Degil Zine

Sabtu, 17 Januari 2018, tim Degil diberi kesempatan untuk meliput sebuah acara kolektifan keren yang berjudul “Central Underground Sound System Culture Vol.5." Acara ini diusung oleh sebuah kolektifan yang mengusung nama panggung “Konsorsium Etis Populer." Iseng-iseng saya coba artikan apa arti dibalik nama kolektifan mereka, dan kira-kira hasilnya seperti ini: Perkongsian sekumpulan orang yang memunyai minat yang sama, yang mengadakan sebuah acara yang beretika kemudian dikenal dan disukai orang banyak dan tentunya sesuai dengan kebutuhan khalayak umum.

Kurang degil apa coba namanya. Ya gak?

Setelah mengobrol dan ditanya tujuan dari acara dan pembentukan kolektif yang mereka buat. “Mewadahi band-band dengan segala genrenya untuk bisa berkembang dan berkreatifitas. Ibaratnya lo itu nikmatin musik gak harus mahal, bisa free dan lo bisa nikmatin berbagai all genre dan berbagai macam alternatifnya," begitulah paparan Samuel yang merupakan salah seorang inisiator kolektifan ini. Ide awal pembentukan kolektif ini diinisiasi oleh tiga orang, katanya, dia, Ucok dan Jon yang merupakan teman satu tongkrongan. Acara ini sendiri ternyata jika saya tidak salah telah berlangsung 5 kali, dan dimulai dari bulan November 2017. Mereka menambahkan kalau acara ini dibuat karena mereka bosan dengan acara-acara (indie?) zaman sekarang yang bandnya itu-itu saja. Ke depannya ia menambahkan ingin memberi sentuhan-sentuhan seni di dalamnya seperti pameran seni, tari tradisional, lagu tradisional dan hal-hal yang berhubungan seni lainnya. Pada intinya mereka ingin menawarkan sebuah pengalaman baru bagi setiap pengunjung acara mereka.

Baiklah cukup perkenalannya sudah, mari kita bahas apa-apa saja yang terjadi di acara ini. Acara ini diadakan di sebuah café bernama Hope Clat yang terletak di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan. Saya datang bersama teman saya ke acara ini pada jam setengah 8 malam, yang untung saja tepat ketika band pertama akan tampil. Lunatiques adalah band pembuka acara ini. Awal datang disuguhi band seperti ini cukup menghilangkan rasa lelah perjalanan Bandung-Jakarta. Musik yang mereka mainkan cukup menghipnotis, mood saya dibawa naik-turun ketika mendengarkannya, dibawa perlahan ke atas lalu dibanting sekencangnya ke segala arah.

Kira-kira seperti itulah perasaan saya ketika memejamkan mata dan mendengarkan mereka. Jika kalian ingin mendengarkan mereka silahkan kunjungi soundcloud Froothotie Rekords, di sana terdapat single mereka yang berjudul “Euthanesia”. Silakan dengarkan, mana tahu anda merasakan perasaan yang sama dengan saya. Dalam waktu dekat ini, katanya mereka akan segera meluncurkan EP. Ketika ditanya 3 kata yang tepat untuk mendeskripsikan musik mereka, spontan mereka mengatakan experimental, ethnic, dan progressive.

Tanpa basa basi Tarrkam mengambil alih panggung setelah Lunatiques. Ya, anda tidak salah lihat, nama band mereka memang Tarrkam alias tarung kampung. Sesuai namanya, band ini memang sangar. Tanpa diberi waktu istirahat dari penampilan sebelumnya mereka langsung memainkan musik mereka dengan sangar dan keras, membuat tubuh ini langsung ingin bergerak dan bergoyang mengikutinya. Tidaklah heran jika musik punk rock yang mereka mainkan sontak membuat para penonton langsung panas. Perlahan tapi pasti, penonton yang semulanya "jaim” alias jaga image diajak untuk ber-mosing ria terbawa oleh musik yang mereka mainkan.

Melihat Tarrkam mengingatkan saya pada Dead Kennedys, dalam hal ini tentu merupakan pujian untuk mereka. Konon katanya band ini terbentuk pada tahun 2012, dan pada saat ini, jika informasi yang saya terima tidak salah, mereka telah menghasilkan 2 EP. Yang pertama merupakan EP split dengan Total Jerks dan yang kedua Transcedend Massive Culture. Ohh ya satu lagi, jika saya tidak salah dengar, katanya mereka akan meluncurkan album pada Maret tahun 2018 ini. So, tunggu dan dengarkanlah karena jika tidak, kalian akan menyesal dibuatnya.

Penutup acara ini dan yang ditunggu-tunggu: Ramayana Soul. Bagi saya selalu ada hal menyenangkan ketika melihat band ini secara langsung. Setelah pertama kali menonton mereka, saya selalu rindu untuk diajak bermantra bersama kembali, dan pada akhirnya kali ini dapat terwujud. Hal ini dikarenakan sebelumnya selama setahun mereka sempat untuk memutuskan vakum. Lalu kembali lagi tahun lalu dengan langsung mengeluarkan EP yang yang berjudul “Elegi Prematur”. EP ini terdiri dari 4 lagu yang mereka luncurkan bertepatan dengan Record Store Day tahun lalu dan sial saya tidak kebagian satu pun. Beruntungnya saya pada acara kali ini mereka banyak membawakan lagu dari EP tersebut dan beberapa lagu yang baru saya dengar pada acara itu. Lagu favorit saya yang dibawakan mereka pada acara ini kalau tidak salah judulnya "Tuan Tanah". “Tuan, berikan saya melunasi utang saya 1, 2, 3, 4, 5, Minggu berikut lagi tuan tanah". Mungkin dikarenakan sangat cocok dengan kondisi keuangan saya saat ini. Pada acara ini Ramayana Soul tidak bisa lolos dari kewajiban untuk membawakan encore. Lima lagu bagi penonton terlalu singkat untuk dinikmati. Pada akhirnya, setelah mendengar teriakan "encore, encore, lagi, lagi!". Mereka pun akhirnya bermain kembali. “Dimensi Dejavu” dari album Sabdatanmantra dibawakan. Semua terhanyut menikmatinya tak terkecuali saya dan teman saya yang sampai berhenti mendokumentasikan untuk menikmatinya. Lagu terakhir sekaligus penutup dalam acara ini adalah “Alumunium Foil” yang saya rasa sangat tepat. Penonton diajak menggila sebelum acara berakhir. Mas Erlangga sendiri langsung berlari ke arah penonton dan memberikan mic untuk bernyanyi bersama.

Semua puas, semua senang. Begitulah acara ini dengan segala huru-haranya dan tetek bengeknya. Walau saya harus menempuh jarak yang jauh dari Bandung ke Jakarta untuk datang ke acara ini. Toh pada akhirnya tidak mengecewakan dan ternyata menyenangkan. Saya pribadi sangat menyenangi acara kolektifan seperti ini. Panggung tanpa barrier, crowded yang asik, interaksi yang lebih intim, dan juga tentunya tidak ada smartphone (yang menyebalkannya) menghalangi pandangan. Untuk ke depannya, besar harapan saya agar acara kolektifan seperti ini diperbanyak. Bagi saya, mereka yang telah terlibat dalam kolektifan “Konsorsium Etis Populer” telah sukses menggelar acaranya. Bagaimanapun juga, kesuksesan sebuah acara tidak ditentukan oleh berapa pengunjung yang datang atau berapa tiket yang terjual. Tetapi lebih kepada apakah pesan ataupun tujuan yang ingin disampaikan bisa sampai kepada mereka yang datang.

Berikut sepenggal lirik dari Ramayana Soul untuk menutup tulisan ini:
Bawa pulang kalau kau suka, kan kubungkus dengan alumunium foil, hindari amis semerbak."

 

Foto diambil oleh: Fariz Rizki (kibokribo)

0 thoughts on “CENTRAL UNDERGROUND SOUND SYSTEM CULTURE VOL.5 : KOLEKTIF YANG BUKAN ITU-ITU SAJA

  1. Pingback: essayforme

Leave a Comment

Baca Juga

Sabtu, 17 Januari 2018, tim Degil diberi kesempatan untuk meliput sebuah acara kolektifan keren yang berjudul “Central Underground Sound System Culture Vol.5." Acara ini diusung oleh sebuah kolektifan yang mengusung nama panggung “Konsorsium Etis Populer." Iseng-iseng saya coba artikan apa arti dibalik nama kolektifan mereka, dan kira-kira hasilnya seperti ini: Perkongsian sekumpulan orang yang memunyai minat yang sama, yang mengadakan sebuah acara yang beretika kemudian dikenal dan disukai orang banyak dan tentunya sesuai dengan kebutuhan khalayak umum.

Kurang degil apa coba namanya. Ya gak?

Setelah mengobrol dan ditanya tujuan dari acara dan pembentukan kolektif yang mereka buat. “Mewadahi band-band dengan segala genrenya untuk bisa berkembang dan berkreatifitas. Ibaratnya lo itu nikmatin musik gak harus mahal, bisa free dan lo bisa nikmatin berbagai all genre dan berbagai macam alternatifnya," begitulah paparan Samuel yang merupakan salah seorang inisiator kolektifan ini. Ide awal pembentukan kolektif ini diinisiasi oleh tiga orang, katanya, dia, Ucok dan Jon yang merupakan teman satu tongkrongan. Acara ini sendiri ternyata jika saya tidak salah telah berlangsung 5 kali, dan dimulai dari bulan November 2017. Mereka menambahkan kalau acara ini dibuat karena mereka bosan dengan acara-acara (indie?) zaman sekarang yang bandnya itu-itu saja. Ke depannya ia menambahkan ingin memberi sentuhan-sentuhan seni di dalamnya seperti pameran seni, tari tradisional, lagu tradisional dan hal-hal yang berhubungan seni lainnya. Pada intinya mereka ingin menawarkan sebuah pengalaman baru bagi setiap pengunjung acara mereka.

Baiklah cukup perkenalannya sudah, mari kita bahas apa-apa saja yang terjadi di acara ini. Acara ini diadakan di sebuah café bernama Hope Clat yang terletak di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan. Saya datang bersama teman saya ke acara ini pada jam setengah 8 malam, yang untung saja tepat ketika band pertama akan tampil. Lunatiques adalah band pembuka acara ini. Awal datang disuguhi band seperti ini cukup menghilangkan rasa lelah perjalanan Bandung-Jakarta. Musik yang mereka mainkan cukup menghipnotis, mood saya dibawa naik-turun ketika mendengarkannya, dibawa perlahan ke atas lalu dibanting sekencangnya ke segala arah.

Kira-kira seperti itulah perasaan saya ketika memejamkan mata dan mendengarkan mereka. Jika kalian ingin mendengarkan mereka silahkan kunjungi soundcloud Froothotie Rekords, di sana terdapat single mereka yang berjudul “Euthanesia”. Silakan dengarkan, mana tahu anda merasakan perasaan yang sama dengan saya. Dalam waktu dekat ini, katanya mereka akan segera meluncurkan EP. Ketika ditanya 3 kata yang tepat untuk mendeskripsikan musik mereka, spontan mereka mengatakan experimental, ethnic, dan progressive.

Tanpa basa basi Tarrkam mengambil alih panggung setelah Lunatiques. Ya, anda tidak salah lihat, nama band mereka memang Tarrkam alias tarung kampung. Sesuai namanya, band ini memang sangar. Tanpa diberi waktu istirahat dari penampilan sebelumnya mereka langsung memainkan musik mereka dengan sangar dan keras, membuat tubuh ini langsung ingin bergerak dan bergoyang mengikutinya. Tidaklah heran jika musik punk rock yang mereka mainkan sontak membuat para penonton langsung panas. Perlahan tapi pasti, penonton yang semulanya "jaim” alias jaga image diajak untuk ber-mosing ria terbawa oleh musik yang mereka mainkan.

Melihat Tarrkam mengingatkan saya pada Dead Kennedys, dalam hal ini tentu merupakan pujian untuk mereka. Konon katanya band ini terbentuk pada tahun 2012, dan pada saat ini, jika informasi yang saya terima tidak salah, mereka telah menghasilkan 2 EP. Yang pertama merupakan EP split dengan Total Jerks dan yang kedua Transcedend Massive Culture. Ohh ya satu lagi, jika saya tidak salah dengar, katanya mereka akan meluncurkan album pada Maret tahun 2018 ini. So, tunggu dan dengarkanlah karena jika tidak, kalian akan menyesal dibuatnya.

Penutup acara ini dan yang ditunggu-tunggu: Ramayana Soul. Bagi saya selalu ada hal menyenangkan ketika melihat band ini secara langsung. Setelah pertama kali menonton mereka, saya selalu rindu untuk diajak bermantra bersama kembali, dan pada akhirnya kali ini dapat terwujud. Hal ini dikarenakan sebelumnya selama setahun mereka sempat untuk memutuskan vakum. Lalu kembali lagi tahun lalu dengan langsung mengeluarkan EP yang yang berjudul “Elegi Prematur”. EP ini terdiri dari 4 lagu yang mereka luncurkan bertepatan dengan Record Store Day tahun lalu dan sial saya tidak kebagian satu pun. Beruntungnya saya pada acara kali ini mereka banyak membawakan lagu dari EP tersebut dan beberapa lagu yang baru saya dengar pada acara itu. Lagu favorit saya yang dibawakan mereka pada acara ini kalau tidak salah judulnya "Tuan Tanah". “Tuan, berikan saya melunasi utang saya 1, 2, 3, 4, 5, Minggu berikut lagi tuan tanah". Mungkin dikarenakan sangat cocok dengan kondisi keuangan saya saat ini. Pada acara ini Ramayana Soul tidak bisa lolos dari kewajiban untuk membawakan encore. Lima lagu bagi penonton terlalu singkat untuk dinikmati. Pada akhirnya, setelah mendengar teriakan "encore, encore, lagi, lagi!". Mereka pun akhirnya bermain kembali. “Dimensi Dejavu” dari album Sabdatanmantra dibawakan. Semua terhanyut menikmatinya tak terkecuali saya dan teman saya yang sampai berhenti mendokumentasikan untuk menikmatinya. Lagu terakhir sekaligus penutup dalam acara ini adalah “Alumunium Foil” yang saya rasa sangat tepat. Penonton diajak menggila sebelum acara berakhir. Mas Erlangga sendiri langsung berlari ke arah penonton dan memberikan mic untuk bernyanyi bersama.

Semua puas, semua senang. Begitulah acara ini dengan segala huru-haranya dan tetek bengeknya. Walau saya harus menempuh jarak yang jauh dari Bandung ke Jakarta untuk datang ke acara ini. Toh pada akhirnya tidak mengecewakan dan ternyata menyenangkan. Saya pribadi sangat menyenangi acara kolektifan seperti ini. Panggung tanpa barrier, crowded yang asik, interaksi yang lebih intim, dan juga tentunya tidak ada smartphone (yang menyebalkannya) menghalangi pandangan. Untuk ke depannya, besar harapan saya agar acara kolektifan seperti ini diperbanyak. Bagi saya, mereka yang telah terlibat dalam kolektifan “Konsorsium Etis Populer” telah sukses menggelar acaranya. Bagaimanapun juga, kesuksesan sebuah acara tidak ditentukan oleh berapa pengunjung yang datang atau berapa tiket yang terjual. Tetapi lebih kepada apakah pesan ataupun tujuan yang ingin disampaikan bisa sampai kepada mereka yang datang.

Berikut sepenggal lirik dari Ramayana Soul untuk menutup tulisan ini:
Bawa pulang kalau kau suka, kan kubungkus dengan alumunium foil, hindari amis semerbak."

 

Foto diambil oleh: Fariz Rizki (kibokribo)

0 thoughts on “CENTRAL UNDERGROUND SOUND SYSTEM CULTURE VOL.5 : KOLEKTIF YANG BUKAN ITU-ITU SAJA

  1. Pingback: essayforme

Leave a Comment

Baca Juga