasa sakit atau depresi tetapi dengan memberikan efek samping pada energi, membuat insan kehilangan rasa untuk berkontribusi terhadap apapun yang bersifat represif.

Jika saya melihat quotasi tersebut dengan apa yang terjadi sekarang, mungkin Karl Marx akan bilang “Tuhkan udah gue bilang, elu sih batu” saat kita nongkrong di mini market bermodal kopi 8000an dan wifi gratis. Bagaimana tidak, pernahkah kita sendiri bercermin dan memahami bahwa masyrakat tidak sedang baik-baik saja? Ilusi keimanan opium sudah bekerja bukan lagi sebagai zat sekunder, tapi sudah menjadi kebutuhan primer. Kita melihat suatu hal secara naif, kita kehilangan akal sehat karena kita merasa tenang dengan ilusi yang saya sebut toleransi. Iya, toleransi adalah nama lain dari opium yang sudah menjadi zat adiktif pula destruktif di tubuh kita. Pernahkah kalian melihat komentar berita di media sosial yang berhubungan dengan musibah di mana kepercayaan menjadi click bait terbaik? Kalian akan temukan “Itu cuma oknum, kepercayaan kami tidak mengajarkan hal seperti ini” atau ada yang naif, “Maafkanlah kami, kami mendoakan yang terbaik untuk korban.” Mungkin ada juga komentar “Ini pengalihan isu, dasar (insert nama binatang melata).” Untuk kalian yang suka meletakkan isu plus nama binatang sebagai senjata komentar, sini saya kasih kerjaan, kamu butuh uang.

Foto: https://statik.tempo.co/

Sebelum kalian bilang “Hei, kita ini hidup harus saling mengayomi walau kita berbeda.” Sudahlah, slogan bhineka tunggal ikamu sudah jadi bahan promo caleg dan gubernur di penjuru Indonesia. Makna kesatuan sudah jadi harga grosir. Singkirkanlah terlebih dahulu kenaifanmu. Kenapa kita harus memulai kalimat pembelaan atau bela sungkawa dengan kalimat “Kepercayaan kami”? Apa yang coba ingin kita buktikan pada dunia dengan menjadi orang yang punya kepercayaan? Saya melihat kepercayaan sebagai hal yang paling egosentris sekarang, tatkala sebagian besar masyarakat internet mencoba memperlihatkan betapa indah kepercayaan mereka masing-masing. Kita seperti sedang branding ulang kepercayaan masing-masing untuk menarik masa dan membuat masa percaya. Situ MLM? Situ jualan mobil? Suatu hal yang saya anggap suci sekali dan bersifat rahasia interpersonal paling hakiki mengapa jadi barang second yang harus selalu di-up gan, lagi BU? Manusia memang makhluk yang absurd. Hei Camus, kamu menang sekarang!

Di tengah ilusi toleransi yang nikmat ini, banyak dari kita yang sudah buta dengan problematika yang muncul dan saya anggap lebih berbahaya. Toleransi sebagai kebutuhan primer yang adiktif membuat hal-hal kemanusiaan harus sabar menunggu sebelum dapat pertolongan. Korban persekusi, stigmatisasi, korban kriminalisasi antar manusia tanpa embel-embel kepercayaan masih menunggu nomor antrian mereka dipanggil pihak berwenang 300 tahun yang akan datang. Jangan sampai saya bicarakan korban ekskavator dan alat berat pendukung program pembangunan yang sudah hilang kabarnya ditelan berita toleransi, juga para wanita yang sedang dititik terendah saat kasus pelecehan dan pemerkosaan nantinya akan dianggap bak kriminalisasi kelas maling ayam. Oh yah, masih kembali mengingatkan bahwa negara ini menuju era tidak menerima kritik lagi. Tak pula kita memberikan komentar “Maafkan kami, kepercayaan kami tidak mengajarkan itu” atau kita sudah mengambil langkah standard ganda juga untuk toleransi? Oh Tuhan, ampuni kami.

Kepercayaan membuat kita mabuk dan naif setiap hari. Reality check sudah tidak mempan sebagai penawar. Entah ini alat pencuci otak paling berpengaruh era ini, atau memang kita sudah terlalu egois untuk melihat kepercayaan disalahgunakan sebatas itu saja. Saya teringat pula sebuah percakapan yang terjadi saat saya sedang beribadah di salah satu masjid besar di Bandung. Saya masih ingat sekali dengan jelas ucapan seorang insan: “Dek, kita dilarang merajah tubuh, doamu tak dikabulkan Tuhan,” selesai saya ibadah Jumat atau ucapan “Mas, kepercayaannya apa? Kok dirajah, nyesel nanti susah kerja dan hidupnya ndak berkah,” dan terjadi saat saya menemani sahabat saya ke Job Fair di salah satu universitas nasional negri ini; ingin saya tertawakan mengingat saya sudah lebih lama bekerja dan berpenghasilan tetap.

Foto: https://i0.wp.com/themuslimvibe.com/

Iman sudah jadi komoditi paling murah meriah bagi saya. Kepercayaan sudah bisa jadi zat adiktif paling mengasyikkan. Jika supplier-nya menghilang, kita yang sakaw akan panik dan mencari siapa yang bisa memberikan zat ini agar ilusi tetap terus berjalan dan melupakan dunia nyata untuk selama-lamanya. Para junkies ini menyeret kita yang masih mau melihat dunia nyata untuk berhenti dan ikut berhalusinasi atau kita tidak jadi keren lagi. Melalui musik, media sosial, media massa, hingga masuk ke dalam kehidupan pribadi demi keuntungan sebesar-besarnya bagi bandar zat adiktif ini.

Saya ingat pesan Ibu saya saat pertama kali tahu saya dan adik saya dirajah juga adik saya yang memilih seniman rajah sebagai jalan usahanya: “Itu urusan kamu dan Tuhan, yang penting kamu bertanggung jawab dengan apa yang sudah jadi kehendakmu.” Dan saya rasa, kalian pun harus mulai bertanggung jawab untuk apa yang sudah kalian pilih atas kepercayaan kalian sendiri. Cobalah satu hari kita sadar dan menempatkan diri menjadi manusia dan bertanggung jawab dengan tugas kita sebagai manusia juga. Apa yang berlebihan itu tidak baik, baik makanan, cinta, obat-obatan, buang air besar. Dan apa yang aku lihat sekarang, kita sudah mulai mencintai Tuhan secara berlebihan bahkan menuju posesif. Jangan lakukan itu, itu berat (Insert Dilan Joke).

Foto: https://assets.rappler.com/

Kuharap kita masih menjadi Manusia Seutuhnya. Salam mendegil.

 

*Ilustrasi oleh Viqri Syahmirzah

Share this post

Recent post