Degil Zine

Terbang melayang, ke awan, menghilang.. Datang dan pergi sendiri, " merupakan penggalan lirik dari salah satu band favorit saya, Dialog Dini Hari yang berjudul Oksigen. Jujur saja saya katakan, lagu tersebut dari dulu hingga sekarang saya hapal mati liriknya. Sempat bengong dan tak mengerti faktor apa yang menyebabkan otak saya menyimpan dan menumpuk lagu itu di memori kepala. Namun berkat lagu itulah saya mengenal dan mengulik genre folk lebih dalam. Dari folk capek era Cat Steven (Yusuf Islam), hingga folk era milineal pun saya jabani. Eakkkk! Dari segi musik, saya menyukai folk yang kemasannya sederhana, tidak seperti Adrian Kakek si raja delay itu yang maniak dengan folk bergaya salju layaknya Game of Thrones. Tapi ya sudahlah, mau gimana pun jenisnya tetap respek dong! (jangan tahunya ngomong di belakang). Nah kalau mau tahu asal-usul folk dan tetek bengeknya, coba buka Google aja, Om. Cara buat bom aja ada di sana, apalagi cuma seluk beluk musik folk.

Kali ini dengan hati yang gembira, saya akan menceritakan kepada anda salah satu talenta tanah Sumatra yang keren. Saya mengeluarkan kata “keren” pada mereka dimulai pada saat launching Degil #3. Di tengah ribuan massa yang hadir pada saat itu, mata dan hati saya tak sabar ingin melihat penampilan musisi yang kami undang. Dan Penampil pertama itulah yang akan saya bahas. Mereka adalah Terminal Kuningan. Pada waktu itu, pertama kali saya lihat duo ini perfom dan ternyata di luar prediksi saya. Dengan sekejap mereka mampu membakar suasana hadirin yang penuh sesak di Teras Benji malam itu. Sejak saat itu, saya merasa band ini harus dikulik masuk ke artikel Degil, dan sesuai kebiasaan, kami mengajak mereka duduk semeja dan bercerita dengan hangat.

Band santun ini beranggotakan dua orang saja, yaitu Holong (vokal, gitar) dan Adit (vokal, perkusi, ukulele). Terinspirasi dari tulisan di colokan listrik, Terminal Kuningan mengusung musik konsep folk minimalis menurut kuping saya yang absurd ini. Holong sang biduan bercerita kalau mereka membentuk band ini awalnya untuk senang-senang saja pren. Weit! Bukan senang-senang hura-hura ke klab malam mabuk mabukan. Ingat! Senang-senang menurut mereka maksudnya adalah menyalurkan hobi dan melepas penat sewaktu kuliah. Awal mulanya mereka terbentuk dari pertemanan pada saat kuliah. Mereka bercerita kalau awalnya band ini dibentuk dengan konsep musik lawak-lawak dan jenaka, seperti PMR atau Teamlo. Namun apa daya, sepertinya mereka belum terlalu lucu dan akhirnya tersadarkan kembali menuju ke jalan yang benar. Band yang terinspirasi dari Suara Sama ini dijamin akan meneduhkan kuping anda. Komposisi musik mereka, walaupun sederhana, namun tetap terkesan padat dan nikmat ketika didengar. Untuk penulisan lirik, Holong dan Adit berbagi peran.

Yang saya lihat dari hasil pembicaraan dengan mereka, duo ini lebih menekankan penulisan lirik yang lebih bersifat sosial dan dibalut rapi dengan dengan bergaya fabel. Ini terlihat dari single yang mereka rilis Juni 2017 yang lalu, berjudul Rusa dan Serigala. Secara keseluruhan menurut saya lagu ini sangat nikmat didengar dan penulisan liriknya saya rasa cukup baik. Lirik yang menggambarkan sistem tolong menolong di hutan rimba yang secara tidak langsung menyinggung manusia yang sudah kehilangan sifat simpati terhadap sesama dan saling menghujat.

Rusa pun datang hampiri serigala

Bertanya ada apakah gerangan

Serigala menjawab ia terluka

Rusa bergegas balut lukanya

Penggalan lirik di atas semacam fabel yang menggambarkan ketika rusa ingin menolong serigala. Kalau secara nalarnya, kejadian di atas tidak mungkin terjadi karena ketika rusa menghampiri serigala, yang terjadi malah serigala menggigit leher rusa dan “bharrrr!”, sang rusa pun dimangsa. Tapi ingat, inilah majinasi, kawan. Mereka menggambarkan kalau hewan lebih unggul dari manusia dalam tolong menolong. Faktanya sih begitu. Manusia sekarang (seperti saya yang dermawan ini)  enggan untuk memberi sedekah kepada nenek pengemis yang mencari sesuap nasi, padahal beliau menunggangi Fortuner. Sungguh memilukan, kawan! Tapi begitulah faktanya. Terminal kuningan sukses memberikan gambaran tentang busuknya manusia. Bravo terus pren!

Sekian terimakasih. Kita tunggu single berikutnya!

*Bagi yang penasaran tentang mereka bisa di cek di IG: @beranda.terminalkuningan

Leave a Comment

Baca Juga

Terbang melayang, ke awan, menghilang.. Datang dan pergi sendiri, " merupakan penggalan lirik dari salah satu band favorit saya, Dialog Dini Hari yang berjudul Oksigen. Jujur saja saya katakan, lagu tersebut dari dulu hingga sekarang saya hapal mati liriknya. Sempat bengong dan tak mengerti faktor apa yang menyebabkan otak saya menyimpan dan menumpuk lagu itu di memori kepala. Namun berkat lagu itulah saya mengenal dan mengulik genre folk lebih dalam. Dari folk capek era Cat Steven (Yusuf Islam), hingga folk era milineal pun saya jabani. Eakkkk! Dari segi musik, saya menyukai folk yang kemasannya sederhana, tidak seperti Adrian Kakek si raja delay itu yang maniak dengan folk bergaya salju layaknya Game of Thrones. Tapi ya sudahlah, mau gimana pun jenisnya tetap respek dong! (jangan tahunya ngomong di belakang). Nah kalau mau tahu asal-usul folk dan tetek bengeknya, coba buka Google aja, Om. Cara buat bom aja ada di sana, apalagi cuma seluk beluk musik folk.

Kali ini dengan hati yang gembira, saya akan menceritakan kepada anda salah satu talenta tanah Sumatra yang keren. Saya mengeluarkan kata “keren” pada mereka dimulai pada saat launching Degil #3. Di tengah ribuan massa yang hadir pada saat itu, mata dan hati saya tak sabar ingin melihat penampilan musisi yang kami undang. Dan Penampil pertama itulah yang akan saya bahas. Mereka adalah Terminal Kuningan. Pada waktu itu, pertama kali saya lihat duo ini perfom dan ternyata di luar prediksi saya. Dengan sekejap mereka mampu membakar suasana hadirin yang penuh sesak di Teras Benji malam itu. Sejak saat itu, saya merasa band ini harus dikulik masuk ke artikel Degil, dan sesuai kebiasaan, kami mengajak mereka duduk semeja dan bercerita dengan hangat.

Band santun ini beranggotakan dua orang saja, yaitu Holong (vokal, gitar) dan Adit (vokal, perkusi, ukulele). Terinspirasi dari tulisan di colokan listrik, Terminal Kuningan mengusung musik konsep folk minimalis menurut kuping saya yang absurd ini. Holong sang biduan bercerita kalau mereka membentuk band ini awalnya untuk senang-senang saja pren. Weit! Bukan senang-senang hura-hura ke klab malam mabuk mabukan. Ingat! Senang-senang menurut mereka maksudnya adalah menyalurkan hobi dan melepas penat sewaktu kuliah. Awal mulanya mereka terbentuk dari pertemanan pada saat kuliah. Mereka bercerita kalau awalnya band ini dibentuk dengan konsep musik lawak-lawak dan jenaka, seperti PMR atau Teamlo. Namun apa daya, sepertinya mereka belum terlalu lucu dan akhirnya tersadarkan kembali menuju ke jalan yang benar. Band yang terinspirasi dari Suara Sama ini dijamin akan meneduhkan kuping anda. Komposisi musik mereka, walaupun sederhana, namun tetap terkesan padat dan nikmat ketika didengar. Untuk penulisan lirik, Holong dan Adit berbagi peran.

Yang saya lihat dari hasil pembicaraan dengan mereka, duo ini lebih menekankan penulisan lirik yang lebih bersifat sosial dan dibalut rapi dengan dengan bergaya fabel. Ini terlihat dari single yang mereka rilis Juni 2017 yang lalu, berjudul Rusa dan Serigala. Secara keseluruhan menurut saya lagu ini sangat nikmat didengar dan penulisan liriknya saya rasa cukup baik. Lirik yang menggambarkan sistem tolong menolong di hutan rimba yang secara tidak langsung menyinggung manusia yang sudah kehilangan sifat simpati terhadap sesama dan saling menghujat.

Rusa pun datang hampiri serigala

Bertanya ada apakah gerangan

Serigala menjawab ia terluka

Rusa bergegas balut lukanya

Penggalan lirik di atas semacam fabel yang menggambarkan ketika rusa ingin menolong serigala. Kalau secara nalarnya, kejadian di atas tidak mungkin terjadi karena ketika rusa menghampiri serigala, yang terjadi malah serigala menggigit leher rusa dan “bharrrr!”, sang rusa pun dimangsa. Tapi ingat, inilah majinasi, kawan. Mereka menggambarkan kalau hewan lebih unggul dari manusia dalam tolong menolong. Faktanya sih begitu. Manusia sekarang (seperti saya yang dermawan ini)  enggan untuk memberi sedekah kepada nenek pengemis yang mencari sesuap nasi, padahal beliau menunggangi Fortuner. Sungguh memilukan, kawan! Tapi begitulah faktanya. Terminal kuningan sukses memberikan gambaran tentang busuknya manusia. Bravo terus pren!

Sekian terimakasih. Kita tunggu single berikutnya!

*Bagi yang penasaran tentang mereka bisa di cek di IG: @beranda.terminalkuningan

Leave a Comment

Baca Juga