TANGGAPAN ARTIKEL SIASAT PARTIKELIR: PULLO: MEDAN BUKAN KOTA SENI

TANGGAPAN ARTIKEL SIASAT PARTIKELIR: PULLO: MEDAN BUKAN KOTA SENI

Pada mulanya, link yang di-shared oleh kawan-kawan Degilzine di grup Line Degil itu tidak begitu saya pedulikan, meskipun beberapa kawan Degil yang lain cukup terbakar juga karenanya. Bagaimana tidak? Tengok saja judulnya yang super provokatif itu: Pullo: Medan Bukan Kota Seni? (Silakan diklik). Saat itu sih saya berpikir positif saja, bahwa tulisan itu sekadar kritik yang membangun..

Namun ketika kawan-kawan dari skena lain kembali membahas isi artikel di dalam link itu pada malam di mana Zamatra (Jaringan Kesenian Sumatra) sedang melangsungkan pagelaran seni dan diskusi ketiganya (15/4), mau tak mau, saya mesti ambil sikap. Bukan apa, sebagian kawan yang aktif dan terus menggelar panggung kolektif tentu saja merasa sedikit tersinggung.

Seraya menarik napas dalam-dalam, saya meng-klik link tersebut, membacanya dengan teliti serta membuang segala sentimen yang ada di kepala. Alhasil? Sontak saya lantas teringat dengan penulis-penulis amatiran yang menulis demi klik dan view di web-web bergaya pabrik (ada eksploitasi penulis terselubung di sana pren!). Sebab, telah sebanyak apa view/klik atas tulisan kita terlebih dahulu barulah pundi-pundi uang akan mengalir masuk ke rekening kita. Syaratnya sih cuma satu, tentu saja: buatlah judul seprovokatif mungkin, sesampah apa pun tulisanmu! Contoh: Waw! 7 bidadari turun dari surga! Nomor 5-nya turun di Indonesia! Maka, dengan instingtif super praktis masyarakat yang kurang kerjaan, berita tersebut akan banyak di-klik. Puih! Eits, youre so naif, men! Di zaman ini, trik semacam itu sudah lumrah di dunia jurnalistik. Sebab, seperti kata Njoto, seorang jurnalis legendaris asal kota Jember, kebanyakan jurnalis kuning (Indonesia) masa kini menganggap bahwa orang digigit anjing bukanlah berita. Yang berita itu adalah anjing digigit orang!
Oalah, preambule-nya kebanyakan nih. Kembali ke topik. Baiklah.

Medan Bukan Kota Seni? Bukan kota seni? Marilah kita cek definisi seni menurut para ahli terlebih dulu. Biar ngga ngelantur ke mana-mana, pren.

Leo Tolstoy, novelis dan cerpenis legendaris dari Rusia menyatakan bahwa seni adalah ungkapan perasaan pencipta yang disampaikan kepada orang lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan. Hemm. Oke. Kita dengar definisi seni melalui sourch paling garing se-planet bumi. Wikipedia menyatakan: Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreativitas  manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.

Dari dua pengertian di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa seni semata suatu karya yang diciptakan oleh seseorang. Setuju? Untuk apa, karena apa, dan bagaimana seni itu tercipta, tidak untuk dijelaskan di kasus ini. So? Apakah Medan Bukan Kota Seni?Melalui definisi yang telah kita sepakati bersama, tentu saja pertanyaan di atas dapat dijawab dengan lantang sebagai berikut: Medan Adalah Kota Seni? Kenapa? Untuk tahun ini saja, saya mencatat bahwa banyak sekali seniman Medan yang telah menciptakan karyanya, baik dari para musisi, sastrawan, perupa, dan lain sebagainya. Soal karya itu telah dirangkum dalam mediumnya masing-masing, entah berbentuk album bagi musisi atau buku bagi sastrawan, bukan soal kita. Toh, definisi sejati dari seni hanyalah mencipta dan mencipta. Selanjutnya bagaimana, ya tergantung kepentingannya masing-masing (kepentingan modal apa kolektif nih?).

Cuplikan berita lokal Sumut yang mengabarkan soal keberanian seorang pelukis muda anarkis asal Medan, Fedricho Purba, dalam menyelenggarakan pameran tunggal karya-karya lukisnya. Foto: Koleksi Fedricho Purba.

Oke, kalau kalian memaksa saya harus membuktikan satu contoh karya dari musisi Medan, biar saya kenalkan kalian pada unit punk bernama RKA. Untuk saat ini saja, mereka telah menghasilkan 12 album dan 8 album split. Tahun ini, mereka akan merilis album terbarunya, dan beberapa album split lainnya. Dan kabar terbaru dari mereka, band ini akan dibuatkan piringan hitam untuk salah satu albumnya oleh produser musik dari Australia. Ga pernah dengar? Maklum saja, band super independen ini ogah untuk tampil di event-event seni yang digagas oleh pihak bermodal gede, men (baca: sponsor). Tapi kalau bicara soal definisi seni, mari saya tantang kalian: coba cari band Jakarta (selain Dewa 19 dan Pas Band) yang seproduktif mereka? Ada? Kalau ada sih saya bersyukur! Sebab John Steinbeck, seorang sastrawan terbesar Amerika (menurut saya) pernah mengungkapkan, bahwa seni adalah mencipta, bukan sekadar menjual cipta!

Lanjut kembali ke studi kasus. Saya akan membahas tulisan tersebut dengan pendekatan ilmiah ala-ala dosen Unimed, agar menghindari interpretasi yang seringkali lahir seenak jidat. Maka saya akan mengutip tulisan di dalam artikel itu secara runut, lantas mengemukakan sanggahan maupun pendapat saya.

“Kalau kata orang-orang, Medan itu memang bukan kota seni,” buka Rally Jachmoon, vokalis dari grup post punk Pullo kepada Siasat Partikelir.”

Terang di mata kita, sekalipun kau baru bangun dari tidur panjangmu, bahwa Rally mendengar “orang-orang” mengatakan bahwa Medan bukan kota seni. Jadi ini bukan pendapat pribadinya, melainkan pendapat “orang-orang”. Siapa “orang-orang” itu? Mungkin bukan “orang” Medan. Jikapun “orang Medan”, saya yakin “orang” itu tak pernah keluar dari kamarnya atau sekadar berpelukan dengan Santus Sitorus, owner dari Pitu Room, rumah seni kota Medan. Secara runut akan dijelaskan alasannya.”

Salah satu gigs yang diselenggarakan di Pitu Room.

Meski tergolong salah satu kota besar, namun pergerakan musik disana (kesalahan EYD adalah murni dikutip dari artikel yang bersangkutan) seakan tidak bergairah. Menurutnya kini, Medan minim apresiasi dari penonton kepada pelaku seninya. Makanya, semuanya seakan mati suri.”

Benarkah kalimat-kalimat di atas adalah opini dari Rally pribadi ataukah opini yang seenak jidatnya saja dicuapkan oleh penulis Siasat Partikelir itu? Jujur, saya agak ragu jika Rally yang berkata seperti itu. Jikapun ia, saya sarankan agar beliau singgah ketika kawan-kawan ITM atau Nomensen sedang menyelenggarakan gigs rutinnya. Boleh juga singgah ketika anak-anak Zamatra bikin gawe. Bagaimana ketika Domayn bikin event? Bagaimana gigs kolektifan yang rutin diselenggarakan anak-anak Medan Blues Society, Reggeanerasi, Grunge Sumut dan lainnya di Rockcoffee? Bagaimana dengan gigs yang tiap seminggu sekali selalu tersaji di Pitu Room? Atau singgah deh ketika Degil mengadakan launching zine-nya sebulan sekali. Apa seperti ini yang dikatakan bahwa “pergerakan musik di sana (Medan) seakan tidak bergairah? Atau, apakah kedatangan para penonton (acara-acara yang saya sebut di atas tidak pernah sepi gawe!) bukan sebentuk “apresiasi”?

Salah satu gigs yang diselenggarakan di ITM. Foto: Koleksi Death of Wall.

Soal apresiasi. Pada 7 April kemarin, duo musisi tradisi Karo, Wisnu Bangun dan Averiana Barus berkolaborasi dalam menyelenggarakan konser tunggal di Balai Zeqita. Mau ngomongin apresiasi? Betapa penuh dan padatnya konser tersebut, men! Apakah itu bukan sebentuk “apresiasi dari penonton kepada pelaku seni” Medan? Atau jangan-jangan, penulis artikel itu tidak menganggap bahwa Wisnu Bangun (seniman tradisi) dan penikmat seni tradisi bukan bagian dari seni dan “penikmat seni” seperti apa yang mereka perbincangkan di atas? Masya Allah. Jangan begitu dong!

“Scene di Medan sekarang mulai naik lagi, sebelumnya kan sempat mati suri, periode tahun 2011-2014.”

Agak kontradiktif sebenarnya. Di kalimat sebelumnya, Rally (dituntun) untuk mengutarakan bahwa skena Medan sedang “tidak bergairah”. Namun jelas, tulisan di atas menggambarkan keyakinan Rally pada perkembangan skena Medan masa kini.

“Ini tentang kesinambungan, kolektif-kolektif tersebut masih rajin membuat wadah meski sepi pengunjung, semata hanya untuk memberi lahan tampil bagi para pekerja seni. “Mereka nekad saja sih, dan tapi itu yang membuat sponsor mulai berani masuk lagi, lumayan dibanding dulu,” ujarnya.”

Tuh kan, Rally tahu kok ada banyak kolektif di Medan, dan kelihatan pula kalau doi yakin sama perkembangan skena musik di Medan. Soal sepi pengunjung, mungkin Rally tidak sempat untuk singgah ke gigs-gigs dan event-event seperti yang saya paparkan di atas. Jangan salahkan Rally kalau soal itu. Kan selera orang beda-beda. Iya dong? Eit, tunggu dulu, ada kata “sponsor” di bahas tulisan (terpenggal) di atas. Apa seni mesti selalu berhubungan terlebih dahulu dengan sponsor barulah dapat dikatakan sebagai seni? Seni versinya siapa nih?

Udah deh. Capek. Selain kontradiktif dengan judulnya, tulisan dari artikel itu cuma ngalor ngidul doang atau sekadar membahas sepak terjang Pullo, bukan membahas makna dan interpretasi atas seni lebih lanjut, seperti judul tulisan artikel yang bombastis itu. Dan dari apa yang saya simpulkan setelah menelitinya lebih lanjut, bukan Rally atau Pullo yang mempertanyakan atau menyatakan bahwa Medan bukan kota Seni. Jadi siapa dong? Siapa lagi kalau bukan PKI. Kan apa pun persoalannya, sudah jelas PKI pelakunya. Iya tak?

Share this post

Recent post