Foto: https://shutterbeater.wordpress.com/

TOMORROWS COMEDY: ANCANG-ANCANG COMEBACK-NYA POLYESTER EMBASSY

Akhir 2011, sebuah paket tiba di depan rumah saya. Paket yang saya pesan dari salah satu record store di Kota Kembang itu berisi 2 keping album dari sebuah band post-rock Bandung bernama Polyester Embassy. Itulah awal kecintaan saya terhadap Tragicomedy dan Fake/Faker.

Setelah menjadi tamu dalam dua acara pada weekend pertama dan kedua bulan Februari, akhirnya, seakan gerah menjadi tamu, Polyester Embassy menjadi tuan rumah dengan menghelat sebuah solo showcase bertajuk “Tomorrow’s Comedy” di Spasial, Bandung, 17 februari 2018 yang lalu. Ya, showcase ini menggambil kata terakhir dari judul EP terbaru mereka dan album pertama mereka, Since Tomorrow dan Tragicomedy.

Dua minggu sebelum acara ini bergulir, desas-desus tentang showcase ini merebak, mulai dari tajuk acara (Tomorrow’s Comedy) yang saya dengar katanya hanya berupa mini solo showcase, tanggal hajatan, konsep hajatan (yang ujarnya tidak cocok untuk pengidap epilepsi), hingga janji manis yang menggiurkan, yaitu setlist dua jam penuh, mulai dari album pertama mereka, hingga lagu-lagu di EP terbaru mereka yang rilis saat Record Store Day 2017 silam (saat itu venue masih berjudul “Somewhere in Bandung”). Tak heran jika judul showcase ini, Tomorrow’s Comedy, seperti mengucap bahwa “Showcase ini bakal flashback semua karya Polem (Polyester Embassy), mulai dari Tragicomedy sampai Since Tomorrow lhooo.”

Setelah beberapa kali menikmati penampilan dari Polyester Embassy, saya sejujurnya merasa belum pernah puas (karena setiap penampilan Polem yang saya datangi cenderung hanya berdurasi 45 menit, sehingga hanya sedikit lagu yang dibawakan. Kurang banget tjoooy), maka dari itu, iming-iming setlist 2 jam sangat menggiurkan. Wah, cukup meriah jika mini showcase memiliki setlist 2 jam. Semangat saya untuk datang ke mini showcase ini semakin menggebu saat akun offisial Polem membagikan intipan tata panggung yang bertabur strobe light, dan sang drummer, Givari, yang merekam sepenggal solo saksofon pada lagu Space Travel Rock and Roll dan mengunggahnya pada salah satu media sosial (sebelum-sebelumnya, saya belum pernah menikmati alunan sakso saat Space Travel Rock and Roll dibawakan secara langsung), satu malam sebelum hajatan tersebut digelar.

Maka pada hari H, dengan semangat membara dan menggebu-gebu (cailaah), saya datang untuk membuktikan semua iming-iming tersebut bersama salah satu teman saya. Setelah menukarkan kuitansi tiket senilai 35 ribu rupiah dengan gelang tanda masuk, saya melihat tata panggung yang berbeda dari event-event yang pernah saya hadiri di Spasial. Sebuah panggung yang satu level lebih tinggi dari tanah (seperti di IFI (Institut Francais Indonesia, Bandung) berdiri di sebelah kanan pintu masuk, lengkap dengan strobe light pada dinding belakang panggung dan stand mic, seperti yang sudah dibocorkan Polem. Sekitar 10 meter di depannya ada tempat duduk bertingkat (seperti di stadion), juga menjadi hal yang baru pertama kali saya lihat di Spasial saat sebuah event musik dihelat. Melihat venue dan tata panggung yang cukup megah untuk sebuah mini showcase, maka telah jelas bahwa mini solo showcase ini adalah “akbar solo showcase”.

Pada hajatan ini, L’Alphalpha mendapat kehormatan untuk memberikan kata sambutan dengan beberapa lagu, kalau tidak salah sama seperti pada tahun 2007 silam di Jakarta. Setelah L’Alphalpha pamit, panggung mulai dipersiapkan untuk tuan rumah malam itu. Setelah sound dirasa sudah pas, dan saat soundman telah turun semua, maka strobe light belakang panggung mulai menyala diiringi asap artifisial dan 2 proyektor di sudut kanan dan kiri atas dinding panggung (yang tidak saya sadari sebelumnya) yang mengeluarkan cahaya-cahaya yang menyilaukan mata. Tak heran jika sebelumnya para hadirin yang datang disarankan untuk membawa kacamata hitam.

Kilauan-kilauan cahaya tersebut akhirnya diiringi riuh tepuk tangan hadirin saat Elang Eby dan kawan kawan mulai mengambil posisi. Dengan tata strobe light panggung yang membuat suasana trippy, Elang dan kawan-kawan mendengungkan satu lagu penuh instrumen dari EP terbaru mereka, F#, sebagai pembuka dan menghanyutkan hadirin agar lebih melayang. Tak sempat menyapa hadirin saat naik panggung, selepas F# berakhir, Elang (sang vokalis) membangun komunikasi dengan hadirin yang terlalu ramai dengan melambaikan tangan sembari memberikan kata sambutan. Seakan menjawab keraguan atas spoiler yang beredar, Elang menyakinkan hadirin bahwa setlist malam ini benar adanya berdurasi dua jam. Oke, itu berarti sudah dua spoiler yang dipastikan kebenarannya.

Elang juga berujar bahwa showcase ini dibagi menjadi tiga sesi dengan konsep flashback. Sesi pertama khusus untuk EP terbaru mereka, Since Tomorrow, sekaligus memperkenalkan karya terbaru mereka ini yang masih terasa awam di telinga hadirin, termasuk saya (kendatipun sudah hampir satu tahun dirilis dalam format vinyl dan 4 bulan dalam format kaset). Untuk sesi kedua, album Fake/Faker hanya diwakilkan beberapa lagu, ujarnya. Dan untuk sesi terakhir, Elang akan membawakan satu album penuh Tragicomedy. Setelah mengakhiri kata sambutan, Twisted Faith digaungkan sebagai lagu berikutnya untuk melanjutkan sesi pertama. Lalu Since Tomorrow menggema dan diikuti Tragicomedy sebagai penutup pada sesi pertama dengan ciamik.

Tragicomedy merupakan salah satu lagu di awal kiprah Polyester Embassy. Lagu ini tidak dipublikasikan dan dimasukkan dalam album pertama mereka yang sama namanya karena suatu hal. Sampai akhirnya baru dimasukkan dalam EP Since Tomorrow. (Sumber: Elang Eby saat peluncuran Since Tomorrow, April 2017).

Setelah mengakhiri sesi pertama, Elang mengajak hadirin untuk mundur ke tujuh tahun yang lalu, saat Fake/Faker diperkenalkan kepada khalayak. Dibuka oleh LSD, hadirin seakan diajak untuk kembali tenggelam dalam kilatan cahaya yang “melayang”. Usai LSD, Later On mempertahankan vibe para hadirin dan mulai memaksa saya untuk mengeluarkan suara terbaik saya sepuasnya (soalnya di LSD liriknya dikit, jadi kurang puas). Ternyata, setelah Later On, Space Travel Rock and Roll unjuk gigi. Di sini semua spoiler yang sudah dibocorkan sebelumnya sudah terpenuhi, ditandai dengan naiknya Zulki dengan saksofon-nya. Finally! Setelah beberapa kali menikmati Space Travel Rock and Roll tanpa saksofon saat penampilan live! I dont care what you looking for, saya bernyanyi sekuat-kuatnya; saya juga tidak peduli mulut saya bau. Saat solo saksofon oleh Zulki akan dimulai, saya sudah menatap panggung dengan ketidak-percayaan bahwa its finally come true! Namun saat Zulki mulai meniup senjatanya, ternyata saya harus kecewa dengan apa yang ditangkap telinga saya. Suara dari saksofon terlalu buram di antara gebukan drum Givari, petikan bass Tomson, dan gitar Eky dan Wahyu. Seperti menyipitkan mata, telinga saya berusaha mengerucutkan suara pada suara sakso yang sayup-sayup. This is the best part! Harus kedengaran sakso-nya! Saya berteriak dalam hati berusaha menikmati bagian (yang harusnya) terbaik. Sampai pada akhirnya lagu ini berakhir, sakso yang terdengar masih samar. Meskipun sedikit kecewa, namun saya tetap puas bisa bernyanyi dengan lantang. Akhirnya Zulki turun panggung dan sesi kedua dilanjutkan dengan Have You.

Sebelum Have You dibawakan, Elang memperkenalkan seseorang yang akan menemaninya di lagu ini (biasanya hanya ia, gitarnya, dan tepukan tangan dari penonton pada bait terakhir). Ia adalah Kevin dari Sarasvati. Elang menyebutnya sebagai ‘talenta muda’. Ia mengaduk synth sembari Elang mengocok gitar pada lagu ini. Setelah Have You berakhir, maka Elang menyatakan bahwa sesi kedua ikut berakhir pula. Tidak ada kehadiran Good Love dan Fake/Faker dalam nostalgia di sesi kedua (agak sedih saya).

Tanpa istirahat yang berarti, sesi ketiga dibuka dengan Faded Blur, menandai telah dimulainya nostalgia lebih dari satu dekade silam. Ada hal yang berbeda setelah Faded Blur selesai dilantunkan. Pada lagu berikutnya, The Answer is No, Elang pamit istirahat sejenak dan mic diambil alih oleh Andika dari Collapse. Cukup apik melihat sosok lain selain Elang membawakan salah satu lagu favorit saya di album Tragicomedy, meskipun tetap lebih syahdu jika Elang yang membawakan. Hanya satu lagu yang dipimpin oleh Andika. Ia langsung turun panggung saat not terakhir dibunyikan.

Selepas The Answer is No,  Elang kembali memperkenalkan dua orang yang akan menambah slot di panggung dan membantunya dalam adukan synth hingga akhir acara, yaitu duo musisi electro asal bandung, Sins of Suns. Lagu pertama dalam urutan album Tragicomedy, yaitu Orange is Yellow menjadi pembuka kehadiran Sins of Suns di atas panggung. Saat synth mulai berdengung, saya diam terpaku sambil berteriak dalam hati “WAAAH KACAOOO!” Sungguh nikmat kolaborasi ini. terlebih ini lagu favorit saya. Setelah Orange is Yellow selesai berkumandang, lagu berikutnya yaitu You’ll be Gone. Kali ini gantian Givari yang istirahat dari tahta gebukan drum. Gebeg Taring mengusir Givari untuk satu lagu yang pada akhir lagu ini ia aransemen sendiri secara spontan. Tentu saja Elang dan kawan-kawan sedikit terkejut, namun bisa mengimbangi kreativitas Gebeg dalam improvisasi dadakan ini. Setelah Gebeg pamit, Givari kembali ke tahta-nya dan Ruins melanjutkan rangkaian setlist sesi terakhir hajatan ini. Sehabis Ruins, Good Feeling yang pada dua penampilan Polem sebelumnya dijadikan lagu terakhir, dibawakan lebih awal dan langsung disambung dengan Blue Flashing Light.

Sehabis Blue Flashing Light, Elang kembali mengenalkan seseorang (lagi). Kali ini bu dosen, Dina HMGNC, naik panggung untuk menemani dalam lagu Home. Wah! Lagu langka nih! Suara yang sudah mulai habis sejak Later On saya paksakan keluar untuk sebuah lagu yang jarang dibawakan. Sehabis Home, Dina langsung pamit turun panggung. Sebelum lagu berikutnya dibawakan, Elang kembali memanggil seseorang. Ternyata Zulki kembali naik panggung untuk mengisi aransemen lagu terakhir yang cukup fenomenal dan tua, Polypanic Room. Seakan tak ingin kejadian Space Travel Rock and Roll terulang, Zulki menambah mic untuk sakso-nya. Sempat terjadi kesalahan di intro, Polypanic Room berhasil dibawakan lebih aduhai dengan dibantu Sins of Suns dan Zulki. Untuk sebuah penutupan hajatan yang sakral, aransemen Polypanic Room yang lebih ‘ngawang’ tidak bisa membuat para hadirin memekikkan ‘We want more!’, karena inilah klimaks dari rangkaian hajatan ini.

Akhirnya, tiga sesi solo showcase ini berakhir setelah Elang berterimakasih dan satu persatu penghuni panggung turun, menyisakan suara synth yang perlahan fade out. Rangkaian acara utama telah berakhir. Sebagai pendinginan (seperti pada senam) DJ Marin dari Loubelle/FFWD Records memutar beat-beat asik yang dinikmati para hadirin yang masih ingin berlama-lama di venue, seakan mereka masih merasa kurang.

Sejak awal, saya cukup penasaran dengan acara ini. Soalnya, sudah cukup lama Polem tidak muncul ke permukaan, dan tiba-tiba, sebuah solo showcase diumumkan secara gamblang di awal tahun 2018. Untuk menghilangkan rasa penasaran ini, saya sempat ngobrol dengan Mas Tomo atau @666tomson (itu Instagramnya, bisa difollow). Ternyata ooh ternyata, showcase ini merupakan penawar rindu manggung, apalagi panggung sebesar ini. Saat saya tanya apakah ini merupakan panggung besar terakhir, ternyata mas Tomson menyangkal. “Bakal ada konser berikutnya. Rencananya sih bakal tour Jakarta, Surabaya, Bali. Tapi belum bisa dipastikan. Soalnya lagi sibuk garap album ketiga juga. Jadi, tunggu aja.”

Yup. Kalian gak salah baca. Ternyata solo showcase ini bisa dikatakan sebagai pembukaan dari comeback-nya Polyester Embassy ke permukaan skena musik Indonesia. Dan pada album ketiga nanti, bakal ada kejutan dari Elang Eby dan kawan-kawan. Akhirnya, hajatan ini harus diakhiri dengan rasa penasaran akan tour dan album berikutnya yang sedang dicanangkan. Ya! Kita tunggu saja kejutan dari mereka!

 

Nb: Foto yang didapat memang tidak bagus. Ya, kan saya tujuannya nonton konser bukan nyari foto. Hehe.. hehe (sebuah alibi agar tidak dicerca netizen budiman).

Share this post

Recent post