Degil Zine

"Kita harus bangga menjadi pelaku seni tanah utara Sumatra dengan segala keterbatasan dan carut-marutnya. Kita masih bisa berkarya”.

Iyalah tuh! Kata - kata cemerlang di atas saya kutip dari diskusi urat "Zamatra" beberapa minggu yang lalu. Sayangnya, saya lupa siapa yang mengucapkan kalimat ala ‘’Mario Tegar” itu. Saya rasa beberapa potongan kata tadi ada benarnya juga. 100 persen malah! Bagi kita putra - putri Sumatra yang kampungan ini, kalimat tersebut ibarat bisikan rohani layaknya Ten Commandment-nya nabi Musa. Berkesenian total tanpa ampun demi membangun Sumatra yang elok dipandang mata seperti Paris dan Roma. Waw! Terlalu lancang! Namun coba bayangkan seluruh kota di Sumatra punya pergerakan seni seperti dua kota itu atau bahkan lebih. Jangan salahkan pulau Sumatra pisah dari Indonesia dan membentuk negara baru ya bes. Republik Zamatra? Ya, bisa jadi sih. Tapi ingat ini bukan gerakan separatis mengancam kemanan negara apalagi berbau politik. Saya hanya menghimbau para pembaca Degil yang mantap - mantap ini untuk tetap semangat berkarya seperti irama “Selayang Pandang” yang selalu melekat di setiap hajatan dan dikumandangkan hingga bumi terbelah dua.

Sudahlah! Kita akhiri saja paragraf yang banyak cengkonek di atas. Jujur saja saya bingung dengan apa yang saya tulis. Pada kesempatan emas ini, saya akan memberikan sebuah informasi (terserah mau diserap atau tidak) mengenai sebuah band folk syahdu yang cukup menarik perhatian saya. Jujur, saya juga baru mengetahui keberadaan band ini dalam hitungan jam. Namanya adalah Habu Halimun yang berarti pemburu kabut. Band yang berasal dari Berastagi, Tanah Karo ini mengusung genre folk sebagai GBHB-nya (Garis Besar Haluan Band) mereka. Band ini dibentuk pada bulan Februari 2017 dan berdiri atas dasar perkawanan dan teman satu tongkrongan. Qurbiansyah dan Bangun membentuk band ini karena merasa resah dan mulai jijik dengan konsep awal mereka dalam bermusik yang masih membawakan lagu cover-an demi memuaskan nafsu yang tak tertahankan dari para pengunjung kafe. Namun apa daya, formasi ini tidak bertahan lama, kedan! Entah karena perbedaan visi dan jidat, Bangun memutuskan keluar dari duo ini dan Qurbiansyah ditinggal sendiri mengarungi angkasa.

Namun, kesendirian Qurbiansyah tidak membuat beliau galau bak acara Uya Kuya. Tak lama berselang, Aldin, teman kuliah beliau, memutuskan untuk bergabung. Bergabungnya Aldin sepertinya menambah semangat Qurbiansyah seperti piston RX King. Dengan format baru ini, mereka akhirnya melanjutkan materi yang sudah terkurung lama di kandang dan merilis single pertama mereka yang berjudul “Rumput”. Lagu yang dirilis Mei 2017 lalu ini cukup nikmat di kuping dan memiliki makna absurd pula. Qurbiansyah mengatakan kepada saya bahwa lagu ini berbicara tentang rumput yang secara kasat mata tidak punya makna dalam kehidupan, namun jika kita telusuri mereka punya cukup andil dalam kehidupan dan memiliki jiwa layaknya makhluk lain. Gimana? Masih belum ngerti?

Ketika saya mendengarkan lagu ini, suasana sore golek - golek manja ditemani gorengan langsung terkonsep di pikiran. Dari awal hingga akhir lagu, Anda akan ditemani dengan bunyi gitar akustik yang notasinya terasa enak di telinga dan vokal saut - sautan serta suara synth kecil menambah mood lagu ini. Tak bisa dipungkiri kalau lagu ini tersirat unsur Pandai Besi-nya Cholil Mahmud, inspirator mereka dalam bermusik. Tapi ingat jangan langsung memberikan judge menciplak ya, geng! Ingat ini karya putra Sumatra. Harus respek, dong!

Qurbiansyah setelah ditinggal sendiri. Foto: koleksi pribadi.

Seiring waktu berjalan, Qurbiansyah akhirnya ditinggal tandemnya dan beliau kembali mengarungi angkasa sendiri (lagi). Aldin meninggalkan band untuk mencari jalan kebenaran dan mendalami agamanya. Sepeninggal Aldin, semangat beliau bermusik tak pudar dan memutuskan akan tetap mengarungi angkasa dengan nama Habu Halimun. Dalam waktu dekat, Habu Halimun sedang mempersiapkan materi baru yang membuat rasa penasaran saya terhadap band ini tak karuan. Habu Halimun sangat saya rekomendasikan buat kalian yang meyukai folk teduh. Sejenak Anda akan terbayang suasana Berastagi kota kelahiran mereka yang sejuk menusuk kulit ketika mendengarkan lagu mereka. Berkaryalah terus, kawan!

1 thought on “HABU HALIMUN: PEMBURU KABUT!

Leave a Comment

Baca Juga

"Kita harus bangga menjadi pelaku seni tanah utara Sumatra dengan segala keterbatasan dan carut-marutnya. Kita masih bisa berkarya”.

Iyalah tuh! Kata - kata cemerlang di atas saya kutip dari diskusi urat "Zamatra" beberapa minggu yang lalu. Sayangnya, saya lupa siapa yang mengucapkan kalimat ala ‘’Mario Tegar” itu. Saya rasa beberapa potongan kata tadi ada benarnya juga. 100 persen malah! Bagi kita putra - putri Sumatra yang kampungan ini, kalimat tersebut ibarat bisikan rohani layaknya Ten Commandment-nya nabi Musa. Berkesenian total tanpa ampun demi membangun Sumatra yang elok dipandang mata seperti Paris dan Roma. Waw! Terlalu lancang! Namun coba bayangkan seluruh kota di Sumatra punya pergerakan seni seperti dua kota itu atau bahkan lebih. Jangan salahkan pulau Sumatra pisah dari Indonesia dan membentuk negara baru ya bes. Republik Zamatra? Ya, bisa jadi sih. Tapi ingat ini bukan gerakan separatis mengancam kemanan negara apalagi berbau politik. Saya hanya menghimbau para pembaca Degil yang mantap - mantap ini untuk tetap semangat berkarya seperti irama “Selayang Pandang” yang selalu melekat di setiap hajatan dan dikumandangkan hingga bumi terbelah dua.

Sudahlah! Kita akhiri saja paragraf yang banyak cengkonek di atas. Jujur saja saya bingung dengan apa yang saya tulis. Pada kesempatan emas ini, saya akan memberikan sebuah informasi (terserah mau diserap atau tidak) mengenai sebuah band folk syahdu yang cukup menarik perhatian saya. Jujur, saya juga baru mengetahui keberadaan band ini dalam hitungan jam. Namanya adalah Habu Halimun yang berarti pemburu kabut. Band yang berasal dari Berastagi, Tanah Karo ini mengusung genre folk sebagai GBHB-nya (Garis Besar Haluan Band) mereka. Band ini dibentuk pada bulan Februari 2017 dan berdiri atas dasar perkawanan dan teman satu tongkrongan. Qurbiansyah dan Bangun membentuk band ini karena merasa resah dan mulai jijik dengan konsep awal mereka dalam bermusik yang masih membawakan lagu cover-an demi memuaskan nafsu yang tak tertahankan dari para pengunjung kafe. Namun apa daya, formasi ini tidak bertahan lama, kedan! Entah karena perbedaan visi dan jidat, Bangun memutuskan keluar dari duo ini dan Qurbiansyah ditinggal sendiri mengarungi angkasa.

Namun, kesendirian Qurbiansyah tidak membuat beliau galau bak acara Uya Kuya. Tak lama berselang, Aldin, teman kuliah beliau, memutuskan untuk bergabung. Bergabungnya Aldin sepertinya menambah semangat Qurbiansyah seperti piston RX King. Dengan format baru ini, mereka akhirnya melanjutkan materi yang sudah terkurung lama di kandang dan merilis single pertama mereka yang berjudul “Rumput”. Lagu yang dirilis Mei 2017 lalu ini cukup nikmat di kuping dan memiliki makna absurd pula. Qurbiansyah mengatakan kepada saya bahwa lagu ini berbicara tentang rumput yang secara kasat mata tidak punya makna dalam kehidupan, namun jika kita telusuri mereka punya cukup andil dalam kehidupan dan memiliki jiwa layaknya makhluk lain. Gimana? Masih belum ngerti?

Ketika saya mendengarkan lagu ini, suasana sore golek - golek manja ditemani gorengan langsung terkonsep di pikiran. Dari awal hingga akhir lagu, Anda akan ditemani dengan bunyi gitar akustik yang notasinya terasa enak di telinga dan vokal saut - sautan serta suara synth kecil menambah mood lagu ini. Tak bisa dipungkiri kalau lagu ini tersirat unsur Pandai Besi-nya Cholil Mahmud, inspirator mereka dalam bermusik. Tapi ingat jangan langsung memberikan judge menciplak ya, geng! Ingat ini karya putra Sumatra. Harus respek, dong!

Qurbiansyah setelah ditinggal sendiri. Foto: koleksi pribadi.

Seiring waktu berjalan, Qurbiansyah akhirnya ditinggal tandemnya dan beliau kembali mengarungi angkasa sendiri (lagi). Aldin meninggalkan band untuk mencari jalan kebenaran dan mendalami agamanya. Sepeninggal Aldin, semangat beliau bermusik tak pudar dan memutuskan akan tetap mengarungi angkasa dengan nama Habu Halimun. Dalam waktu dekat, Habu Halimun sedang mempersiapkan materi baru yang membuat rasa penasaran saya terhadap band ini tak karuan. Habu Halimun sangat saya rekomendasikan buat kalian yang meyukai folk teduh. Sejenak Anda akan terbayang suasana Berastagi kota kelahiran mereka yang sejuk menusuk kulit ketika mendengarkan lagu mereka. Berkaryalah terus, kawan!

1 thought on “HABU HALIMUN: PEMBURU KABUT!

Leave a Comment

Baca Juga