Degil Zine

Director: Andrew Morgan

Produser: Michael Ross

Genre: Dokumenter/Biografi/Drama/Berita

Bahasa: Inggris

Negara: Bangladesh, Amerika Serikat, Kamboja, Tiongkok, Denmark, Perancis, Haiti, India, Italia, Uganda, Inggris

Pemeran: Livia Giugioli, Stella MacCartney, Vandana Shiva, Lucy Siegle, Arif Jebtik, Richard Wolff, Mu Sochua, Orsola De Castro, John Hilary, Benjamin Powell, Rick Ridgeway, dll.

Pertama kali mendengar bahwa film dokumenter ini patut ditonton dan ternyata buatan dari sutradara dari Amerika, hal yang terlintas di benak adalah Michael Moore. Sewaktu masih kuliah, film beliau yang Fahrenheit 9/11 dan Sicko menjadi bahan perbincangan, termasuk di Indonesia. Maklumlah, kita harus akui kalau kita orang Indonesia pecinta drama konspirasi. CIA. Eagle Team. Drama! Maka, awalnya agak malas mau menonton dokumenter ala – ala Amriki lagi yang ujung-ujungnya bikin ngantuk dan pusing, malah bikin bingung dan bertanya kembali “Sebenarnya dari awal, film ini tentang apa sih?”
Tapi karena rekomendasi pemred Degilzine yang menggebu – gebu (tepatnya: mendesak dan memaksa), akhirnya menonton The True Cost inipun disempatkan. Sekilas melihat trailer-nya, aku beranggapan lagi. “Palingan ini film white people yang seolah – olah go-green living adalah metode hidup yang seksi belakangan ini. Gak ngefek ke kaum marjinal sedikitpun!” pikirku culas.

Namun, merasa disindir oleh diri sendiri yang seolah – olah menghakimi sebelum mengenal, akupun menonton film ini juga akhirnya. Scene di awal film menunjukkan potongan – potongan kegiatan mode di negara maju yang penuh kemewahan dan berdampingan secara kontras dengan potongan gambar para buruh perempuan di industri masif di negara ketiga. Walau hal ini tidaklah asing di mata, namun tampaknya setting seperti ini tetap favorit nomor wahid jika ingin bercerita secara satir. Hal ini juga tampak ketika Andrew Morgan, sang sutradara, menampilkan susunan hasil wawancara para narasumber. Bukannya memisah - misahkan, ia malah menampilkan narasi yang berdampingan, baik dari orang – orang dari negara adidaya maupun dari negara ketiga. Begitu juga dalam argumen yang ia tampilkan. Andrew bukan hanya mengumpulkan narasi pro-kontra, tetapi juga faktor – faktor yang terlibat dan berdampak pada industri ini. Tidaklah mengherankan karena Andrew adalah seorang kontributor media Huffington Post dan terbiasa menulis (Tuh! Filmmaker juga kudu rajin baca dan nulis, hehe), sehingga argumen yang beliau angkat cukup rapi.

Harga yang tertera. Sumber: Youtube – “The True Cost” Trailer.

Harga yang sebenarnya. Sumber: Youtube – “The True Cost” Trailer.

Perbandingan harga. Sumber: twitter.com

Kembali ke film. The True Cost dibentuk berawal dari berita runtuhnya bangunan komersial Rana Plaza di Bangladesh dan membunuh ribuan buruh di dalamnya. Hal ini menjadi tanda tanya bagi Andrew, kenapa bangunan produsen mayoritas pakaian di negaranya bisa kolaps? Apalagi, berita yang disiarkan adalah sebelumnya sudah ada tanda – tanda retak dan tak layak dari bangunan tersebut. Berangkat dari pertanyaan tersebut, The True Cost menjadi dokumentasi bagaimana horornya perjalanan industri mode dunia, terutama dengan adanya pasar global. Salah satu narasumber, Arif Jebtik (pemilik pabrik garmen di Bangladesh) mengungkapkan bahwa betapa sulitnya bersaing sehat dalam pasar global. Ketika pabriknya menentukan harga baju per itemnya 5 dollar, si pemilik modal dengan gampangnya bilang bahwa pabrik lain bisa tawarkan beliau 4 dollar per baju. Dan karena ia menurunkan menjadi 4 dollar, pabrik lain harus bisa tawarkan 3 dollar. Jika tidak? Tidak ada pelanggan. Kemudian, Kate Ball-Young (eks Sourcing Manager, Joe Fresh) berpendapat bahwa hal yang wajar jika para buruh negara ketiga tersebut bekerja keras, karena mereka mungkin saja melakukan hal yang buruk. Gampang kali uwak ini bilang kek gitu ya kan? Seolah – olah, menjadi “modern” ala white people atau “maju” ala pasar global adalah solusi terbaik.

Sepasang korban dari ribuan korban runtuhnya Rana Plaza Bangladesh 25 April 2013. Sumber: time.com

Belum lagi sampai di narasi ibu pejuang lingkungan asal India, Vandana Shiva, tentang bahaya laten kerusakan lingkungan akibat industri mode (bahkan beliau memberikan data mencengangkan tentang fenomena bunuh diri di India!), anak pak Paul MacCartney yang juga desainer mode, Stella MacCartney, bahkan ibu Mu Sochua, politisi dan aktivis hak asasi asal Kamboja. Walau begitu banyak narasumber yang muncul di dalam film ini, bukan berarti Andrew mencoba untuk congok (baca: rakus bin tamak). Tampaknya film ini berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan apa saja, siapa saja, kenapa, dan bagaimana perjalanan baju – baju murah hasil obral dan diskonan yang selalu kita buru setiap harinya tersebut.

Suasana awal mula riuhnya fast-fashion. Sumber: Youtube – “The True Cost” Trailer.

Suasana wadah terakhir fast-fashion. Sumber: Youtube – “The True Cost” Trailer.

Untuk scoring musiknya, Duncan Blickenstaff selaku composer-nya pun ternyata merupakan didikan Mychael Danna dan Rob Simonsen (scoring composer senior untuk film “Life of Pi”). Jadi, tidaklah mengherankan jika suasana drama kepekaan yang didapat di dalam film si Piscine agak mirip – mirip di film dokumenter ini. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, kan? Nah, bagi yang biasa beranggapan, “Ah, malas kalilah nonton pilem dokumenter. Bikin mikir! Gak ada tembak-tembaknya!” atau “Ngobrol aja dari tadi. Pilem kebanyakan bicara. Mana cium – ciumannya?”, mulailah kau pake otak kau itu! Supaya gak mudah pikun, mulailah menonton film yang memang memberikan khasanah baru untuk pikiran, bukan bahan baper baru atau dogma tertentu. Apalagi, ini tampaknya bukan benda asing buat kita. Kenapa? Lihat saja semakin ramainya toko baju, factory outlet, online shop, monja (baca: pasar pakaian bekas), sampai demo buruh pabrik tekstil. Dimana? Di sekeliling kita!

 

Rating: 8/10

Film dokumenter ini patut ditonton dan ternyata buatan dari sutradara dari Amerika

5 thoughts on “THE TRUE COST: HARGA SEBENARNYA DUNIA FASHION DAN DISKON

  1. Belum nonton sih dokumenternya, tp yah namanya dunia fashion, hollywood dan industri musik yaah pastilah dibalik itu semua ada peranan manusia dari dunia ketiga yang upahnya dibayar dibawah rata2, jadi biasa aja sebenarnya, kalau kita beli barang discount atau yang brand mahal sekalipun, yaah bebas, namanyasi designer atau perusahaan mereka mengeluarkan “ide” ide kan mahal, kalau dijual dengan harga mahal ya wajar sih, dan jangan dikritik juga yang beli, namanya dia kerja dan ada uangnya utk beli, yaah bebas aja, sebenarnya daripada kritik yang gak gitu penting kayak gini, ingat aja kata michael jackson “i’m starting with the man in the mirror” sebelum kritik kita liat dulu diri kita, jangan terlalu kritik yang berduit kalo kita belum pernah ngerasa berduit kali kek mana, jangan terlalu kekiri2an kalau kita belum tau rasanya jadi kanan. Cuma opini ya. Terima kasih.

    • Hai, Shopaholics!
      Terimakasih telah membaca artikel kami.
      Pertama, silahkan nonton dulu donk.
      Kedua, kalau terkait dengan manusia negara ketiga, ya kita-kita ini termasuk donk. Kamu, saya, kita.
      Ketiga, Michael Jackson itu siapa ya? Filsuf ya? Kok orang dunia ketiga kayak kita mesti dengerin omongan dia? Sebagai tertuduh fedofil dan pribadi yang malu dengan rasnya sendiri, kenapa kita mesti dengar omongan doi? Tau apa dia tentang “man in the mirror”?
      The last nih. Banyak baca, mas/mbak. Kiri dan kanan itu bukan soal miskin dan kaya. Kiri dan kanan itu soal sikap. Bono U2 itu super kaya, tapi dia mengaku kiri lho.
      Kalau sempat, datang ke acara nobarnya ya. Supaya kita sama-sama nonton, dan gak gagal paham.
      Cayo!

  2. Sama2 degil, lah bukannya kalian juga sering ya kutip kata orang, MJ kalo pun dituduh pedofil juga banyak kegiatan sosialnya loh, lagian kasus MJ gak cukup bukti juga degil, makanya ditutup, anda juga bilang di film ini bilang kalau stella mCCartney jadi, sis/bro baju2 SM itu gila harganya, keponakan aku punya bajunya, memang betul bono kaya, tapi mainstream juga baru dia idealis kan? Bukan gak mau datang, maaf ya degil, yang saya perhatikan yang anda undang diskusi cuma yang pro, kalo tema ini, undang dong orang2 yang konsumtif, undang penonton yang konsumtif, nara sumber intelektual yang konsumtif banyak juga loh, ini diskusi dari satu sisi terus, maaf ya degil, ini masukan. Jangan emosi. Karena issue buruh dunia ketiga ini udah issue lama, namanya negara miskin, negara ketiga emang butuh kerja, kalau dipecatim gawat juga perekonomian negara ketiga, butuh duit, makanya mendingan kasi saran daripada kritik sinis,, berusaha netral, btw saya yakin bono banyak stelan jad Armani dirumahnya, ooh the sweetest thing.

  3. @Shopaholic

    Cieee, ada yang emosi sampe tulisannya babak belur begitu. Xixixi. Ya itu, kan degil kasi saran. Bukan sekadar kritik. Sarannya, biar orang-orang miskin kayak kita jadi sadar, ga dibodohin terus. Miskin juga kan? Kalo ga miskin, mana urus sama soal yang beginian. Xixixixi.

Leave a Comment

Baca Juga

Director: Andrew Morgan

Produser: Michael Ross

Genre: Dokumenter/Biografi/Drama/Berita

Bahasa: Inggris

Negara: Bangladesh, Amerika Serikat, Kamboja, Tiongkok, Denmark, Perancis, Haiti, India, Italia, Uganda, Inggris

Pemeran: Livia Giugioli, Stella MacCartney, Vandana Shiva, Lucy Siegle, Arif Jebtik, Richard Wolff, Mu Sochua, Orsola De Castro, John Hilary, Benjamin Powell, Rick Ridgeway, dll.

Pertama kali mendengar bahwa film dokumenter ini patut ditonton dan ternyata buatan dari sutradara dari Amerika, hal yang terlintas di benak adalah Michael Moore. Sewaktu masih kuliah, film beliau yang Fahrenheit 9/11 dan Sicko menjadi bahan perbincangan, termasuk di Indonesia. Maklumlah, kita harus akui kalau kita orang Indonesia pecinta drama konspirasi. CIA. Eagle Team. Drama! Maka, awalnya agak malas mau menonton dokumenter ala – ala Amriki lagi yang ujung-ujungnya bikin ngantuk dan pusing, malah bikin bingung dan bertanya kembali “Sebenarnya dari awal, film ini tentang apa sih?”
Tapi karena rekomendasi pemred Degilzine yang menggebu – gebu (tepatnya: mendesak dan memaksa), akhirnya menonton The True Cost inipun disempatkan. Sekilas melihat trailer-nya, aku beranggapan lagi. “Palingan ini film white people yang seolah – olah go-green living adalah metode hidup yang seksi belakangan ini. Gak ngefek ke kaum marjinal sedikitpun!” pikirku culas.

Namun, merasa disindir oleh diri sendiri yang seolah – olah menghakimi sebelum mengenal, akupun menonton film ini juga akhirnya. Scene di awal film menunjukkan potongan – potongan kegiatan mode di negara maju yang penuh kemewahan dan berdampingan secara kontras dengan potongan gambar para buruh perempuan di industri masif di negara ketiga. Walau hal ini tidaklah asing di mata, namun tampaknya setting seperti ini tetap favorit nomor wahid jika ingin bercerita secara satir. Hal ini juga tampak ketika Andrew Morgan, sang sutradara, menampilkan susunan hasil wawancara para narasumber. Bukannya memisah - misahkan, ia malah menampilkan narasi yang berdampingan, baik dari orang – orang dari negara adidaya maupun dari negara ketiga. Begitu juga dalam argumen yang ia tampilkan. Andrew bukan hanya mengumpulkan narasi pro-kontra, tetapi juga faktor – faktor yang terlibat dan berdampak pada industri ini. Tidaklah mengherankan karena Andrew adalah seorang kontributor media Huffington Post dan terbiasa menulis (Tuh! Filmmaker juga kudu rajin baca dan nulis, hehe), sehingga argumen yang beliau angkat cukup rapi.

Harga yang tertera. Sumber: Youtube – “The True Cost” Trailer.

Harga yang sebenarnya. Sumber: Youtube – “The True Cost” Trailer.

Perbandingan harga. Sumber: twitter.com

Kembali ke film. The True Cost dibentuk berawal dari berita runtuhnya bangunan komersial Rana Plaza di Bangladesh dan membunuh ribuan buruh di dalamnya. Hal ini menjadi tanda tanya bagi Andrew, kenapa bangunan produsen mayoritas pakaian di negaranya bisa kolaps? Apalagi, berita yang disiarkan adalah sebelumnya sudah ada tanda – tanda retak dan tak layak dari bangunan tersebut. Berangkat dari pertanyaan tersebut, The True Cost menjadi dokumentasi bagaimana horornya perjalanan industri mode dunia, terutama dengan adanya pasar global. Salah satu narasumber, Arif Jebtik (pemilik pabrik garmen di Bangladesh) mengungkapkan bahwa betapa sulitnya bersaing sehat dalam pasar global. Ketika pabriknya menentukan harga baju per itemnya 5 dollar, si pemilik modal dengan gampangnya bilang bahwa pabrik lain bisa tawarkan beliau 4 dollar per baju. Dan karena ia menurunkan menjadi 4 dollar, pabrik lain harus bisa tawarkan 3 dollar. Jika tidak? Tidak ada pelanggan. Kemudian, Kate Ball-Young (eks Sourcing Manager, Joe Fresh) berpendapat bahwa hal yang wajar jika para buruh negara ketiga tersebut bekerja keras, karena mereka mungkin saja melakukan hal yang buruk. Gampang kali uwak ini bilang kek gitu ya kan? Seolah – olah, menjadi “modern” ala white people atau “maju” ala pasar global adalah solusi terbaik.

Sepasang korban dari ribuan korban runtuhnya Rana Plaza Bangladesh 25 April 2013. Sumber: time.com

Belum lagi sampai di narasi ibu pejuang lingkungan asal India, Vandana Shiva, tentang bahaya laten kerusakan lingkungan akibat industri mode (bahkan beliau memberikan data mencengangkan tentang fenomena bunuh diri di India!), anak pak Paul MacCartney yang juga desainer mode, Stella MacCartney, bahkan ibu Mu Sochua, politisi dan aktivis hak asasi asal Kamboja. Walau begitu banyak narasumber yang muncul di dalam film ini, bukan berarti Andrew mencoba untuk congok (baca: rakus bin tamak). Tampaknya film ini berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan apa saja, siapa saja, kenapa, dan bagaimana perjalanan baju – baju murah hasil obral dan diskonan yang selalu kita buru setiap harinya tersebut.

Suasana awal mula riuhnya fast-fashion. Sumber: Youtube – “The True Cost” Trailer.

Suasana wadah terakhir fast-fashion. Sumber: Youtube – “The True Cost” Trailer.

Untuk scoring musiknya, Duncan Blickenstaff selaku composer-nya pun ternyata merupakan didikan Mychael Danna dan Rob Simonsen (scoring composer senior untuk film “Life of Pi”). Jadi, tidaklah mengherankan jika suasana drama kepekaan yang didapat di dalam film si Piscine agak mirip – mirip di film dokumenter ini. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, kan? Nah, bagi yang biasa beranggapan, “Ah, malas kalilah nonton pilem dokumenter. Bikin mikir! Gak ada tembak-tembaknya!” atau “Ngobrol aja dari tadi. Pilem kebanyakan bicara. Mana cium – ciumannya?”, mulailah kau pake otak kau itu! Supaya gak mudah pikun, mulailah menonton film yang memang memberikan khasanah baru untuk pikiran, bukan bahan baper baru atau dogma tertentu. Apalagi, ini tampaknya bukan benda asing buat kita. Kenapa? Lihat saja semakin ramainya toko baju, factory outlet, online shop, monja (baca: pasar pakaian bekas), sampai demo buruh pabrik tekstil. Dimana? Di sekeliling kita!

 

Rating: 8/10

Film dokumenter ini patut ditonton dan ternyata buatan dari sutradara dari Amerika

5 thoughts on “THE TRUE COST: HARGA SEBENARNYA DUNIA FASHION DAN DISKON

  1. Belum nonton sih dokumenternya, tp yah namanya dunia fashion, hollywood dan industri musik yaah pastilah dibalik itu semua ada peranan manusia dari dunia ketiga yang upahnya dibayar dibawah rata2, jadi biasa aja sebenarnya, kalau kita beli barang discount atau yang brand mahal sekalipun, yaah bebas, namanyasi designer atau perusahaan mereka mengeluarkan “ide” ide kan mahal, kalau dijual dengan harga mahal ya wajar sih, dan jangan dikritik juga yang beli, namanya dia kerja dan ada uangnya utk beli, yaah bebas aja, sebenarnya daripada kritik yang gak gitu penting kayak gini, ingat aja kata michael jackson “i’m starting with the man in the mirror” sebelum kritik kita liat dulu diri kita, jangan terlalu kritik yang berduit kalo kita belum pernah ngerasa berduit kali kek mana, jangan terlalu kekiri2an kalau kita belum tau rasanya jadi kanan. Cuma opini ya. Terima kasih.

    • Hai, Shopaholics!
      Terimakasih telah membaca artikel kami.
      Pertama, silahkan nonton dulu donk.
      Kedua, kalau terkait dengan manusia negara ketiga, ya kita-kita ini termasuk donk. Kamu, saya, kita.
      Ketiga, Michael Jackson itu siapa ya? Filsuf ya? Kok orang dunia ketiga kayak kita mesti dengerin omongan dia? Sebagai tertuduh fedofil dan pribadi yang malu dengan rasnya sendiri, kenapa kita mesti dengar omongan doi? Tau apa dia tentang “man in the mirror”?
      The last nih. Banyak baca, mas/mbak. Kiri dan kanan itu bukan soal miskin dan kaya. Kiri dan kanan itu soal sikap. Bono U2 itu super kaya, tapi dia mengaku kiri lho.
      Kalau sempat, datang ke acara nobarnya ya. Supaya kita sama-sama nonton, dan gak gagal paham.
      Cayo!

  2. Sama2 degil, lah bukannya kalian juga sering ya kutip kata orang, MJ kalo pun dituduh pedofil juga banyak kegiatan sosialnya loh, lagian kasus MJ gak cukup bukti juga degil, makanya ditutup, anda juga bilang di film ini bilang kalau stella mCCartney jadi, sis/bro baju2 SM itu gila harganya, keponakan aku punya bajunya, memang betul bono kaya, tapi mainstream juga baru dia idealis kan? Bukan gak mau datang, maaf ya degil, yang saya perhatikan yang anda undang diskusi cuma yang pro, kalo tema ini, undang dong orang2 yang konsumtif, undang penonton yang konsumtif, nara sumber intelektual yang konsumtif banyak juga loh, ini diskusi dari satu sisi terus, maaf ya degil, ini masukan. Jangan emosi. Karena issue buruh dunia ketiga ini udah issue lama, namanya negara miskin, negara ketiga emang butuh kerja, kalau dipecatim gawat juga perekonomian negara ketiga, butuh duit, makanya mendingan kasi saran daripada kritik sinis,, berusaha netral, btw saya yakin bono banyak stelan jad Armani dirumahnya, ooh the sweetest thing.

  3. @Shopaholic

    Cieee, ada yang emosi sampe tulisannya babak belur begitu. Xixixi. Ya itu, kan degil kasi saran. Bukan sekadar kritik. Sarannya, biar orang-orang miskin kayak kita jadi sadar, ga dibodohin terus. Miskin juga kan? Kalo ga miskin, mana urus sama soal yang beginian. Xixixixi.

Leave a Comment

Baca Juga