DISTORSI AKUSTIK DAN PU7I UTOMO : BUKAN SEKADAR HURA-HURA

DISTORSI AKUSTIK DAN PU7I UTOMO : BUKAN SEKADAR HURA-HURA

Halo, Kawan! Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat kalian semua di sana. Kali ini kita punya kelompok musik dari luar Sumatera untuk diangkat dalam artikel Degilzine bertitel: Kobel. Distorsi Akustik merupakan tajuk bernuansa kontradiktif yang dipilih sebagai nama bagi kelompok musik post grunge/indie pop asal Semarang. Pemilihan nama yang cukup mereprentasikan dari grunge itu sendiri. Dirujuk pada berita pers mereka yang menyelusup masuk ke pos-el Degilzine, Distorsi Akustik memulai perjalanan musiknya pada tahun 2007 dengan beberapa kali perubahan nama sebelum akhirnya mantap dengan nama Distorsi Akustik. Musik yang dimainkan oleh Viko Yudha Prasetya (vokal, synthesizer), Hersa Dipta Putra (gitar), Bahar Syafei (gitar), Taufik Adianto (bass), dan Ragil Pamungkas (dram) pada umumnya tidak memainkan lagu-lagu yang bertempo kebut dan jauh dari ritme-ritme khas Nirvana sebagaimana yang lazim dijumpai pada banyak band grunge di Indonesia. Saya sendiri sebenarnya sudah mendengar band ini (kebetulan pernah berada di dalam kompilasi yang sama dengan Depresi Demon) lewat lagu mereka “Penjara Kebisingan Kota” pada kompilasi double cassette: “We Are Grunge” yang dirilis oleh Mindblasting Record (2013). Secara general, Distorsi Akustik memainkan nada murung dan melankolis dengan balutan nuansa pop yang kental sebagai identitas musiknya.

Foto: Koleksi Distorsi Akustik

Tahun 2015 lalu, mereka akhirnya merilis EP perdana mereka yang berisikan 7 track dengan tajuk “Pu7i Utomo” lewat netlabel Valetna Records, yang kemudian dibakar dengan semangat penggalakan kembali pada pentingnya perilisan album fisik dengan perilisan secara mandiri dalam bentuk CD pada tahun 2016. Berdasarkan berita pers-nya pula, pemilihan tajuk Pu7i Utomo merupakan bentuk dedikasi mereka terhadap eks gitaris yang lebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sebelum album ini rampung dirilis. Penulisan angka 7 sendiri dimaknai sebagai filosofi penciptaan dunia dan filsafat lokal yang menyatakan sejatinya jumlah hari adalah 7.

Foto: Koleksi Distorsi Akustik

Melirik pada konsep lirik, Pu7i Utomo menyadur pada banyak tema keresahan untuk disuarakan, mulai dari problematika sosial, kaum puritan, hingga yang paling nge-hype belakangan ini: marjinalisasi kaum LGBT. Bila di luar sana ada Pearl Jam atau Bono dari U2 yang peduli terhadap isu sosial dan melakukan gerakan nyata terhadapnya, maka dari skena musik Semarang ada nama Distorsi Akustik. Satu lagi bukti yang bisa membantah bahwa musik, khususnya grunge, tidak hanya sebagai ajang hura-hura atau hedonis melulu; dapat dicermati pada apa yang dilakukan oleh Distorsi Akustik.

Penyisihan 2,5% dari hasil setiap penjualan merchandise dan CD album, disepakati bersama untuk didonasikan pada beberapa panti asuhan yang ada di Semarang, Jakarta, Bandung dan Klang Selangor, Malaysia lewat relasi disana. Sebuah bentuk gerakan mulia yang sepertinya mulai jarang dilakukan kebanyakan band independen belakangan ini.

Foto : Koleksi Distorsi Akustik

Distorsi Akustik, melalui EP Pu7i Utomo sendiri, sudah melakukan ekspansi lewat tur ke 4 kota, yaitu: Batang, Pekalongan, Tangerang dan Jakarta. Dalam waktu dekat ini, kabarnya mereka akan menyiapkan pagelaran sederhana untuk mensyukuri lahirnya debut EP perdana mereka, dimana waktu dan tempatnya akan diinformasikan lebih lanjut lewat media sosial Instagram mereka di @distorsiakustik).
So, dipantau terus ya bre!

 

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

Share this post

Recent post