Degil Zine

Akhirnya sebuah karya literasi lahir dari keindahan pulau Toba. Seorang MC dan beatmaker bernama Pangalo merilis album perdananya yang berjudul “Hurje: Merapallah Zarathustra” di bawah naungan Senartogok dan Maraton Mikrofon. Album berisi 19 track dalam benang merah hip hop dan teknis penulisan yang menarik untuk kita bahas. Kalau saya harus merangkumnya, mungkin ini album yang punya nilai estetika penulisan dan emosi yang sudah langka untuk kita dapatkan pada rilisan-rilisan sebelumnya. Mari saya jelaskan, jika setuju atau tidak yah itu urusan pembaca.

Sebagai seorang produser, saya melihat musik rap tidak sekadar musik ocehan di atas beat 4/4 yang di ulang-ulang. Banyak kompleksitas di dalam musik yang terkesan simpel ini; beat yang diproduksi, teknis penyampaian dan pesan yang substansial adalah kunci dari musik rap. Saya melihat musik rap segaris dengan musikalisasi puisi di mana ada musik, teknis penyampaian dan juga substansi pada pesan walau memang tingkat apresiasi musik rap masih sebatas salah satu elemennya saja, yaitu beat, karena mungkin dengan pertimbangan beat yang bersahabat dengan klub malam agar bisa dibawa ajojing anak-anak muda tanggung sambil basian dan mencari mangsa lawan jenis atau sesama jenis. Substansi lirik sudah mulai menurun, tapi jika musik rap yang kalian maksud adalah musik rap yang kalian dengarkan dari Youtube, penulis-penulis dengan substansi masih banyak sekali berhamburan di bawah tanah bersama Soundcloud dan pandangan mereka yang tak pernah mati terhadap gejolak sosial di jalanan.

Pangalo merupakan salah satu musisi rap yang penuh substansi, terlepas dari info Senartogok bahwa ia adalah jebolan fakultas filsafat universitas negeri terbaik di Indonesia (walau jebol tanpa gelar). Mungkin album ini harus jadi proyek disertasi seorang dosen jika memang ingin dibedah secara literasi dan keilmuan, sama seperti rilisan album rap Indonesia yang substansial lainnya seperti Homicide, Doyz atau Rand Slam. Pesan di sini tak sekadar sebuah kesombongan yang diberi istilah bragacio (bragging, merasa yang paling) yang banyak ditemukan dalam lagu-lagu rap. Pangalo memilih benang merah eksistensialisme sebagai tema besar dalam album ini. Sebuah tema yang hampir jarang disentuh dalam album rap sekarang yang club oriented dan milenial muda pemuja konsumerisme. Sedikit anarki bisa saya bilang, tapi penuh esensi, tak sekadar berteriak-teriak tapi memberikan sebuah prespektif sebab-akibat yang membuatnya semakin menarik. Dari musik pun, Senartogok juga tak mau kalah. Mengimbangi klimaks ejakulasi pada lirik, Senartogok memilih proses pembuatan beat yang lebih liar. Banyak elemen sample yang digunakan hingga musik terdengar lebih kotor tapi punya warna. Musik yang diproduksi ibarat kekacauan dari hasil pergelutan dengan turntable ala Hank Shocklee (Public Enemy) agar musik juga memberikan substansi keras yang akan selalu berjalan bersama dengan lirikalisasi Pangalo.

Album Hurje berisi 18 lagu dengan benang merah hip hop tanpa basa-basi. Mungkin ini hanya stereotype saja, tapi Pangalo juga banyak bernyanyi di album ini sebagai hook pada setiap lagunya, seperti pada track Anthem, Badut, Doping Filosofi dan Pemenang. Layaknya mendengarkan The Fugees saat tiba-tiba Lauryn Hill mengisi dengan vokal yang apik ditengah riuh rima Pres dan Wyclef. Rasanya seperti sebuah restorasi setelah cerita-cerita Pangalo yang menghujani, memberikan pendengar sedikit napas, setidaknya untuk ikut bernyanyi bersama Pangalo, jika kita terlalu lelah untuk menghapal banyaknya line dari Pangalo. Ada pula track-track oktan tinggi seperti Malapetaka, Gejolak, Ribak, Sang Pengoceh dan Pancasila, yang membuat kita terduduk sebentar sembari telinga diisi sumpah serapah khas dari Pangalo. Terlebih pada track Riba, dengan outro yang menyingkap sebuah peristiwa hiruk pikuk dengan bahasa Batak. Semua track oktan tinggi ini juga diimbangi dengan beberapa track yang syarat kental dengan irama funk. Senartogok memberikan warna yang tepat untuk kita agar bisa kembali bernapas dan setidaknya berdiri untuk sekadar berjoget dalam alunan breakbeat ala James Brown seperti pada lagu Doping Filosofi atau Kami Adalah Tuhan. Tetapi untuk track favorit bagi saya ada pada Jurus Mabuk. Selaras dengan judulnya, Pangalo yang memproduseri track ini membawa kita pada alunan free jazz yang rumit dengan lirik kontemplasi syarat akan eksistensialisme paling keras. Ibarat mendengarkan curhat seorang pemikir gila yang sudah pada kondisi kritis. Kita dibawa dalam cerita yang sedikit membuat kita ikutan gila dengan alunan free jazz yang tidak punya hitungan. Pangalo seperti menunjukkan kekuatannya bermain pada track yang begitu banyak elemen dan lepas dari hitungan. Sebuah track yang mengharuskan kita untuk duduk dan introspeksi pada diri sendiri dan bertanya, “Ini Album Rap?”

Hurje adalah sebuah album hip hop yang menarik untuk kita jadikan sebuah pembuka dalam pembicaraan. Lirik, musik dan visi pada album ini memberikan napas pada skena hip hop sekarang yang mulai berkembang dan berwarna. Pangalo menjadikan musik hip hop sebagaimana harusnya musik ini lahir. Sebuah cerita yang substansial tak sekadar sebuah musik untuk menemani kita minum dan berjoget di lantai dansa. Hurje bak jawaban Grand Master Flash and Furious Five lewat The Message terhadap Rappers Delight dari Sugar Hill Crew. Musik rap tidak selalu harus menjadi sebuah komoditi klub malam, musik rap bisa punya pesan yang kuat layaknya mereka yang masih mendengarkan Public Enemy sebagai soundtrack mereka dalam melihat keadaan sosial yang ada sekarang!

*Sapa Pangalo! di @soepartolumbanraja dan hubungi 082219435489 atau @senartogok untuk mendapatkan rilisan Hurje!

Leave a Comment

Baca Juga

Akhirnya sebuah karya literasi lahir dari keindahan pulau Toba. Seorang MC dan beatmaker bernama Pangalo merilis album perdananya yang berjudul “Hurje: Merapallah Zarathustra” di bawah naungan Senartogok dan Maraton Mikrofon. Album berisi 19 track dalam benang merah hip hop dan teknis penulisan yang menarik untuk kita bahas. Kalau saya harus merangkumnya, mungkin ini album yang punya nilai estetika penulisan dan emosi yang sudah langka untuk kita dapatkan pada rilisan-rilisan sebelumnya. Mari saya jelaskan, jika setuju atau tidak yah itu urusan pembaca.

Sebagai seorang produser, saya melihat musik rap tidak sekadar musik ocehan di atas beat 4/4 yang di ulang-ulang. Banyak kompleksitas di dalam musik yang terkesan simpel ini; beat yang diproduksi, teknis penyampaian dan pesan yang substansial adalah kunci dari musik rap. Saya melihat musik rap segaris dengan musikalisasi puisi di mana ada musik, teknis penyampaian dan juga substansi pada pesan walau memang tingkat apresiasi musik rap masih sebatas salah satu elemennya saja, yaitu beat, karena mungkin dengan pertimbangan beat yang bersahabat dengan klub malam agar bisa dibawa ajojing anak-anak muda tanggung sambil basian dan mencari mangsa lawan jenis atau sesama jenis. Substansi lirik sudah mulai menurun, tapi jika musik rap yang kalian maksud adalah musik rap yang kalian dengarkan dari Youtube, penulis-penulis dengan substansi masih banyak sekali berhamburan di bawah tanah bersama Soundcloud dan pandangan mereka yang tak pernah mati terhadap gejolak sosial di jalanan.

Pangalo merupakan salah satu musisi rap yang penuh substansi, terlepas dari info Senartogok bahwa ia adalah jebolan fakultas filsafat universitas negeri terbaik di Indonesia (walau jebol tanpa gelar). Mungkin album ini harus jadi proyek disertasi seorang dosen jika memang ingin dibedah secara literasi dan keilmuan, sama seperti rilisan album rap Indonesia yang substansial lainnya seperti Homicide, Doyz atau Rand Slam. Pesan di sini tak sekadar sebuah kesombongan yang diberi istilah bragacio (bragging, merasa yang paling) yang banyak ditemukan dalam lagu-lagu rap. Pangalo memilih benang merah eksistensialisme sebagai tema besar dalam album ini. Sebuah tema yang hampir jarang disentuh dalam album rap sekarang yang club oriented dan milenial muda pemuja konsumerisme. Sedikit anarki bisa saya bilang, tapi penuh esensi, tak sekadar berteriak-teriak tapi memberikan sebuah prespektif sebab-akibat yang membuatnya semakin menarik. Dari musik pun, Senartogok juga tak mau kalah. Mengimbangi klimaks ejakulasi pada lirik, Senartogok memilih proses pembuatan beat yang lebih liar. Banyak elemen sample yang digunakan hingga musik terdengar lebih kotor tapi punya warna. Musik yang diproduksi ibarat kekacauan dari hasil pergelutan dengan turntable ala Hank Shocklee (Public Enemy) agar musik juga memberikan substansi keras yang akan selalu berjalan bersama dengan lirikalisasi Pangalo.

Album Hurje berisi 18 lagu dengan benang merah hip hop tanpa basa-basi. Mungkin ini hanya stereotype saja, tapi Pangalo juga banyak bernyanyi di album ini sebagai hook pada setiap lagunya, seperti pada track Anthem, Badut, Doping Filosofi dan Pemenang. Layaknya mendengarkan The Fugees saat tiba-tiba Lauryn Hill mengisi dengan vokal yang apik ditengah riuh rima Pres dan Wyclef. Rasanya seperti sebuah restorasi setelah cerita-cerita Pangalo yang menghujani, memberikan pendengar sedikit napas, setidaknya untuk ikut bernyanyi bersama Pangalo, jika kita terlalu lelah untuk menghapal banyaknya line dari Pangalo. Ada pula track-track oktan tinggi seperti Malapetaka, Gejolak, Ribak, Sang Pengoceh dan Pancasila, yang membuat kita terduduk sebentar sembari telinga diisi sumpah serapah khas dari Pangalo. Terlebih pada track Riba, dengan outro yang menyingkap sebuah peristiwa hiruk pikuk dengan bahasa Batak. Semua track oktan tinggi ini juga diimbangi dengan beberapa track yang syarat kental dengan irama funk. Senartogok memberikan warna yang tepat untuk kita agar bisa kembali bernapas dan setidaknya berdiri untuk sekadar berjoget dalam alunan breakbeat ala James Brown seperti pada lagu Doping Filosofi atau Kami Adalah Tuhan. Tetapi untuk track favorit bagi saya ada pada Jurus Mabuk. Selaras dengan judulnya, Pangalo yang memproduseri track ini membawa kita pada alunan free jazz yang rumit dengan lirik kontemplasi syarat akan eksistensialisme paling keras. Ibarat mendengarkan curhat seorang pemikir gila yang sudah pada kondisi kritis. Kita dibawa dalam cerita yang sedikit membuat kita ikutan gila dengan alunan free jazz yang tidak punya hitungan. Pangalo seperti menunjukkan kekuatannya bermain pada track yang begitu banyak elemen dan lepas dari hitungan. Sebuah track yang mengharuskan kita untuk duduk dan introspeksi pada diri sendiri dan bertanya, “Ini Album Rap?”

Hurje adalah sebuah album hip hop yang menarik untuk kita jadikan sebuah pembuka dalam pembicaraan. Lirik, musik dan visi pada album ini memberikan napas pada skena hip hop sekarang yang mulai berkembang dan berwarna. Pangalo menjadikan musik hip hop sebagaimana harusnya musik ini lahir. Sebuah cerita yang substansial tak sekadar sebuah musik untuk menemani kita minum dan berjoget di lantai dansa. Hurje bak jawaban Grand Master Flash and Furious Five lewat The Message terhadap Rappers Delight dari Sugar Hill Crew. Musik rap tidak selalu harus menjadi sebuah komoditi klub malam, musik rap bisa punya pesan yang kuat layaknya mereka yang masih mendengarkan Public Enemy sebagai soundtrack mereka dalam melihat keadaan sosial yang ada sekarang!

*Sapa Pangalo! di @soepartolumbanraja dan hubungi 082219435489 atau @senartogok untuk mendapatkan rilisan Hurje!

Leave a Comment

Baca Juga