Degil Zine

Gigs Gejolak itu sebenarnya apa?

Berawal dari curhatan temen di Medan, Boris (SPR), yang waktu itu main ke IKJ. terus dia ngobrol soal skena di Medan yang penuh konflik dan rada segmented. Maka aku janjian sama Boris untuk bikin sesuatu ketika aku balik ke Medan nanti. Sampai di Medan waktu itu bareng Lutfi (owner Kirana) yang ngebantu support soundsystem, maka jadilah Gejolak. Sekitar tahun 2008 dan pertama kali bertempat di Voltus.

Yang Abang harapkan dari Gejolak bagi skena Medan sebenarnya apa?

Aku ingin numbuhin budaya baru atau bisa dibilang alternatif baru untuk gigs di Medan, apalagi pada tahun-tahun itu udah ada LIAM yang lebih dikenal orang. Aku pengen ini jadi tempat buat semua genre bisa main dan berjalan dengan intim, misalnya bebas mabok, hahaha. Kan gak kaya event gede yang mungkin siap main bisa pulang, freng!

Apakah betul Gejolak sempat berganti nama?

Iya untuk sementara. Nah, dari Voltus kita sempat pindah ke suatu rumah di daerah Juanda, dan dari Gejolak diubah menjadi Horas. Di situ kita bikin konsep unik. Ruang yang ada dibagi untuk pameran, bar, bioskop mini untuk muter film bisu, tempat gigs bahkan di belakang ada tempat mojok buat ngewe, hahaha. Setelah berjalan beberapa waktu kita balik lagi ke Kirana. Dan akhirnya stop karena kesibukan bolak balik Jakarta-Medan.

Pada 2010 Abang akhirnya pulkam ke Medan dan menetap. Apa keresahan yang dulu itu masih ada?

Ya pasti. Bayangkan aja, tujuh tahun meninggalkan, pandanganku udah banyak berubah dengan pengalaman yang aku dapat di Jakarta.  Di skena BBS dan Parc aku melihat inspirasi yang menjadi roh di Gejolak. Bayangkan, mereka main di ruko mulai 10 malam ampe bubar jam 4 pagi. Gila anjing! Dan yang main itu keren-keren. Psikedelik, skinhead, Getah juga pernah main. Semua warna musik di situ mix. Dan Teras Benji ini lahir dari inspirasi itu. Di sni aku bisa ngelanjutin itu semua dengan lebih leluasa. Siapa aja, men! Aku pun gak takut kalau besok gak ada yang lanjutin semangat-semangat itu. Kalau ada ya syukur. Untuk sekarang, inilah impuls yang ga bisa ku lawan.

Apa sih saat ini yang terjadi di skena Medan?

Gak ada lagi keintiman. Semua berlomba untuk main di panggung besar doang. Menurutku itu kan proses. Belum lagi banyak hal-hal yang dikeluhkan. Aku rindu kayak di Gejolak, Aek Mual dan Jalan Listrik. Saat ini yang kutemui kayak gitu ya, Pitu Room. Ini bukan karena aku kenal yang punya. Tapi roh itu ada di sana. Suasana riang gembira.

Pada akhirnya apa yang selalu ingin Abang sampaikan untuk skena Medan?

Ada satu kampanye yang kubuat, kenapa harus ke Jakarta? Skena di mana-mana itu sama. Naik turun. Jadi kenapa harus ke Jakarta? Kenapa gak ke Malaysia? Go international? Gak, aku gak nyalahin Jakarta, tapi temen-temen di Medan harus tahu dulu apa yang dia mau lakuin. Jangan latah. 'Act' itu kita yang mulai dan akses-akses itu kita yang milih. Harus mau belajar yang bener. Ciptakan sejarah baru. Dan ingat ya, ini bukan untuk band doang, tapi untuk semua pelaku seni di kota Medan.

Leave a Comment

Baca Juga

Gigs Gejolak itu sebenarnya apa?

Berawal dari curhatan temen di Medan, Boris (SPR), yang waktu itu main ke IKJ. terus dia ngobrol soal skena di Medan yang penuh konflik dan rada segmented. Maka aku janjian sama Boris untuk bikin sesuatu ketika aku balik ke Medan nanti. Sampai di Medan waktu itu bareng Lutfi (owner Kirana) yang ngebantu support soundsystem, maka jadilah Gejolak. Sekitar tahun 2008 dan pertama kali bertempat di Voltus.

Yang Abang harapkan dari Gejolak bagi skena Medan sebenarnya apa?

Aku ingin numbuhin budaya baru atau bisa dibilang alternatif baru untuk gigs di Medan, apalagi pada tahun-tahun itu udah ada LIAM yang lebih dikenal orang. Aku pengen ini jadi tempat buat semua genre bisa main dan berjalan dengan intim, misalnya bebas mabok, hahaha. Kan gak kaya event gede yang mungkin siap main bisa pulang, freng!

Apakah betul Gejolak sempat berganti nama?

Iya untuk sementara. Nah, dari Voltus kita sempat pindah ke suatu rumah di daerah Juanda, dan dari Gejolak diubah menjadi Horas. Di situ kita bikin konsep unik. Ruang yang ada dibagi untuk pameran, bar, bioskop mini untuk muter film bisu, tempat gigs bahkan di belakang ada tempat mojok buat ngewe, hahaha. Setelah berjalan beberapa waktu kita balik lagi ke Kirana. Dan akhirnya stop karena kesibukan bolak balik Jakarta-Medan.

Pada 2010 Abang akhirnya pulkam ke Medan dan menetap. Apa keresahan yang dulu itu masih ada?

Ya pasti. Bayangkan aja, tujuh tahun meninggalkan, pandanganku udah banyak berubah dengan pengalaman yang aku dapat di Jakarta.  Di skena BBS dan Parc aku melihat inspirasi yang menjadi roh di Gejolak. Bayangkan, mereka main di ruko mulai 10 malam ampe bubar jam 4 pagi. Gila anjing! Dan yang main itu keren-keren. Psikedelik, skinhead, Getah juga pernah main. Semua warna musik di situ mix. Dan Teras Benji ini lahir dari inspirasi itu. Di sni aku bisa ngelanjutin itu semua dengan lebih leluasa. Siapa aja, men! Aku pun gak takut kalau besok gak ada yang lanjutin semangat-semangat itu. Kalau ada ya syukur. Untuk sekarang, inilah impuls yang ga bisa ku lawan.

Apa sih saat ini yang terjadi di skena Medan?

Gak ada lagi keintiman. Semua berlomba untuk main di panggung besar doang. Menurutku itu kan proses. Belum lagi banyak hal-hal yang dikeluhkan. Aku rindu kayak di Gejolak, Aek Mual dan Jalan Listrik. Saat ini yang kutemui kayak gitu ya, Pitu Room. Ini bukan karena aku kenal yang punya. Tapi roh itu ada di sana. Suasana riang gembira.

Pada akhirnya apa yang selalu ingin Abang sampaikan untuk skena Medan?

Ada satu kampanye yang kubuat, kenapa harus ke Jakarta? Skena di mana-mana itu sama. Naik turun. Jadi kenapa harus ke Jakarta? Kenapa gak ke Malaysia? Go international? Gak, aku gak nyalahin Jakarta, tapi temen-temen di Medan harus tahu dulu apa yang dia mau lakuin. Jangan latah. 'Act' itu kita yang mulai dan akses-akses itu kita yang milih. Harus mau belajar yang bener. Ciptakan sejarah baru. Dan ingat ya, ini bukan untuk band doang, tapi untuk semua pelaku seni di kota Medan.

Leave a Comment

Baca Juga