FRANKY PANDANA (EMBUN ART ROOM): SENIMAN HARUS BANYAK BERKAWAN!

FRANKY PANDANA (EMBUN ART ROOM): SENIMAN HARUS BANYAK BERKAWAN!

Kenapa abang tertarik menjadi art collector sekaligus art dealer?

Awalnya itu karena saya merasa kurang cocok untuk berkarya, jadi saya memutuskan untuk mulai membeli karya. Nah, dari proses membeli itu otomatis saya juga mulai mengenal para senimannya. Kebetulan beberapa teman dan kenalan saya yang mau membeli meminta bantuan untuk bridging dengan seniman-seniman yang saya kenal tadi. Sejak itulah saya mulai berprofesi menjadi art collector sekaligus art dealer. Tapi, saya memulai karena senang saja mengoleksi; tidak ada cita-cita ingin menjadi kolektor atau dealer. Istilah-istilah ini saya terima dari kawan-kawan tadi lho.

Sejak kapan mengoleksi lukisan?

Sejak tahun 2004, saya mencari karya seniman Medan dan pertama itu saya membeli karya Alm. Panji Sutrisno. Kemudian, ada Pak Oncot, Pak Yos, Pak Syahruddin dan beberapa lainnya.

Bagaimana caranya waktu itu mendekati seniman-seniman untuk mengoleksi karya mereka?

Gini ya. Tidak banyak yang membeli atau mengoleksi karya. Jadi, dulu ketika saya membeli biasanya si seniman itu akan memberitahu ke teman-temannya. Misalnya waktu saya main ke Jogja biasanya mereka, seniman Jogja, akan mengenalkan saya ke teman-temannya sesama seniman.

Seperti apa kategori suatu karya yang layak dikoleksi bagi Abang?

Saya senang menantang diri sendiri ketika ingin mengoleksi. Jadi, saya cenderung mencari karya yang lebih spontan, bersifat puitis dan ide-idenya menarik; tidak semata-mata menonjolkan keterampilan teknis.

Terus, apa yang Abang harapkan dengan semua koleksi Abang ini?

Saya pernah memamerkan koleksi saya di Cambridge City Square Medan. Terus saya juga pernah mengajak beberapa teman dari luar kota untuk melakukan pameran bersama-sama. Untuk ke depannya, saya sih berharap kota Medan punya satu museum seni dan saya bisa menyumbangkan koleksi saya untuk dipamerkan. Intinya teruslah berbagi keindahan ini dengan masyarakat. Kepuasan berkesenian seperti mengajar; bernilai edukasi, kan? Bukan kepuasan seperti “Nih! Lukisan mahal.” Bukan memamerkan kekayaan! Tapi “Ini indah, lho!” Analoginya, seperti saya menanam bunga terus ketika ia mekar semua orang bisa ikut menikmati.

Cerita dululah, Bang! Kenapa bikin Embun Art Room buat Medan?

Awal mulanya karena saya belum menemukan galeri yang memadai di kota Medan. Kota kita ini kan kering sekali dengan situs budaya. Ya, kita punya Taman Budaya tapi lihatlah bagaimana situasi ruangan pamerannya. Beberapa seniman kita di sini juga sedikit antipati dengan seniman lain (mungkin saya salah, tapi itulah pandangan saya). Nah, jadinya saya berinisiatif untuk menjembatani kebutuhan tersebut sekaligus ikut bermain di kancah seni rupa Medan. Galeri ini bahkan tanpa profit dan saya menyediakan khusus satu gedung untuk itu. Selain sebagai ruang pameran, tempat ini juga memiliki perpustakaan kecil dan ruang inap buat seniman. Sebelumnya, namanya adalah Embun Art House tapi karena saya merasa terlalu banyak memakan energi, maka saya ubah menjadi Embun Art Room sejak 2013 lalu. Sekarang, Embun Art Room hanya menggunakan satu lantai. Biarpun lebih kecil tapi kita udah berhasil mendatangkan Mella Jaarsma dan Adit Nindityo, bahkan alm. S Teddy D ke tempat ini.

Apa pameran yang paling berkesan yang pernah diadakan di Embun?

Semua pameran yang saya kerjakan itu berkesan. Tapi bagi saya, Pameran S Teddy D itulah yang sangat berkesan. Karena pada waktu itu, sesaat sebelum mempersiapkan pameran di Embun, beliau baru saja selesai operasi besar di Singapura. Setelah itu beliau melanjutkan pameran di galeri Nadi, Jakarta. Tidak lama setelah itu, beliau pun meninggal. Pamerannya berjudul “I.C.U” karena karya yang dipamerkan berangkat dari pengalamannya ketika dirawat di ruang ICU.

 

Sejauh yang saya perhatikan, kenapa Embun Art Room jarang memamerkan karya seniman kota Medan?

Saya masih bertanya-tanya apa benar setiap orang yang berkarya atau berkesenian di kota Medan akan tetap menjadi seorang seniman? Setiap pameran yang saya adakan seharusnya mampu saya pertanggungjawabkan termasuk kesenimanan dari si seniman tersebut. Misalnya, Jonson Pasaribu yang berpameran di Embun pada tahun 2014 silam. Saya melihat bahwa dia itu telah banyak memberikan dirinya untuk seni bahkan dia mengorbankan pekerjaannya pada saat itu. Saya yakin tidak semua orang berani melakukan itu, termasuk saya sendiri. Selain itu saya melihat banyak seniman Medan yang hanya heboh-hebohan. Banyak unsur selebritasnya. Bagi saya, menilai seorang seniman itu karena dia punya nalar, pengalaman estetika yang bagus dan pemikiran yang dalam. Sampai sekarang saya belum menemukan. Mungkin ada tapi belum kelihatan.

Bagaimana dengan awal ketertarikan Abang dengan dunia seni rupa?

Saya terinspirasi ketika kelas 6 SD yaitu ketika menonton siaran pameran Affandi di TVRI. Saya melihat cara dia melukis. Tapi setelah itu saya lebih banyak tertarik dengan seni barat seperti Picasso. Kemudian saya melihat pameran Phillip Morris yang diadakan oleh Rumah Seni Rajawali di Medan. Wah, saya tercengang! Disitu sangat bagus sekali ketika melihat karya seniman-seniman Indonesia; sangat modern sekali dan sangat sesuai jiwa saya. Dan satu lagi yang bikin saya tergila-gila dengan seni rupa Indonesia adalah buku “Exploring Modern Indonesian Art” oleh Pak Hong Jin.

Apa pernah belajar melukis juga?

Pernah, sewaktu masih SMP. Setelah satu bulan, menurut gurunya saya dinilai sudah bisa. Setelah menikah, saya belajar lagi karena sudah lama absen. Ketika belajar, saya banyak melakukan studi karya-karya seni barat seperti Picasso. Saya juga pernah meng-copy lukisan Van Gogh, tapi sayang sekali saya ngga dapat ‘soul’ nya. Untuk melatih tangan, terutama ‘garis’ itu, saya sering meng-copy dari buku-buku seni yang saya beli. Jadi, kalau bisa dibilang dari proses belajar tersebut, saya sangat berusaha untuk menemukan diri saya. Bahkan sampai sekarang saya masih sering membuat drawing. Seperti sekarang, saya sedang menyiapkan 50 gambar dalam satu buku setelah kemarin itu saya baru menyelesaikan project ‘desk project’ dalam bentuk kolase.

Mungkin ngga sih usia juga mempengaruhi cara menggambar?

Ah, pengalaman mungkin iya, bukan usia, kan masanya berbeda-beda. Misalnya dulu mungkin karya saya lebih gloomy, darkside, pemarah tapi kalo sekarang lebih tenang dan gak dibuat-buat. Haha.

Terasa ngga kalau drawing Abang ini kelihatan seperti dikerjakan oleh orang dengan usia yang lebih muda atau tepatnya anak muda?

Banyak yang bilang seperti itu sih. Ya, saya lagi kepingin gini. Mungkin besok cuma blok-blok warna saja, siapa yang tahu?
Yang penting tidak dibuat-buat. Jangan! Beberapa sketsa saya yang kamu lihat mungkin menunjukkan kalau saya sedang membuat diri saya menjadi orang lain. Bagi saya, ini semua hanya penting untuk latihan. Inilah usaha saya dalam mencari. Kamu tidak akan tahu sebelum kamu mulai mengerjakan. Buat saya begitu.

Bang Franky setuju kalau disebut seniman juga?

Ya, saya beruntung pernah beberapa kali diajak berpameran. Tapi untuk predikat sebagai seniman, selain punya kebanggaan ada juga punya rasa malu. Saya ini belum orisinil dan belum begitu total sebagai seniman.

Bang, apa yang membuat seorang individu menjadi seorang seniman?

Konsistensi. Misalnya saya yang takut disebut seniman karena saya takut bulan depan ketika banyak kerjaan saya jadi tidak berkesenian. Konsistensi sebagai seniman dan konsistensi kepada kesenian itu sendiri. Saya malu kalau berkaca pada kawan-kawan seniman di Jogja seperti Ugo dan Heri Dono yang sangat total masuk dalam kesenian.

Akhir-akhir ini kan, Bang, predikat “seniman” ini semaking gampang digunakan oleh siapa saja bahkan sering dipakai sesuka hati.

Saya sangat menghindari itu.

Tanggapan abang untuk seni rupa kota Medan hari ini?

Saya prihatinlah. Tidak banyak kegiatan seni rupa di sini dan saya tidak banyak ketemu seniman muda juga. Seperti tulisan seputar seni rupa di koran Analisa juga menurut saya hanya terjemahan kutipan-kutipan dari internet dan tidak relevan lagi dengan masa ini.

Menurut abang apa yang membuat kondisi seni rupa disini terasa stagnan? Ada masalah apa ini, Bang?

Buat saya, setiap kota harus mampu membangun keseniannya sendiri. Jadi jangan bicara karena disini kota niaga jadi melupakan kesenian itu. Kalau dibilang mati, kan seni ini bukan manusia. Mungkin matinya sejenak dan bisa hidup lagi dengan lebih bergelora. Masalahnya adalah para pelaku seni di kota Medan, sadar tidak mereka punya kewajiban untuk menghidupkan ini? Tidak bisa dikerjakan satu orang, harus berbarengan. Kita susah gini karena kita punya karakter malas untuk mau belajar dari orang lain. Merasa “Ah, gini saja udah bisa diterima kok kenapa harus lebih?” Kita tidak punya standart dan taste yang dikembangkan.

5 Seniman Indonesia yang penting untuk diperhatikan?

1. S. Sudjojono
2. Ugo Untoro
3. Mella Jaarsma
4. Heri Dono
5. Melati Suryodarmo

Terakhir nih. Pesan Abang untuk seni rupa kota Medan?

Malas dan menutup diri itulah akar masalah kita. Jadi harus mau belajar dari orang lain atau guru yang tepat, tingkatkan taste, datang ke pameran dan banyak-banyak melihat. Hidupi senimu sebelum seni itu menghidupi dirimu.

*Foto diambil oleh Leo Sihombing

Share this post

Recent post