Degil Zine

Bebas berkarya serta mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat merupakan beberapa aspek yang sangat diidam-idamkan oleh para penggiat seni. Membangun industri kreatif di tanah sendiri kelihatannya juga elok dipandang mata (kelihatannya sih begitu!). Saya coba membayangkan, jika dua bulan sekali di penghujung minggu diadakan pameran seni, pertunjukan teater, dan konser musik dilakukan berbarengan dengan atensi yang cukup baik dari masyarakat. WAW! Cita-cita epik para seniman di Bumi ini, tentunya! Namun apa daya, yang saya idam-idamkan di atas belum terlaksana hingga saat ini (sepengetahuan saya sih begitu).

Namun kabar gembira pun tiba. Pemred Degil yang sembrenget itu menginformasikan kalau nantinya bakal ada kegiatan mantap berbau hal-hal yang saya idamkan di paragraf awal. Rasa penasaran saya pun muncul setinggi piramid nasi tumpeng. Dan pada akhirnya! Yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Sebuah acara yang dipersembahkan dari  penggiat dan pelaku seni dilaksanakan pada 15 Februari 2018, dan bertajuk ZAMATRA #1. Apa itu? Gerakan menabung di bank? Atau Arisan ibu-ibu komplek? Tunggu dulu, bre! Sini biar kujelaskan secara absurd.

Zamatra yang berarti Jaringan Kesenian Sumatra ini memiliki cita-cita yang cukup simpel. Pertama ingin menjalin silaturahmi lebih ke seluruh elemen penggiat seni dan menolak campur tangan orang-orang yang bertopeng batman dan katanya sok peduli terhadap seni. Padahal, tahu sendirilah kayak mana! Haa!

Acara yang digagas sederhana dan sangat intim di Literacy Coffee ini dimulai dengan aksi corat coret dinding oleh pelukis berbahaya yang baru saja memutuskan untuk berbuat gila dengan bergabung bersama Degil, Fredrico Purba. Sementara itu, di dalam ruangan tengah Literacy yang biasanya diramaikan oleh para pembaca buku, malam itu digantikan dengan seniman-seniman tato Medan.

Di saat yang bersamaan, di luar ruangan, diskusi soal peran perempuan oleh kawan-kawan Perempuan Hari Ini sedang berlangsung dengan sengit (nggak sok santun kayak di event-event itulah!). Akibat nonton diskusi itu, saya mesti mengingatkan pada kalian, bahwa perempuan tak harus melulu mengurus soal dapur atau mengurus anak pren. Perempuan juga punya otot dan otak! Mau tau lebih? Baca aja tulisan emak Degil, Eda Citra.

 

Setelah itu acara dilanjutkan dengan penampilan duo grind punk kebanggaan seluruh awak Degil, RKA. Kehadiran duo ini membakar suasana yang sebelumnya tegang karena diskusi. Membawakan tempo lagu khas grind, Tulank dan drumer-nya yang hobi mabuk itu memacu jantung hadirin untuk ikut merasakan kebisingan yang mereka persembahkan secara apik dan memaksa mata untuk fokus pada duo ini terus menerus. "Seni untuk seni itu bajingan. Mending coli di kamar aja kalau mau kayak gitu," kata Tulank menutup kegarangan RKA.

 

Setelah ingar bingar punk, acara dilanjutkan dengan penampilan performing art oleh penari perempuan, Lia Farida. Kakak cantik ini menyuguhkan kita gerakan tubuh yang indah, implementasi dari kelakian dan keperempuanan. Otak saya yang nggak biasa lihat seni pertunjukan semacam itu menjadi sedikit geger, karena Lia sempat membuka bajunya dalam penampilan itu (itu makanya saya tidak sempat mengambil foto. Fokusku teralihkan!). Setelah itu acara dilanjutkan oleh penampilan Zal Puteh, yang tentu saja tak diragukan lagi dengan lirik-lirik yang membawa kita ke dalam cerita yang cukup kelam. Mulai dari soal pembantaian 1998, urgensi debu kota Medan, sampai keterancaman satwa Orangutan. Psychotic Villager, band saya sendiri (ehemmm!) membawa nuansa fantasi untuk mendamaikan suasana. Namun pemberontakan belum berakhir, Febri sang penyair, unit punk KiriKill dan Jhon Fawer akhirnya menyambut keintiman malam dengan orasi-orasi soal negara kita yang semakin buta pada masyarakatnya. Di sesi akhir, acara ditutup dengan pemutaran film "Opera Batak" miliknya Andy Hutagalung. Film ini menceritakan sejarah dan perjuangan para tokoh dalam mempertahankan eksistensi Opera Batak yang bisa dibilang padam dan hampir punah. Wuih!

 

 

Secara keseluruhan kegiatan ini saya anggap telah berhasil meleburkan para pelaku seni dalam lintas genre. Sastra, seni rupa, film, musik, seni tari, sampai tato, melebur jadi satu menjadi kebanggan tersendiri buat saya. Secara keseluruhan, ZAMATRA bisa melebur perbedaan dan membentuk suatu gerakan yang kiranya dapat meningkatkan industri kreatif di kota Medan. Tak tanggung-tanggung, ZAMATRA ini punya misi dan digadang-gadang bisa memunculkan perubahan besar di industri kreatif tanah Sumatra. Mau tahu gimana? Atau mau kenal dengan ulama-ulama seni yang ada di dalamnya? Tunggu saja. Bakalan kok! Sabar ya bos!

 

Sumber foto dari : Ina Addini, Aga Depresi, Tengku Ariy, dan Literacy Cofee.

Leave a Comment

Baca Juga

Bebas berkarya serta mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat merupakan beberapa aspek yang sangat diidam-idamkan oleh para penggiat seni. Membangun industri kreatif di tanah sendiri kelihatannya juga elok dipandang mata (kelihatannya sih begitu!). Saya coba membayangkan, jika dua bulan sekali di penghujung minggu diadakan pameran seni, pertunjukan teater, dan konser musik dilakukan berbarengan dengan atensi yang cukup baik dari masyarakat. WAW! Cita-cita epik para seniman di Bumi ini, tentunya! Namun apa daya, yang saya idam-idamkan di atas belum terlaksana hingga saat ini (sepengetahuan saya sih begitu).

Namun kabar gembira pun tiba. Pemred Degil yang sembrenget itu menginformasikan kalau nantinya bakal ada kegiatan mantap berbau hal-hal yang saya idamkan di paragraf awal. Rasa penasaran saya pun muncul setinggi piramid nasi tumpeng. Dan pada akhirnya! Yang ditunggu-tunggu pun tiba.

Sebuah acara yang dipersembahkan dari  penggiat dan pelaku seni dilaksanakan pada 15 Februari 2018, dan bertajuk ZAMATRA #1. Apa itu? Gerakan menabung di bank? Atau Arisan ibu-ibu komplek? Tunggu dulu, bre! Sini biar kujelaskan secara absurd.

Zamatra yang berarti Jaringan Kesenian Sumatra ini memiliki cita-cita yang cukup simpel. Pertama ingin menjalin silaturahmi lebih ke seluruh elemen penggiat seni dan menolak campur tangan orang-orang yang bertopeng batman dan katanya sok peduli terhadap seni. Padahal, tahu sendirilah kayak mana! Haa!

Acara yang digagas sederhana dan sangat intim di Literacy Coffee ini dimulai dengan aksi corat coret dinding oleh pelukis berbahaya yang baru saja memutuskan untuk berbuat gila dengan bergabung bersama Degil, Fredrico Purba. Sementara itu, di dalam ruangan tengah Literacy yang biasanya diramaikan oleh para pembaca buku, malam itu digantikan dengan seniman-seniman tato Medan.

Di saat yang bersamaan, di luar ruangan, diskusi soal peran perempuan oleh kawan-kawan Perempuan Hari Ini sedang berlangsung dengan sengit (nggak sok santun kayak di event-event itulah!). Akibat nonton diskusi itu, saya mesti mengingatkan pada kalian, bahwa perempuan tak harus melulu mengurus soal dapur atau mengurus anak pren. Perempuan juga punya otot dan otak! Mau tau lebih? Baca aja tulisan emak Degil, Eda Citra.

 

Setelah itu acara dilanjutkan dengan penampilan duo grind punk kebanggaan seluruh awak Degil, RKA. Kehadiran duo ini membakar suasana yang sebelumnya tegang karena diskusi. Membawakan tempo lagu khas grind, Tulank dan drumer-nya yang hobi mabuk itu memacu jantung hadirin untuk ikut merasakan kebisingan yang mereka persembahkan secara apik dan memaksa mata untuk fokus pada duo ini terus menerus. "Seni untuk seni itu bajingan. Mending coli di kamar aja kalau mau kayak gitu," kata Tulank menutup kegarangan RKA.

 

Setelah ingar bingar punk, acara dilanjutkan dengan penampilan performing art oleh penari perempuan, Lia Farida. Kakak cantik ini menyuguhkan kita gerakan tubuh yang indah, implementasi dari kelakian dan keperempuanan. Otak saya yang nggak biasa lihat seni pertunjukan semacam itu menjadi sedikit geger, karena Lia sempat membuka bajunya dalam penampilan itu (itu makanya saya tidak sempat mengambil foto. Fokusku teralihkan!). Setelah itu acara dilanjutkan oleh penampilan Zal Puteh, yang tentu saja tak diragukan lagi dengan lirik-lirik yang membawa kita ke dalam cerita yang cukup kelam. Mulai dari soal pembantaian 1998, urgensi debu kota Medan, sampai keterancaman satwa Orangutan. Psychotic Villager, band saya sendiri (ehemmm!) membawa nuansa fantasi untuk mendamaikan suasana. Namun pemberontakan belum berakhir, Febri sang penyair, unit punk KiriKill dan Jhon Fawer akhirnya menyambut keintiman malam dengan orasi-orasi soal negara kita yang semakin buta pada masyarakatnya. Di sesi akhir, acara ditutup dengan pemutaran film "Opera Batak" miliknya Andy Hutagalung. Film ini menceritakan sejarah dan perjuangan para tokoh dalam mempertahankan eksistensi Opera Batak yang bisa dibilang padam dan hampir punah. Wuih!

 

 

Secara keseluruhan kegiatan ini saya anggap telah berhasil meleburkan para pelaku seni dalam lintas genre. Sastra, seni rupa, film, musik, seni tari, sampai tato, melebur jadi satu menjadi kebanggan tersendiri buat saya. Secara keseluruhan, ZAMATRA bisa melebur perbedaan dan membentuk suatu gerakan yang kiranya dapat meningkatkan industri kreatif di kota Medan. Tak tanggung-tanggung, ZAMATRA ini punya misi dan digadang-gadang bisa memunculkan perubahan besar di industri kreatif tanah Sumatra. Mau tahu gimana? Atau mau kenal dengan ulama-ulama seni yang ada di dalamnya? Tunggu saja. Bakalan kok! Sabar ya bos!

 

Sumber foto dari : Ina Addini, Aga Depresi, Tengku Ariy, dan Literacy Cofee.

Leave a Comment

Baca Juga