Degil Zine

Di padang rumput yang sudah tidak ada lagi rumputnya, semenjak rumput-rumput di padang itu memutuskan bosan diinjak-injak kawanan binatang, berlarilah segerombolan singa dalam bentuk “formasi berburu”, mengejar gerombolan zebra yang lari terbirit-birit.

Di antara zebra dan singa yang masih tertinggal cukup jauh di belakang, terlihat lima ekor tikus menghadap ke arah gerombolan singa.

Tikus-tikus itu didera ketakutan yang teramat sangat. Mereka seolah lumpuh hingga berlari menghindar saja, tak lagi kuasa. Tikus-tikus itu meyakini bahwa; inilah hari terakhir untuk bisa memakan apa saja.

Di puncak ketakutannya, tikus memekik-mekik penuh marah, penuh benci. Tikus-tikus itu menyeringai, gigi-giginya yang kecil tapi tajam benar-benar menunjukkan tanda permusuhan yang nyata. Sementara kumisnya yang bergerak-gerak liar, tak mampu menyembunyikan rasa takut. Lima ekor tikus ngompol seketika.

Gerombolan singa semakin mendekat, menjadi lebih dekat, lebih dekat lagi hingga tak berjarak. Kemudian melompati kawanan tikus, yang semakin keras pekikannya itu.

Ketika gerombolan singa hilang dari pandang, tikus-tikus itu saling menatap. Memalingkan pandang ke arah singa yang berlari menjauh. Kawanan tikus tertawa bangga. Begitu puas begitu lepas.

"Ternyata legenda auman singa tidak ada apa-apanya! Lihatlah, singa-singa itu lari terbirit-birit mendengar pekikan kita yang perkasa! Sesungguhnya, kita lebih hebat daripada mereka!" ujar salah seekor tikus pada kawannya yang mengangguk-angguk.

Tikus-tikus itu pun kemudian menggelar pertemuan. Mengundang seluruh binatang penghuni hutan, kecuali singa tentunya.

Lima ekor tikus itu lantas menceritakan perihal keberanian mereka melawan singa. Tentu saja soal betapa pekikan sakti mereka telah mengalahkan singa diceritakan berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, benar-benar berulang-ulang.

"Dua ekor singa terkapar tak bernyawa akibat terjangan gigi-gigi kami, setelah singa-singa itu lumpuh demi mendengar “auman” kami sebelumnya!" Seekor tikus berdiri di atas kepala gajah, sambil berkacak pinggang.

Mendengar cerita tikus itu, hampir seluruh kerumunan binatang terbelah pandang, sebahagian mempercayai, sebahagian lain meragukannya. Sementara zebra, menunggu saat yang tepat untuk bersaksi.

Tampak dari atas pohon, kawanan monyet mengernyitkan keningnya. "Oiiii, tikus! Sesungguhnya kau telah menyampaikan fitnah," ujar kawanan monyet sahut menyahut sambil menggaruk pantat.

"Oiii, monyet! Bukankah pernyataanmu itu adalah bentuk sebenar-benarnya fitnah! Bukankah kami yang mengalami peristiwa itu! Sementara kalian, mungkin sedang bercinta di atas pohon pada saat pertempuran sengit itu berlangsung!"

"Oiii, tikus! Pernyataanmu barusan adalah fitnah yang keji!"

"Oiii, monyet! Bukankah ketika kau menyatakan kami memfitnah pada dasarnya itu adalah fitnah yang kau sematkan pada kami."

Begitulah perdebatan tikus dan monyet berlanjut, selanjutnya dan selanjutnya dan masih berlanjut seterusnya hingga akhirnya kawanan zebra memutuskan untuk bersendawa.

"Begini saja. Kami memang berada pada tempat kejadian, dan pada saat kejadian itu kami tidak melihat seekor singa pun. Sebab gerombolan kami ketika itu sedang asyik lomba lari untuk melihat siapa yang lebih cepat di antara kami. Tetapi kami sedikit banyaknya memercayai cerita tikus-tikus ini. Bagaimana kalau kita buktikan saja! Kami berharap, para kerbau mau menjadi saksi dalam pembuktian ini. Untuk membuktikan cerita tikus-tikus ini, kita cukup pergi ke sarang singa! Kawanan tikus harus berada di barisan paling depan, sebab merekalah yang akan berhadap-hadapan langsung dengan singa-singa lapar itu. Sementara kawanan kerbau sebagai saksi harus tepat berada di belakang barisan tikus! Yang lain, silakan berada pada jarak yang disukainya!"

Kerbau yang merasa mendapat peran penting langsung saja menyanggupi sambil tetap memamah biak dengan penuh penghayatan.

Kawanan binatang itu pun berbondong-bondonglah menuju sarang singa yang ketika itu tengah mengevaluasi sebab musabab kenapa berulang kali zebra lepas dari gigitan. Di tengah perdebatan, kawanan singa sedikit terusik dengan suara-suara yang menggelikan.

Barisan tikus di depan mencicit-cicit yakin ke sarang singa. Di barisan kedua, kawanan kerbau menatap singa sambil tetap memamah biak dengan penuh penghayatan. Kawanan binatang lainnya mengatur jarak sejauh mungkin.

Pandangan singa-singa lapar itu, sontak terfokus pada barisan kerbau yang gemuk nan sintal. Liur singa menuntut. Singa-singa itu kemudian melompat. Tikus terus mencicit-cicit.

Dari kejauhan, kawanan binatang lainnya menyaksikan singa yang melompati kawanan tikus lalu menyerang kawanan kerbau.

Kawanan kerbau terkejut. Pemimpin barisan kerbau berupaya melawan. Satu tanduknya yang panjang nan tajam berhasil melukai singa. Sementara dua ekor dari kawanan kerbau roboh sudah. Barisan kerbau pun lari kalang kabut sambil tetap memamah biak dengan penuh penghayatan hingga habis satu persatu roboh diterkam.

Menyaksikan kejadian itu, kawanan binatang lainnya turut tunggang langgang sambil mensyukuri hidup yang penuh dengan keselamatan.

Gerombolan semua binatang itu pun kembali berkumpul di tempat semula. Pertanyaan menandak-nandak di dalam kepala mereka sambil terus mensyukuri hidup yang penuh dengan keselamatan.

"Kalian telah menyaksikan, betapa singa takut kepada kami hingga badut-badut itu menghindari pertarungan dengan cara melompat, lantas menyerang kelompok yang lemah! Kami berbela sungkawa untuk kerbau yang telah mati! Tapi kematian mereka tak sia-sia. Sebab mereka adalah saksi sejati!" Seekor tikus berdiri di atas kepala gajah sambil berkacak pinggang.

"Sesungguhnya kami bersaksi bahwa singa-singa itu berlari menjauhi tikus tatkala kita semua telah pergi," Zebra menimpali.

Binatang-binatang yang hadir bersorak sorai kemudian mengangkat tikus sebagai panutan dan pemimpin mereka. Kawanan monyet memilih sibuk bercinta saja di dahan-dahan pohon sebelum kemudian kawanan tikus membubarkan pertemuan dan memerintahkan kawanan zebra untuk tetap tinggal.

"Sesungguhnya zebra adalah kaum yang pintar, sebab tahu harus memihak siapa! Balas budi apa gerangan yang kau harapkan wahai zebra?"

"Wahai tikus yang pintar lagi pandai memanfaatkan situasi. Wahai tikus yang telah pula menjadi panutan segala binatang. Perintahkanlah setiap golongan binatang yang besar dan berdaging kecuali golongan kami untuk menyerang singa secara bergantian. Agar singa-singa perkasa itu senantiasa dalam keadaan kenyang, hingga kami tak perlu lagi berletih-letih lari menyelamatkan diri," ujar kawanan zebra sambil memamah biak dengan penuh penghayatan.

"Wahai zebra, sungguh mulia permintaanmu itu. Dan hari ini, kita saling menyaksikan, bahwa kepentingan adalah jembatan atas persaudaraan dan persatuan!" Kawanan tikus menari-nari ditingkahi monyet yang terus bercinta di atas dahan-dahan pohon.

***

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Leave a Comment

Baca Juga

Di padang rumput yang sudah tidak ada lagi rumputnya, semenjak rumput-rumput di padang itu memutuskan bosan diinjak-injak kawanan binatang, berlarilah segerombolan singa dalam bentuk “formasi berburu”, mengejar gerombolan zebra yang lari terbirit-birit.

Di antara zebra dan singa yang masih tertinggal cukup jauh di belakang, terlihat lima ekor tikus menghadap ke arah gerombolan singa.

Tikus-tikus itu didera ketakutan yang teramat sangat. Mereka seolah lumpuh hingga berlari menghindar saja, tak lagi kuasa. Tikus-tikus itu meyakini bahwa; inilah hari terakhir untuk bisa memakan apa saja.

Di puncak ketakutannya, tikus memekik-mekik penuh marah, penuh benci. Tikus-tikus itu menyeringai, gigi-giginya yang kecil tapi tajam benar-benar menunjukkan tanda permusuhan yang nyata. Sementara kumisnya yang bergerak-gerak liar, tak mampu menyembunyikan rasa takut. Lima ekor tikus ngompol seketika.

Gerombolan singa semakin mendekat, menjadi lebih dekat, lebih dekat lagi hingga tak berjarak. Kemudian melompati kawanan tikus, yang semakin keras pekikannya itu.

Ketika gerombolan singa hilang dari pandang, tikus-tikus itu saling menatap. Memalingkan pandang ke arah singa yang berlari menjauh. Kawanan tikus tertawa bangga. Begitu puas begitu lepas.

"Ternyata legenda auman singa tidak ada apa-apanya! Lihatlah, singa-singa itu lari terbirit-birit mendengar pekikan kita yang perkasa! Sesungguhnya, kita lebih hebat daripada mereka!" ujar salah seekor tikus pada kawannya yang mengangguk-angguk.

Tikus-tikus itu pun kemudian menggelar pertemuan. Mengundang seluruh binatang penghuni hutan, kecuali singa tentunya.

Lima ekor tikus itu lantas menceritakan perihal keberanian mereka melawan singa. Tentu saja soal betapa pekikan sakti mereka telah mengalahkan singa diceritakan berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, berulang-ulang, benar-benar berulang-ulang.

"Dua ekor singa terkapar tak bernyawa akibat terjangan gigi-gigi kami, setelah singa-singa itu lumpuh demi mendengar “auman” kami sebelumnya!" Seekor tikus berdiri di atas kepala gajah, sambil berkacak pinggang.

Mendengar cerita tikus itu, hampir seluruh kerumunan binatang terbelah pandang, sebahagian mempercayai, sebahagian lain meragukannya. Sementara zebra, menunggu saat yang tepat untuk bersaksi.

Tampak dari atas pohon, kawanan monyet mengernyitkan keningnya. "Oiiii, tikus! Sesungguhnya kau telah menyampaikan fitnah," ujar kawanan monyet sahut menyahut sambil menggaruk pantat.

"Oiii, monyet! Bukankah pernyataanmu itu adalah bentuk sebenar-benarnya fitnah! Bukankah kami yang mengalami peristiwa itu! Sementara kalian, mungkin sedang bercinta di atas pohon pada saat pertempuran sengit itu berlangsung!"

"Oiii, tikus! Pernyataanmu barusan adalah fitnah yang keji!"

"Oiii, monyet! Bukankah ketika kau menyatakan kami memfitnah pada dasarnya itu adalah fitnah yang kau sematkan pada kami."

Begitulah perdebatan tikus dan monyet berlanjut, selanjutnya dan selanjutnya dan masih berlanjut seterusnya hingga akhirnya kawanan zebra memutuskan untuk bersendawa.

"Begini saja. Kami memang berada pada tempat kejadian, dan pada saat kejadian itu kami tidak melihat seekor singa pun. Sebab gerombolan kami ketika itu sedang asyik lomba lari untuk melihat siapa yang lebih cepat di antara kami. Tetapi kami sedikit banyaknya memercayai cerita tikus-tikus ini. Bagaimana kalau kita buktikan saja! Kami berharap, para kerbau mau menjadi saksi dalam pembuktian ini. Untuk membuktikan cerita tikus-tikus ini, kita cukup pergi ke sarang singa! Kawanan tikus harus berada di barisan paling depan, sebab merekalah yang akan berhadap-hadapan langsung dengan singa-singa lapar itu. Sementara kawanan kerbau sebagai saksi harus tepat berada di belakang barisan tikus! Yang lain, silakan berada pada jarak yang disukainya!"

Kerbau yang merasa mendapat peran penting langsung saja menyanggupi sambil tetap memamah biak dengan penuh penghayatan.

Kawanan binatang itu pun berbondong-bondonglah menuju sarang singa yang ketika itu tengah mengevaluasi sebab musabab kenapa berulang kali zebra lepas dari gigitan. Di tengah perdebatan, kawanan singa sedikit terusik dengan suara-suara yang menggelikan.

Barisan tikus di depan mencicit-cicit yakin ke sarang singa. Di barisan kedua, kawanan kerbau menatap singa sambil tetap memamah biak dengan penuh penghayatan. Kawanan binatang lainnya mengatur jarak sejauh mungkin.

Pandangan singa-singa lapar itu, sontak terfokus pada barisan kerbau yang gemuk nan sintal. Liur singa menuntut. Singa-singa itu kemudian melompat. Tikus terus mencicit-cicit.

Dari kejauhan, kawanan binatang lainnya menyaksikan singa yang melompati kawanan tikus lalu menyerang kawanan kerbau.

Kawanan kerbau terkejut. Pemimpin barisan kerbau berupaya melawan. Satu tanduknya yang panjang nan tajam berhasil melukai singa. Sementara dua ekor dari kawanan kerbau roboh sudah. Barisan kerbau pun lari kalang kabut sambil tetap memamah biak dengan penuh penghayatan hingga habis satu persatu roboh diterkam.

Menyaksikan kejadian itu, kawanan binatang lainnya turut tunggang langgang sambil mensyukuri hidup yang penuh dengan keselamatan.

Gerombolan semua binatang itu pun kembali berkumpul di tempat semula. Pertanyaan menandak-nandak di dalam kepala mereka sambil terus mensyukuri hidup yang penuh dengan keselamatan.

"Kalian telah menyaksikan, betapa singa takut kepada kami hingga badut-badut itu menghindari pertarungan dengan cara melompat, lantas menyerang kelompok yang lemah! Kami berbela sungkawa untuk kerbau yang telah mati! Tapi kematian mereka tak sia-sia. Sebab mereka adalah saksi sejati!" Seekor tikus berdiri di atas kepala gajah sambil berkacak pinggang.

"Sesungguhnya kami bersaksi bahwa singa-singa itu berlari menjauhi tikus tatkala kita semua telah pergi," Zebra menimpali.

Binatang-binatang yang hadir bersorak sorai kemudian mengangkat tikus sebagai panutan dan pemimpin mereka. Kawanan monyet memilih sibuk bercinta saja di dahan-dahan pohon sebelum kemudian kawanan tikus membubarkan pertemuan dan memerintahkan kawanan zebra untuk tetap tinggal.

"Sesungguhnya zebra adalah kaum yang pintar, sebab tahu harus memihak siapa! Balas budi apa gerangan yang kau harapkan wahai zebra?"

"Wahai tikus yang pintar lagi pandai memanfaatkan situasi. Wahai tikus yang telah pula menjadi panutan segala binatang. Perintahkanlah setiap golongan binatang yang besar dan berdaging kecuali golongan kami untuk menyerang singa secara bergantian. Agar singa-singa perkasa itu senantiasa dalam keadaan kenyang, hingga kami tak perlu lagi berletih-letih lari menyelamatkan diri," ujar kawanan zebra sambil memamah biak dengan penuh penghayatan.

"Wahai zebra, sungguh mulia permintaanmu itu. Dan hari ini, kita saling menyaksikan, bahwa kepentingan adalah jembatan atas persaudaraan dan persatuan!" Kawanan tikus menari-nari ditingkahi monyet yang terus bercinta di atas dahan-dahan pohon.

***

 

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing

Leave a Comment

Baca Juga