PSYCHOTIC VILLAGER: SEKOMPLOTAN ORANG KAMPUNG YANG KEPINGIN GILA

PSYCHOTIC VILLAGER: SEKOMPLOTAN ORANG KAMPUNG YANG KEPINGIN GILA

Berawal dari pulangnya Adrian Sinaga aka Kakek dari kota Jogjakarta, maka sohib karibnya semasa kecil, Riovaldo Todoan, langsung menyambutnya seraya mengajukan suatu ide yang brilian, paling tidak buat mereka berdua: “Bikin proyekan yok, Kek?”

Sebelumnya Riovaldo sudah tergabung dalam unit hardrock Linimasa. Berposisi sebagai basis sekaligus vokalis, tampaknya kehadiran Adrian, yang biasanya mencomot posisi gitaris rangkap vokalis, terasa sangat cocok. Apalagi, semasa Adrian masih di Medan, kedua sohib ini memang sering berduaan seraya menyanyikan lagu-lagu yang sedang hits (dengan berbagi suara satu dan suara dua segala macam) berjudul apa saja yang sedang terlintas di benak mereka.

Adrian Sinaga aka Kakek. Foto: Koleksi pribadi PV.

Untuk melengkapi formasi mereka dalam mengulang masa kanak-kanak, maka dihubungilah Tegar Hutabarat, kawan semasa kecil yang handal bermain piano. Selanjutnya tinggal mencari drumer, dan secara ajaib, Leo Sihombing, gitaris Selat Malaka, menimbrung seenaknya saja. Formasi acak-acakan ini dicoba pertama kali dalam tour band post rock asal Thailand, Spring Fall See, di Pitu Room, 21 April 2017. Genre yang dicoba, bukan main-main: folk yang rada-rada shoegaze (hanya Jonsi tampaknya yang tahu apa maksud mereka); mungkin bermaksud agar mengimbangi noise-nya Spring Fall See. Hasilnya? Lumayanlah. Adrian cs memutuskan untuk jalan terus dengan mendepak Leo di posisi drum. Alasannya sih cukup santun, agar Leo fokus menjadi seorang gitaris (bukan drumer). Sementara, nama yang dikenakan mereka saat itu, Psychotic Villager, dirasa pas untuk tetap dipertahankan.

Riovaldo Todoan aka The Wise Men. Foto: Koleksi pribadi PV.

Nama Psychotic Villager sendiri dicetuskan oleh Riovaldo, perihal frase “anak pinggiran” aka “anak kampung” yang sering disematkan oleh anak-anak indie borjuis yang masih hobi netek di ketek mamaknya masing-masing. Bukan tanpa alasan sebenarnya. Riovaldo yang bertempat tinggal di Lau Dendang itu memang masih belum masuk kawasan kota Medan, sedangkan Kakek bertempat tinggal di Jalan Pancing, dan Tegar ada di Simalingkar. Bukan rahasia lagi, anak-anak indie yang hobinya makan kulit kentang itu memang sering kali mengigau, dengan mengatakan bahwa kota Medan hanyalah sebatas Setia Budi, Johor, Darusalam, dan sekitaran Smansa/Harapan saja. So, dapat dimengerti ya kawan-kawan. Dan sebab itulah, Riovaldo ingin membuktikan (dengan kerendahhatiannya) bahwa anak-anak kampung ini bisa juga menjadi “orang gila”.

Tegar Hutabarat aka Simalingkar Cupu Boy. Foto: Koleksi pribadi PV.

Mengenai genre musik, Adrian memiliki kepercayaan diri tingkat dewa dengan seringnya ia menyatakan di depan publik bahwa PV bergenre folk. Terserah definisi folk oleh alm. Denny Sakrie mesti bagaimana, terserah interpretasi folk ala Roberto Baggio seperti apa. Bagi mereka, atau mungkin Adrian pribadi, folk-nya PV adalah folk (bahasa Jerman: rakyat)-nya PV. Bingung? Saya juga.

Pengertian mereka atas folk akhirnya dituangkan dalam track pertama berjudul ajaib: Winter Hymne, yang rilis pada 1 Desember 2017. Saya menjadi salah satu manusia yang berkesempatan mendengarkan track ini, bahkan sebelum dirilis. Komentar saya: memang rada gila orang-orang kampungan ini. Saya mendengar sebuah musik yang sebenarnya patut disebut sebagai chamber-pop atau ork-pop oleh sebagian kritikus musik internasional (ehemmm…); rock musik yang menekankan melodi dan harmoni pada instrumen musik, estetika dalam penihilan distorsi, penggunaan string dan piano yang dominan, serta komponen-komponen lain yang mengingatkan kita pada musik orkestra atau pop lounge medio 60’an. Lantas kenapa berani betul Adrian mendaku PV sebagai folk-band? Biarlah mereka dan Tuhan mereka sendiri yang mempertanggungjawabkannya. Paling tidak dari sini Adrian cs sudah membuktikan efektifitas internet, di mana musik-musik ajaib dari negeri-negeri entah berantah semacam Islandia, Serbia dan Montenegro, Latvia, bahkan Greenland (jika ada) tidak lagi monopoli anak-anak “kota”, bahwa anak-anak “pinggiran” semacam mereka bukan lagi pemuja dan penganut musik-musik yang ditawarkan oleh TV nasional belaka.

Mengenai lirik (saya suka sekali kalau masuk pada bagian ini). Winter Hymne sendiri bercerita soal kondisi pra dan paska perang. Perang siapa dengan siapa? Kenapa dan apa? Tak ada yang (boleh) tahu. Menurut Adrian, sang pencipta lirik, lagu ini bercerita soal peperangan antara bangsa manusia dan makhluk fantasi (White Walker Army?), yang akhirnya dimenangkan oleh bangsa manusia. Bagaimana cara menangnya? Berapa jumlah korban yang jatuh? Siapa yang dibunuh dan membunuh? Demi Tuhan sang pencipta alam, lagi-lagi hanya Adrian sendiri yang tahu. Terlepas dari absurdisme dan interpretasi akan makna yang seenak udelnya itu, Winter Hymne memberikan kesegaran di zaman di mana lirik adalah subjek yang tak penting di dalam kerangka sebuah lagu. Imajinasi PV yang mengajak kita bermain-main di dunia fantasi, sedikit banyak membuat saya berdecak kagum. Terlepas dari ketidakjelasan situasi (folk, pertempuran, salju (salju men!) segala macam), keberanian PV dalam menggarap tema seperti ini mau tak mau mengingatkan kita pada para Santo suci yang demen memberontak pada kemapanan pikiran masyarakat di zaman mereka masing-masing. Yoi, untuk yang ini, PV memberontak terhadap kemapanan gaya mencipta lirik yang selama ini dikuasai oleh romansa dan politik yang membabi buta semata. Mungkin beginilah rasanya, menikmati musik Chopin seraya disuguhkan segepok novel fiksinya George R.R Martin. Asyik sekali, men!

Lovely Giovani, si perempuan di sarang penyamun. Foto: Koleksi pribadi PV.

Beberapa bulan sebelum single ini rilis, PV akhirnya resmi menggaet Lovely Giovani, violinis yang sebelumnya memperkuat unit Kemedja Poetih. Atas alasan apa Vani berminat bergabung dengan PV, saya juga bingung. Namun jujur saja, masuknya Vani membuat PV seakan menemukan kakinya yang selama ini telah diamputasi oleh pedang mungilnya Arya Stark. Komposisi musik yang diidamkan oleh Adrian tampaknya diledakkan oleh kemampuan Vani dalam bermain biola. Maksud saya begini, percuma saja jika PV hendak menduplikasi Of Monster and Men jika mereka tak memiliki seorang violin. Dan Vani-lah jawabannya. Disusul kemudian hadirnya seorang drumer brengsek bernama Nober, setelah sekian lama PV menggunakan jasa additional drumer. Entahlah. Demi Tuhan, saking noraknya, Nober bahkan seringkali mengedit wajahnya di dalam bingkai majalah palsu dan ia pamerkan dengan kebanggaan yang berlebihan di Instagram, seakan-akan doi adalah selebritis terkenal yang sedang tertimpa skandal seks panas dengan artis jadi-jadian yang sering melawak tak lucu di Rumah Uya Kuya. Entah karena kenorakan itu atau bukan, Nober akhirnya diajak bergabung di PV. Tapi setelah beberapa kali melihat aksi Nober, saya yakin, PV telah pula menemukan jodoh untuk menyempurnakan kekampungan … maksud saya, musikalitas mereka dalam berkreasi segila mungkin.

Nober si Anak Gang. Foto: Koleksi pribadi PV.

Dari perbincangan pendek saya dengan Adrian dan Riovaldo, PV, dengan formasi teranyarnya ini, akan segera menggarap single kedua mereka. Bocorannya, lirik kali ini akan berbahasa Indonesia. Dan tentu saja, akan lebih kampungan dan lebih gila lagi. Segila apa? Marilah, kita tunggu saja aksi dari orang-orang kampung yang sumpah mati, telah berhasil menemukan kegilaannya ini bersama-sama.

Terakhir, sekampung-kampungnya PV, band ini jauh lebih berani dan tentu saja, jauh lebih kreatif ketimbang band-band indie borjuis yang asyik menduplikasi dan bermain di jalur aman belaka. Rayakanlah harmoni klasik dan kisah fiksi dalam balutan kesehajaan orang-orang pinggiran.

Viva la kampungan!

Share this post

Recent post