PicsArt_04-22-06.12.21

DEWA PUN RESAH DI KOTA MEDAN

Halo, bang. Cemana kabar sekarang?
Oi, baik-baik. Apa cerita?

Dulu abang sempat main musik, kan? Dimana aja, bang?

Dulu band pertamaku itu Heavenly. Nah! Aku-lah yang bikin Heavenly dulu. Terus aku juga pernah di Charmapocie, dilanjut ke Proudly Present. Terus yang terakhir aku di Soulmotion, dan empat-empat ini, eh sebenarnya yang aku buat itu tiga yang asli. Yang Charmapocie ini sebenarnya udah ada, tapi akulah yang ngajak, “Ayok bikin lagi, yok! Main jazz, yok!” Awalnya mereka udah ada waktu zaman SMA, tapi aku yang ajak mereka. Kita bikin, kita komersilin, kita dapet duit dari sini, dan kita berkarya.

Heavenly dibikin tahun berapa bang?

Tahun 2007, tiga tahun berjalan terus aku selisih paham sama vokalisnya. Aku keluar karena idealismeku cukup tinggi saat itu; pengen bisa kalahin band di Jawa. Kita nge- band itu memang punya masanya, makanya aku gak mau main reguler atau wedding dulu.

Seingatku, Heavenly dan Charmapocie itu band wedding, bang. Bener gak?

Dulu pas masih ada aku, itu enggak. Dulu itu band indie, band karya dan main di gigs.

Jadi dulu, Heavenly, Charmapocie dan lain – lain itu memang di-set jadi band gigs?

Iya, menjadi band gigs. Jadi, dulu kalo zaman SMA, prom-night atau acara bergengsi kuliahan. Nah, tapi karena anak – anak juga punya kebutuhan yang lebih, mulailah si Charmapocie ini main di wedding. Tapi awalnya sih itu band gigs dulunya. Nah, itulah salah satu alasan kenapa aku keluar. Jadi, aku tidak terpikir band ini jadi band wedding, mainin lagu orang sampai berjam – jam terus capek dan pulang. Ya, gak ada kepuasan di situ jadinya. Nah! Charmapocie itu sebenarnya udah ada, baru aku masuk. Aku memang pengen bikin ini jadi band gigs, tapi karena kebutuhan dan sebagainya akhirnya main di wedding juga, dan bisa dibilang juga saat itu Heavenly dan Charmapocie belum berhasil di Jakarta.

Nah terus abang di Proudly Present gimana?

Dulu kami di Proudly Present sempat dikontrak sama label Jepang yang berdomisili di Indonesia; namanya Nagaraja. Kami udah sempat buat album dan sebagainya dan dibantu di Jakarta. Tahun 2011 kita stay di Bandung. Terus, tahun 2012 sewaktu kita di Blok M Jakarta, basecamp-nya di Little Tokyo. Cuman ada satu hal yang gak bisa kuceritakan dan akhirnya aku harus cabut. Nah, yang lain masih nerusin sampe akhirnya mereka pada ikut balik.

Setelah itu baru abang bikin Soulmotion?

Ini lebih cenderung ke band idealisku aja sih, dan sempat bikin satu lagu. Terus vokalisku, Riri, sempat pergi ke Jakarta dan balik lagi ke Medan. Tapi si anak Soulmotion udah berpencar masing – masing, main entah kemana – mana. Terus, pada saat Rising Star dibikin lagi, aku tidak ikut karena aku juga saat itu udah fokus bekerja. Mereka yang pergi ke Jakarta, sempat masuk di berapa besar terus balik dan tidak berhasil juga. Akhirnya si Riri ikut ajang The Voice Indonesia sampe berapa besar dan dialah yang masih stay di Jakarta.

Nah jadi abang sebenarnya merasa gagal gak sih udah nge-band sampe ke Jakarta, terus pulang?

Kalau aku sih gak merasa gagal. Pertama, karena dulu itu sebenarnya aku udah prediksi ujungnya akan seperti apa. Aku udah tahu nih nasib akhir dari si band ini. Lebih baik, aku realistis. Aku butuh uang dan aku butuh masa depan. Nah, setelah pulang aku juga udah backup mau ngapain nih. Aku jadi penyiar radio dan aku bikin YJC. Menurutku, YJC sempat jadi hits di kalangan anak muda saat itu, tapi ngga tau ya, itu menurutku. Kita juga sempat sering diundang ke gigs dan juga sempat dikontrak sama perusahaan rokok. Makanya, aku ngga pernah merasa aku gagal.

Dulu, selama nge-band, apa keresahan abang?

Keresahanku sebagai yang pernah jadi anak band, indie juga. Walaupun sekarang aku bermusik tapi lebih ke major yang udah ke event-event dan sebagainya aja karena udah ngga berkarya lagi dan karena main perkusi. Satu, kesiapan dari tim penyelenggara. Contoh, kalau kita main sebagai band lokal di Jakarta, kita disediakan tempat. Ngga ada tempat juga ngga apa – apa, tapi untuk sound sajalah. Jadi, ketika checksound, kita jadi bagus dan sebagainya. Itu sih. Untuk meluapkan sound yang oke adalah hal sangat mustahil di Medan. Itu keresahan yang paling luar biasa. Apalagi si Febri perkusi paling sering berantam sama soundman karena suka sepele lihat kita. Coba kalo artis nasional, langsung mereka nanya, “Butuh apa, Bu? Butuh apa, Pak?” Nah, ini 32 chanel nah, nah, nah!” Kalo kita? Mau minta 2 chanel sama minta monitor 1 aja ribetnya minta ampun. Terus kalo misalnya, “Bang, tolong ini ya, tolong itu”, langsung mukanya suntuk.

Nah abang setuju ngga kalau Medan itu penuh arogansi?

Iya, iya! Medan itu memang penuh dengan arogansi.

Menurut abang munculnya dari mana?

Kalau menurutku ya harus balik lagi ke kita sendiri. Kita tidak punya ruang untuk tahu bagaimana dunia luar itu. Contoh, kalau lah pemerintah mau memberi ruang untuk co-working space untuk pekerja seni, kita bisa mendatangkan speaker dari luar untuk cerita di Jakarta atau dimanalah dan kita bisa belajar dari situ. Nah, kalau kita di sini, kiblatnya cuman kawan-kawan aja, cuman di situ-situ aja. Kalau kita ditanya, “band-ku udah bagus belum?” “Udah kok”. Padahal itu cuman pendapat dari kawan-kawan aja. Itulah makanya arogansi itu muncul.

Nah, kalau aku bilang Medan bukan kota seni, bagaimana respon abang?

Aku langsung jawab, Medan itu kota seni! Kita ambil aja nih dari satu seni, musik lah contohnya. Di Jakarta, kita bisa lihat siapa-siapa saja musisi dari Medan. Terus misalnya dari seni fotografi seperti Dedi Sinuhaji. Karya-karya dia dipakai Amerika sama Inggris. Dia pekerja seni juga walaupun dia lebih ke foto jurnalistik. Dari mural ataupun graffiti, kita bisa liat kalau ada exhibition muncul kok, orang-orangnya ada kok, jago-jago, dan pinter-pinter. Malah ada juga pegiat seni yang belajar di luar terus menetaskannya di sini. Walaupun dia belajar di luar, dia pengen berkarya di sini. Aku lupa siapa namanya. Jadi, sebenarnya Medan itu kota seni. Kalau dibilang Medan bukan kota seni, aku tanya balik, “kau darimana? Dari Medan kan? Kau belajarnya dimana? Di Medan. Kau berkarya dimana? Di Medan”. Jadi, kalau Medan dibilang bukan kota seni, kita pastinya ngga akan bisa bermusik kayak sekarang. Tapi, memang masalahnya pemerintah tidak mendukung kesenian secara penuh di kotanya padahal mereka punya dana untuk itu.

Terus abang sendiri tau ngga di Medan itu ada Dewan Kesenian?

Nggak! Gak tau sampe sekarang mereka pernah ngapain. Gak pernah tau mereka itu siapa saja. Nih ya! Setiap tahun, Erucakra bikin North Sumatera Jazz Festival. Apakah mau untung atau ngga untung, tapi dia tetap konsisten membuatnya setiap tahun. Tapi dia cuman bawa Waspada aja. Kenapa? Karena berurusan sama pemerintah itu ribet. Memang dinas-dinasnya pada tahu tapi ya udah sebatas izin saja. Terus misalnya nih. Mungkin nggak salah sih pemerintah bikin acara ulang tahun Medan. Tapi, yang diundang palingan dari Sumatera yang etnik – etniknya saja, yang mengerjakan dari pihak mereka – mereka saja. Jadi, konotasinya dari dinas juga. Nah, yang di bawah-bawah ini mau dibikin dimana? Itulah kenapa aku bisa menyimpulkan pemerintah tidak mau support padahal mereka bisa.

Jadi kalau abang bisa nih membenahi, sisi mana yang abang prioritaskan?

Kalau aku sih mungkin ngga bisa se-spesifik itu. Misalnya aku mau membenahi fashion, aku bukan orang fashion. Kalau mau membenahi foto, aku cuman sekedar tau foto aja. Kalau mau membenahi musik, aku masih ngerti tapi masih ada yang di atas – atas aku lagi yang lebih mengerti. Jadi mendingan aku kasih ruang buat mereka. Nih, des! Silahkan kalian tampil, dan buat sebaik mungkin! Tunjukkan kalau kalian itu bagus – bagus. Nah, makanya aku sebenarnya pengen bikin satu event gede segede-gedenya di Lapangan Merdeka atau di Lapangan Benteng, pokoknya di tengah kota. Supaya semua tahu dan bisa nampil, baik dari kulinernya, foto, fashion dan semuanya. Seperti Maker Fest kemaren, masa asik orang luar aja yang bikin acara di sini. Orang-orang lokalnya pada kemana nih? Makanya aku bercita-cita pengen buat event itu dan membayar semua orang dengan profesional. Seperti band-lah, kenapa band masih banyak yang belum berlaku profesional? Karena mereka masih diperlakukan tidak profesional juga. Makanya jadi sepele. Talent-talent ini tidak diperlakukan secara profesional sebagaimana seharusnya mereka diperlakukan. Ya kalo menurut aku itu sih.k

Oke! Last question nih, bang. Jadi abang mau bikin nama anak abang siapa?

Ahhhh! Hahahahahahaha, jauh ya. Belum tau. Tapi pengen ada Abimanyunya.

Share this post

Recent post