Degil Zine

"Berperilakulah dan bergeraklah sebagaimana sebuah gerakan feminis seharusnya, jika tidak mampu... BUBARKAN!"

Mungkin aku juga belum feminis dan bukan seorang feminis yang mampu dan dapat merasakan apa yang dialami oleh para buruh wanita, dan bukan juga ingin menyampaikan pembelaan bagi setiap perempuan yang ditindas. Aku juga tidak cukup mengerti mengapa ada perempuan menyalakan lilin bagi rumah yang terkena bom, menyelenggarakan pertunjukan teater tentang kisah seorang pelacur, atau sama-sama memakai selendang hitam sebagai identitas ke-feminisan. Aku hanya tahu dan mengerti apa fungsiku sebagai sebagai seorang perempuan; bukan melulu soal seks melainkan secara ekonomis, juga yang tidak pernah takut untuk hidup dan menjadi bagian dari dunia manusia (bukan dunia perempuan atau dunia laki-laki semata).

Mungkin banyak di antara perempuan-perempuan Indonesia yang tidak mengerti atau paham apa itu feminisme; apalagi berperilaku dalam gerakan feminis. Menurutku, gerakan feminis adalah perjuangan dalam memperoleh hak sebagai warga negara. Salah satu yang ditekankan dari gerakan ini adalah bagaimana para perempuan bisa mendapatkan akses untuk pekerjaan yang layak, pendidikan, dan hak dalam berpolitik. Singkatnya, perempuan menuntut hak yang sama dengan apa yang didapatkan oleh kaum lelaki. Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Namun masih sedikit perempuan yang melibatkan diri untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Sehingga sering muncul pertanyaan: "Mengapa hanya segelintir perempuan saja yang feminis?". Lalu berkembang menjadi pertanyaan, "Mengapa seorang perempuan bisa menjadi feminis?"

Tidak semua perempuan paham akan makna feminisme yang sesungguhnya. Pertama, karena perempuan masa kini tidak lahir di era di mana para perempuan benar-benar dijadikan mahkluk sub-ordinat di dalam masyarakat. Perempuan masa kini tidak lagi merasakan dipingit seperti Kartini, dirampas hak pendidikannya, walaupun masih tersisa sebagian kecilnya. Kedua, perempuan yang kini mengklaim dirinya sebagai feminis lahir melalui sebuah kontemplasi pikiran dan pengalaman. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh literatur feminisme dan buku-buku tentang penindasan perempuan oleh masyarakat patriarki. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kontemplasi pikiran dan pengalaman perempuan tidak menghasilkan suatu interpretasi yang sama. Sehingga, seringkali paham feminisme berkembang menjadi paham-paham yang lain, seperti: feminisme radikal dan feminisme lesbian; di mana paham-paham ini mengundang banyak kritik, tidak hanya dari kaum lelaki tapi juga dari sesama kaum perempuan. Sebab itulah feminisme dianggap sebagai paham yang justru melemahkan posisi perempuan, karena seolah-olah perempuan menuntut sesuatu yang lebih dan spesial dari kaum lelaki. Padahal, jika ditelusuri kembali pada akar tujuannya, gerakan feminisme menuntut equal right, bukan special right.Namun perlu juga kita sadari bahwa tidak semua perempuan memiliki pendapat yang sama tentang bagaimana kaumnya harus hidup di tengah-tengah masyarakat.

Kini sebagian besar perempuan modern sudah dapat menikmati akses yang begitu luas dalam bidang pendidikan, pekerjaan, bahkan pemerintahan. Hal yang ratusan tahun diperjuangkan oleh para feminis sudah dapat dinikmati oleh banyak perempuan modern. Lantas, yang menjadi permasalahan saat ini adalah bagaimana hak yang sudah ada di tangan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal. Di sinilah peran para feminis dibutuhkan untuk menjadi motivator dan juga pendorong untuk memberi pengarahan agar memaksimalkan pendidikan yang telah mereka dapati, sebab era globalisasi telah membuka akses yang luas untuk perempuan dalam berbagai bidang. Di sisi lain, globalisasi memberikan beban yang lebih berat bagi perempuan, karena kita harus meningkatkan kualitas diri. Beruntunglah perempuan-perempuan yang dapat menikmati pendidikan yang layak di perkotaan. Sedangkan bagi perempuan-perempuan tidak mampu, kebijakan neo-liberalisme mengharuskan perempuan untuk bekerja lebih keras. Pengurangan peran negara dan berkurangnya subsidi dari pemerintah membuat kaum feminis menentang kebijakan-kebijakan menyesatkan tersebut. Dan inilah tugas lain yang wajib dikerjakan oleh kaum feminis pula.

Mengingat kembali quote yang ditulis Kartini untuk Nyonya Van Kool di bulan Agustus 1901:

"Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya."

Jadi, pendidikan adalah kunci, dan feminisme dapat dijadikan sebagai alatnya.

 

Ilustrasi: koleksi pribadi penulis.

Leave a Comment

Baca Juga

"Berperilakulah dan bergeraklah sebagaimana sebuah gerakan feminis seharusnya, jika tidak mampu... BUBARKAN!"

Mungkin aku juga belum feminis dan bukan seorang feminis yang mampu dan dapat merasakan apa yang dialami oleh para buruh wanita, dan bukan juga ingin menyampaikan pembelaan bagi setiap perempuan yang ditindas. Aku juga tidak cukup mengerti mengapa ada perempuan menyalakan lilin bagi rumah yang terkena bom, menyelenggarakan pertunjukan teater tentang kisah seorang pelacur, atau sama-sama memakai selendang hitam sebagai identitas ke-feminisan. Aku hanya tahu dan mengerti apa fungsiku sebagai sebagai seorang perempuan; bukan melulu soal seks melainkan secara ekonomis, juga yang tidak pernah takut untuk hidup dan menjadi bagian dari dunia manusia (bukan dunia perempuan atau dunia laki-laki semata).

Mungkin banyak di antara perempuan-perempuan Indonesia yang tidak mengerti atau paham apa itu feminisme; apalagi berperilaku dalam gerakan feminis. Menurutku, gerakan feminis adalah perjuangan dalam memperoleh hak sebagai warga negara. Salah satu yang ditekankan dari gerakan ini adalah bagaimana para perempuan bisa mendapatkan akses untuk pekerjaan yang layak, pendidikan, dan hak dalam berpolitik. Singkatnya, perempuan menuntut hak yang sama dengan apa yang didapatkan oleh kaum lelaki. Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Namun masih sedikit perempuan yang melibatkan diri untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Sehingga sering muncul pertanyaan: "Mengapa hanya segelintir perempuan saja yang feminis?". Lalu berkembang menjadi pertanyaan, "Mengapa seorang perempuan bisa menjadi feminis?"

Tidak semua perempuan paham akan makna feminisme yang sesungguhnya. Pertama, karena perempuan masa kini tidak lahir di era di mana para perempuan benar-benar dijadikan mahkluk sub-ordinat di dalam masyarakat. Perempuan masa kini tidak lagi merasakan dipingit seperti Kartini, dirampas hak pendidikannya, walaupun masih tersisa sebagian kecilnya. Kedua, perempuan yang kini mengklaim dirinya sebagai feminis lahir melalui sebuah kontemplasi pikiran dan pengalaman. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh literatur feminisme dan buku-buku tentang penindasan perempuan oleh masyarakat patriarki. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kontemplasi pikiran dan pengalaman perempuan tidak menghasilkan suatu interpretasi yang sama. Sehingga, seringkali paham feminisme berkembang menjadi paham-paham yang lain, seperti: feminisme radikal dan feminisme lesbian; di mana paham-paham ini mengundang banyak kritik, tidak hanya dari kaum lelaki tapi juga dari sesama kaum perempuan. Sebab itulah feminisme dianggap sebagai paham yang justru melemahkan posisi perempuan, karena seolah-olah perempuan menuntut sesuatu yang lebih dan spesial dari kaum lelaki. Padahal, jika ditelusuri kembali pada akar tujuannya, gerakan feminisme menuntut equal right, bukan special right.Namun perlu juga kita sadari bahwa tidak semua perempuan memiliki pendapat yang sama tentang bagaimana kaumnya harus hidup di tengah-tengah masyarakat.

Kini sebagian besar perempuan modern sudah dapat menikmati akses yang begitu luas dalam bidang pendidikan, pekerjaan, bahkan pemerintahan. Hal yang ratusan tahun diperjuangkan oleh para feminis sudah dapat dinikmati oleh banyak perempuan modern. Lantas, yang menjadi permasalahan saat ini adalah bagaimana hak yang sudah ada di tangan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal. Di sinilah peran para feminis dibutuhkan untuk menjadi motivator dan juga pendorong untuk memberi pengarahan agar memaksimalkan pendidikan yang telah mereka dapati, sebab era globalisasi telah membuka akses yang luas untuk perempuan dalam berbagai bidang. Di sisi lain, globalisasi memberikan beban yang lebih berat bagi perempuan, karena kita harus meningkatkan kualitas diri. Beruntunglah perempuan-perempuan yang dapat menikmati pendidikan yang layak di perkotaan. Sedangkan bagi perempuan-perempuan tidak mampu, kebijakan neo-liberalisme mengharuskan perempuan untuk bekerja lebih keras. Pengurangan peran negara dan berkurangnya subsidi dari pemerintah membuat kaum feminis menentang kebijakan-kebijakan menyesatkan tersebut. Dan inilah tugas lain yang wajib dikerjakan oleh kaum feminis pula.

Mengingat kembali quote yang ditulis Kartini untuk Nyonya Van Kool di bulan Agustus 1901:

"Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya."

Jadi, pendidikan adalah kunci, dan feminisme dapat dijadikan sebagai alatnya.

 

Ilustrasi: koleksi pribadi penulis.

Leave a Comment

Baca Juga