Rudi Si pincang

RUDI SI PINCANG

Rudi berjalan dengan menyeret-nyeret kaki kanannya. Setiap kali kaki kirinya melangkah, detik berikutnya, suara gesekan sepatu kaki kanannya akan membuat telinga siapa saja menjadi tuli. Banyak orang tidak menyukai Rudi karena kaki pincangnya itu. Pernah sekali, seorang pejalan kaki meludah di hadapannya sembari mengumbar sumpah serapah “Dasar, pincang keparat! Tidak bisakah kakimu itu kau potong saja?” Namun karena sudah terbiasa menerima makian, Rudi hanya menundukkan kepalanya saja, sembari melanjutkan seretan kaki kanannya selangkah demi selangkah. Mendengar caci maki tidak membuat hatinya sedih. Tidak pula membuatnya marah. Terakhir kali, ia malah senang saat orang lain memakinya.

“Tidakkah menyenangkan mengetahui bahwa keberadaanmu membuat orang di sekitarmu merasa terganggu?” batinnya dalam hati. “Banyak orang berusaha membuat orang lain merasa senang. Bahkan ada beberapa orang yang berpura-pura menjadi “orang lain” hanya untuk menyenangkan hati mereka. Kau menolak menjadi dirimu sendiri hanya untuk membuat orang lain merasa nyaman bersamamu. Sangat menggelikan.”

Sejak kecil, Rudi sudah diingatkan ibunya agar selalu membawa kesenangan bagi orang lain. “Ingat baik-baik, Nak. Ke mana pun kakimu melangkah, selalulah berusaha membuat orang lain senang, sekalipun kau merasakan hal sebaliknya.”

Tetapi lain ceritanya setelah kaki kanannya kehilangan tenaga. Aku tidak tahu percis sejak kapan kaki Rudi menjadi demikian menjengkelkan seperti sekarang ini. Kalau tidak salah, ia pernah bercerita, bahwa kakinya itu picang sebab ayahnya sering memukulinya sejak ia kecil.

“Iya, tapi aku enggak menyalahkan ayahku sama sekali. Aku pikir, kakiku sudah seharusnya begini.”

Pertama kali bertemu dengan Rudi, aku lekas kasihan kepadanya. “Terkadang dengan kaki yang sehat saja, hidup bisa sedemikan berat, apalagi dengan kaki seperti itu,” pikirku dalam hati.Tapi Rudi bukan tipikal lelaki yang suka merengek, bukan pula tipikal orang yang butuh dikasihani. Bisa dibilang, ia cukup ahli dalam hal menerima apa pun dengan lapang dada.

Hingga suatu ketika semuanya pun berubah, saat seorang pincang lainnya datang dan berseru kepadanya, “Woi, pincang! Tidak bisakah kau mengangkat kakimu itu agar telingaku tidak tuli dibuatnya?”

Rudi tercengang dan marah “Bangsat. Bahkan sesama orang pincang pun memaki diriku?” Sejak saat itu pula, Rudi tidak lagi merasa bersalah bila kaki kanannya mengeluarkan suara berisik saat ia sedang berjalan. Bahkan kerap kali, dengan sengaja, ia berjalan mondar-mandir hanya untuk membuat orang lain resah karena suara berisik gesekan kakinya itu. Tanpa dia sadari, semakin lama, ia semakin menikmati tingkahnya.

“Sungguh menyenangkan!” tawanya dalam hati “Bila kau tidak bisa membuat orang lain bahagia, aku sarankan, lebih baik kau membuat mereka merasa jengkel” ucapnya kepadaku.

Beberapa bulan yang lalu, suatu mukjizad menimpa kakinya. Entah Tuhan sedang mabuk apa, secara tiba-tiba saat ia bangun dari tidurnya, kaki kanannya itu kembali sehat seperti semula. Rudi terkejut dan sangat bahagia. “Oh, Tuhan yang sering kusembah dan kupuja, sungguh maha besar kuasamu, telah kau dengarkan doaku selama ini. Oh, kaki yang sangat kucintai, melangkahlah sesukamu!”

Hari demi hari pun berlalu. Rudi melompat ke sana ke mari. Ia sangat senang kakinya sembuh seperti sedia kala. “Alangkah menyenangkan menjadi normal kembali,” ucapnya berulang kali kepadaku. Saking senangnya, ia sering lupa untuk mengistirahatkan kakinya. “Tidak! Aku tidak mau duduk! Hidup terlalu sia-sia bila dihabiskan hanya dengan duduk-duduk saja. Kau harus percayakan hidupmu pada kakimu, bukan pada pantatmu.” Ia sangat senang, dan tak mau diam. Selalu ingin beranjak ke sana ke mari, tanpa henti, tanpa merasa lelah.

Tetapi, tadi siang, tiba-tiba Rudi mengeluh. Entah Tuhan mabuk apa lagi hari ini. Ia bilang kepadaku bahwa ia lebih suka bila kakinya pincang seperti dulu lagi. Sekarang, setelah kakinya sembuh dan mampu berjalan dengan normal, hidupnya menjadi sangat membosankan. Orang-orang tidak lagi memakinya, ia merasa diabaikan. Ia merasa tidak eksis.

“Untuk pertama kalinya dalam hidupku, orang-orang tidak lagi mempedulikanku!” serunya sedih. “Aku rindu dipanggil dengan ejekan ‘Si Pincang’, ‘Si lelaki ngesot”, “Si cacat!”, “Si kaki berisik”, dll”. Kau tahu, rasanya lebih baik mendapat nasib yang buruk tetapi diperhatikan dan eksis bagi orang lain, ketimbang hidup normal, sehat tanpa cacat sedikit pun tetapi tidak diperhatikan sama sekali, hanya dianggap seperti angin lalu.

“Coba lihat sekarang, aku hidup tanpa karakter sedikit pun. Aku tidak punya sesuatu yang menjadi ciri khasku, aku tak punya sesuatu yang dapat menarik perhatian orang lain, sekarang orang-orang bahkan tidak menyadari bila aku sedang berjalan di depan mereka. Keberadaanku sudah usang. Pokoknya, aku ingin kembali pincang saja, aku ingin menjadi diri yang dulu lagi, yang buruk dan cacat namun dikenal dan diperhatikan orang banyak, yang dicaci setiap kali aku lewat. Sungguh, aku sangat merindukan cacian-cacian itu.”

Maka Rudi pun memutuskan menjadi pincang lagi. Ia memukul kaki kanannya dengan palu hingga lumpuh dan kembali pincang.

Oh, Rudi yang konyol.

*Ilustrasi cover oleh Aga Depresi

Share this post

Recent post