5 TIPS MENJADI HIPPIE

5 TIPS MENJADI HIPPIE

Hippie bukan sekadar style, melainkan life-style. Menjadi hippie adalah pilihan hidup, bukan ikut-ikutan. Generasi hippies di akhir ’60-an adalah kaum yang menolak budaya mapan klas borjuasi, otoritarianisme pemerintah dan fundamentalisme agama. Segala yang berhubungan dengan kaum hippies adalah cerminan atas pemberontakan itu. Tim Degilzine merangkum 5 tips buat kalian-kalian yang ingin menjadi hippie.

 

  1. Baca

Bukan baca status fesbuk atau caption durhaka para seleb sosmed, melainkan baca buku. Generasi hippies adalah orang-orang yang memberontak sejak dalam pikiran. Kan ngga lucu kalian menjadi hippie namun pikiran kalian masih saja kolot dan angguk-angguk pada doktrin-doktrin hantu blau yang berselimut nasionalisme ataupun agamaisme yang bersifat membodohi. Untuk permulaan kalian bisa membaca buku-buku “rohani” semacam Sabda Zarathustra-nya Niestzhe, atau Sejarah Tuhan-nya Karen Armstrong. Berikutnya ada novel Narcissus and Goldmund-nya Hermann Hesse, atau novel klasiknya George de Maurier, Trilby. Mengenai hippie movement, ada novel bagus dari pelaku hippie itu sendiri, Been Down So Long it Look Like Up to Me dari Richard Farina. Selanjutnya ikutilah artikel-artikel yang ada di media-media nakal semacam Degilzine.com, Mojok.co, Tirto.id, atau Vice.com. Poinnya, latihlah agar pola pikirmu sedikit menyimpang dari arus utama.

Foto: Istimewa
  1. Dengar musik.

Bagi kaum hippie, musik adalah sebuah doa sekaligus simbolisasi dalam meleburkan diri bersama alam. Menjadi hippie tanpa mencintai musik (terutama psikedelik rock) layaknya seperti makan tanpa minum. Untuk permulaan kalian bisa mendengarkan lagu-lagunya (ingat! Cerna liriknya baik-baik!) The Gratefull Dead, The Doors, Jefferson Airplane, The Who, atau pergilah ke Teras Benji dan paksa sang pemilik cafe memutarkan lagu-lagu hippie. Biar lebih mengkhayati, cobalah dengarkan lirik dari lagu-lagu itu ketika hujan turun, buka pintu, main lumpur, lalu biarkan tubuhmu bergerak sendiri sesuai irama lagu.

Foto: https://cdns.klimg.com/vemale.com/
  1. Nonton film.

Tidak perlu menonton film-film “hippie” semacam Monterey Pop atau Woodstock, bila kalian sudah menjalani dua tips di atas. Film yang saya sarankan di sini adalah film-film yang bertema tragedi dan kemanusiaan, seperti Apochalyse Now, The Killing Fields, Life is a Beautiful, The Pianist atau film-film yang direkomen di laman Degilzine dan ikutilah screening dan diskusinya saban Jum’at di Literacy Coffee. Kenapa? Karena menjadi hippie adalah menjadi manusia yang sanggup memanusiakan manusia lainnya. Jadi bakal percuma kalau kamu mengaku hippie tapi ga peduli sama sekali dengan kemanusiaan yang dirampas dan diinjak-injak.

Foto: Tribunnews.com
  1. Ikuti mode kaum hippies

Kaum hippies adalah kaum yang menolak tren dan modernisasi. Jadi, hindarilah kacamata berbingkai bundar berwarna mawar, celana cutbrai, atau kaus celup selama barang-barang itu dijual di mall dan distro-distro. Kau akan tampak “hippie” selama pakaianmu adalah milik kakek nenekmu semasa muda, atau belilah di monja; yang penting kau nyaman dan sedikit berwarna-warni. Lebih mantap kalau kau bikin/beli pakaian yang terbuat dari bahan-bahan alami, terutama dari tanaman hemp. Hemp adalah tanaman yang melepaskan paling banyak oksigen yang bisa mencegah pencemaran lingkungan.

Foto: https://loperonline.com/
  1. Keluar rumah!

Terserah mau didefinisikan seperti apa. Yang penting, keluarlah dari zona nyamanmu. Ikutlah dengan Zal Puteh ke hutan-hutan dan kampanyekanlah Save Orangutan. Bergabunglah dengan Filsafatian dan teriakkan anti-korupsi di jalan-jalan. Atau paling ngga, nongkronglah di pinggir jalan raya atau pergilah ke pedesaan, dan tulislah apa saja yang sedang terjadi di sana, lantas kirimlah tulisanmu ke Degilzine.

Eda Citra sedang berada di festival Sumba. Foto: Koleksi pribadi Eda Citra.

 

*Ilustrasi cover oleh Ina Addini

Share this post

Recent post