Degil Zine

Ketika pertama kali datang ke Teras Benji, yang pertama kali terbersit melihat hal-hal yang berlangsung di sana adalah "Socrates". Ia pernah mengemukakan sebuah konsep filsafat pendidikan, dan konsep itu sedang berlangsung di hadapan saya. Metode ini sering disebut dialektika, di mana sebuah tesis berjumpa dengan antitesis menghasilkan sintesis yang akan berjumpa antitesis baru sehingga bisa memunculkan sintesis baru lagi, begitu seterusnya hingga sate torpedo Benji habis, tak pernah berhenti pada satu jawaban.

Kala itu saya terkagum melihat sebuah diskusi dan perdebatan berjalan alot dan kondusif tanpa dipandu oleh moderator. Rasanya terlalu lama saya dijebak oleh pendidikan formal kampus yang metodenya ceramah tak jelas. Tapi berdialektika beramai-ramai adalah menu favorit saya di Teras Benji setelah kari kambingnya yang membuat leher jegang itu, tapi tenang ada jus timun, jadi leher jegang pun hilang.

Begitu anda sampai pasti anda akan disuguhkan dengan quote legendaris "Duduk di sampingku, ceritakan kisahmu". Tapi quote ini bukan hanya sekadar tulisan kosong, semua orang yang datang memang biasanya bertukar-tukar meja untuk bisa berbincang dan berkenalan dengan banyak orang. Daun-daun kelapa, cat warna warni, mural kecup basah dua sejoli, kursi bambu, semua design dan style Teras Benji sangat bergaya naturalis. Benji sendiri pun memang suka berbicara dengan alam. Kadang dia berbicara dengan cicak, semut, dan pastilah burungnya yang kecil itu.

Benjito dan istri tercinta, Nyonya Ewit. Foto: Koleksi Jamur Ungu

Banyak gigs yang telah berlangsung di sini, rasanya kurang afdol jika main band tapi belum merasakan sensasi panggung teras benji. "Udah, prenk, ko mainkan aja situ," adalah kalimat pamungkas Benji kala gigs sedang berlangsung. Saya sendiri pernah merasakan main diiringi senar drum sobek, amplifier kurang, maupun nyanyi tanpa microphone. Tapi semua berjalan lancar dan spontan, tak pernah ditemui musisi yang mengeluh dan lantas urung perform. Rasanya memang semua sepakat bahwa gigs di Teras Benji memang berfungsi sebagai proses development untuk band agar terbiasa berimprovisasi dengan kekurangan dan kelemahan. Apalagi ketika nanti menghadapi panggung sesungguhnya.

Tampak kawan-kawan yang tak kebagian tempat saking ramainya gigs party rilis Degilzine edisi 3 di Teras Benji (23/2) kemarin.

Jika kalian mencari konsep hippies, naturalis bahkan jika anda mau datang dengan konsep nudis pasti bisa, bisa diketapel sama Benji tepatnya.

Leave a Comment

Baca Juga

Ketika pertama kali datang ke Teras Benji, yang pertama kali terbersit melihat hal-hal yang berlangsung di sana adalah "Socrates". Ia pernah mengemukakan sebuah konsep filsafat pendidikan, dan konsep itu sedang berlangsung di hadapan saya. Metode ini sering disebut dialektika, di mana sebuah tesis berjumpa dengan antitesis menghasilkan sintesis yang akan berjumpa antitesis baru sehingga bisa memunculkan sintesis baru lagi, begitu seterusnya hingga sate torpedo Benji habis, tak pernah berhenti pada satu jawaban.

Kala itu saya terkagum melihat sebuah diskusi dan perdebatan berjalan alot dan kondusif tanpa dipandu oleh moderator. Rasanya terlalu lama saya dijebak oleh pendidikan formal kampus yang metodenya ceramah tak jelas. Tapi berdialektika beramai-ramai adalah menu favorit saya di Teras Benji setelah kari kambingnya yang membuat leher jegang itu, tapi tenang ada jus timun, jadi leher jegang pun hilang.

Begitu anda sampai pasti anda akan disuguhkan dengan quote legendaris "Duduk di sampingku, ceritakan kisahmu". Tapi quote ini bukan hanya sekadar tulisan kosong, semua orang yang datang memang biasanya bertukar-tukar meja untuk bisa berbincang dan berkenalan dengan banyak orang. Daun-daun kelapa, cat warna warni, mural kecup basah dua sejoli, kursi bambu, semua design dan style Teras Benji sangat bergaya naturalis. Benji sendiri pun memang suka berbicara dengan alam. Kadang dia berbicara dengan cicak, semut, dan pastilah burungnya yang kecil itu.

Benjito dan istri tercinta, Nyonya Ewit. Foto: Koleksi Jamur Ungu

Banyak gigs yang telah berlangsung di sini, rasanya kurang afdol jika main band tapi belum merasakan sensasi panggung teras benji. "Udah, prenk, ko mainkan aja situ," adalah kalimat pamungkas Benji kala gigs sedang berlangsung. Saya sendiri pernah merasakan main diiringi senar drum sobek, amplifier kurang, maupun nyanyi tanpa microphone. Tapi semua berjalan lancar dan spontan, tak pernah ditemui musisi yang mengeluh dan lantas urung perform. Rasanya memang semua sepakat bahwa gigs di Teras Benji memang berfungsi sebagai proses development untuk band agar terbiasa berimprovisasi dengan kekurangan dan kelemahan. Apalagi ketika nanti menghadapi panggung sesungguhnya.

Tampak kawan-kawan yang tak kebagian tempat saking ramainya gigs party rilis Degilzine edisi 3 di Teras Benji (23/2) kemarin.

Jika kalian mencari konsep hippies, naturalis bahkan jika anda mau datang dengan konsep nudis pasti bisa, bisa diketapel sama Benji tepatnya.

Leave a Comment

Baca Juga