LSD – PSIKEDELIK, KEMBAR DEMPET TAK TERPISAHKAN?

LSD – PSIKEDELIK, KEMBAR DEMPET TAK TERPISAHKAN?

Lika liku kehidupan mau tak mau tidak bisa lepas dari hubungan kausalitas, sebab akibat. Katakan saja, “sebab” tak punya SIM (surat izin mengemudi) yang ngurusnya ribet dan bermodal gede, maka tilang di jalanan oleh polisi akan didapati sebagai konsekuensi atau “akibat”. Atau, “sebab” sebagai band indie nyanggupi main di gigs sponsoran dengan iming bayaran gede, maka siap dengan curigaan honor dan cibiran karena menghilangkan esensi indie sebagai suatu “akibat”. Banyak lagilah pastinya contoh lain yang bahkan bisa si bre sekalian contohkan perumpamaannya.

Dalam skena musik pastinya juga tak lepas dari hubungan kausalitas. Katakan saja rezimnya Queen Elizabeth dengan Sex Pistols, sikap alienasi, loser dengan Kurt Cobain, mental perbudakan dengan Bob Marley, adalah sedikit hubungan sebab akibat yang saling memengaruhi satu sama lain. Sesuai dengan tema terbitan Degil kali ini, maka tak lengkap rasanya jika tidak membahas LSD dan psikedelik dalam bahasan hippie.

Foto: https://contentpathway.s3.amazonaws.com/

Secara subjektif dan lansiran berbagai sumber (sebab saya bukan seorang pengguna, pemadat/sejenisnya) Lysergic Syntetic Diethylamide (LSD), adalah sejenis narkotika buatan yang diramu dari jamur atau tumbuhan ganja. Penggunanya bisa dibuat terbang dengan halusinasi yang memberikan efek psikologis berupa cara berpikir yang berbeda, efek mata visual, dan penglihatan spiritual. Biasanya LSD akrab dan kerap mewarnai kultur hippie di Amerika Serikat yang muncul sekitar tahun 60-an. Kultur di mana muda-mudinya doyan teler, hidup secara nomaden (berpindah-pindah) dan  biasanya nyaman tinggal di dalam mobil VW tipe Combi sebagai tempat peristirahatan favoritnya.

Foto: http://theplaidzebra.com/

Hal-hal abstrak dan imajinasi yang ditimbulkan dari penggunaan jamur atau ganja biasanya dimanifestasikan oleh kaum hippies ke dalam banyak rupa seni. Katakan saja mulai dari corak dan warna-warni pakaian, ikat kepala, beragam atribut hingga warna musik, di mana karakter atau nuansa yang digambarkan tadi biasa disebut dengan istilah “psikedelik” dengan tujuan sebagai bentuk pengabadian “rasa” dari efek yang ditimbulkan. Yah, seperti kausalitas di awal tadi, LSD sebagai “sebab” dan psikedelik sebagai “akibat”. Hubungan sebab akibat yang tak terelakkan barangkali dapat juga dianalogikan sebagai kembar dempet yang tidak terpisahkan satu sama lain bahkan oleh operasi bedah sekalipun! Namun demikian, ada 1 pergerakan penting yang perlu digarisbawahi dari kaum hippies di Amerika Serikat. Flower generation (generasi bunga) yang didominasi muda mudi hippie yang notabenenya memang cinta damai berkontribusi dalam gerakan anti perang (Vietnam) secara masif, di mana pergerakannya turut pula dimentori oleh John Lennon dan Yoko Ono.

John Lennon dan Yoko Ono ketika sesi foto untuk cover majalah Rolling Stone, 1968.

Kembali ke skena musik. Psikedelik (psychedelic), sebutan yang akrab dari musik yang dihasilkan dari kegiatan “nyayur” ini terbilang banyak berkontribusi dan bertanggung jawab dalam mewarnai jenis musik yang berkembang pada tahun-tahun berikutnya. Sebut saja Jefferson Airplane, Grateful Dead, Pink Floyd, The Doors, Jimi Hendrix, adalah beberapa nama yang berhasil menjadi influence dan mentor berjuta band pada tahun-tahun berikutnya. Musik yang terdengar mengambang, abstrak dan kompleks, menjadi ciri yang lekat dalam mendefinisikan musik ini. Jika dirujuk latar belakang pembuatan lagu dari band-band psikedelik tadi, prosesi teler sepertinya termasuk ke dalam list teknikal dalam perencanaan album atau sebuah lagu.

Lantas, apakah band pengusung musik psikedelik harus bercengkama dengan LSD sebagai syarat mutlak jika ingin menuliskan lagu-lagunya? Jika saya rujuk pada biografi Jim Morrison dkk dalam film The Doors atau All Is By My Side-nya Jimi Hendrix, maka sudah menjadi wajib hukumnya kegiatan “nyayur” dalam prosesi pembuatan lagu bahkan merambat hingga ke dalam pertunjukan panggung mereka. Ntahlah dengan Hello Benji and The Cobra atau band-band psikedelik yang muncul dalam beberapa tahun ke belakang. Apakah masih setia dengan “syarat wajibnya” atau cukup dengan menggambarkannya lewat musik tanpa mendekati (LSD) sama sekali?

Mentor psikedelik rock kota Medan, Hello Benji and The Cobra.

Wallahu a’alam..

*Ilustrasi cover oleh Leo sihombing

Share this post

Recent post