LIBERTY GONG DAN SEMANGAT BLACK MUSIC

LIBERTY GONG DAN SEMANGAT BLACK MUSIC

Apa ide yang ngawalin terbentuknya Liberty Gong?

Ini sih ide bertiga, aku, Odom (bass) dan Mbong (keyboard). Ini pun karena satu tongkrongan di Domayn. Waktu itu pertengahan 2016.

Buat orang-orang kebanyakan, apalagi sejak singleBabylon rilis, Liberty Gong disebut menganut genre dub/reggea. Apa betul?

Sebenarnya kalau buat kami black music. Ada banyak usaha cross over jadi ga ada yg terlalu menonjol sebenarnya. Tapi untuk basesound itu ada di rocksteady-ska-reggae.

Kenapa memilih black musik?

Spiritnya sih. Sejarah mereka (black music) itu kan mulai dari yang dianggap ‘sampah’ pada masanya sampai jadi musik paling mahal sekarang ini. Buat kami, yang kami adopsi itu ya semangatnya, struggle! Jadi waktu kami mainin musik ini kami bener-bener bicara ‘socialfact‘ yg ada, bukan musik yang ngawang-ngawang.

Apakah Liberty Gong punya definisi baru nih soal black music untuk skena di Medan?

Bagi kami inilah black music dengan gaya kami. Misalnya dari unsur permainan kami gabungin beberapa gaya. Contohnya di Babylon, di situ ada funk, rap, sampai di beat-nya ada dancehall-nya. Nah di skena Medan sendiri ya sebenarnya sebelum kami udah ada yang nyentuhblack music, misalnya aku di proyek soloku (JERE Fundamental), di YJC dengan jazz-nya, MBS juga lewat blues.

Bagaimana menjaga agar pesan dapat diterima tanpa terdistorsi kehebohan musik belaka?

Yang pertama bikin lagu mesti enak. Kedua stage performa yang oke, dan terakhir biarlah orang yang menilainya sendiri.

Untuk tahun ini bakal ada gebrakan baru dari Liberty Gong?

Pasti ada. Album dan rencananya mau ngadain tur Sumatera, Jawa, Bali dan Malaysia.

Foto: Koleksi Liberty Gong.

Menurut kalian apa itu reggae kelapa dan kenapa bisa ada di Medan?

Kenapa ada? Mungkin karena SDM di sini yang malas eksplorasi dan mempelajari. Gawatnya malah terjadi pembiaran sampai akhirnya mereka betah. Inilah karena zona nyaman tadi.

Tahun ini mau pilgubsunih, Bang. Liberty gong bakal nerima ngga nih seandainya ada calon gubsu yang nyuruh kalian bikin ‘jingle’ atau ditarik untuk perform dan ngedukung?

Ya gak akanlah. Band Medan kebanyakan gak dianggap bisa ngumpulin massa. Kecuali band nasional ya. Dan ini ga pernah jadi kendala buat kami. Aku (Jere), sampai sekarang pun gak pernah ngeluh soal itu. Masalah eksposur ini ga perlu dikeluhkan. Jarang diputarlah di radio atau kok laguku gak diputarlah, ini semua buatku balik lagi, apa yang udah kubikin?

Share this post

Recent post