Degil Zine

Yoel Petuel, drumer dari Raung, yang juga pernah merusuh di skena HC tanah Sumatra bersama dengan Leg to Decay, sekarang mulai jarang nongol di gigs-gigs seraya menggebuk-gebuk drumnya. Kalaupun nongol, doi lebih sering kelihatan bersama dengan kameranya. Sebenarnya apa dan ke mana saja sih Yoel selama ini? Bagi yang rindu, Degil mengutus Leo Sihombing untuk mengajaknya bercakap-cakap soal dirinya, karirnya, juga (seperti biasa) soal skena musik Medan. Ayuklah!

 

Yo, apa kabar nih? Kok jarang nampak gebuk drum lagi sekarang?

Sekarang lagi sibuk-sibuknya ngurusi Partner 8, bisnis kecil-kecilan, ’Kang kopi’, hahaha. Ssering motret kawan-kawan di gigs-gigs juga.

Terakhir main bareng siapa?

Bareng Raung. Tapi sekarang lagi persiapan untuk garap album kedua. Terus main bareng Roni and The Bangsath dan juga additional drum di Helanuansa. Kalau Leg to Decay sendiri rencananya mau di-franchise-in tapi belum ada yang nawar, Le, ahahahaha. Becandalah, ya, belum ada waktu yang pas aja untuk reunian lagi.

Cerita Yo, dulu gimana bisa main bareng Leg to Decay?

Awalnya sekitar 2010 itu aku diajak Bang Andri Karo (bassis Leg to Decay). Tahun segitu aku masih tinggal di Kabanjahe. Nah, terus pindah sekolah di Medan, lanjut ikut sampai produksi album “Wake Up and Destroyed” di 2012 yang berisi 11 track. Salah satunya cover lagu Sepultura.

Waktu itu masih SMA? Apa rasanya main sama abang-abang waktu itu, Yo?

Sedap kalilah kalau itu. Paling tantangannya itu dulu aku harus belajar gaya musik baru. Secara pribadi saat itu buatku musik Leg to Decay bukan musik biasa yang kumainin. Bahkan misalnya waktu take di lagu God Knows ada part yang tiba-tiba harus nge-swing!

Berapa lama waktu pengerjaan album “Wake Up and Destroyed”?

Total butuh 2 tahun. Sempat molor setahun untuk produksi. Dulu itu tempat produksi di Bandung kena grebek sama polisi karena di situ juga ternyata produksi CD bajakan. Anehnya entah kenapa CD kami pun jadi barang bukti; sekitar 1000 keping. Pas 2011 selulus SMA aku ke Bandung untuk kuliah sekalian ngurusin masalah produksi tadi. Syukurnya uang kami balik penuh dan akhirnya produksi ulang di Jakarta sampai jadinya rilis di tahun 2012.

Waktu itu kalian produksi sendiri ya? Bagaimana dengan distribusinya?

Iya, kami produksi sendiri dengan bantuan kawan-kawan juga. Sesudah itu ya kami distribusikan sendiri juga. Kayak di Medan kami drop ke distro-distro. Kalau di luar Medan banyak dibantu kawan, mulai dari Pekan Baru, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung dan Pontianak. Dulu bisa kenal mereka semua itu ya dari MySpace, Friendster dan sebagainya.

Seberapa besar pengaruh jaringan perkawanan tadi buat kalian sendiri?

Sangat besar! Misalnya waktu rekaman di studio Aphrodite dibantu sama Bang Zoel (Kumal). Doi dulu yang ngasih banyak gambaran soal standar rekaman karena saat itu aku bahkan gak punya gambaran apa-apa soal teknis, yang penting main aja. Zanoe Tragedi (Bandung) juga banyak ngasi masukan. Intinya beberapa aspek produksi itu bisa selesai karena ada kawan-kawan yang lebih berpengalaman ngasi kami masukan itu.

Reaksi kawan-kawan tentang album kalian gimana?

Cukup puas dan responnya positif semua. Tapi kalau harapannya waktu itu sih biar makin banyak orang yang dengerin Leg To Decay aja. Sekalianlah nunjukin kalau di Medan itu ada band hardcore yang keren-keren juga. Aku pribadi ini jadi pengalaman yang bisa kubagi untuk kawan-kawan lain yang mungkin belum punya gambaran apa-apa untuk produksi dan distribusi. Dulu banyak yang masih cuek soal detail kayak gitu.

Nah, kalau main di Raung itu awalnya gimana?

Waktu itu diajak Bule yang sempat satu band juga sebelumnya. Raung terbentuk 2013 bareng Bang Yudha (Tarung Taring), Arga (Empat Belas) dan Bule (Note Delusion). Kami udah produksi album “Utara” yang dirilis oleh CoastRoad Record (Medan) tahun 2015 lalu.

Ada perubahan proses kreatif di balik pengerjaan album “Utara”?

Yang jelas proses penggarapan Utara itu udah lebih terkonsep. Lebih serius. Kayak aransemen musik dikomando Bang Yudha (gitaris). Dia itu ngasi banyak referensi segar. Artwork cover album dikerjakan Edi Gee, artis dari Lhoksumawe (Aceh), dia pernah kerja sama dengan Ammunition. Kalau Coast Road Record itu karena kebetulan owner-nya kawan kecilku, si Yons.

Terus sekarang Raung lagi vakum?

Kurang aktif sih karena punya kesibukan masing-masing. Tapi bukan vakum. Sebenarnya kami tetap ngerjain materi-materi baru. Semoga sesudah bulan Puasa nanti udah siap.

Di luar itu kan main juga dengan Roni and The Bangsath dan Helanunasa. Apa gak kerepotan bandmu sebanyak itu?

Repot sih gaklah.. Aku senang aja. Lagian musik udah jadi setengah bagian dari hidupku. Lewat ngeband, gebuk drum dan main di skena inilah aku bisa keluar dari kepenatan kerjaan sehari-hari. Kalau gak karena musik bisa gilaklah (kurang anggur aja ini, Le!)

Belakangan lebih sering kuliat kau bawa kamera ke gigs. Hobi baru nih?

Dari dulu udah senang foto kok. Sekarang lebih serius karena tuntutan pekerjaan. Oh iya, ini aku sering foto Liberty Gong (di samping itu aku memang ngefans sama JERE, Le..hahaha). Kalau kupikirin ini jadi bentuk kontribusi atas passion-ku di musik. Jadi kayak aku ga bisa jauh-jauh dari lingkaran musik, dengan motret kawan-kawan di Liberty Gong di gigs kan otomatis aku bisa tetap ngerasakan atmosfer skena ini.

Nah lho, itu kok bisa ngefans sama bang JERE? Udah ngapain aja kalian rupanya?

Hahahaha, dulu pernah liat dia ngerap dan aku langsung suka dengan karakter musiknya. Ya yang old school hip hop gitu. Kan memang ada juga kesamaan spirit gaya musik yang bikin aku kenak kali nengok dia. Sampai sekarang masih bekawan dan sering tukar pikiran tentang apa aja. Ke depannya bakal eksekusi beberapa plan nih kami berdua. GILBA!!!

Sekarang berbisnis di Partner 8 apa ceritanya pulak, Yo?

Ini usaha bareng kawan-kawan lama, mulai sejak tahun 2017 kemarin. Di sini aku jadi co founder sekaligus social media marketing. Uniknya gak bisa kupungkiri apa yang dulu kupelajari di band ternyata juga bawa pengaruh sampai ke sini lho!

Gimana menurutmu soal skena lokal di kota Medan hari ini?

Dibanding yang dulu-dulu, sekarang ini makin berkembang secara pasti. Cukup pesat. Musik Medan sekarang makin banyak warnanya. Kota-kota lain juga udah banyak mengakui itu kan? Misalnya kayak Fingerprint, Djin, Pargochy. Bahkan ada yang sampai tur Asia Tenggara kayak No One Care dan Martyr. Shadowplay juga yang kemarin baru main di Jakarta. Terus Somebody Full yang baru rilis album kemarin di Pitu. Jadi menurutku selain makin ramai, makin produktif juga musik kita sekarang.

Kalau dari teknik permainan, siapa yang banyak mempengaruhi style-mu?

Aku hampir dengar semua jenis musik, jadi ya semua musik jadi referensiku. Tapi kalau yang lama itu yang ku sor ya kayak Motorhead. Terus yang mudaan sikit kayak Kverlertak.

Musik jenis apa yang pengen kau mainkan selanjutnya?

Musik yang kayak Raung. Udah, di situ yang paling duduk awak, Le…

Pernah gak tiba-tiba bangun jam 3 pagi cuma untuk dengarin Siti Nuhaliza?

Jam 3 pagi aja aku masih di Domayn sama Tulang (Andre), hahahaha!

Kalau Raung diajak kerja sama dengan dengan Orang Tua (anggur merah)?

Enaklah. Tapi lewat sebulan bisa sakit lever nanti kami semua, hahahaha!

Main drum sambil ngopi atau sambil motret?

Main drum sambil motretlah!

Apa pendapatmu soal artis cover yang dapat duit dari nyanyiin lagu/karya orang lain?

Pendapat awak ya kurang etis ya,.. Sebagai artis nyari uang dengan cara nge-cover lagu orang agak gimana gitu. Beda sama yang dengan susah payah menulis dan bawain karya sendiri. Cuma inilah plus minus perkembangan media sosial sekarang ini, kayak Youtube dan Instagram. Tapi kalau dilihat lagi ya ini jadi peluang juga kan buat memudahkan kita menyebarkan karya. Kuncinya kita harus lebih keras lagi, lebih pacu lagi untuk bisa bersaing sama mereka tadi.

Apa pesanmu untuk kawan-kawan di skena sekarang?

Pertama kali aku mau bilang terima kasihlah buat Degilzine yang mau dengar uneg-unegku ini. Untuk kawan-kawan di skena, terus berkarya! Mau album, single, vlog, merchandise, apa aja, bikin ajalah, yang penting harus bisa produktif. Manfaatin kemudahan yang ada sekarang karena sekali upload satu bumi bisa nonton kalian. Bikin bagus apa yang kau suka, semaksimal mungkin. Proses ga akan membohongi hasil bro! Dan nikmati proses itu sambil ngopi di Partner 8! Huehuehuehe!

Leave a Comment

Baca Juga

Yoel Petuel, drumer dari Raung, yang juga pernah merusuh di skena HC tanah Sumatra bersama dengan Leg to Decay, sekarang mulai jarang nongol di gigs-gigs seraya menggebuk-gebuk drumnya. Kalaupun nongol, doi lebih sering kelihatan bersama dengan kameranya. Sebenarnya apa dan ke mana saja sih Yoel selama ini? Bagi yang rindu, Degil mengutus Leo Sihombing untuk mengajaknya bercakap-cakap soal dirinya, karirnya, juga (seperti biasa) soal skena musik Medan. Ayuklah!

 

Yo, apa kabar nih? Kok jarang nampak gebuk drum lagi sekarang?

Sekarang lagi sibuk-sibuknya ngurusi Partner 8, bisnis kecil-kecilan, ’Kang kopi’, hahaha. Ssering motret kawan-kawan di gigs-gigs juga.

Terakhir main bareng siapa?

Bareng Raung. Tapi sekarang lagi persiapan untuk garap album kedua. Terus main bareng Roni and The Bangsath dan juga additional drum di Helanuansa. Kalau Leg to Decay sendiri rencananya mau di-franchise-in tapi belum ada yang nawar, Le, ahahahaha. Becandalah, ya, belum ada waktu yang pas aja untuk reunian lagi.

Cerita Yo, dulu gimana bisa main bareng Leg to Decay?

Awalnya sekitar 2010 itu aku diajak Bang Andri Karo (bassis Leg to Decay). Tahun segitu aku masih tinggal di Kabanjahe. Nah, terus pindah sekolah di Medan, lanjut ikut sampai produksi album “Wake Up and Destroyed” di 2012 yang berisi 11 track. Salah satunya cover lagu Sepultura.

Waktu itu masih SMA? Apa rasanya main sama abang-abang waktu itu, Yo?

Sedap kalilah kalau itu. Paling tantangannya itu dulu aku harus belajar gaya musik baru. Secara pribadi saat itu buatku musik Leg to Decay bukan musik biasa yang kumainin. Bahkan misalnya waktu take di lagu God Knows ada part yang tiba-tiba harus nge-swing!

Berapa lama waktu pengerjaan album “Wake Up and Destroyed”?

Total butuh 2 tahun. Sempat molor setahun untuk produksi. Dulu itu tempat produksi di Bandung kena grebek sama polisi karena di situ juga ternyata produksi CD bajakan. Anehnya entah kenapa CD kami pun jadi barang bukti; sekitar 1000 keping. Pas 2011 selulus SMA aku ke Bandung untuk kuliah sekalian ngurusin masalah produksi tadi. Syukurnya uang kami balik penuh dan akhirnya produksi ulang di Jakarta sampai jadinya rilis di tahun 2012.

Waktu itu kalian produksi sendiri ya? Bagaimana dengan distribusinya?

Iya, kami produksi sendiri dengan bantuan kawan-kawan juga. Sesudah itu ya kami distribusikan sendiri juga. Kayak di Medan kami drop ke distro-distro. Kalau di luar Medan banyak dibantu kawan, mulai dari Pekan Baru, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung dan Pontianak. Dulu bisa kenal mereka semua itu ya dari MySpace, Friendster dan sebagainya.

Seberapa besar pengaruh jaringan perkawanan tadi buat kalian sendiri?

Sangat besar! Misalnya waktu rekaman di studio Aphrodite dibantu sama Bang Zoel (Kumal). Doi dulu yang ngasih banyak gambaran soal standar rekaman karena saat itu aku bahkan gak punya gambaran apa-apa soal teknis, yang penting main aja. Zanoe Tragedi (Bandung) juga banyak ngasi masukan. Intinya beberapa aspek produksi itu bisa selesai karena ada kawan-kawan yang lebih berpengalaman ngasi kami masukan itu.

Reaksi kawan-kawan tentang album kalian gimana?

Cukup puas dan responnya positif semua. Tapi kalau harapannya waktu itu sih biar makin banyak orang yang dengerin Leg To Decay aja. Sekalianlah nunjukin kalau di Medan itu ada band hardcore yang keren-keren juga. Aku pribadi ini jadi pengalaman yang bisa kubagi untuk kawan-kawan lain yang mungkin belum punya gambaran apa-apa untuk produksi dan distribusi. Dulu banyak yang masih cuek soal detail kayak gitu.

Nah, kalau main di Raung itu awalnya gimana?

Waktu itu diajak Bule yang sempat satu band juga sebelumnya. Raung terbentuk 2013 bareng Bang Yudha (Tarung Taring), Arga (Empat Belas) dan Bule (Note Delusion). Kami udah produksi album “Utara” yang dirilis oleh CoastRoad Record (Medan) tahun 2015 lalu.

Ada perubahan proses kreatif di balik pengerjaan album “Utara”?

Yang jelas proses penggarapan Utara itu udah lebih terkonsep. Lebih serius. Kayak aransemen musik dikomando Bang Yudha (gitaris). Dia itu ngasi banyak referensi segar. Artwork cover album dikerjakan Edi Gee, artis dari Lhoksumawe (Aceh), dia pernah kerja sama dengan Ammunition. Kalau Coast Road Record itu karena kebetulan owner-nya kawan kecilku, si Yons.

Terus sekarang Raung lagi vakum?

Kurang aktif sih karena punya kesibukan masing-masing. Tapi bukan vakum. Sebenarnya kami tetap ngerjain materi-materi baru. Semoga sesudah bulan Puasa nanti udah siap.

Di luar itu kan main juga dengan Roni and The Bangsath dan Helanunasa. Apa gak kerepotan bandmu sebanyak itu?

Repot sih gaklah.. Aku senang aja. Lagian musik udah jadi setengah bagian dari hidupku. Lewat ngeband, gebuk drum dan main di skena inilah aku bisa keluar dari kepenatan kerjaan sehari-hari. Kalau gak karena musik bisa gilaklah (kurang anggur aja ini, Le!)

Belakangan lebih sering kuliat kau bawa kamera ke gigs. Hobi baru nih?

Dari dulu udah senang foto kok. Sekarang lebih serius karena tuntutan pekerjaan. Oh iya, ini aku sering foto Liberty Gong (di samping itu aku memang ngefans sama JERE, Le..hahaha). Kalau kupikirin ini jadi bentuk kontribusi atas passion-ku di musik. Jadi kayak aku ga bisa jauh-jauh dari lingkaran musik, dengan motret kawan-kawan di Liberty Gong di gigs kan otomatis aku bisa tetap ngerasakan atmosfer skena ini.

Nah lho, itu kok bisa ngefans sama bang JERE? Udah ngapain aja kalian rupanya?

Hahahaha, dulu pernah liat dia ngerap dan aku langsung suka dengan karakter musiknya. Ya yang old school hip hop gitu. Kan memang ada juga kesamaan spirit gaya musik yang bikin aku kenak kali nengok dia. Sampai sekarang masih bekawan dan sering tukar pikiran tentang apa aja. Ke depannya bakal eksekusi beberapa plan nih kami berdua. GILBA!!!

Sekarang berbisnis di Partner 8 apa ceritanya pulak, Yo?

Ini usaha bareng kawan-kawan lama, mulai sejak tahun 2017 kemarin. Di sini aku jadi co founder sekaligus social media marketing. Uniknya gak bisa kupungkiri apa yang dulu kupelajari di band ternyata juga bawa pengaruh sampai ke sini lho!

Gimana menurutmu soal skena lokal di kota Medan hari ini?

Dibanding yang dulu-dulu, sekarang ini makin berkembang secara pasti. Cukup pesat. Musik Medan sekarang makin banyak warnanya. Kota-kota lain juga udah banyak mengakui itu kan? Misalnya kayak Fingerprint, Djin, Pargochy. Bahkan ada yang sampai tur Asia Tenggara kayak No One Care dan Martyr. Shadowplay juga yang kemarin baru main di Jakarta. Terus Somebody Full yang baru rilis album kemarin di Pitu. Jadi menurutku selain makin ramai, makin produktif juga musik kita sekarang.

Kalau dari teknik permainan, siapa yang banyak mempengaruhi style-mu?

Aku hampir dengar semua jenis musik, jadi ya semua musik jadi referensiku. Tapi kalau yang lama itu yang ku sor ya kayak Motorhead. Terus yang mudaan sikit kayak Kverlertak.

Musik jenis apa yang pengen kau mainkan selanjutnya?

Musik yang kayak Raung. Udah, di situ yang paling duduk awak, Le…

Pernah gak tiba-tiba bangun jam 3 pagi cuma untuk dengarin Siti Nuhaliza?

Jam 3 pagi aja aku masih di Domayn sama Tulang (Andre), hahahaha!

Kalau Raung diajak kerja sama dengan dengan Orang Tua (anggur merah)?

Enaklah. Tapi lewat sebulan bisa sakit lever nanti kami semua, hahahaha!

Main drum sambil ngopi atau sambil motret?

Main drum sambil motretlah!

Apa pendapatmu soal artis cover yang dapat duit dari nyanyiin lagu/karya orang lain?

Pendapat awak ya kurang etis ya,.. Sebagai artis nyari uang dengan cara nge-cover lagu orang agak gimana gitu. Beda sama yang dengan susah payah menulis dan bawain karya sendiri. Cuma inilah plus minus perkembangan media sosial sekarang ini, kayak Youtube dan Instagram. Tapi kalau dilihat lagi ya ini jadi peluang juga kan buat memudahkan kita menyebarkan karya. Kuncinya kita harus lebih keras lagi, lebih pacu lagi untuk bisa bersaing sama mereka tadi.

Apa pesanmu untuk kawan-kawan di skena sekarang?

Pertama kali aku mau bilang terima kasihlah buat Degilzine yang mau dengar uneg-unegku ini. Untuk kawan-kawan di skena, terus berkarya! Mau album, single, vlog, merchandise, apa aja, bikin ajalah, yang penting harus bisa produktif. Manfaatin kemudahan yang ada sekarang karena sekali upload satu bumi bisa nonton kalian. Bikin bagus apa yang kau suka, semaksimal mungkin. Proses ga akan membohongi hasil bro! Dan nikmati proses itu sambil ngopi di Partner 8! Huehuehuehe!

Leave a Comment

Baca Juga