Degil Zine

"Kami tidak menggambarkan kematian Brian Deneke, melainkan kami merayakan kehidupannya." -CJ Ramones, saat pemutaran perdana Bomb City di Globe-News, Amarillo.

Seorang punk bernama Brian Deneke, tampak sedang mencari tumpangan di jalan raya (entahlah di jalan apa). Rambut mohawk, jaket kulit, kalung paku, serta sepatu but yang melekat di tubuhnya cukup membuat efek seram hingga tak satu pun kendaraan yang berminat untuk memberikannya tumpangan. Scene awal di film ini cukup tepat dalam menggambarkan kondisi mental masyarakat Amerika dalam memandang seorang warga yang tampilannya berbeda dengan warga pada umumnya. Teringat di Indonesia? Tentu. Tak ada bedanya, saya kira. Aku, kau, juga kalian, dituntut untuk serba seragam semenjak kita berada di sekolah dasar, bahwa pemuda yang baik mestilah juga "baik" dalam berpakaian, sebab PNS adalah keniscayaan. Moralitas masyarakat modern telah ter-standarisasi dengan pakaian yang kita kenakan. Rambut gondrong? Pastilah kau pemabuk, paling tidak seorang pengangguran. Tato? Hati-hati ada preman, kata rezim Orde Baru, yang tampaknya masih melekat hingga sekarang. Rambut mohawk? Anak punk, tukang ngelem! Dan yang paling newest: janggut? Ups, teroris! Sebab itulah, menjadi masyarakat terhormat mestilah mengikuti standar tren berpakaian yang ada di masyarakat. Tak peduli apa pun profesimu!

Lantas apa jadinya jika kita tidak turut mengenakan "seragam"? Bully, pengucilan, bahkan, PEMBUNUHAN yang dimaklumkan, seperti yang terjadi di film Bomb City yang akan kita kupas sebentar lagi. Sesuai dong dengan judul di atas: Berbeda itu Haram, Men! Kenapa diharamkan? Sebab sesuatu yang diharamkan itu mutlak adanya, men. Tak perlu dipertanyakan. Bingung juga ya, kan!

Suasana dalam syuting Bomb City. Foto: Ericka Estrella (premiumbeat.com)

Bomb City

Bomb City adalah film berdasarkan kisah nyata tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Cody Cates (nama asli: Dustin Camp), salah seorang dari gerombolan klas menengah ngehek "The Preps" terhadap seorang punker, Brian Deneke, di kota Amarillo, Texas. Jameson Brooks (berusia 12 tahun ketika pembunuhan itu terjadi), sang sutradara, memutuskan membuat film ini untuk memperingati 20 tahun kematian Deneke.

"Aku tidak bisa melupakan tragedi di Western Plaza itu. Aku selalu pergi ke sana bersama teman-temanku, dan selalu menemukan, 'Ini adalah tempat pertarungan itu berakhir. Di sinilah anak punk itu mati," kata Brooks seperti yang dilansir Houston Chronichles. "Kami merasa seperti menjadi bagian dari cerita Brian Deneke, dan harus ikut menyebarkan pesan tentang intoleransi yang marak di Amerika."

Jameson Brooks bukanlah sutradara mapan Hollywood; ia baru menghasilkan enam short movie, dan bisa dibilang, Bomb City adalah film komersial pertamanya. Namun sekali lagi, independensi tidak identik dengan frase: seenaknya saja, serba minim, atau jauh dari kata: layak dijual. Sebab, baik dari skrip maupun pengambilan gambar, Brooks membuktikan kapasitasnya telah setara dengan sutradara-sutradara Hollywood lainnya, paling tidak menurut saya. Plot dijalankan dengan mulus, tertata rapi, hingga berhasil mengesankan daya misteri layaknya film-film Alfred Hitchock (bagi yang tak pernah tahu pada kisah Brian Deneke). Brooks mengajak penonton untuk menebak, siapakah "Anak Punk" yang bakal terbunuh? Atau sebaliknya, siapakah yang bakal dibunuh oleh "Anak Punk"? Kemunculan seorang pengacara gendut bertampang menjijikkan di awal-awal scene, serta dialog yang sepotong-potong, dipastikan akan membuat penonton jadi penasaran: apa sih yang telah terjadi? Pendeknya, sebagai sebuah karya, Bomb City sukses menghalau cibiran: ah sekadar mendompleng kisah besarnya Brian Deneke!

Sang Sutradara, Jameson Brooks dalam gala premire film Bomb City, Dallas (9/2/18). Foto: IMDb

Siapa sih Brian Deneke?

Selain sebagai vokalis dari band punk rock, The White Slave Traders, Brian juga adalah seorang seniman pop art. Bersama dengan kawan-kawan punk-nya, Brian berhasil mendirikan Museum Dynamite, satu-satunya kawasan di Amerika yang memiliki kurang lebih 3000 pajangan papan tanda dengan quote-quote yang unik. Saat kejadian berlangsung, Brian masih berusia 19 tahun, namun doi telah memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari pekerjaan part-time, lantas bersama rekan-rekannya, Brian menyewa sebuah bangunan kosong untuk tempat tinggal serta sekali seminggu akan dialihfungsikan sebagai tempat nge-gigs. Bagaikan langit dan bumi bila dibandingkan dengan si pembunuh, Cody Cates, yang cuma bisa teler seraya ngabisin duit bapaknya, tebar pesona di pertandingan futball, lantas ngewe sama cewek SMA di mobil Cadillac bapaknya itu. Sekadar info, mobil Cadillac milik bapaknya itulah yang kelak akan menggilas Brian sampai tewas di depan Western Plaza.

Setelah kejadian memilukan itu, tak kurang dari 16 lagu yang dinyanyikan oleh band maupun musisi rock/punk untuk didedikasikan kepada Brian. Seperti A Punk Killed dari Total Chaos, Brian’s Song dari The Code, ataupun American Justice Is All a Lie miliknya Career Soldiers. Puncaknya adalah pada 8 Desember 2007, di mana diselenggarakan 25 konser secara serentak di 25 kota yang ada di seluruh Amerika dan Kanada dengan tajuk Tibutes to Brian Deneke!

Museum Dynamite yang dibangun oleh Brian dan kawan-kawan. Sumber: Bomb City

Bagi saya pribadi, film ini mengesankan suasana horor: dramatisasi scoring, banyaknya adegan lambat, serta narasi filosofis dari Brian Deneke (yang dikutip dari buku hariannya). Semakin tambah horor, ketika di persidangan, sang pengacara Cody Cates, memainkan taktik moralitas, di mana ia malah memojokkan "sang korban", Brian Deneke, dengan menyoroti aksesoris brutal khas anak punk, serta tulisan "Destroy Everything" yang ada di jaket Brian, sebagai bentuk ancaman yang serius bagi masyarakat. Bahwa, "sang pelaku", Cody Cates, adalah masyarakat normal pada umumnya, yang sering ke gereja, atlit berprestasi di sekolahnya, dan "terpaksa" melakukan pembunuhan demi mencegah bentuk kekerasan ala "Destroy Everything" yang mungkin terjadi pada orang-orang "baik" yang ada di masyarakat. Horor kan? Jadi kalau saya pakai kaos bertuliskan "I wanna kill somebody", maka sudah pasti bahwa saya hendak membunuh Jhon Fawer Siahaan, misalnya? Ngeri ah, hanya karena sentimen gaib berlabelkan "membela diri" maka seorang "pelaku" bisa berbalik menjadi "korban"? Hemmm.. Ingat Indonesia lagi? Kode=1965. Ups...

Selain ketidakadilan hukum di persidangan, anak-anak punk itu juga mengalami ketidakadilan sosial di dalam masyarakat, seperti di salah satu adegan, di mana ketika mereka berpesta, segerombolan polisi datang seraya menggebuki mereka dengan kasar serta mencaci-maki yang bernada peri-kebinatangan. Berlainan ketika para polisi itu mendatangi pesta-nya anak-anak klas menengah ngehek aka geng-nya Cody Cates. Polisi-polisi itu datang dengan santun lantas membubarkan pesta itu selayaknya seorang bapak yang sedang menasehati anaknya sendiri!

Secara keseluruhan, sang sutradara tampak berlaku subjektif, dengan mengarahkan kesadaran penonton agar merasa jijik melihat tingkah laku Cody Cates and the genk. Bagi sebagian kritikus, hal ini menjadi tidak benar, sebab objektifitas haruslah dikedepankan dalam suatu karya yang bersifat jurnalistik (ingat, Bomb City diangkat dari kisah nyata!). Namun seperti kata Njoto, seorang penyair Indonesia yang mempopulerkan puisi Haiku di medio '60an, bahwa netralitas adalah bajingan, bahwa jurnalisme mestilah berpihak pada kaum tertindas. Maka, dengan rendah hati, saya setuju dengan keberpihakan sang sutradara. Toh sang pembunuh tetap bebas berkeliaran setelah pembunuhan itu, ikut main futtball dan terus ngewe dengan senangnya, bahkan asyik saja party sampai teler (beberapa tahun kemudian doi ditangkap karena teler!). So, buat apa lagi berlaku adil pada manusia/masyarakat yang sama sekali tidak menjunjung kata keadilan?

Wajah asli Brian Deneke. Foto: Vice.com

Pada akhirnya, Bomb City tidak hanya penting ditonton untuk kelompok masyarakat yang saat ini masih mendeskreditkan "punk" sebagai sesuatu yang amoral, melainkan untuk semua manusia yang masih menganggap bahwa perbedaan adalah suatu subjek yang patut dicurigai, diawasi, bahkan dihabisi; entah itu perbedaan agama, mahzab, ideologi ataupun suku. Sudah sepatutnya kita mulai belajar untuk berpikir dan bersikap, bahwa perbedaan itu indah, men! Dan ingatlah, dunia bisa seperti sekarang karena lahirnya para pemberontak yang ingin merayakan perbedaan di setiap zamannya. Ingat-ingatlah aksi Yesus Kristus, Nabi Muhammad, Mahatma Gandhi, sampai pula ke Gus Dur.

Wassalam.

Initial releaseFebruary 9, 2018 (USA)
DirectorJameson Brooks
Box office31,005 USD
Producers: Major Dodge, Sheldon Chick
Executive producersMajor Dodge, Libby Hunt, Matt Chiasson, MORE
ScreenplayJameson Brooks, Sheldon Chick
Rating: 7,5

1 thought on “BOMB CITY: BERBEDA ITU HARAM, MEN!

Leave a Comment

Baca Juga

"Kami tidak menggambarkan kematian Brian Deneke, melainkan kami merayakan kehidupannya." -CJ Ramones, saat pemutaran perdana Bomb City di Globe-News, Amarillo.

Seorang punk bernama Brian Deneke, tampak sedang mencari tumpangan di jalan raya (entahlah di jalan apa). Rambut mohawk, jaket kulit, kalung paku, serta sepatu but yang melekat di tubuhnya cukup membuat efek seram hingga tak satu pun kendaraan yang berminat untuk memberikannya tumpangan. Scene awal di film ini cukup tepat dalam menggambarkan kondisi mental masyarakat Amerika dalam memandang seorang warga yang tampilannya berbeda dengan warga pada umumnya. Teringat di Indonesia? Tentu. Tak ada bedanya, saya kira. Aku, kau, juga kalian, dituntut untuk serba seragam semenjak kita berada di sekolah dasar, bahwa pemuda yang baik mestilah juga "baik" dalam berpakaian, sebab PNS adalah keniscayaan. Moralitas masyarakat modern telah ter-standarisasi dengan pakaian yang kita kenakan. Rambut gondrong? Pastilah kau pemabuk, paling tidak seorang pengangguran. Tato? Hati-hati ada preman, kata rezim Orde Baru, yang tampaknya masih melekat hingga sekarang. Rambut mohawk? Anak punk, tukang ngelem! Dan yang paling newest: janggut? Ups, teroris! Sebab itulah, menjadi masyarakat terhormat mestilah mengikuti standar tren berpakaian yang ada di masyarakat. Tak peduli apa pun profesimu!

Lantas apa jadinya jika kita tidak turut mengenakan "seragam"? Bully, pengucilan, bahkan, PEMBUNUHAN yang dimaklumkan, seperti yang terjadi di film Bomb City yang akan kita kupas sebentar lagi. Sesuai dong dengan judul di atas: Berbeda itu Haram, Men! Kenapa diharamkan? Sebab sesuatu yang diharamkan itu mutlak adanya, men. Tak perlu dipertanyakan. Bingung juga ya, kan!

Suasana dalam syuting Bomb City. Foto: Ericka Estrella (premiumbeat.com)

Bomb City

Bomb City adalah film berdasarkan kisah nyata tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Cody Cates (nama asli: Dustin Camp), salah seorang dari gerombolan klas menengah ngehek "The Preps" terhadap seorang punker, Brian Deneke, di kota Amarillo, Texas. Jameson Brooks (berusia 12 tahun ketika pembunuhan itu terjadi), sang sutradara, memutuskan membuat film ini untuk memperingati 20 tahun kematian Deneke.

"Aku tidak bisa melupakan tragedi di Western Plaza itu. Aku selalu pergi ke sana bersama teman-temanku, dan selalu menemukan, 'Ini adalah tempat pertarungan itu berakhir. Di sinilah anak punk itu mati," kata Brooks seperti yang dilansir Houston Chronichles. "Kami merasa seperti menjadi bagian dari cerita Brian Deneke, dan harus ikut menyebarkan pesan tentang intoleransi yang marak di Amerika."

Jameson Brooks bukanlah sutradara mapan Hollywood; ia baru menghasilkan enam short movie, dan bisa dibilang, Bomb City adalah film komersial pertamanya. Namun sekali lagi, independensi tidak identik dengan frase: seenaknya saja, serba minim, atau jauh dari kata: layak dijual. Sebab, baik dari skrip maupun pengambilan gambar, Brooks membuktikan kapasitasnya telah setara dengan sutradara-sutradara Hollywood lainnya, paling tidak menurut saya. Plot dijalankan dengan mulus, tertata rapi, hingga berhasil mengesankan daya misteri layaknya film-film Alfred Hitchock (bagi yang tak pernah tahu pada kisah Brian Deneke). Brooks mengajak penonton untuk menebak, siapakah "Anak Punk" yang bakal terbunuh? Atau sebaliknya, siapakah yang bakal dibunuh oleh "Anak Punk"? Kemunculan seorang pengacara gendut bertampang menjijikkan di awal-awal scene, serta dialog yang sepotong-potong, dipastikan akan membuat penonton jadi penasaran: apa sih yang telah terjadi? Pendeknya, sebagai sebuah karya, Bomb City sukses menghalau cibiran: ah sekadar mendompleng kisah besarnya Brian Deneke!

Sang Sutradara, Jameson Brooks dalam gala premire film Bomb City, Dallas (9/2/18). Foto: IMDb

Siapa sih Brian Deneke?

Selain sebagai vokalis dari band punk rock, The White Slave Traders, Brian juga adalah seorang seniman pop art. Bersama dengan kawan-kawan punk-nya, Brian berhasil mendirikan Museum Dynamite, satu-satunya kawasan di Amerika yang memiliki kurang lebih 3000 pajangan papan tanda dengan quote-quote yang unik. Saat kejadian berlangsung, Brian masih berusia 19 tahun, namun doi telah memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari pekerjaan part-time, lantas bersama rekan-rekannya, Brian menyewa sebuah bangunan kosong untuk tempat tinggal serta sekali seminggu akan dialihfungsikan sebagai tempat nge-gigs. Bagaikan langit dan bumi bila dibandingkan dengan si pembunuh, Cody Cates, yang cuma bisa teler seraya ngabisin duit bapaknya, tebar pesona di pertandingan futball, lantas ngewe sama cewek SMA di mobil Cadillac bapaknya itu. Sekadar info, mobil Cadillac milik bapaknya itulah yang kelak akan menggilas Brian sampai tewas di depan Western Plaza.

Setelah kejadian memilukan itu, tak kurang dari 16 lagu yang dinyanyikan oleh band maupun musisi rock/punk untuk didedikasikan kepada Brian. Seperti A Punk Killed dari Total Chaos, Brian’s Song dari The Code, ataupun American Justice Is All a Lie miliknya Career Soldiers. Puncaknya adalah pada 8 Desember 2007, di mana diselenggarakan 25 konser secara serentak di 25 kota yang ada di seluruh Amerika dan Kanada dengan tajuk Tibutes to Brian Deneke!

Museum Dynamite yang dibangun oleh Brian dan kawan-kawan. Sumber: Bomb City

Bagi saya pribadi, film ini mengesankan suasana horor: dramatisasi scoring, banyaknya adegan lambat, serta narasi filosofis dari Brian Deneke (yang dikutip dari buku hariannya). Semakin tambah horor, ketika di persidangan, sang pengacara Cody Cates, memainkan taktik moralitas, di mana ia malah memojokkan "sang korban", Brian Deneke, dengan menyoroti aksesoris brutal khas anak punk, serta tulisan "Destroy Everything" yang ada di jaket Brian, sebagai bentuk ancaman yang serius bagi masyarakat. Bahwa, "sang pelaku", Cody Cates, adalah masyarakat normal pada umumnya, yang sering ke gereja, atlit berprestasi di sekolahnya, dan "terpaksa" melakukan pembunuhan demi mencegah bentuk kekerasan ala "Destroy Everything" yang mungkin terjadi pada orang-orang "baik" yang ada di masyarakat. Horor kan? Jadi kalau saya pakai kaos bertuliskan "I wanna kill somebody", maka sudah pasti bahwa saya hendak membunuh Jhon Fawer Siahaan, misalnya? Ngeri ah, hanya karena sentimen gaib berlabelkan "membela diri" maka seorang "pelaku" bisa berbalik menjadi "korban"? Hemmm.. Ingat Indonesia lagi? Kode=1965. Ups...

Selain ketidakadilan hukum di persidangan, anak-anak punk itu juga mengalami ketidakadilan sosial di dalam masyarakat, seperti di salah satu adegan, di mana ketika mereka berpesta, segerombolan polisi datang seraya menggebuki mereka dengan kasar serta mencaci-maki yang bernada peri-kebinatangan. Berlainan ketika para polisi itu mendatangi pesta-nya anak-anak klas menengah ngehek aka geng-nya Cody Cates. Polisi-polisi itu datang dengan santun lantas membubarkan pesta itu selayaknya seorang bapak yang sedang menasehati anaknya sendiri!

Secara keseluruhan, sang sutradara tampak berlaku subjektif, dengan mengarahkan kesadaran penonton agar merasa jijik melihat tingkah laku Cody Cates and the genk. Bagi sebagian kritikus, hal ini menjadi tidak benar, sebab objektifitas haruslah dikedepankan dalam suatu karya yang bersifat jurnalistik (ingat, Bomb City diangkat dari kisah nyata!). Namun seperti kata Njoto, seorang penyair Indonesia yang mempopulerkan puisi Haiku di medio '60an, bahwa netralitas adalah bajingan, bahwa jurnalisme mestilah berpihak pada kaum tertindas. Maka, dengan rendah hati, saya setuju dengan keberpihakan sang sutradara. Toh sang pembunuh tetap bebas berkeliaran setelah pembunuhan itu, ikut main futtball dan terus ngewe dengan senangnya, bahkan asyik saja party sampai teler (beberapa tahun kemudian doi ditangkap karena teler!). So, buat apa lagi berlaku adil pada manusia/masyarakat yang sama sekali tidak menjunjung kata keadilan?

Wajah asli Brian Deneke. Foto: Vice.com

Pada akhirnya, Bomb City tidak hanya penting ditonton untuk kelompok masyarakat yang saat ini masih mendeskreditkan "punk" sebagai sesuatu yang amoral, melainkan untuk semua manusia yang masih menganggap bahwa perbedaan adalah suatu subjek yang patut dicurigai, diawasi, bahkan dihabisi; entah itu perbedaan agama, mahzab, ideologi ataupun suku. Sudah sepatutnya kita mulai belajar untuk berpikir dan bersikap, bahwa perbedaan itu indah, men! Dan ingatlah, dunia bisa seperti sekarang karena lahirnya para pemberontak yang ingin merayakan perbedaan di setiap zamannya. Ingat-ingatlah aksi Yesus Kristus, Nabi Muhammad, Mahatma Gandhi, sampai pula ke Gus Dur.

Wassalam.

Initial releaseFebruary 9, 2018 (USA)
DirectorJameson Brooks
Box office31,005 USD
Producers: Major Dodge, Sheldon Chick
Executive producersMajor Dodge, Libby Hunt, Matt Chiasson, MORE
ScreenplayJameson Brooks, Sheldon Chick
Rating: 7,5

1 thought on “BOMB CITY: BERBEDA ITU HARAM, MEN!

Leave a Comment

Baca Juga