MENJADI RESPEK BERSAMA MEDAN BLUES SOCIETY

MENJADI RESPEK BERSAMA MEDAN BLUES SOCIETY

Beberapa waktu yang lalu saya membantu Leo, ilustrator Degil, mengiringi beliau dengan konsep instrumental gitar jazz dan blues di acara Folk Night persembahan Gang Cobra. Jazz x Blues + (folk) = Respek. Betapa berbaurnya berbagai genre di acara itu. Namun ada beberapa hal yang menjadi perhatian utama saya di acara itu. Pertama, kehadiran Jansen absurd sahabat saya dan salah satu komunitas yang saya hormati yaitu, Medan Blues Society. Mereka melakukan jamming di acara itu dan sudah pasti mengagumkan di mata saya. Kali ini saya ditunjuk oleh Pak Pemred Degilzine yang fans berat Laruku itu untuk mengkobel Medan Blues Society. Siap laksanakan tugas, Pak!

Medan Blues Society atau MBS adalah komunitas pecinta, musisi, serta penikmat musik blues yang didirikan pada 08 Juli 2011. Ya, mereka adalah dedengkot blues di Medan dan bisa dibilang sebagai suhu. Sejak SMA saya sudah mendengar kehadiran adanya komunitas berbahaya ini (bisa buat fly tiap bulannya). Sekadar flashback, sekitar tahun 2013, kalau saya tidak salah ingat, itulah momen pertama saya menghadiri hajatan MBS di sebuah kafe di jalan Sei Serayu, Medan. Pada saat itu saya yang masih longor dan mencoba menjadi penyusup dan menghadiri acara mereka dan saya tak menyangka Medan punya orang orang beginian (karena kepolosan saya dan ketidakpahaman saya pada saat itu soal perkembangan musik di kota korup ini). Seiring waktu berjalan hingga sekarang saya sudah pernah beberapa kali menghadiri kumpul kebonya MBS dan sempat jamming juga. Pengalaman saya dari pertama sekali hingga sekarang dapat saya simpulkan bahwa MBS adalah salah satu komunitas musik yang sangat hangat penyambutannya. Banyak aspek yang buat saya hormat sama orang-orang di dalamnya.

Pertama dari segi musikalitas.

Ade (kanan) dan Ridho (kiri), pentolan-pentolan dari MBS yang belakangan sering unjuk taring di mana-mana. Foto: Koleksi MBS

Orang orang di dalamnya berbahaya apalagi kalau memainkan gitar. Lihat saja Bang Beng (Sunset Bluesbite), Bang Ade, Bang Ridho (Hello Benji And the Cobra), Bang Sandy (Biru), Ghiffari Ownie (The Oh Good), adalah beberapa nama dari dedengkot MBS yang sangat berbahaya. Terutama Bang Ade. Pria bertubuh tambun ini selalu membuat saya takjub jikalau beliau melakukan part solo ketika jamming. Mungkin gitaris tipe shredder melihat permainan beliau sepele bahkan ingin meludahi. Tapi jika bicara bermain dengan hati, membuat orang fly, Bang Ade ini adalah salah satu juaranya. Saya jamin gitaris shredder tadi akan menelan ludahnya sendiri, sujud ampun ke kaki beliau.

Kemudian dari segi etika juga orang-orang di MBS saya pastikan sangat ramah dan dengan hangat akan menyambut kalian yang pertama kali datang ke hajatan mereka. Gimana gak hangat, kedatangan mu akan disambut dengan senyum indah Tisha Lim, wanita berparas cantik yang bisa dibilang beliau adalah Bunda Ifet-nya MBS.

Tisha Lim (tengah), manajer MBS yang senyumnya bisa merontokkan dedaunan musim semi :-p. Foto: Koleksi MBS.

Dari hati yang dalam saya harus ungkapkan bahwa MBS ini adalah salah satu gambaran komunitas yang baik di Medan. Respek-nya terhadap komunitas yang lain juga luar biasa. So bagaimana, bung? Anda tertarik menghadiri hajatan mereka? Atau anda ingin jamming dengan mereka? Ya datanglah! Sediakan minuman penyegar Isotonik untuk jaga-jaga, siapa tahu anda teler melihat dan mendengarkan mereka jamming. Wassalam

Sapa mereka di @medanbluessociety atau singgah ke ww.medanbluessociety.com

 

Share this post

Recent post