Degil Zine

Beberapa hari yang lalu saya menerima ajakan dari teman saya untuk menonton film di bioskop. Saya tanya film apa, "film Indonesia", katanya. Besar keraguan untuk menyanggupi ajakannya. Ia bilang ini salah satu film yang ia tunggu tahun ini. Saya tanya judulnya apa, "Sekala Niskala ini film bagus. Kita harus nonton sebelum film ini hilang di bioskop", paparnya sedikit memaksa. Ya sudah saya pun menyanggupi ajakannya tetapi dengan satu syarat, yaitu saya harus menonton trailernya terlebih dahulu. Jika saya tidak suka maka seberapa keras pun ia memaksa, saya tidak akan ikut. Ternyata di luar dugaan saya, trailernya cukup menarik. Tanpa ragu saya langsung menghubungi kawan saya dan mengiyakan ajakannya.

Setelah menonton filmnya, yang terjadi dengan saya dan teman saya adalah munculnya pertanyaaan - pertanyaan. Terjadi diskusi singkat tentang film “Sekala Niskala” di antara kami. Banyak adegan di dalam film yang kami diskusikan. Pertanyaan terbesar kami adalah film ini sebenarnya bercerita tentang apa sih? Tujuan film ini apa? Sederhananya sih, film “Sekala Niskala” atau “The Seen and Unseen” bercerita tentang dua anak kembar (satu cewek dan satu cowok) yang belakangan saya baru tahu biasa disebut dengan kembar buncing bernama Tanra (cowok) dan Tanri (cewek). Masalah terjadi ketika Tanra sakit keras dan membuat ia perlahan kehilangan kemampuan inderawinya yang tak lama lagi akan menghilangkan nyawanya. Persoalan yang menarik adalah bagaimana Tanri menyikapi kepergian Tanra. Sederhana, bukan? Tapi setelah menontonnya kau pun pasti bingung. Aku yakin itu.

Salah satu adegan antara Tanra dan Tanri. Foto: Istimewa

Minimnya dialog ditambah dengan banyaknya adegan – adegan simbolik penuh makna, jujur saja membuat saya bingung. Ditambah dengan tema yang diangkat dalam penulisan cerita sangatlah jarang terdengar. "Kembar buncing"? Seberapa sering kalian mendengar hal itu. Seperempat film berjalan baru saya menyadari kalau film ini ternyata mengambil lokasi syuting di Bali. Belum lagi ditambah beberapa adegan mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Hal pertama yang saya lakukan setelah menonton adalah mencari tahu semua informasi tentang film ini.

Terang saja film ini bagus. Penulisan skenario naskahnya saja sudah dimulai dari tahun 2011. Kemudian ditambah 1 tahun khusus untuk mencari bakat anak dengan kemampuan gerak tubuh sekaligus olah vokal yang memadai, tutur si pembuat film Kamila Andini (yang saya dapat dari hasil proses browsing saya sih!). Hal ini berarti segala sesuatu di film ini telah dipikirkan secara matang – matang.

Kamila Andini di salah satu perhelatan penghargaan film. Foto: instagram.com/kamilandini

Jika melihat dari segi visual, film ini sangat menarik. Ada beberapa adegan yang membuat takjub. Sedikit spoiler boleh lah ya. Adegan favorit saya adalah ketika Tanri menari di bawah sinar rembulan dan ketika Tanra bermain wayang. Hal itu sangat membekas sampai sekarang. Koreografi dalam film ini juga patut diacungi jempol. Pasalnya tiap gerak – gerik dan lekuk tubuh ketika Tanri mengekspresikan kesedihannnya dengan tarian sarat penuh akan makna. Bisa dibilang bukan hanya pemanis belaka, tetapi sesungguhnya salah satu senjata utama dalam film ini. Ah iya satu lagi. Teruntuk sound enginer dalam film, saya ingin mengucapkan terima kasih. Untuk pertama kalinya saya takut ketika mendengar bunyi botol berulang – ulang ditiup angin (hal ini sempat menghantui tidur saya). Beberapa detail dalam film ini sekiranya tidak perlu saya ceritakan, agar anda dapat merasakan apa yang saya rasakan ketika menontonnya. Disini sih saya hanya berbagi pengalaman dan mengajak anda untuk menonton film ini bukan untuk sekedar review film "Sekala Niskala" saja.

Hemat saya film ini wajib masuk dalam daftar film Indonesia yang harus Anda tonton sekali seumur hidup. Kalian akan diajak menyelusuri hidup anak kembar. Bukan sekadar kembar. Kembar buncing! Bagi saya film ini cukup mengusik nalar dan pikiran ketika menontonnya. Kalau Anda masih ragu, coba browsing informasi tentang film ini. Biar Anda sekalian cukup tahu saja bahwa film ini telah memenangi cukup banyak penghargaan. Jangan biarkan film ini bernasib sama seperti film Marlina atau Istirahatlah Kata – Kata, yang hanya bertahan sekitar 2 minggu di bioskop. Jadi saran saya segera luangkan waktu kalian menonton film ini sebelum terlambat. Jika pada saat tulisan ini diterbitkan dan film ini sudah tidak tayang, maka selamat! Anda termasuk golongan yang merugi.

Leave a Comment

Baca Juga

Beberapa hari yang lalu saya menerima ajakan dari teman saya untuk menonton film di bioskop. Saya tanya film apa, "film Indonesia", katanya. Besar keraguan untuk menyanggupi ajakannya. Ia bilang ini salah satu film yang ia tunggu tahun ini. Saya tanya judulnya apa, "Sekala Niskala ini film bagus. Kita harus nonton sebelum film ini hilang di bioskop", paparnya sedikit memaksa. Ya sudah saya pun menyanggupi ajakannya tetapi dengan satu syarat, yaitu saya harus menonton trailernya terlebih dahulu. Jika saya tidak suka maka seberapa keras pun ia memaksa, saya tidak akan ikut. Ternyata di luar dugaan saya, trailernya cukup menarik. Tanpa ragu saya langsung menghubungi kawan saya dan mengiyakan ajakannya.

Setelah menonton filmnya, yang terjadi dengan saya dan teman saya adalah munculnya pertanyaaan - pertanyaan. Terjadi diskusi singkat tentang film “Sekala Niskala” di antara kami. Banyak adegan di dalam film yang kami diskusikan. Pertanyaan terbesar kami adalah film ini sebenarnya bercerita tentang apa sih? Tujuan film ini apa? Sederhananya sih, film “Sekala Niskala” atau “The Seen and Unseen” bercerita tentang dua anak kembar (satu cewek dan satu cowok) yang belakangan saya baru tahu biasa disebut dengan kembar buncing bernama Tanra (cowok) dan Tanri (cewek). Masalah terjadi ketika Tanra sakit keras dan membuat ia perlahan kehilangan kemampuan inderawinya yang tak lama lagi akan menghilangkan nyawanya. Persoalan yang menarik adalah bagaimana Tanri menyikapi kepergian Tanra. Sederhana, bukan? Tapi setelah menontonnya kau pun pasti bingung. Aku yakin itu.

Salah satu adegan antara Tanra dan Tanri. Foto: Istimewa

Minimnya dialog ditambah dengan banyaknya adegan – adegan simbolik penuh makna, jujur saja membuat saya bingung. Ditambah dengan tema yang diangkat dalam penulisan cerita sangatlah jarang terdengar. "Kembar buncing"? Seberapa sering kalian mendengar hal itu. Seperempat film berjalan baru saya menyadari kalau film ini ternyata mengambil lokasi syuting di Bali. Belum lagi ditambah beberapa adegan mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Hal pertama yang saya lakukan setelah menonton adalah mencari tahu semua informasi tentang film ini.

Terang saja film ini bagus. Penulisan skenario naskahnya saja sudah dimulai dari tahun 2011. Kemudian ditambah 1 tahun khusus untuk mencari bakat anak dengan kemampuan gerak tubuh sekaligus olah vokal yang memadai, tutur si pembuat film Kamila Andini (yang saya dapat dari hasil proses browsing saya sih!). Hal ini berarti segala sesuatu di film ini telah dipikirkan secara matang – matang.

Kamila Andini di salah satu perhelatan penghargaan film. Foto: instagram.com/kamilandini

Jika melihat dari segi visual, film ini sangat menarik. Ada beberapa adegan yang membuat takjub. Sedikit spoiler boleh lah ya. Adegan favorit saya adalah ketika Tanri menari di bawah sinar rembulan dan ketika Tanra bermain wayang. Hal itu sangat membekas sampai sekarang. Koreografi dalam film ini juga patut diacungi jempol. Pasalnya tiap gerak – gerik dan lekuk tubuh ketika Tanri mengekspresikan kesedihannnya dengan tarian sarat penuh akan makna. Bisa dibilang bukan hanya pemanis belaka, tetapi sesungguhnya salah satu senjata utama dalam film ini. Ah iya satu lagi. Teruntuk sound enginer dalam film, saya ingin mengucapkan terima kasih. Untuk pertama kalinya saya takut ketika mendengar bunyi botol berulang – ulang ditiup angin (hal ini sempat menghantui tidur saya). Beberapa detail dalam film ini sekiranya tidak perlu saya ceritakan, agar anda dapat merasakan apa yang saya rasakan ketika menontonnya. Disini sih saya hanya berbagi pengalaman dan mengajak anda untuk menonton film ini bukan untuk sekedar review film "Sekala Niskala" saja.

Hemat saya film ini wajib masuk dalam daftar film Indonesia yang harus Anda tonton sekali seumur hidup. Kalian akan diajak menyelusuri hidup anak kembar. Bukan sekadar kembar. Kembar buncing! Bagi saya film ini cukup mengusik nalar dan pikiran ketika menontonnya. Kalau Anda masih ragu, coba browsing informasi tentang film ini. Biar Anda sekalian cukup tahu saja bahwa film ini telah memenangi cukup banyak penghargaan. Jangan biarkan film ini bernasib sama seperti film Marlina atau Istirahatlah Kata – Kata, yang hanya bertahan sekitar 2 minggu di bioskop. Jadi saran saya segera luangkan waktu kalian menonton film ini sebelum terlambat. Jika pada saat tulisan ini diterbitkan dan film ini sudah tidak tayang, maka selamat! Anda termasuk golongan yang merugi.

Leave a Comment

Baca Juga