Degil Zine

Sedikit - sedikit ngumpul di tempat hedon, pake baju yang super lucuk, pesan makanan yang menggemaskan (yang penting enak aja diliat, enak di lidah? Netizen gak perlu tau), update instastory dengan sok candid, terus upload, terus larut di dunia ponsel masing - masing mengamati udah berapa banyak yang nonton. Apa itu salah? Engga, sebenarnya. Toh, orang ini kumpul ‘cantik’ pakai uang sendiri bukan uang negara. Hal kayak begini sebenarnya sah - sah saja tapi yang bikin risih adalah gimana acara kumpul ‘cantik’ ini dijadikan ajang validasi terhadap nilai pergaulan di mata netizen; mereka peduli pun tidak.

Hal-hal kayak ngumpul ‘cantik’ ini sendiri bukan dilakukan tanpa dasar yang jelas. Banyak yang melakukan ajang ngumpul ‘cantik’ ini sebagai ajang menjaga tali persahabatan. Bukannya sok tahu, tapi hal kayak gini udah pernah aku jalani dan beberapa teman di sekitarku juga masih menjalani ritual serupa. Berapa minggu sekali harus ngumpul ‘cantik’. Namanya juga ngumpul cantik, dari segi pakaian yang dipakai, tempat yang dituju, sampai makanan yang dipesan juga harus cantik. Tentu saja, hal-hal cantik kayak gini harus mengorbankan ongkos yang cantik juga. Kenapa sih ngga di tempat yang biasa aja? Ya simpel saja! Karena kalau di tempat biasa itu namanya bukan kumpul cantik.

Ngapain sih harus ngumpul cantik kalo kenyataannya dompet sendiri engga cantik? Cuma satu jawaban, eksistensi. Entah dari mana mulainya kultur ngumpul cantik = gaul ini, tapi kultur ini termasuk ngeri untuk warga nyinyir dengan kantong pas-pasan kayak aku. Yang aku lihat dan pernah aku alami, ngumpul ‘cantik’ ini sendiri  didasari atas rasa “Engga enak kalo nolak, Wak!” Ngumpul sama temen yang sebenernya engga dekat-dekat kali tapi harus dilakukan karena rasa engga enak untuk menolak dan juga citra gaul yang tercipta dari ‘kumpul cantik’ ini nyata.

Cobalah kita hitung - hitung! Dalam satu kali ajang kumpul ‘cantik’, setiap orang mengeluarkan biaya sekitar 100 sampai dengan 200 ribu. Kalau dia punya minimal tiga lingkar pertemanan, berarti dalam sebulan mau engga mau ia harus mengeluarkan 300 sampai dengan 600 ribu, kan? Itu masih hitungan kasarnya. Kebanyakan malah mengeluarkan biaya lebih dari 600 ribu untuk ngumpul cantik ini. Ini baru untuk ngumpul cantiknya saja, belum untuk biaya beli baju baru atau sewa kamar untuk karaokean setelah makan - makan lucuk.

Salah satu ngumpul 'cantik' para selebritas. Sumber: style.tribunnews.com

Semahal itu memang kenyataannya ongkos menjaga pertemanan di kalangan anak-anak muda.Padahal, kadang - kadang kita melihat bahwa kumpul ‘cantik’ ini hanya ajang mempercantik konten instagram supaya terlihat gaul di mata orang - orang. Sebenarnya, kalo memang mampu mengeluarkan biaya yang sedemikian untuk kumpul ‘cantik’ ya engga masalah. Masalahnya adalah cemana nasib anak-anak muda yang uang bulanannya terbatas? Masa demi menjaga tali silahturahmi yang hedon ini, awak harus bohong ke mamak dulu kalo ada tagihan uang buku dari kampus atau sekolah?

Suasana antrian salah satu beasiswa mahasiswa sampai larut malam. Sumber: suaratimur.net

Worth it or not,  ajang ngumpul ‘cantik’ ini tergantung persepsi dan dompet masing-masing. Tapi, masa iya standar gaul dan ngumpul sekarang harus dipatok berdasarkan dimana tempat ngumpul itu sendiri, bukan kualitas ngumpulnya itu. Dan, masa iya ngumpul ‘cantik’ ini menjadi keharusan dalam pergaulan. Masa iya untuk jaga silaturahmi harus semahal itu? Atau selama ini ngumpul ‘cantik’ cuma bertujuan untuk konten instagram? Bukan karena memang rindu pengen ngumpul aja nih?

 

*Ilustrasi oleh Ina Addini

Leave a Comment

Baca Juga

Sedikit - sedikit ngumpul di tempat hedon, pake baju yang super lucuk, pesan makanan yang menggemaskan (yang penting enak aja diliat, enak di lidah? Netizen gak perlu tau), update instastory dengan sok candid, terus upload, terus larut di dunia ponsel masing - masing mengamati udah berapa banyak yang nonton. Apa itu salah? Engga, sebenarnya. Toh, orang ini kumpul ‘cantik’ pakai uang sendiri bukan uang negara. Hal kayak begini sebenarnya sah - sah saja tapi yang bikin risih adalah gimana acara kumpul ‘cantik’ ini dijadikan ajang validasi terhadap nilai pergaulan di mata netizen; mereka peduli pun tidak.

Hal-hal kayak ngumpul ‘cantik’ ini sendiri bukan dilakukan tanpa dasar yang jelas. Banyak yang melakukan ajang ngumpul ‘cantik’ ini sebagai ajang menjaga tali persahabatan. Bukannya sok tahu, tapi hal kayak gini udah pernah aku jalani dan beberapa teman di sekitarku juga masih menjalani ritual serupa. Berapa minggu sekali harus ngumpul ‘cantik’. Namanya juga ngumpul cantik, dari segi pakaian yang dipakai, tempat yang dituju, sampai makanan yang dipesan juga harus cantik. Tentu saja, hal-hal cantik kayak gini harus mengorbankan ongkos yang cantik juga. Kenapa sih ngga di tempat yang biasa aja? Ya simpel saja! Karena kalau di tempat biasa itu namanya bukan kumpul cantik.

Ngapain sih harus ngumpul cantik kalo kenyataannya dompet sendiri engga cantik? Cuma satu jawaban, eksistensi. Entah dari mana mulainya kultur ngumpul cantik = gaul ini, tapi kultur ini termasuk ngeri untuk warga nyinyir dengan kantong pas-pasan kayak aku. Yang aku lihat dan pernah aku alami, ngumpul ‘cantik’ ini sendiri  didasari atas rasa “Engga enak kalo nolak, Wak!” Ngumpul sama temen yang sebenernya engga dekat-dekat kali tapi harus dilakukan karena rasa engga enak untuk menolak dan juga citra gaul yang tercipta dari ‘kumpul cantik’ ini nyata.

Cobalah kita hitung - hitung! Dalam satu kali ajang kumpul ‘cantik’, setiap orang mengeluarkan biaya sekitar 100 sampai dengan 200 ribu. Kalau dia punya minimal tiga lingkar pertemanan, berarti dalam sebulan mau engga mau ia harus mengeluarkan 300 sampai dengan 600 ribu, kan? Itu masih hitungan kasarnya. Kebanyakan malah mengeluarkan biaya lebih dari 600 ribu untuk ngumpul cantik ini. Ini baru untuk ngumpul cantiknya saja, belum untuk biaya beli baju baru atau sewa kamar untuk karaokean setelah makan - makan lucuk.

Salah satu ngumpul 'cantik' para selebritas. Sumber: style.tribunnews.com

Semahal itu memang kenyataannya ongkos menjaga pertemanan di kalangan anak-anak muda.Padahal, kadang - kadang kita melihat bahwa kumpul ‘cantik’ ini hanya ajang mempercantik konten instagram supaya terlihat gaul di mata orang - orang. Sebenarnya, kalo memang mampu mengeluarkan biaya yang sedemikian untuk kumpul ‘cantik’ ya engga masalah. Masalahnya adalah cemana nasib anak-anak muda yang uang bulanannya terbatas? Masa demi menjaga tali silahturahmi yang hedon ini, awak harus bohong ke mamak dulu kalo ada tagihan uang buku dari kampus atau sekolah?

Suasana antrian salah satu beasiswa mahasiswa sampai larut malam. Sumber: suaratimur.net

Worth it or not,  ajang ngumpul ‘cantik’ ini tergantung persepsi dan dompet masing-masing. Tapi, masa iya standar gaul dan ngumpul sekarang harus dipatok berdasarkan dimana tempat ngumpul itu sendiri, bukan kualitas ngumpulnya itu. Dan, masa iya ngumpul ‘cantik’ ini menjadi keharusan dalam pergaulan. Masa iya untuk jaga silaturahmi harus semahal itu? Atau selama ini ngumpul ‘cantik’ cuma bertujuan untuk konten instagram? Bukan karena memang rindu pengen ngumpul aja nih?

 

*Ilustrasi oleh Ina Addini

Leave a Comment

Baca Juga