Degil Zine

Pernah menjadi seorang rapper yang menghasilkan beberapa lagu, Wisnu Bangun akhirnya kembali ke jalur musik tradisi sukunya, Karo. Ia adalah anak dari seorang musikus terkenal Karo, yang tampaknya membuat ia akhirnya keukeuh mengikuti jejak langkahnya, dengan cara dan sikapnya sendiri tentunya. Bulan April nanti, Wisnu Bangun akan menggelar konser pertamanya bersama dengan Averina Barus. Mau tahu bagaimana asyiknya relasi hubungan antara dia dan bapaknya dalam hal musik, serta pemahamannya soal musik tradisi Karo di zaman milenial ini, langsung saja yuk!

 

Wis, kalau kau kusuruh milih, musisi atau produser?

Jujur nih dari hati, produser musik, Le. Produser musik pop etnik.

Kenapa produser?

Awalnya karena terinspirasi dari Hendri Perangin-angin. Dia ini dulu yang produserin “Toto Perjuma” yang ditulis oleh bapakku dan kawan-kawannya. Pertama kali dengar waktu aku umur 6 tahun. Dan sampai sekarang sangat berkesan karena lagu itu yang menyulut keingin tahuanku belajar dan serius di bidang kesenian musik tradisi. Terlebih lagi, waktu itu aku dikasi tunjuk video klipnya, wah, jadi pingin bisa main gitarlah, main keyboardlah…hahaha..

Kalau proses belajar menjadi produser gimana ceritanya, Wis?

Nah, untuk proses belajarnya itu bukan langsung belajar jadi produser, Le. Pertama aku berangkat dari membuat komposisi (musik). Dulu itu aku sempat les piano (klasik) di Yamaha Musik Medan. Jadi pernah tuh, waktu ujian naik tingkat aku disuruh bikin komposisi sendiri. terus ya kubuatlah satu komposisi dengan dasar musik Karo. Asli, Le, ditanyain waktu itu sama pengujinya yang kebetulan dari Jepang karena dia belum familiar dengan musik Karo. Sebenarnya sih memang sengaja aku bikin supaya dianya pusing, hahahaha. Setelah itu waktu SMA belajar software DAW yang kubeli dari Pajus buat ngetrack atau bikin musik dari komputer.

Waktu SMA apa sudah mulai menulis komposisi musik tradisi?

Belum, Le. Waktu awal belajar produksi pake FL Studio itu cuma buat beat karena lagi musim hip hop.

Sempat jadi operator studio juga ya?

Iya, waktu itu di Queen Studio, tempat tongkrongan anak-anak hip hop juga kan dulunya. Jadi senang main di situ. Awalnya gak ada niat kerja, tapi supaya bisa belajar produksi sih sama yang punya studio. Dulu itu aku asal ada waktu pasti main ke situ, biarpun cuma buat tengok mousenya digerak-gerakin waktu pakai FL. Pada akhirnya aku gak lanjut kuliah karena mutusin untuk lebih serius belajar di situ.

Apa sih lagu pertama yang kau produserin?

Pertama kali waktu itu garap lagu rohani yang judulnya, mukjizat itu nyata, diaransemen dengan gaya hip hop…hahaha.

Kalau lagu pertama yang kau tulis?

"Delitua", kutulis tahun 2011.

Banyak yang kenal namamu lewat lagu ”Ula Gutul", ceritain dong proses kreatifnya?

Aku dulu nulis lagu itu untuk orangtuaku. Jadi mereka nantang aku bikin kombinasi musik hip hop dan tradisi. Sampai akhirnya jadilah lagu itu. Tema lagunya itu aku ambil dari kebiasan orang tua (suku Karo) yang sering berpesan “ula kam gutul” (jangan kau bandal), biarpun anaknya itu baik sebenarnya. Pengerjaan musik dari awal udah bareng dengan Bang Brevin Tarigan.

Apakah orangtua, terutama Bapak, yang bisa dibilang sebagai tokoh musik Karo punya pengaruh besar dalam kehidupan bermusikmu?

Besar dan banyak. Terutama lewat “Toto Perjuma” yang dia kerjakan itu.

Dia juga ngajarin kau soal musik?

Kalau ngajarin engga. Kami malah sering berdebat, apa yang menurutku udah bagus pasti sama Bapak biasa-biasa aja. Kayak tahun ini aku bilang mau bikin konser, dia cuma jawab “Oh iya ya…” Cuma datar gitu aja, Le. Kayaknya memang cara dia untuk memotivasiku ya lewat hinaan, hahahaha.

Sejauh ini kau kan intens membuat kolaborasi dengan pemusik lokal, kira-kira kalau cita-citamu pribadi ada gak sih bentuk kolaborasi yang kau impikan?

Bentuk kolaborasi yang menarik itu buatku ya di saat aku ngerasa begok ketika bareng pasangan kolaborasiku, hahaha. Jadi aku ini pingin kali bisa kolaborasi dengan A. Rahman, produser musik India. Doi udah ngedapatin 2 grammy di kategori musik, Le.

Kenapa dengan A.Rahman?

Karena kalau aku dengar musik dia aku ngerasa bego.

Kalau Rhoma Irama?

Beda, karena aku bisa main dangdut sampe koplo juga, hahaha. Tapi kalau musik A.Rahman aku asli ngerasa bego!

Bicara soal skena musik di Medan, Wis, kenapa ya kawan-kawan di sini masih enggan bermain-main dengan musik tradisi?

Mungkin dasarnya itu dari lingkungan. Lingkungan dia bermusik. Coba kalau mau bergeser lingkungan sedikit aja ke lingkungan musik tradisi, pasti dapatlah. Jangan anggap enteng dulu atau langsung nganggap musik tradisi itu kampungan kalau belum nyoba.

Lalu dengan karirmu sekarang ini, apa juga berarti menjadi usahamu untuk semakin menyebarkan musik tradisi?

Harapanku itu semoga apa yang kukerjakan ini bisa membuat kita sadar bahwa tidak perlu mengotak-ngotakkan antara musik tradisi dan musik modern. Musik secara umum sebagai elemen budaya pasti ikut berkembang sesuai pergerakan zaman. Tahapan musik hari ini berawal dari musik tradisi di masa lalu. Jadi perbedaan itu cuma ada di dalam kepala kita.

Kayak mana menurutmu soal etika dalam musik tradisi yang belakangan ini sering kita lihat terjadi perubahan, misalnya ketika dimainkan dengan irama “koplo mampus” ?

Sebenarnya sah-sah aja, Le. Tapi yang salah mungkin tempatnya. Kayak misalnya musik koplo Karo gitu dimainkan ya boleh…. Asal jangan di acara budaya! Apa-apaan coba itu? Kalau mau mainkan musik kayak gitu ya di club sekalian. Jangan kita bilang cinta budaya tapi kita sendiri ikut merusak esensinya. Apa ada unsur budaya kita dalam musik koplo itu?

Ceritanya kau mau konser solo nih?

Engga, berdua kok bareng Averina Barus, penyanyi perempuan tradisi Karo. Konser ini bakal diadain tgl 7 April nanti di Balai Zeqita.

Nanti di konser itu apa yang akan kalian tampilkan?

Di konser ini nanti kami bakal menampilkan kombinasi musik modern dan tradisi lewat karya-karya kami berdua sekaligus juga merilis album kami. Oh iya, konser ini pun kami beri judul “Toto Perjuma”.

Kok bisa diberi judul “Toto Perjuma”?

Pertama, karena lagu ini cukup inspiratif bagi kami berdua dan tema lagu ini sesuai dengan pesan yang ingin kami tampilkan lewat konser ini. Secara langsung “Toto Perjuma” itu dalam bahasa Indonesia berarti “Doa Petani”. Mulai dari doa sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhan lalu petani, itu bisa sebagai konotasi hubungan manusia dengan alam.

Kenapa ga profesi lain aja?

Karena bagi orang Karo sendiri petani itu udah sinonim dengan kata "kerja". Misalnya mau pergi ke kantor pun pasti tetap bilang, “Erjuma lebe..” (Ke ladang). Akhirnya hubungan-hubungan ini tadi sangat dekat dengan kenyataan sehari-hari terutama bagi masyarakat Karo.

Wis, kau kan buka studio juga di rumah. Apakah studio itu hanya untuk pribadi apa juga terbuka untuk umum?

Dua-duanya, Le. EM studio itu selain kubuka untuk keperluan pribadi juga memang terbuka sebagai tempat belajar untuk kawan-kawan yang tertarik dengan produksi musik.

Saranmu untuk anak indie kota Medan yang masih nganggap musik daerah itu ketinggalan zaman?

Ga usah banyak kalilah gaya klen itu!

Leave a Comment

Baca Juga

Pernah menjadi seorang rapper yang menghasilkan beberapa lagu, Wisnu Bangun akhirnya kembali ke jalur musik tradisi sukunya, Karo. Ia adalah anak dari seorang musikus terkenal Karo, yang tampaknya membuat ia akhirnya keukeuh mengikuti jejak langkahnya, dengan cara dan sikapnya sendiri tentunya. Bulan April nanti, Wisnu Bangun akan menggelar konser pertamanya bersama dengan Averina Barus. Mau tahu bagaimana asyiknya relasi hubungan antara dia dan bapaknya dalam hal musik, serta pemahamannya soal musik tradisi Karo di zaman milenial ini, langsung saja yuk!

 

Wis, kalau kau kusuruh milih, musisi atau produser?

Jujur nih dari hati, produser musik, Le. Produser musik pop etnik.

Kenapa produser?

Awalnya karena terinspirasi dari Hendri Perangin-angin. Dia ini dulu yang produserin “Toto Perjuma” yang ditulis oleh bapakku dan kawan-kawannya. Pertama kali dengar waktu aku umur 6 tahun. Dan sampai sekarang sangat berkesan karena lagu itu yang menyulut keingin tahuanku belajar dan serius di bidang kesenian musik tradisi. Terlebih lagi, waktu itu aku dikasi tunjuk video klipnya, wah, jadi pingin bisa main gitarlah, main keyboardlah…hahaha..

Kalau proses belajar menjadi produser gimana ceritanya, Wis?

Nah, untuk proses belajarnya itu bukan langsung belajar jadi produser, Le. Pertama aku berangkat dari membuat komposisi (musik). Dulu itu aku sempat les piano (klasik) di Yamaha Musik Medan. Jadi pernah tuh, waktu ujian naik tingkat aku disuruh bikin komposisi sendiri. terus ya kubuatlah satu komposisi dengan dasar musik Karo. Asli, Le, ditanyain waktu itu sama pengujinya yang kebetulan dari Jepang karena dia belum familiar dengan musik Karo. Sebenarnya sih memang sengaja aku bikin supaya dianya pusing, hahahaha. Setelah itu waktu SMA belajar software DAW yang kubeli dari Pajus buat ngetrack atau bikin musik dari komputer.

Waktu SMA apa sudah mulai menulis komposisi musik tradisi?

Belum, Le. Waktu awal belajar produksi pake FL Studio itu cuma buat beat karena lagi musim hip hop.

Sempat jadi operator studio juga ya?

Iya, waktu itu di Queen Studio, tempat tongkrongan anak-anak hip hop juga kan dulunya. Jadi senang main di situ. Awalnya gak ada niat kerja, tapi supaya bisa belajar produksi sih sama yang punya studio. Dulu itu aku asal ada waktu pasti main ke situ, biarpun cuma buat tengok mousenya digerak-gerakin waktu pakai FL. Pada akhirnya aku gak lanjut kuliah karena mutusin untuk lebih serius belajar di situ.

Apa sih lagu pertama yang kau produserin?

Pertama kali waktu itu garap lagu rohani yang judulnya, mukjizat itu nyata, diaransemen dengan gaya hip hop…hahaha.

Kalau lagu pertama yang kau tulis?

"Delitua", kutulis tahun 2011.

Banyak yang kenal namamu lewat lagu ”Ula Gutul", ceritain dong proses kreatifnya?

Aku dulu nulis lagu itu untuk orangtuaku. Jadi mereka nantang aku bikin kombinasi musik hip hop dan tradisi. Sampai akhirnya jadilah lagu itu. Tema lagunya itu aku ambil dari kebiasan orang tua (suku Karo) yang sering berpesan “ula kam gutul” (jangan kau bandal), biarpun anaknya itu baik sebenarnya. Pengerjaan musik dari awal udah bareng dengan Bang Brevin Tarigan.

Apakah orangtua, terutama Bapak, yang bisa dibilang sebagai tokoh musik Karo punya pengaruh besar dalam kehidupan bermusikmu?

Besar dan banyak. Terutama lewat “Toto Perjuma” yang dia kerjakan itu.

Dia juga ngajarin kau soal musik?

Kalau ngajarin engga. Kami malah sering berdebat, apa yang menurutku udah bagus pasti sama Bapak biasa-biasa aja. Kayak tahun ini aku bilang mau bikin konser, dia cuma jawab “Oh iya ya…” Cuma datar gitu aja, Le. Kayaknya memang cara dia untuk memotivasiku ya lewat hinaan, hahahaha.

Sejauh ini kau kan intens membuat kolaborasi dengan pemusik lokal, kira-kira kalau cita-citamu pribadi ada gak sih bentuk kolaborasi yang kau impikan?

Bentuk kolaborasi yang menarik itu buatku ya di saat aku ngerasa begok ketika bareng pasangan kolaborasiku, hahaha. Jadi aku ini pingin kali bisa kolaborasi dengan A. Rahman, produser musik India. Doi udah ngedapatin 2 grammy di kategori musik, Le.

Kenapa dengan A.Rahman?

Karena kalau aku dengar musik dia aku ngerasa bego.

Kalau Rhoma Irama?

Beda, karena aku bisa main dangdut sampe koplo juga, hahaha. Tapi kalau musik A.Rahman aku asli ngerasa bego!

Bicara soal skena musik di Medan, Wis, kenapa ya kawan-kawan di sini masih enggan bermain-main dengan musik tradisi?

Mungkin dasarnya itu dari lingkungan. Lingkungan dia bermusik. Coba kalau mau bergeser lingkungan sedikit aja ke lingkungan musik tradisi, pasti dapatlah. Jangan anggap enteng dulu atau langsung nganggap musik tradisi itu kampungan kalau belum nyoba.

Lalu dengan karirmu sekarang ini, apa juga berarti menjadi usahamu untuk semakin menyebarkan musik tradisi?

Harapanku itu semoga apa yang kukerjakan ini bisa membuat kita sadar bahwa tidak perlu mengotak-ngotakkan antara musik tradisi dan musik modern. Musik secara umum sebagai elemen budaya pasti ikut berkembang sesuai pergerakan zaman. Tahapan musik hari ini berawal dari musik tradisi di masa lalu. Jadi perbedaan itu cuma ada di dalam kepala kita.

Kayak mana menurutmu soal etika dalam musik tradisi yang belakangan ini sering kita lihat terjadi perubahan, misalnya ketika dimainkan dengan irama “koplo mampus” ?

Sebenarnya sah-sah aja, Le. Tapi yang salah mungkin tempatnya. Kayak misalnya musik koplo Karo gitu dimainkan ya boleh…. Asal jangan di acara budaya! Apa-apaan coba itu? Kalau mau mainkan musik kayak gitu ya di club sekalian. Jangan kita bilang cinta budaya tapi kita sendiri ikut merusak esensinya. Apa ada unsur budaya kita dalam musik koplo itu?

Ceritanya kau mau konser solo nih?

Engga, berdua kok bareng Averina Barus, penyanyi perempuan tradisi Karo. Konser ini bakal diadain tgl 7 April nanti di Balai Zeqita.

Nanti di konser itu apa yang akan kalian tampilkan?

Di konser ini nanti kami bakal menampilkan kombinasi musik modern dan tradisi lewat karya-karya kami berdua sekaligus juga merilis album kami. Oh iya, konser ini pun kami beri judul “Toto Perjuma”.

Kok bisa diberi judul “Toto Perjuma”?

Pertama, karena lagu ini cukup inspiratif bagi kami berdua dan tema lagu ini sesuai dengan pesan yang ingin kami tampilkan lewat konser ini. Secara langsung “Toto Perjuma” itu dalam bahasa Indonesia berarti “Doa Petani”. Mulai dari doa sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhan lalu petani, itu bisa sebagai konotasi hubungan manusia dengan alam.

Kenapa ga profesi lain aja?

Karena bagi orang Karo sendiri petani itu udah sinonim dengan kata "kerja". Misalnya mau pergi ke kantor pun pasti tetap bilang, “Erjuma lebe..” (Ke ladang). Akhirnya hubungan-hubungan ini tadi sangat dekat dengan kenyataan sehari-hari terutama bagi masyarakat Karo.

Wis, kau kan buka studio juga di rumah. Apakah studio itu hanya untuk pribadi apa juga terbuka untuk umum?

Dua-duanya, Le. EM studio itu selain kubuka untuk keperluan pribadi juga memang terbuka sebagai tempat belajar untuk kawan-kawan yang tertarik dengan produksi musik.

Saranmu untuk anak indie kota Medan yang masih nganggap musik daerah itu ketinggalan zaman?

Ga usah banyak kalilah gaya klen itu!

Leave a Comment

Baca Juga