AMPUN! MATAKU DICOLOK-COLOK SAMPAH VISUAL!

AMPUN! MATAKU DICOLOK-COLOK SAMPAH VISUAL!

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkunjung ke beberapa kota. Ya, bisa dibilang seputaran-seputaran itu juga. Bulan lalu, saya bertandang ke Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor, sampai Bandung. Ada yang menarik dan hal itu saya sadari dengan sangat segera.
Ketika berkunjung ke sana, langit sering mendung juga gelap. Ketika cerah, palingan hanya sebentar saja. Tapi entah kenapa lebih mudah melihat langit di kota Jakarta daripada di Medan. Padahal Jakarta dipenuhi dengan gedung-gedung dan fly over dimana-mana, tapi tetap saja mataku lebih gampang melihat langit di sana. Ada perasaan lega setiap kali melihat langit, apalagi ketika di persimpangan jalan. Begitu lampu merah hidup, semua kendaraan terhenti. Wajahku mendongak ke atas dan aku puas. Lalu aku bertanya, kenapa aku?
Dan akhirnya aku baru menyadari ketika pulang kembali ke Medan. Mataku sakit, bak dicolok pakai jarum pentul. Begitu tiba, akhirnya aku pun tahu. Medan dibanjiri sampah visual. Pergilah ke persimpangan! Tunjukkan simpang mana di kota Medan yang tak ada papan reklamenya! Cari trotoar mana yang tidak didirikan tiang-tiang reklame!
Aku menjadi jijik melihat ke atas. Aku jadi takut mataku dicolok-colok oleh mereka. Mereka itu siapa? Ya, bukan cuman sampah-sampah iklan itu saja, tapi semua yang ada di dalam, termasuk tampang-tampang memuakkan yang ada di dalamnya. Mending ganteng atau cantik. Ini muka berserak aja mau nampil.
Kemudian aku menjadi heran, kenapa isi papan reklame di Medan hampir semuanya berisi wajah? Rasanya setiap melihat papan reklame, yang ada di benakku, “Siapa anak ini? Uda ngapain kau di Medan ini? Apa rupanya yang udah pernah kau buat untuk Medan ini?” Kalau dipikir-pikir, yang terpampang di papan reklame bukan model iklan, tapi manusia antah berantah, yang sok oke dan sok pede memunculkan mukanya yang menjijikkan itu. Kalau ditengok-tengok paling tukang jaga papan bunga kalo ada pesta itu-nya uwak-uwak ini semua, tukang ngompas pedagang-pedagang itu-nya orang ini kalo diliat dari seragam-seragamnya. Terus prestasi uwak-uwak sok paten ini apa? Kok harus se-Medan ini tau muka mereka?
Mungkin para pembaca di Medan pernah lewat dari jalan Gatot Subroto. Kalian akan menemui papan reklame dimana-mana. Sampai-sampai ada papan reklame provider telepon seluler yang saling mengejek lewat tulisan iklannya karena bersebelahan. Betapa konyolnya kota ini, bukan? Ya sekurang-kurangnya design dan warnanya bisa baik. Nyatanya warna yang muncul saling bertabrakan kemudian juga yang muncul hanya jargon-jargon omong kosong para manusia-manusia yang haus jabatan ataupun popularitas.
Andai aku boleh menggergaji papan reklame beserta wajah-wajah konyol di dalamnya, sudah ku gergaji mereka! Papan reklamenya ya! Bukan manusianya! Walaupun kadang ya gitu deh. Kalau aku sih pesimis bisa lagi melihat langit di Medan. Mungkin pun tahun depan gerbang rumahku udah ditutup tiang-tiang papan reklame. Pokoknya hati-hati aja lah we! Mungkin pas kita mau kencing pun ada papan reklame yang berisi muka uwak-uwak itu di kamar mandi. Jadi, pas kencing macam kenak keten ya kan. Langit yang segitu luas aja bisa ditutup orang itu, konon lagi ruang privat kita.
Jadi teringat jargon dulu-dulu. “Medan Rumah Kita“. Lupa pula aku yang bikin siapa, tapi kayaknya uda harus diganti itu jadi “Medan rumah papan reklame” atau “Medan rumah sampah visual“. Yaudah lah sekalian, “Medan bukan rumah kalian“. Gitu aja ya kan, yang jelas-jelas aja kita. Daripada nanti pas lagi bersemedi guna menjatuhkan feses ke muka bumi, tiba-tiba melihat sesosok wajah om-om. Kan bisa tercecer ke wajah om itu.
*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post