Degil Zine

Ada sensasi berbeda saat saya mendengarkan karya dari grup musik yang bernama Surkensonik. Dengan konsep besar “A ballads of heavy rock experimental / Sonik Rock”, mereka berhasil memberikan nuansa nostalgia pada masa kejayaan Pink Floyd beberapa dekade silam. Dari beberapa lagu yang sudah saya dengarkan, komposisi lagu yang disajikan terasa begitu rinci. Ini yang mungkin sekiranya dirindukan oleh rekan-rekan penikmat musik di luar sana.

Surkensonik sendiri terbentuk pada tanggal 22 November 2015 dengan formasi Alex Gurion (Vocal/Guitars), Ariel Shomron (Drums/Backing Vocal), dan Jams (Bass Guitars). Jarak yang membentang antara Jawa Barat, Tangerang, dan Sukabumi tidak menjadi penghambat bagi mereka untuk berkolaborasi di salah satu sudut kota Tangerang Selatan.

"Gemuruh" menjadi debut single yang mereka keluarkan pada tahun 2017 dan dirilis secara digital oleh Demajors Records. Hasil riset kecil - kecilan melalui akun Facebook-nya, saya mendapati bahwa Surkensonik dipengaruhi oleh beberapa musisi besar seperti Chrisye, Pink Floyd, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, dan The Doors. Hal ini tercerahkan oleh beberapa karya musik yang sudah ditelurkan oleh Surkensonik tentunya.

Mendengarkan lagu "Gemuruh" rasa-rasanya seperti menembus segerombolan awan gelap yang sedang berkecamuk. Ya, atmosfir yang disuguhkan melalui lagu "Gemuruh" memiliki karakter yang kuat dan membekas ditelinga saya. “Simfoni alam berderap kencang, melukis awan badai menantang” menjadi kalimat pengantar yang menggugah adrenaline untuk mengawali lagu, ditambah lagi sesi sing along dengan lirik “Gemu gemu gemu gemuruh!” yang saik banget buat dinyanyiin bareng-bareng kaya waktu di acara Garasi Partij kemarin.

Iseng-iseng membuka akun SoundCloud-nya, saya menemukan dua lagu demo yang ngga kalah seru buat didengerin, "Kala" dan "River in The Skye". Kalo waktu itu David Gilmour sama Jimmy Page tergabung dalam satu band, saya kira lagu yang dihasilkan akan seperti lagu "Kala" ini contohnya, hahaha.

Beda lagi sama River in The Skye, setelah saya mendengarkan sampai habis ternyata lagu ini ngga ada liriknya! Yes, it's only instrumental. Sedikit berbeda dengan dua lagu sebelumnya, sound gitar yang dipake berasa lebih tebel di lagu ini. Tapi di tengah - tengah lagu, nuansa mengawangnya psikadelik rock kembali disajikan dengan cukup baik dan membuat kuping terombang - ambing. Mungkin komposisi dari tiga lagu ini yang menggambarkan Surkensonik sebagai band beraliran Sonik Rock.

Satu lagi! Titipan dari Surkensonik:

Di era digital dan serba simplicity, musisi harus tetap berkarya dengan cara baru, namun jiwa lama. Selalu menggunakan hati yang terdalam di setiap pembuatan karyanya.”

 

*foto dokumentasi garasi 14

Leave a Comment

Baca Juga

Ada sensasi berbeda saat saya mendengarkan karya dari grup musik yang bernama Surkensonik. Dengan konsep besar “A ballads of heavy rock experimental / Sonik Rock”, mereka berhasil memberikan nuansa nostalgia pada masa kejayaan Pink Floyd beberapa dekade silam. Dari beberapa lagu yang sudah saya dengarkan, komposisi lagu yang disajikan terasa begitu rinci. Ini yang mungkin sekiranya dirindukan oleh rekan-rekan penikmat musik di luar sana.

Surkensonik sendiri terbentuk pada tanggal 22 November 2015 dengan formasi Alex Gurion (Vocal/Guitars), Ariel Shomron (Drums/Backing Vocal), dan Jams (Bass Guitars). Jarak yang membentang antara Jawa Barat, Tangerang, dan Sukabumi tidak menjadi penghambat bagi mereka untuk berkolaborasi di salah satu sudut kota Tangerang Selatan.

"Gemuruh" menjadi debut single yang mereka keluarkan pada tahun 2017 dan dirilis secara digital oleh Demajors Records. Hasil riset kecil - kecilan melalui akun Facebook-nya, saya mendapati bahwa Surkensonik dipengaruhi oleh beberapa musisi besar seperti Chrisye, Pink Floyd, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, dan The Doors. Hal ini tercerahkan oleh beberapa karya musik yang sudah ditelurkan oleh Surkensonik tentunya.

Mendengarkan lagu "Gemuruh" rasa-rasanya seperti menembus segerombolan awan gelap yang sedang berkecamuk. Ya, atmosfir yang disuguhkan melalui lagu "Gemuruh" memiliki karakter yang kuat dan membekas ditelinga saya. “Simfoni alam berderap kencang, melukis awan badai menantang” menjadi kalimat pengantar yang menggugah adrenaline untuk mengawali lagu, ditambah lagi sesi sing along dengan lirik “Gemu gemu gemu gemuruh!” yang saik banget buat dinyanyiin bareng-bareng kaya waktu di acara Garasi Partij kemarin.

Iseng-iseng membuka akun SoundCloud-nya, saya menemukan dua lagu demo yang ngga kalah seru buat didengerin, "Kala" dan "River in The Skye". Kalo waktu itu David Gilmour sama Jimmy Page tergabung dalam satu band, saya kira lagu yang dihasilkan akan seperti lagu "Kala" ini contohnya, hahaha.

Beda lagi sama River in The Skye, setelah saya mendengarkan sampai habis ternyata lagu ini ngga ada liriknya! Yes, it's only instrumental. Sedikit berbeda dengan dua lagu sebelumnya, sound gitar yang dipake berasa lebih tebel di lagu ini. Tapi di tengah - tengah lagu, nuansa mengawangnya psikadelik rock kembali disajikan dengan cukup baik dan membuat kuping terombang - ambing. Mungkin komposisi dari tiga lagu ini yang menggambarkan Surkensonik sebagai band beraliran Sonik Rock.

Satu lagi! Titipan dari Surkensonik:

Di era digital dan serba simplicity, musisi harus tetap berkarya dengan cara baru, namun jiwa lama. Selalu menggunakan hati yang terdalam di setiap pembuatan karyanya.”

 

*foto dokumentasi garasi 14

Leave a Comment

Baca Juga