Terminal Kuningan. Foto: Koleksi Literacy Coffee.

ZAMATRA DAN BERKUMPULNYA PARA KETUA

Beberapa waktu lalu, tepatnya 15 Maret 2018 di Literacy Coffee, terselenggara acara bertajuk Bincang-Bincang Zamatra. Ini bukan kali pertama Zamatra (Jaringan Kesenian Sumatra) hadir di tanah Para Ketua, Medan, karena sebelumnya telah mencuat ke permukaan Zamatra #1, dan berlangsung di tempat yang sama pula. Ajang ini tampaknya menjadi ajang berkumpulnya para seniman bandal yang selama ini geraknya terkotak-kotak dan berjalan sendiri-sendiri. Seniman bersatu, tak bisa dikalahkan, biar kayak lirik lagu kalau lagi turun ke jalan itu.

Kegiatan Zamatra ini mengambil tema “Adakah Fungsi Negara bagi Para Seniman?” Bisa hadir dan melihat langsung acara tersebut layaknya sedang menyaksikan film Expendables. Bayangin saja, film Hollywood yang menghadirkan aktor-aktor top markotop papan atas dalam satu garapan film mampu membuat penonton terpana. Begitu juga dengan Zamatra, mampu mengumpulkan para ketua-ketua Kota Medan seperti sastrawan Idris Pasaribu, kolektor J Siahaan, pegiat literasi Jhon Fawer Siahaan, Wisnu Bangun, ketua-ketua dari Degilzine, ketua-ketua dari Deep Art yang turun gunung dari Brastagi, kawan-kawan pejalan dari Bandung, band-band top seperti Filsafatian, Selat Malaka, serta Terminal Kuningan. Selain itu dalam acara itu hadir juga seniman tatto, Raja Pardolok, pemantik diskusi, Barita dari LBH Medan, Santus Sitorus dan ketua-ketua keren lainnya yang tak bisa disebutkan satu per satu (semua yang hadir di acara itu ketua!).

Sastrawan Marhaenis, Idris Pasaribu, yang berapi-api di Bincang-Bincang Zamatra (15/3). Foto: Koleksi Literacy Coffee.

Secara personal saya tak bisa mengikuti alur kegiatan dengan baik, karena permintaan pesanan yang ramai untuk kepuasan fisik bagi peserta diskusi yang hadir (maklum, saya jadi penyaji minuman dan makanan pada saat itu). Jadi hanya bisa jaming-jaming sendiri dengar “Oiii revolusi mentel!!! Revolusi mentel!!!-nya Filsafatian di dapur sambil seduh kopi.

Tapi sedikit yang saya tangkap saat sesi diskusi, secara pengalaman, cerita perihal seniman yang terganggu (khususnya gigs) akibat ulah pungli para preman dan oknum keparat, baik jalanan ataupun pemerintahan sudah tak asing lagi terjadi di Medan. Selain itu, apresiasi pun jarang diterima oleh para seniman kita. Malah, salah seorang perupa, Fedricho Purba (CEO-nya Mural Medan) pernah dicatut karyanya tanpa izin oleh penyelenggara kegiatan Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir. Tentu ini menjadi masalah dalam berkesenian, khususnya di Sumatera Utara.

Fredericho Purba ketika mengeluhkan persoalannya. Foto: Koleksi Literacy Coffee.

Seniman Menggugat      

Fungsi negara pada dasarnya ialah sebagai alat kelas yang berkuasa. Tahu sendirilah gimana negara kita ini beserta penguasanya. Terlebih sejauh yang dilihat, Zamatra menunjukkan resistensi terhadap kapitalisasi dalam dunia kesenian. Menolak konsep kapitalisme dalam berkesenian, memilih untuk berkolektif ria membangun sebuah wadah berekspresi, dana patungan, peralatan sesuai kebutuhan dan kemampuan, kerja-kerja ketika pelaksanaan pun dilakukan bersama.

Kalau mau peran Negara, yah siap-siap saja seniman disetir oleh kemauan penguasa, contoh: melukis keindahan Danau Toba untuk kampanye keberhasilan penguasa. Padahal Danau Toba tak lagi indah akibat rakusnya perusahan-perusahan perusak lingkungan seperti Aquafarm dan Toba Pulp Lestari. Atau gini deh, bayangin jika musisi independent menciptakan lagu tentang keberhasilan rezim ini membangun tol di Sumut. Sedang di balik itu banyak rakyat yang tergusur dari tanahnya dan belum lagi pedagang pasar bengkel yang sepi merugi akibat dampak pembangunan ini.

Para ketua yang berjubel hingga ke pelataran lokasi acara. Foto: Koleksi Literacy Coffee.

Sekarang ini juga lagi tahunnya politik loh. Kalau mau, yah bisa jebol banyak proyek dari ngedit muka sang calon penguasa, nyanyi-nyanyi girang supaya rakyat memilih calon pemimpin fasis bajingan yang sempat viral akibat pernah cekek leher petani itu atau calon pemimpin yang kontra nelayan, memilih berpihak kepada investor reklamasi. Kalau gak percaya, tonton aja film dokumenter “Rayuan Pulau Palsu” produksi Watchdoc.

Tapi, apa itu yang dimaui oleh seniman kita? Jawab masing-masing ajalah ya.

Kembali ke permasalahan pokok. Kondisi yang pada realita hari ini semakin tidak menyenangkan bagi seniman, tak hanya itu, tapi juga tak menyenangkan bagi kepentingan masyarakat lain, baik itu buruh, petani, nelayan, kaum miskin kota, harus dapat dikemas oleh seniman dalam bentuk karya. Ingat, politik itu panglima, bung! Karya adalah senjata terbaik milik seniman. Karena melalui seni, masyarakat mudah tergugah hatinya melihat realitas yang dialami dan dilihat disekitarnya.

 

*Penulis aktif di Kelompok studi BARSDem dan mahasiswa Pendidikan Sejarah UNIMED.

Share this post

Recent post