Degil Zine

Theory Of Discoustic merupakan band asal Makassar yang membagikan kisah, cerita, budaya atau kejadian di dalam setiap musiknya. Genre yang mereka usung adalah Progressive Folk dengan penambahan unsur musik tradisional Indonesia. Saat ini mereka telah menghasilkan dua EP di antaranya Dialog Ujung Suar (2013) dan Alkisah (2014), sebelum akhirnya meluncurkan album panjang pertama La Marupè (2018) pada Maret tahun ini. Total ada 8 lagu dalam album ini; Tabe’, Makrokosmos, Tanah Tua, Lingkar Negeri Atas, Arafura, Janci’, To Manurung, dan yang terakhir adalah Badik. Setiap lagu mempunyai cerita yang berbeda – beda. Sebagai seseorang yang percaya bahwa musik merupakan suatu bentuk medium yang dimana medium adalah pesan, saya percaya di setiap musik yang dibuat selalu ada pesan yang ingin disampaikan oleh pembuatnya. Terlepas itu disengaja ataupun tidak, hal inilah yang memberanikan saya untuk mewawancarai mereka. Baiklah! Tanpa berbasa – basi lagi langsung saja simak pembicaraan saya dengan mereka.

 

Halo, saya Ghifari dari Degilzine. Enaknya sebelum mulai, perkenalan dulu kali ya. Boleh dong diperkenalkan anggota - anggota Theory Of Discoustic beserta instrumen yang dimainkan?

Halo Ghifari, Salam kenal, Sesuai abjad; Adriady Setia Dharma (keyboard, vox), Dian Mega Safitri (vox), Fadli Fitrianto Mallombassang (bass, vox), Hamzarullah (drum), Nugraha Pramayudi (gitar elektrik), Reza Enem (gitar akustik, keyboard, vox).

Para personil. Foto: dokumentasi ToD.

Saya penasaran nih, siapa sih influence terbesar bagi kegiatan bermusik Theory Of Discoustic? Dan mengapa?

Masing-masing dari kami tentunya mempunyai influence musik yang bisa dibilang cukup beragam. Khususnya untuk ToD, masing-masing dari kami sebisa mungkin untuk mengadaptasi gaya bermain/bernyanyi dari lagu daerah baik pop atau lagu - lagu ritual yang masih bisa kami dengarkan sampai sekarang.

Mengapa Theory of Discoustic pada setiap albumnya, selalu ada unsur cerita / kebudayaan masyarakat khususnya Sulawesi Selatan. Apa sebenarnya alasan dibalik ini? Apakah ini juga yang menjadi alasan penamaan judul album "La Marupe”?

Alasannya bisa dibilang karena tema yang kami angkat sangat dekat dengan kami baik secara personal dan budaya, yaitu cerita rakyat, mitos, sejarah dan ritual khususnya Sulawesi Selatan dan Indonesia secara umum. Iya (La Marupe).

Bisa diceritakan sedikit proses pembuatan album "La Marupe”?

Satu tahun setelah mini album Alkisah (2014), kami membuat timeline perencanaan album panjang yang awalnya akan rilis di tahun 2016, namun karena materi belum cukup akhirnya La Marupe baru bisa rampung di awal 2018. Proses pembuatan materinya mulai dari pemilihan tema, riset, struktur lagu, latihan dan rekaman.

Tempat field-recording. Foto: dokumentasi ToD.

Selain alasan teknis, apakah ada alasan lain dibalik proses rekaman yang menggunakan metode field recording? Dan juga pemilihan tempat recording yang berada di pabrik semen?

Alasan utamanya sebenarnya hanya alasan teknis yaitu gaung dari ruangan pabrik tersebut, namun kami melihat ini juga sebagai pemanfaatan ruang atau instalasi yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Secara sepakat lagu apa yang digemari oleh segenap personil Theory of Discoustic?

Dalam proses pengerjaan La Marupe kami sepakat menyukai dan mengambil referensi dari keseluruhan track South Sulawesi Strings dari arsip Smithsonian.

Ada kedekatan secara personal dan budaya dengan tema yang selalu diangkat dalam setiap album ToD. Apakah hal ini untuk menjaga tradisi Folklore sekaligus  bermaksud untuk mewariskan hal ini pada generasi selanjutnya? Mengingat banyak dari anak muda zaman sekarang jarang mengenal dekat budayanya sendiri.

Niat awal dari menggarap tema folklore ini sebenarnya tidak lebih dari pendokumentasian saja.

Untuk pengerjaan album La Marupe, apakah ada menemui kesulitan? Bisa tolong coba diceritakan!

Wah, banyak! Terutama dalam proses rekam karena tidak dilakukan di dalam studio. Jadi, banyak kendala teknis yang kami lalui di pabrik semen tersebut. Misalnya, suara sekitar yang kadang masuk dalam proses rekaman, listrik yang tidak stabil karena menggunakan genset, tidak ada penerangan karena instalasi listrik sudah tidak berfungsi dengan baik, dan waktu rekaman yang tergolong terbatas karena izin penggunaan tempat hanya dibatasi selama 3 hari.

Hamzarullah, sang drummer. Foto: dokumentasi ToD.

Tabe' sebagai lagu pembuka album La Marupe saya rasa sangat tepat, mengingat artinya berupa ungkapan permisi dalam bahasa daerah di Sulawesi Selatan. Apakah hal ini memang disengaja? Dan juga apakah memang lagu dalam album diurutkan sedemikian rupa dengan tujuan untuk memberikan pengalaman mendengarkan musik yang berbeda bagi para pendengarnya?

Dalam waktu 3 hari selama rekaman, Tabe' adalah materi yang baru dibuat di hari kedua selama proses rekam terebut. Sebelumnya tidak ada niat untuk menjadikan Tabe’ sebagai track pertama pembuka album La Marupe. Track pertama tersebut dipilih setelah mendengar raw-mixing lagu keseluruhan dan tentu karena Tabe' sendiri mempunyai arti “permisi”.

Lirik didalam lagu Tabe' apakah merupakan hasil interpretasi atau memang merupakan lagu yang sudah ada dibawakan ulang?

Lirik dari lagu Tabe’ bukan merupakan interpretasi dan bukan re-make dari lagu yang sudah ada. Lagu Tabe' murni merupakan murni hasil ciptaan kami.

Sebenarnya apa yang ingin disampaikan dengan lagu Tabe'?

Tidak ada hal lain selain ungkapan permisi.

Kalo boleh tau apa sih alasan dibalik penamaan Makrokosmos pada lagu kedua kalian? Apakah ini untuk mempertegas dengan tema lagu yang dimana rumah bagi orang bugis adalah pusat dari segala aktivitasnya?

Iya, bisa dikatakan demikian dan sebenarnya tidak hanya orang Bugis, kami melihat objek rumah di sini sangat general sebagai tempat manusia memulai segala aktivitasnya dan tempat terakhir setelah beraktivitas.

Beberapa belakangan ini banyak terjadi kasus dimana orang - orang diusir dari rumah yang merekat tempati. Tanpa penaung tak ada tempat untuk berlindung. Bagaimana pendapat kalian tentang ini?

Sangat disayangkan sebenarnya dan tekait dengan Makrokosmos dimana kami menggambarkan rumah sebagai pusat manusia beraktivitas.

Mohon dikoreksi jika saya salah. Secara garis besar, lagu Tanah Tua bercerita tentang penghargaan kepada waktu, keserhanaan hidup, serta menjaga lingkungan. Apakah ini sebuah kritik ataupun pengingat bagi masyarakat zaman sekarang yang serba terburu - buru dan jauh dari kata kesederhanaan?

Apa yang kami lakukan di ToD sebenarnya bagaimana kami melihat arsip sebagai akomodasi yang kemudian kami gunakan dalam karya kami, fakta sama sekali tidak diubah dalam proses berkarya tersebut. Yang menarik adalah toh walaupun konsep nenek moyang kita berasal dari beberapa puluh tahun silam rupanya masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Khusus pada lagu Tanah Tua yang menyorot Pasang (Pesan), salah satu pesan yang paling tersirat adalah bagaimana manusia menyikapi alamnya.

Beberapa waktu kemarin kita sempat mendengar dibeberapa tempat terdapat wacana darurat agraria. Bagaimana kalian merespon hal ini?

Sebagai negara agraris, seharusnya hasil alam kita bisa lebih berlimpah. Tetapi dalam hal ini alam tidak bisa dijadikan sebagai sebab darurat agraria karena yang bertanggung jawab adalah manusianya. Kalau bisa dihubungkan, inti dari pesan para pendahulu kita dalam lagu Tanah Tua kurang lebih adalah satu pedoman yang bijak.

Dian Mega Safitri, vox dan satu-satunya personil perempuan. Foto: dokumentasi ToD.

Sebagai orang yang akrab dengan kehidupan kebudayaan di Sulawesi selatan, untuk sekarang ini apakah nilai - nilai kebudayaan itu masih terjaga dengan baik atau mulai terkikis seiring perkembangan waktu?

Bisa iya bisa tidak, hehehe. Menurut kami mungkin yang paling penting adalah bagaimana kebudayaan luar bisa menyesuaikan dengan tradisi kita dan vice versa. Tapi kurang lebih dalam tiga tahun terakhir khasanah lokal banyak digunakan dalam karya, baik di film, musik dan industri kreatif lainnya.

Beberapa lirik lagu ToD seperti "Sebab ada pesan yang selalu kau jaga hingga turun temurun melintasi zaman" dan "melantunkan kisah melagukan riwayat hingga akhir hayat". Hal yang saya ingin tanyakan adalah Theory of Discoustic seperti mengajak para pendengarnya untuk mengenal sejarah, nilai - nilai kebudayaan (Sulawesi Selatan). Apakah benar seperti itu?

Tidak ada kecenderungan untuk mengajak sebenarnya. Kami hanya sebisa mungkin meng-adjust agar sesuai dengan arsip/fakta/data yang kami temukan.

Selain itu menurut kalian seberapa besar penting bagi kita sekarang untuk mengetahui asal - usul serta nilai kebudayaan kita?

Kebudayaan = Identitas, walau tidak harus mengetahui sedalam-dalamnya. Minimal mengenal sajalah! Soalnya aneh juga mencari data tentang budaya sendiri tapi dapatnya dari situs luar negeri.

Lagu "Lingkar Tanah Atas" yang menceritakan tentang makna kematian dan upacara kematian manusia Toraja. Menurut kalian apakah hal itu masih relevan untuk dilakukan pada masa sekarang?

Kebetulan kami bukan asli dari Tana Toraja, menurut kami masih relevan sih.

Saya melihat pada lagu "Lingkar Tanah Atas dan Arafuru" terdapat sebuah benang merah diantara keduanya berupa sebuah "Kematian yang Agung". Apakah kedua lagu tersebut memang ingin menyampaikan hal ini?

Sebenarnya agak beda sih. Di dalam Lingkar Negeri Atas (Toraja), kami membahas mengenai Puya (dunia setelah kematian) sedangkan Arafura sendiri kami lebih menceritakan proses tenggelam di Laut Aru.

Mohon dikoreksi (lagi) apabila saya salah, hehe. Saya melihat lagu "Arafuru" adalah satu - satunya lagu yang tidak ada sangkut paut tentang kebudayaan Sulawesi Selatan.  Ada cerita tentang pelaut pemberani yang juga ada seperti pada album sebelumnya (Alkisah) yaitu lagu "Satu Haluan". Apa alasan dibalik pengangkatan cerita pada lagu "Arafuru"? Mengapa cerita / kejadian ini kalian lagukan?

Yang menjadikannya relevan dengan La Marupe’ karena proses tenggelam yang dialami manusia. Kami coba menceritakan sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata yang sesuai dengan arti La Marupe sendiri. Toh sebenarnya kita tidak hanya fokus ke kebudayaan Sulawesi Selatan. Kami juga ingin menangkap keseluruhan kebudayaan Indonesia.

Berarti ada kemungkinan untuk suatu saat nanti menceritakan kebudayaan Indonesia lainnya dong? Untuk kedepannya, hal apa yang kira - kira menarik perhatian dan ingin diceritakan?

Ya, tentu saja. Belum sempat kepikiran sih, tapi kurang lebih dengan sudut pandang yang sama, yaitu bagaimana khasanah pengetahuan lokal bisa mengakomodasi materi kami.

Suasana field-recording. Foto: dokumentasi ToD.

To Manurung pada lagu Janci' dan To Manurung diceritakan sebagai juru selamat yang akan membawa kesejahtaraan di masyarakat. Apakah ini sebuah gambaran bentuk sebuah pemimpin ideal?

Pada saat itu bisa dikatakan demikian karena ia merupakan tonggak bagaimana terjadi kontrak politik yang pertama kali di Sulawesi.

Lagu Janci' berarti "janji". Apakah ini menggambarkan sebuah hubungan antara masyarakat dengan pemimpinnya yang dimana keduanya saling berkesinambungan?

Dalam konteks lagu Janci’, hal berkesinambungan yang kami gambarkan kurang lebih proses dalam membuat kontrak yang terus dilakukan secara musyawarah dan berlandaskan kepentingan sosial antara To Manurung dan masyarakatnya.

Menurut kalian, apakah sosok pemimpin seperti To Manurung perlu dimunculkan kembali? Mengingat banyak pemimpin yang ada sekarang bukannya membawa kedamaian malah menimbulkan perpecahan.

Untuk di masa sekarang, sebenarnya kurang tepat juga kalau dikatakan kedamaian tersebut disebabkan oleh satu orang saja. mungkin ini harus digerakkan dari beberapa sektor juga.

Jujur pribadi saya tidak mengerti apa yang ingin disampaikan lewat lagu Badik. Selain terbentur masalah bahasa, hal ini sangatlah awam bagi saya. Bisa tolong diceritakan sedikit tentang lagu Badik? Mulai awal kenapa mengangkat hal ini dijadikan lagu hingga maksud pesan dan tujuannya?

Lagu Badik menggambarkan sebuah tradisi untuk mencapai keadilan dari dua keluarga yang saling berseteru. Namun yang perlu digarisbawahi adalah pertarungan bukan hal utama untuk mencapai keadilan tersebut tetapi musyawarah. Yang perlu ditarik kesimpulan sebenarnya adalah bagaimana usaha masyarakat kita dulu rela mengorbankan nyawa demi tujuan tersebut.

Kata Siri' yang berarti "harga diri" sering saya dengar dari teman - teman Makassar seperantau dengan kalimat Sirina Pace. Untuk beberapa alasan saya tidak puas dengan penjelasan mereka. Barang kali jika berkenan boleh jelaskan sedikit apa maksud dari Sirina Pace?

Secara umum Sirina Pace mungkin bisa digambarkan sebagai pedoman dalam menjaga moralitas dan harga diri. Falsafah tersebut sebenarnya harusnya bisa membuat bagaimana kita harus mementingkan kepedulian sosial dibanding kepentingan individu atau golongan.

Apakah ada rencana untuk mengadakan konser musik di luar Sulawesi Selatan untuk memperkenalkan album La Marupe?

Kami sangat menunggu ajakan dari teman-teman di luar Sulawesi sebenarnya.

Untuk kedepannya, project apa yang sedang direncanakan?

Hingga satu tahun ke depan, kami masih fokus untuk perform, serta program #sebarkisah yang kami inisiasi untuk memperkenalkan album La Marupe yang hingga saat ini masih fokus di Makassar.

Ada pesan untuk segenap pembaca Degilzine?

Halo, pembaca Degilzine! Salam kenal! Kami adalah ToD dari Makassar. Silahkan mengakses beberapa rubrik menarik di website Degilzine yang sangat beragam seperti; Akar Rumput, Interview, Kobel, Memorilogig, Mixtape dll. JAYA SELALU!

Leave a Comment

Baca Juga

Theory Of Discoustic merupakan band asal Makassar yang membagikan kisah, cerita, budaya atau kejadian di dalam setiap musiknya. Genre yang mereka usung adalah Progressive Folk dengan penambahan unsur musik tradisional Indonesia. Saat ini mereka telah menghasilkan dua EP di antaranya Dialog Ujung Suar (2013) dan Alkisah (2014), sebelum akhirnya meluncurkan album panjang pertama La Marupè (2018) pada Maret tahun ini. Total ada 8 lagu dalam album ini; Tabe’, Makrokosmos, Tanah Tua, Lingkar Negeri Atas, Arafura, Janci’, To Manurung, dan yang terakhir adalah Badik. Setiap lagu mempunyai cerita yang berbeda – beda. Sebagai seseorang yang percaya bahwa musik merupakan suatu bentuk medium yang dimana medium adalah pesan, saya percaya di setiap musik yang dibuat selalu ada pesan yang ingin disampaikan oleh pembuatnya. Terlepas itu disengaja ataupun tidak, hal inilah yang memberanikan saya untuk mewawancarai mereka. Baiklah! Tanpa berbasa – basi lagi langsung saja simak pembicaraan saya dengan mereka.

 

Halo, saya Ghifari dari Degilzine. Enaknya sebelum mulai, perkenalan dulu kali ya. Boleh dong diperkenalkan anggota - anggota Theory Of Discoustic beserta instrumen yang dimainkan?

Halo Ghifari, Salam kenal, Sesuai abjad; Adriady Setia Dharma (keyboard, vox), Dian Mega Safitri (vox), Fadli Fitrianto Mallombassang (bass, vox), Hamzarullah (drum), Nugraha Pramayudi (gitar elektrik), Reza Enem (gitar akustik, keyboard, vox).

Para personil. Foto: dokumentasi ToD.

Saya penasaran nih, siapa sih influence terbesar bagi kegiatan bermusik Theory Of Discoustic? Dan mengapa?

Masing-masing dari kami tentunya mempunyai influence musik yang bisa dibilang cukup beragam. Khususnya untuk ToD, masing-masing dari kami sebisa mungkin untuk mengadaptasi gaya bermain/bernyanyi dari lagu daerah baik pop atau lagu - lagu ritual yang masih bisa kami dengarkan sampai sekarang.

Mengapa Theory of Discoustic pada setiap albumnya, selalu ada unsur cerita / kebudayaan masyarakat khususnya Sulawesi Selatan. Apa sebenarnya alasan dibalik ini? Apakah ini juga yang menjadi alasan penamaan judul album "La Marupe”?

Alasannya bisa dibilang karena tema yang kami angkat sangat dekat dengan kami baik secara personal dan budaya, yaitu cerita rakyat, mitos, sejarah dan ritual khususnya Sulawesi Selatan dan Indonesia secara umum. Iya (La Marupe).

Bisa diceritakan sedikit proses pembuatan album "La Marupe”?

Satu tahun setelah mini album Alkisah (2014), kami membuat timeline perencanaan album panjang yang awalnya akan rilis di tahun 2016, namun karena materi belum cukup akhirnya La Marupe baru bisa rampung di awal 2018. Proses pembuatan materinya mulai dari pemilihan tema, riset, struktur lagu, latihan dan rekaman.

Tempat field-recording. Foto: dokumentasi ToD.

Selain alasan teknis, apakah ada alasan lain dibalik proses rekaman yang menggunakan metode field recording? Dan juga pemilihan tempat recording yang berada di pabrik semen?

Alasan utamanya sebenarnya hanya alasan teknis yaitu gaung dari ruangan pabrik tersebut, namun kami melihat ini juga sebagai pemanfaatan ruang atau instalasi yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Secara sepakat lagu apa yang digemari oleh segenap personil Theory of Discoustic?

Dalam proses pengerjaan La Marupe kami sepakat menyukai dan mengambil referensi dari keseluruhan track South Sulawesi Strings dari arsip Smithsonian.

Ada kedekatan secara personal dan budaya dengan tema yang selalu diangkat dalam setiap album ToD. Apakah hal ini untuk menjaga tradisi Folklore sekaligus  bermaksud untuk mewariskan hal ini pada generasi selanjutnya? Mengingat banyak dari anak muda zaman sekarang jarang mengenal dekat budayanya sendiri.

Niat awal dari menggarap tema folklore ini sebenarnya tidak lebih dari pendokumentasian saja.

Untuk pengerjaan album La Marupe, apakah ada menemui kesulitan? Bisa tolong coba diceritakan!

Wah, banyak! Terutama dalam proses rekam karena tidak dilakukan di dalam studio. Jadi, banyak kendala teknis yang kami lalui di pabrik semen tersebut. Misalnya, suara sekitar yang kadang masuk dalam proses rekaman, listrik yang tidak stabil karena menggunakan genset, tidak ada penerangan karena instalasi listrik sudah tidak berfungsi dengan baik, dan waktu rekaman yang tergolong terbatas karena izin penggunaan tempat hanya dibatasi selama 3 hari.

Hamzarullah, sang drummer. Foto: dokumentasi ToD.

Tabe' sebagai lagu pembuka album La Marupe saya rasa sangat tepat, mengingat artinya berupa ungkapan permisi dalam bahasa daerah di Sulawesi Selatan. Apakah hal ini memang disengaja? Dan juga apakah memang lagu dalam album diurutkan sedemikian rupa dengan tujuan untuk memberikan pengalaman mendengarkan musik yang berbeda bagi para pendengarnya?

Dalam waktu 3 hari selama rekaman, Tabe' adalah materi yang baru dibuat di hari kedua selama proses rekam terebut. Sebelumnya tidak ada niat untuk menjadikan Tabe’ sebagai track pertama pembuka album La Marupe. Track pertama tersebut dipilih setelah mendengar raw-mixing lagu keseluruhan dan tentu karena Tabe' sendiri mempunyai arti “permisi”.

Lirik didalam lagu Tabe' apakah merupakan hasil interpretasi atau memang merupakan lagu yang sudah ada dibawakan ulang?

Lirik dari lagu Tabe’ bukan merupakan interpretasi dan bukan re-make dari lagu yang sudah ada. Lagu Tabe' murni merupakan murni hasil ciptaan kami.

Sebenarnya apa yang ingin disampaikan dengan lagu Tabe'?

Tidak ada hal lain selain ungkapan permisi.

Kalo boleh tau apa sih alasan dibalik penamaan Makrokosmos pada lagu kedua kalian? Apakah ini untuk mempertegas dengan tema lagu yang dimana rumah bagi orang bugis adalah pusat dari segala aktivitasnya?

Iya, bisa dikatakan demikian dan sebenarnya tidak hanya orang Bugis, kami melihat objek rumah di sini sangat general sebagai tempat manusia memulai segala aktivitasnya dan tempat terakhir setelah beraktivitas.

Beberapa belakangan ini banyak terjadi kasus dimana orang - orang diusir dari rumah yang merekat tempati. Tanpa penaung tak ada tempat untuk berlindung. Bagaimana pendapat kalian tentang ini?

Sangat disayangkan sebenarnya dan tekait dengan Makrokosmos dimana kami menggambarkan rumah sebagai pusat manusia beraktivitas.

Mohon dikoreksi jika saya salah. Secara garis besar, lagu Tanah Tua bercerita tentang penghargaan kepada waktu, keserhanaan hidup, serta menjaga lingkungan. Apakah ini sebuah kritik ataupun pengingat bagi masyarakat zaman sekarang yang serba terburu - buru dan jauh dari kata kesederhanaan?

Apa yang kami lakukan di ToD sebenarnya bagaimana kami melihat arsip sebagai akomodasi yang kemudian kami gunakan dalam karya kami, fakta sama sekali tidak diubah dalam proses berkarya tersebut. Yang menarik adalah toh walaupun konsep nenek moyang kita berasal dari beberapa puluh tahun silam rupanya masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Khusus pada lagu Tanah Tua yang menyorot Pasang (Pesan), salah satu pesan yang paling tersirat adalah bagaimana manusia menyikapi alamnya.

Beberapa waktu kemarin kita sempat mendengar dibeberapa tempat terdapat wacana darurat agraria. Bagaimana kalian merespon hal ini?

Sebagai negara agraris, seharusnya hasil alam kita bisa lebih berlimpah. Tetapi dalam hal ini alam tidak bisa dijadikan sebagai sebab darurat agraria karena yang bertanggung jawab adalah manusianya. Kalau bisa dihubungkan, inti dari pesan para pendahulu kita dalam lagu Tanah Tua kurang lebih adalah satu pedoman yang bijak.

Dian Mega Safitri, vox dan satu-satunya personil perempuan. Foto: dokumentasi ToD.

Sebagai orang yang akrab dengan kehidupan kebudayaan di Sulawesi selatan, untuk sekarang ini apakah nilai - nilai kebudayaan itu masih terjaga dengan baik atau mulai terkikis seiring perkembangan waktu?

Bisa iya bisa tidak, hehehe. Menurut kami mungkin yang paling penting adalah bagaimana kebudayaan luar bisa menyesuaikan dengan tradisi kita dan vice versa. Tapi kurang lebih dalam tiga tahun terakhir khasanah lokal banyak digunakan dalam karya, baik di film, musik dan industri kreatif lainnya.

Beberapa lirik lagu ToD seperti "Sebab ada pesan yang selalu kau jaga hingga turun temurun melintasi zaman" dan "melantunkan kisah melagukan riwayat hingga akhir hayat". Hal yang saya ingin tanyakan adalah Theory of Discoustic seperti mengajak para pendengarnya untuk mengenal sejarah, nilai - nilai kebudayaan (Sulawesi Selatan). Apakah benar seperti itu?

Tidak ada kecenderungan untuk mengajak sebenarnya. Kami hanya sebisa mungkin meng-adjust agar sesuai dengan arsip/fakta/data yang kami temukan.

Selain itu menurut kalian seberapa besar penting bagi kita sekarang untuk mengetahui asal - usul serta nilai kebudayaan kita?

Kebudayaan = Identitas, walau tidak harus mengetahui sedalam-dalamnya. Minimal mengenal sajalah! Soalnya aneh juga mencari data tentang budaya sendiri tapi dapatnya dari situs luar negeri.

Lagu "Lingkar Tanah Atas" yang menceritakan tentang makna kematian dan upacara kematian manusia Toraja. Menurut kalian apakah hal itu masih relevan untuk dilakukan pada masa sekarang?

Kebetulan kami bukan asli dari Tana Toraja, menurut kami masih relevan sih.

Saya melihat pada lagu "Lingkar Tanah Atas dan Arafuru" terdapat sebuah benang merah diantara keduanya berupa sebuah "Kematian yang Agung". Apakah kedua lagu tersebut memang ingin menyampaikan hal ini?

Sebenarnya agak beda sih. Di dalam Lingkar Negeri Atas (Toraja), kami membahas mengenai Puya (dunia setelah kematian) sedangkan Arafura sendiri kami lebih menceritakan proses tenggelam di Laut Aru.

Mohon dikoreksi (lagi) apabila saya salah, hehe. Saya melihat lagu "Arafuru" adalah satu - satunya lagu yang tidak ada sangkut paut tentang kebudayaan Sulawesi Selatan.  Ada cerita tentang pelaut pemberani yang juga ada seperti pada album sebelumnya (Alkisah) yaitu lagu "Satu Haluan". Apa alasan dibalik pengangkatan cerita pada lagu "Arafuru"? Mengapa cerita / kejadian ini kalian lagukan?

Yang menjadikannya relevan dengan La Marupe’ karena proses tenggelam yang dialami manusia. Kami coba menceritakan sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata yang sesuai dengan arti La Marupe sendiri. Toh sebenarnya kita tidak hanya fokus ke kebudayaan Sulawesi Selatan. Kami juga ingin menangkap keseluruhan kebudayaan Indonesia.

Berarti ada kemungkinan untuk suatu saat nanti menceritakan kebudayaan Indonesia lainnya dong? Untuk kedepannya, hal apa yang kira - kira menarik perhatian dan ingin diceritakan?

Ya, tentu saja. Belum sempat kepikiran sih, tapi kurang lebih dengan sudut pandang yang sama, yaitu bagaimana khasanah pengetahuan lokal bisa mengakomodasi materi kami.

Suasana field-recording. Foto: dokumentasi ToD.

To Manurung pada lagu Janci' dan To Manurung diceritakan sebagai juru selamat yang akan membawa kesejahtaraan di masyarakat. Apakah ini sebuah gambaran bentuk sebuah pemimpin ideal?

Pada saat itu bisa dikatakan demikian karena ia merupakan tonggak bagaimana terjadi kontrak politik yang pertama kali di Sulawesi.

Lagu Janci' berarti "janji". Apakah ini menggambarkan sebuah hubungan antara masyarakat dengan pemimpinnya yang dimana keduanya saling berkesinambungan?

Dalam konteks lagu Janci’, hal berkesinambungan yang kami gambarkan kurang lebih proses dalam membuat kontrak yang terus dilakukan secara musyawarah dan berlandaskan kepentingan sosial antara To Manurung dan masyarakatnya.

Menurut kalian, apakah sosok pemimpin seperti To Manurung perlu dimunculkan kembali? Mengingat banyak pemimpin yang ada sekarang bukannya membawa kedamaian malah menimbulkan perpecahan.

Untuk di masa sekarang, sebenarnya kurang tepat juga kalau dikatakan kedamaian tersebut disebabkan oleh satu orang saja. mungkin ini harus digerakkan dari beberapa sektor juga.

Jujur pribadi saya tidak mengerti apa yang ingin disampaikan lewat lagu Badik. Selain terbentur masalah bahasa, hal ini sangatlah awam bagi saya. Bisa tolong diceritakan sedikit tentang lagu Badik? Mulai awal kenapa mengangkat hal ini dijadikan lagu hingga maksud pesan dan tujuannya?

Lagu Badik menggambarkan sebuah tradisi untuk mencapai keadilan dari dua keluarga yang saling berseteru. Namun yang perlu digarisbawahi adalah pertarungan bukan hal utama untuk mencapai keadilan tersebut tetapi musyawarah. Yang perlu ditarik kesimpulan sebenarnya adalah bagaimana usaha masyarakat kita dulu rela mengorbankan nyawa demi tujuan tersebut.

Kata Siri' yang berarti "harga diri" sering saya dengar dari teman - teman Makassar seperantau dengan kalimat Sirina Pace. Untuk beberapa alasan saya tidak puas dengan penjelasan mereka. Barang kali jika berkenan boleh jelaskan sedikit apa maksud dari Sirina Pace?

Secara umum Sirina Pace mungkin bisa digambarkan sebagai pedoman dalam menjaga moralitas dan harga diri. Falsafah tersebut sebenarnya harusnya bisa membuat bagaimana kita harus mementingkan kepedulian sosial dibanding kepentingan individu atau golongan.

Apakah ada rencana untuk mengadakan konser musik di luar Sulawesi Selatan untuk memperkenalkan album La Marupe?

Kami sangat menunggu ajakan dari teman-teman di luar Sulawesi sebenarnya.

Untuk kedepannya, project apa yang sedang direncanakan?

Hingga satu tahun ke depan, kami masih fokus untuk perform, serta program #sebarkisah yang kami inisiasi untuk memperkenalkan album La Marupe yang hingga saat ini masih fokus di Makassar.

Ada pesan untuk segenap pembaca Degilzine?

Halo, pembaca Degilzine! Salam kenal! Kami adalah ToD dari Makassar. Silahkan mengakses beberapa rubrik menarik di website Degilzine yang sangat beragam seperti; Akar Rumput, Interview, Kobel, Memorilogig, Mixtape dll. JAYA SELALU!

Leave a Comment

Baca Juga