Degil Zine

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan salah seorang penggiat skena punk kota Medan. Awalnya mengenai punk, lambat laun percakapan kami beralih ke niat saya yang hendak mengangkat persoalan kaum hippies untuk edisi ketiga Degilzine. Wajah si kawan mendadak masam. Dari apa yang dijabarkannya kemudian, saya berkesimpulan bahwa punk (paling tidak menurutnya) beranggapan bahwa kaum hippie adalah gerombolan manusia ngga penting pemuja paham hedonisme, yang bergentayangan di jalan-jalan demi kepuasan individualistik semata, sangat kontradiktif dengan etos yang dianut oleh punk. Penasaran, saya membawa persoalan itu ke dunia maya. Benar. Mayoritas kelompok punk di seluruh dunia seringkali terlibat bentrokan dengan kaum hippies, terutama di medio '70-an awal. Bahkan terdapat beberapa video perkelahian yang cukup brutal antara anak punk dan anak hippies yang diunggah di laman Youtube. Tentu saja persoalannya adalah ideologi semata. Tapi apa benar gerakan hippie "semenjijikkan" seperti yang ada di kepala anak-anak punk itu? Mari kita cari tahu lebih lanjut.

Menurut Annie Randall dalam Musik, Kekuasaan dan Politik (2005), gerakan hippie dimulai oleh para pemuda Jerman yang menamakan diri mereka: Der Wandervogel. Etos yang dianut saat itu adalah perlawanan terhadap kebudayaan mapan dengan cara memainkan musik folk Jerman, pakaian bernunasa gelap dengan bahan kulit dan bulu-bulu binatang (antitesis dari jas mahal kaum borjuis di zaman itu) serta acara hiking dan kemah. Gerakan ini terpengaruh oleh tulisan-tulisan Nietzsche, Goethe, dan Hesse, di mana mereka merindukan spiritualisme leluhur (bangsa Arya) yang mereka anggap telah digembosi oleh agama-agama Samawi. Intinya sih kembali ke alam, karena keyakinan mereka berkata, jika ingin menjumpai "God", maka meleburlah bersama alam. Namun banyak pula yang mengatakan bahwa kaum hippies terinspirasi dari gerakan Mazdak di Persia, gaya hidup Yesus, Sidharta Gautama, bahkan Mahatma Gandhi.

Kelompok Der Wandervogel pada 1902 di Berlin. Foto: https://rosamondpress.com/

Puluhan tahun kemudian, orang-orang Jerman yang bertransmigrasi ke Amerika memperkenalkan sub-kultur bohemian pada kaum muda di sana. Gaya hidup back to nature ini berkembang dan dipopulerkan oleh lagu Nat King Cole, Nature Boy, yang populer pada tahun '40-an. Meninggalkan perkotaan, berkerumun di dalam hutan atau di kaki-kaki gunung juga turut diimplementasikan. Pencarian makna hidup serta "God" hanya dapat dilakukan ketika diri berada jauh dari hiruk pikuk masyarakat industrial.

Gerakan ini semakin populer setelah CIA mulai mengujicoba suatu zat penenang pada para mahasiswa dan juga seniman pada November 1965. Seperti kata Richard Farina dalam Been Down So Long it Look Like Up to Me (1966), warna warni krayon yang digunakan di acara itu (sebagai ilustrasi warna dalam zat tersebut) dianggap bertanggungjawab pada lambang hippie di kemudian hari. LSD yang dianggap sangat identik dengan gerakan hippie hanyalah sempalan dari kerakusan pemerintah Amerika berdasarkan keinginan mereka dalam mengontrol perilaku warganya, bukan murni berasal dari gerakan hippie itu sendiri. Saya lebih melihat seni esoteris Timur, khususnya India, yang juga identik dengan warna-warni, yang lebih memengaruhi terbentuknya simbolisasi pergerakan hippie ketimbang efek halusinasi dari LSD itu sendiri.

The Beatles ketika berada di Rishikesh 1968. Foto: The Wire

Oke, soal kelahiran tampaknya tuntas. Lantas, mengenai sikap individualistis seperti yang dituduhkan oleh kelompok punk bagaimana?

Kelompok hippies yang awal mulanya memilih "keluar" dari masyarakat itu akhirnya menyadari, bahwa kedamaian yang hendak mereka cari tidak akan pernah datang selama peperangan masih ada di atas bumi. Sebab itulah mereka mulai kembali ke tengah-tengah masyarakat seraya meneriakkan slogan anti-perang; bahkan mahasiwa-mahasiswa di Barkeley membakar draft card (surat penugasan wajib militer) dan memasang bendera Vietcong sebagai bentuk protes mereka pada pemerintahan Amerika. Sejak saat itu kaum hippies dinyatakan oleh banyak media massa sebagai bentuk awal dari apa yang disebut sebagai gerakan New-Left Amerika (pengembangan dari Marxisme tradisional). Pada tahun 1966, LSD dinyatakan ilegal, dan banyak kaum hippies yang dijebloskan ke penjara.

Foto: The New Yorker

Kaum hippies San Fransisco berdemonstrasi dengan menggelar gig berjudul The Love Pageant Rally. Mereka mengungkapkan bahwa pengguna LSD bukan penjahat, melainkan orang-orang yang hanya ingin mengenali diri mereka sendiri dan berbaur dengan alam semesta. Begitu pula dengan ganja. Mereka menganggap bahwa ganja adalah tumbuhan yang diciptakan oleh Tuhan untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh manusia. Mungkin sama saja seperti sawi atau kangkung. Apakah Bob Marley jadi pemerkosa bini orang setelah mengonsumsi ganja? Apa Bob Dylan membom sebuah hotel setelah mengonsumsi ganja?

Foto: Pinterest.com

Kesimpulannya, dengan persinggungan politik dan gerakan anti-perang yang mereka dengungkan, jelas kita harus menolak anggapan bahwa hippie semata gerakan individualistis ataupun hedonisme. Bahkan bisa saya katakan bahwa hippie dan punk adalah dua anak yang lahir dari rahim yang sama, hanya saja ayah mereka berbeda, men!

 

*Ilustrasi sampul oleh Aga Depresi

1 thought on “HIPPIES BUKAN APOLITIS

Leave a Comment

Baca Juga

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan salah seorang penggiat skena punk kota Medan. Awalnya mengenai punk, lambat laun percakapan kami beralih ke niat saya yang hendak mengangkat persoalan kaum hippies untuk edisi ketiga Degilzine. Wajah si kawan mendadak masam. Dari apa yang dijabarkannya kemudian, saya berkesimpulan bahwa punk (paling tidak menurutnya) beranggapan bahwa kaum hippie adalah gerombolan manusia ngga penting pemuja paham hedonisme, yang bergentayangan di jalan-jalan demi kepuasan individualistik semata, sangat kontradiktif dengan etos yang dianut oleh punk. Penasaran, saya membawa persoalan itu ke dunia maya. Benar. Mayoritas kelompok punk di seluruh dunia seringkali terlibat bentrokan dengan kaum hippies, terutama di medio '70-an awal. Bahkan terdapat beberapa video perkelahian yang cukup brutal antara anak punk dan anak hippies yang diunggah di laman Youtube. Tentu saja persoalannya adalah ideologi semata. Tapi apa benar gerakan hippie "semenjijikkan" seperti yang ada di kepala anak-anak punk itu? Mari kita cari tahu lebih lanjut.

Menurut Annie Randall dalam Musik, Kekuasaan dan Politik (2005), gerakan hippie dimulai oleh para pemuda Jerman yang menamakan diri mereka: Der Wandervogel. Etos yang dianut saat itu adalah perlawanan terhadap kebudayaan mapan dengan cara memainkan musik folk Jerman, pakaian bernunasa gelap dengan bahan kulit dan bulu-bulu binatang (antitesis dari jas mahal kaum borjuis di zaman itu) serta acara hiking dan kemah. Gerakan ini terpengaruh oleh tulisan-tulisan Nietzsche, Goethe, dan Hesse, di mana mereka merindukan spiritualisme leluhur (bangsa Arya) yang mereka anggap telah digembosi oleh agama-agama Samawi. Intinya sih kembali ke alam, karena keyakinan mereka berkata, jika ingin menjumpai "God", maka meleburlah bersama alam. Namun banyak pula yang mengatakan bahwa kaum hippies terinspirasi dari gerakan Mazdak di Persia, gaya hidup Yesus, Sidharta Gautama, bahkan Mahatma Gandhi.

Kelompok Der Wandervogel pada 1902 di Berlin. Foto: https://rosamondpress.com/

Puluhan tahun kemudian, orang-orang Jerman yang bertransmigrasi ke Amerika memperkenalkan sub-kultur bohemian pada kaum muda di sana. Gaya hidup back to nature ini berkembang dan dipopulerkan oleh lagu Nat King Cole, Nature Boy, yang populer pada tahun '40-an. Meninggalkan perkotaan, berkerumun di dalam hutan atau di kaki-kaki gunung juga turut diimplementasikan. Pencarian makna hidup serta "God" hanya dapat dilakukan ketika diri berada jauh dari hiruk pikuk masyarakat industrial.

Gerakan ini semakin populer setelah CIA mulai mengujicoba suatu zat penenang pada para mahasiswa dan juga seniman pada November 1965. Seperti kata Richard Farina dalam Been Down So Long it Look Like Up to Me (1966), warna warni krayon yang digunakan di acara itu (sebagai ilustrasi warna dalam zat tersebut) dianggap bertanggungjawab pada lambang hippie di kemudian hari. LSD yang dianggap sangat identik dengan gerakan hippie hanyalah sempalan dari kerakusan pemerintah Amerika berdasarkan keinginan mereka dalam mengontrol perilaku warganya, bukan murni berasal dari gerakan hippie itu sendiri. Saya lebih melihat seni esoteris Timur, khususnya India, yang juga identik dengan warna-warni, yang lebih memengaruhi terbentuknya simbolisasi pergerakan hippie ketimbang efek halusinasi dari LSD itu sendiri.

The Beatles ketika berada di Rishikesh 1968. Foto: The Wire

Oke, soal kelahiran tampaknya tuntas. Lantas, mengenai sikap individualistis seperti yang dituduhkan oleh kelompok punk bagaimana?

Kelompok hippies yang awal mulanya memilih "keluar" dari masyarakat itu akhirnya menyadari, bahwa kedamaian yang hendak mereka cari tidak akan pernah datang selama peperangan masih ada di atas bumi. Sebab itulah mereka mulai kembali ke tengah-tengah masyarakat seraya meneriakkan slogan anti-perang; bahkan mahasiwa-mahasiswa di Barkeley membakar draft card (surat penugasan wajib militer) dan memasang bendera Vietcong sebagai bentuk protes mereka pada pemerintahan Amerika. Sejak saat itu kaum hippies dinyatakan oleh banyak media massa sebagai bentuk awal dari apa yang disebut sebagai gerakan New-Left Amerika (pengembangan dari Marxisme tradisional). Pada tahun 1966, LSD dinyatakan ilegal, dan banyak kaum hippies yang dijebloskan ke penjara.

Foto: The New Yorker

Kaum hippies San Fransisco berdemonstrasi dengan menggelar gig berjudul The Love Pageant Rally. Mereka mengungkapkan bahwa pengguna LSD bukan penjahat, melainkan orang-orang yang hanya ingin mengenali diri mereka sendiri dan berbaur dengan alam semesta. Begitu pula dengan ganja. Mereka menganggap bahwa ganja adalah tumbuhan yang diciptakan oleh Tuhan untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh manusia. Mungkin sama saja seperti sawi atau kangkung. Apakah Bob Marley jadi pemerkosa bini orang setelah mengonsumsi ganja? Apa Bob Dylan membom sebuah hotel setelah mengonsumsi ganja?

Foto: Pinterest.com

Kesimpulannya, dengan persinggungan politik dan gerakan anti-perang yang mereka dengungkan, jelas kita harus menolak anggapan bahwa hippie semata gerakan individualistis ataupun hedonisme. Bahkan bisa saya katakan bahwa hippie dan punk adalah dua anak yang lahir dari rahim yang sama, hanya saja ayah mereka berbeda, men!

 

*Ilustrasi sampul oleh Aga Depresi

1 thought on “HIPPIES BUKAN APOLITIS

Leave a Comment

Baca Juga