DISKUSI FILM THE TRUE COST: CATATAN PENDEK

DISKUSI FILM THE TRUE COST: CATATAN PENDEK

Dari sejarah lahirnya pakaian yang ditelurkan pemikiran kaum perempuan adalah sebuah penemuan luar biasa yang harus dan wajib ditulis dengan tinta emas lembaran evolusi masyarakat. Bung Karno pernah berkata menemukan pakaian adalah sebuah hasil kerja yang patut kita haturkan terima kasih kepada kaum perempuan. Kegunaan pakaian ialah untuk menghangatkan tubuh dan menjaga tubuh dari cuaca dingin. Jika otak kita bisa berimaji tentang penemuan, tentu keberadaan pakaian mula-mula sungguhlah mulia. Ibaratnya kita bisa ngelakuin hal – hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Misalnya, pertama kali aku punya vespa dan pernah mogok lalu ku kutak-katik sampai mesinnya hidup lagi. Luar biasa! Begitulah kira – kira.

Kembali ke pakaian. Zaman sekarang, kalau sekedar punya pakaian itu biasa aja. Jangankan manusia, hewan kesayangan juga sudah punya. Pakaian mustilah dipuja, baik oleh iba (bahasa Bataknya diri sendiri), tetangga, followers, atau pacar (kalau punya!). Untuk dipuja tak cukuplah satu pakaian, harus banyak dan lebih bagus dari punya teman, lawan, bahkan mantannya pacar.

Nestapa di Balik Pakaian yang Kita Kenakan.

Kalimat itu menjadi tema diskusi yang digodok oleh para pemuda Degil kota Medan. Jumat kemarin, diskusi itu diadakan di warkop sederhana Literacy Coffee daerah Teladan. Acaranya agak telat dari waktu yang dijadwalkan, namun tak jadi masalah karena itu tak jadi patokan. Yang penting para pen-degil datang memadati diskusi. Pen-degil kok diatur waktu!

Leo Sihombing (moderator) dan Eka Dalanta serta Eda Citra yang ditampuk sebagai pembicara. Foto: Koleksi Degilzine.

Lagi-lagi pakaian. Ya, memang diskusinya ngomongin pakaian. Di balik pakaian yang murah meriah dan berbagai macam gayanya serta untuk mencapai targetan postingan di media sosial yang penuh pujian “wow cantik, keren, bagus, good, amazing.. so pretty, so nice, so hot.. so so so..“, ada banyak kenyataan pahit yang benar – benar dialami pekerja untuk memuaskan nafsu fashion itu. Seperti upah rendah, penambahan jam kerja, penyakit yang datang dari limbah pabrik pakaian, pakaian yang menjadi gunungan sampah, dan upaya memaksa lahan untuk memproduksi kapas dengan pestisida.

Hal itu menjadi keresahan – keresahan yang dianggap para pemuda degil perlu untuk dibicarakan. Komoditas pabrik tekstil telah menghipnotis kebanyakan pemuda untuk patuh dan tunduk bahkan memuja – muja pakaian dengan segala macam gayanya.

Diskusi diawali dengan pemutaran film bergenre dokumenter yang dibuat oleh Andrew Morgan asal Ameriki. Film yang berjudul THE TRUE COST itu memberikan penjelasan panjang lebar dan luasnya permasalahan yang terjadi dibalik tren fast-fashion sekarang ini. Agak panjang memang filmnya sekitar 90 menit tapi seakan tak terasa oleh penonton saking seriusnya. Iya, serius!

Antusiasme para peserta diskusi. Foto: Degilzine.

Setelah selesai menonton, diskusi diambil alih oleh moderator Leo Sihombing dan pemantik diskusi Eda Citra dan Eka Dalanta. Keduanya perempuan yang sering keluar rumah. Mereka berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait pakaian. Yang menjadi poin penting dari mereka ialah “Belilah pakaianmu sesuai kebutuhanmu“.

Aku jadi berpikir, sekali ada teriakan “keren” dari penikmat fast-fashion, terkandung juga rintihan pekerja pabrik tekstil yang memproduksinya. Sekali membuang pakaian yang tak layak lagi untuk postingan bukan karena rusak, ikut juga menambah pencemaran lingkungan dimana ternyata limbah tekstil adalah penyumbang emisi karbon setelah pertambangan.

Setelah membaca, semoga kita sama – sama terbangun dari hipnotis tren fast-fashion yang dibuat oleh kapitalis tekstil.

#SADARADALAHMELAWAN

Oh iya. Di dalam diskusi yang cukup serius itu, tak luput juga penampilan ceria dari beberapa musisi seperti Seloka Beruk nan romantis manis, Adrian Timothys yang mistis, Bastian and the Genk yang reggae maksimal, puisi dari Jhon Fawer Siahaan (kepala suku Literacy Coffee), Robby Sirait sang penulis, Teddy Wahyudi Pasaribu pesajak ulung, dan duo Funky Jaya yang super panggaron. Mereka diskusi untuk pakaian? Bukan, mereka bernyanyi dan bernada untuk pakaian.

Gerombolan musisi lokal yang ikut meramaikan. Foto: Degilzine.
Para penyair yang tentunya tak mau kalah. Foto: Degilzine.

Share this post

Recent post