Degil Zine

ORANG-ORANG selalu melihat Pak Jhon berkeliaran di sekitar restoran Asrama Perwira yang baru beberapa bulan ini berdiri; ia berlari ke sana ke mari seraya merentangkan kedua tangannya yang ceking. Pada pukul sepuluh malam, Pak Jhon lantas nongkrong di pinggir trotoar di samping restoran itu. Satu jam kemudian ia akan merentangkan kembali kedua tangannya, berlari kembali dan hilang di pengkolan jalan. Mulutnya yang selalu mencuit-cuit tak keruan itu membuat orang-orang sepakat bahwa Pak Jhon menganggap dirinya adalah seekor burung.

Para pelayan restoran Asrama Perwira tahu benar bahwa orang tua itu sudah miring. Meskipun begitu, mereka sepakat untuk membiarkannya saja, toh Pak Jhon tak pernah mengganggu orang-orang yang melintas, juga para pelanggan restoran. Bahkan, para pelayan merasa terhibur setelah seharian menghadapi para pelanggan yang seringkali bertindak seenak udelnya. Mereka, para pelayan itu, berasal dari desa-desa yang berbeda di pulau Jawa, sama sekali tak kenal antara yang satu dengan yang lainnya, hingga bingung bagaimana cara mengakrabi diri. Obrolan mengenai Pak Jhon menjadi awal dari pergaulan mereka.
"Cocoknya Pak Jhon itu jadi burung apa, ya?"
"Pipit kali, ya?"
"Ngga cocok, ah. Gimana kalau kakak tua?"
"Ah, warnanya kurang banyak. Cocoknya sih bangau!"
"Atau burung kuntul! Lihat itu, botaknya mirip!"
"Tapi coba kalian perhatikan baik-baik. Sepertinya Pak Jhon itu bahagia sekali, ya. Seperti tak ada masalah saja dalam hidupnya."
"Ya, jelaslah! Namanya wong edan!"
Pertama kali mereka melihat Pak Jhon pada peresmian restoran Asrama Perwira yang diadakan bersamaan dengan perayaan 17 Agustus. Setelah itu, mereka hanya tahu bahwa tak sehari pun Pak Jhon amnesia menjelma seekor burung. Terkadang, para pelayan itu merasa cemburu juga. Betapa santainya hidup seperti orang tua itu, pikir mereka. Namun mereka hanya ingin enaknya saja, tak mau pula mereka ikut gila sepertinya.
"Hei, lihat itu! Pak Jhon lagi bicara sama pohon!"
"Enak betul ya, kalau beneran bisa bicara sama pohon."
"Enak gimana?"
"Ya, enak dong. Pohon itu jujur, ndak seperti kita, manusia ini. Toh pohon-pohon itu ndak punya kepentingan apa-apa untuk tidak jujur."
"Ah, sok tahu kowe! Lagakmu sok politikus!"
"Lihat, lihat. Sekarang Pak Jhon lagi melamun."
"Menurut kalian nih, ya. Pak Jhon itu lagi mikirin apa sih? Kan dia gila. Emang orang gila bisa berpikir, gitu?"
"Ya, bisa dong. Dia kan menganggap dirinya seekor burung. Berarti Pak Jhon berpikir seperti apa yang seekor burung sedang pikirkan. Dan aku kira, menjadi burung itu menyenangkan, lho!"
"Ah, sok tahu kamu. Emang kamu pernah jadi burung?"
"Kasihan juga tapi, ya. Pak Jhon ingin bebas merdeka. Kan cuma burung yang bebas merdeka di dunia ini, bisa pergi ke mana pun ia mau, makan apa yang disediakan alam, dan tak ada yang memburunya untuk dimusnahkan. Semoga usianya tak panjang, ya. Biar dia cepat mati dan mendapatkan kemerdekaannya yang hakiki."
"Alah, alah. Sok filosofis kamu, lagakmu udah mirip orang-orang sinting di ILC itu saja! Dengerin ya, dengan menjadi gila, Pak Jhon sudah meraih kemerdekaannya. Di negeri ini cuma dua hal yang bisa memerdekakan manusia. Ya, itu, gila atau mati!"
Para pelayan tertawa terkikik-kikik. Salah seorang dari mereka mengalihkan perhatian dengan mengomentari berita di TV. Dengan ke-sok-tahuannya, pelayan berkepala plontos itu ngotot bahwa sang jenderal yang harus bertanggungjawab atas hilangnya para aktivis di tahun '98. Tak ada satu pun yang berselera untuk menanggapi si plontos. Si plontos meneruskan bicaranya, tak peduli apakah rekan-rekannya masih mendengarkan atau tidak.
"Lihat. Kalian lihat? Prajurit-prajurit yang disidang itu adalah contoh betapa tidak merdekanya negara ini. Mereka kan bawahan, hanya menerima perintah dari atasan. Kenapa malah mereka yang disalahkan? Dengar. Hanya orang gila yang mau disuruh membunuh! Yang benar saja, masa orang gila dibawa ke pengadilan!"
Ia terus saja menjelaskan pemahamannya mengenai orang gila, disahuti angin dan dijawab oleh pembaca berita yang molek, bahwa para prajurit itu "memerdekakan" diri mereka saat melakukan penculikan. Itulah sebabnya maka sang jenderal lepas dari tanggung jawab. Sedang yang lain tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Dalam hati, walaupun enggan untuk menanggapi, mereka semua menyetujui pendapat si plontos. Hanya saja, mereka sepertinya memang tak berminat dengan cerita-cerita yang hanya bisa membikin syaraf menjadi tegang. Mereka hanya ingin waktu istirahat ini dihabiskan dengan obrolan-obrolan receh dan menyegarkan. Dan, sepertinya, hanya soal mengenai Pak Jhon sajalah yang bisa menyenangkan hati mereka semua.
Malam semakin larut dan restoran Asrama Perwira sudah sedari tadi ditinggalkan oleh para pelanggannya. Para pelayan mulai bubar satu per satu, meninggalkan si plontos di sini, dan Pak Jhon yang masih berjongkok di atas trotoar di sana.
***

PADA suatu malam di awal bulan Oktober, restoran Asrama Perwira kedatangan satu rombongan keluarga yang tampak harmonis sekali. Kepala keluarganya berdasi, dengan kemeja licin berwarna biru langit. Istrinya gemuk dan kelihatan sangat bahagia. Senyumnya lebar, mengerling ke segala arah, seperti burung merak yang jumawa akan keindahan bulu-bulunya. Anaknya dua, sepasang, yang tampaknya sedang seru membicarakan teman-teman sekolah mereka. Tak lama mereka duduk, sang suami dan sang istri terlibat perdebatan yang seru.
"Kalau amangku itu sembuh, tak akan lagi ia merasa bahagia. Di pikiran warasnya itu, dunia ini sudah gila. Biarkan sajalah dia merasa waras di kegilaannya sendiri."
"Pikirkan lagilah, Bang. Apa kata orang-orang nanti?"
"Pukimaklah sama orang-orang! Yang penting amangku bahagia!"
"Bahagia cemana pula?"
"Lah, kau lihat sendiri. Coba lihat. Bahagia tidak?"
Jari telunjuk sang suami terus-menerus menunjuk ke arah luar, sedang sang istri menghindari pandang sang suami dengan bibir yang dimonyong-monyongkan. Dan, kedua anak mereka masih terus mengobrol soal teman-teman sekolahnya.
"Lae, saya pesan kopi pahit. Tolong kasikan ke bapak saya di luar sana," tunjuk si kepala keluarga ke arah pintu restoran. Salah seorang pelayan restoran yang paling muda segera berlari ke arah dapur. Sebentar kemudian ia tampak membawa nampah dengan secangkir kopi hitam di atas tangan kanannya. Ia berjalan melenggang dengan gaya yang aduhai, melenggak-lenggok menuju ke arah pintu restoran. Di luar restoran, pelayan itu tampak bingung. Meletakkan nampah di meja kasir lalu berbalik ke meja rombongan keluarga yang harmonis sekali itu.
"Permisi, Bapak. Kopinya mau di antar ke mana, ya?"
Si kepala keluarga melirik tajam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menjawab dengan ketus; "Bapakku yang di luar sana, Lae. Yang duduk di atas trotoar!"
Si pelayan muda terhenyak seketika. Ia melongo tak percaya. Begitupun para pelayan lain yang sedang membereskan meja-meja yang telah kosong. Si pelayan muda segera menganggukkan kepalanya seraya berlari ke arah kasir. Ia Melirik rekan-rekannya yang juga melirik ke arahnya, lantas berjalan keluar restoran.
Begitulah. Sejak malam itu, tahulah para pelayan itu siapa Pak Jhon sesungguhnya. Dari informasi yang coba dikumpulkan melalui para pelanggan restoran, si pelayan muda menjelaskan pada rekan-rekannya dengan antusias yang berlebihan.
"Pak Jhon itu bekas seorang tentara, loh! Entahlah pangkat terakhirnya apa. Yang pasti, ia merasa bahwa dirinya seekor burung semenjak Pak Harto lengser ke prabon!"
"Wah! Sudah lama berarti, ya!"
"Heran juga. Tentara kok bisa gila, ya?"
"Ya, bisa saja. Siapa pun bisa jadi gila di negeri ini. Bahkan kita pun sebenarnya gila, tho? Gila kerja!"
"Terus? Kok anaknya tega banget, ya?"
"Tega gimana?"
"Ya, itu. Membiarkan Pak Jhon seperti itu. Dibawa ke rumah sakit jiwa gitu dong."
"Iya, juga, ya. Apa anaknya itu juga sudah gila, ya?"
Percakapan mereka baru berakhir setelah restoran Asrama Perwira tutup pada pukul 1 dini hari. Setelah itu mereka akan bubar satu per satu, masuk ke dalam kamar-kamar yang sempit dan terlupa sama sekali pada Pak Jhon dan segala kegilaan yang baru saja mereka perbincangkan. Sebab kegilaan terlalu gila untuk dipikirkan secara serius.
***

 

*Ilustrasi cover oleh Aga Depresi

Leave a Comment

Baca Juga

ORANG-ORANG selalu melihat Pak Jhon berkeliaran di sekitar restoran Asrama Perwira yang baru beberapa bulan ini berdiri; ia berlari ke sana ke mari seraya merentangkan kedua tangannya yang ceking. Pada pukul sepuluh malam, Pak Jhon lantas nongkrong di pinggir trotoar di samping restoran itu. Satu jam kemudian ia akan merentangkan kembali kedua tangannya, berlari kembali dan hilang di pengkolan jalan. Mulutnya yang selalu mencuit-cuit tak keruan itu membuat orang-orang sepakat bahwa Pak Jhon menganggap dirinya adalah seekor burung.

Para pelayan restoran Asrama Perwira tahu benar bahwa orang tua itu sudah miring. Meskipun begitu, mereka sepakat untuk membiarkannya saja, toh Pak Jhon tak pernah mengganggu orang-orang yang melintas, juga para pelanggan restoran. Bahkan, para pelayan merasa terhibur setelah seharian menghadapi para pelanggan yang seringkali bertindak seenak udelnya. Mereka, para pelayan itu, berasal dari desa-desa yang berbeda di pulau Jawa, sama sekali tak kenal antara yang satu dengan yang lainnya, hingga bingung bagaimana cara mengakrabi diri. Obrolan mengenai Pak Jhon menjadi awal dari pergaulan mereka.
"Cocoknya Pak Jhon itu jadi burung apa, ya?"
"Pipit kali, ya?"
"Ngga cocok, ah. Gimana kalau kakak tua?"
"Ah, warnanya kurang banyak. Cocoknya sih bangau!"
"Atau burung kuntul! Lihat itu, botaknya mirip!"
"Tapi coba kalian perhatikan baik-baik. Sepertinya Pak Jhon itu bahagia sekali, ya. Seperti tak ada masalah saja dalam hidupnya."
"Ya, jelaslah! Namanya wong edan!"
Pertama kali mereka melihat Pak Jhon pada peresmian restoran Asrama Perwira yang diadakan bersamaan dengan perayaan 17 Agustus. Setelah itu, mereka hanya tahu bahwa tak sehari pun Pak Jhon amnesia menjelma seekor burung. Terkadang, para pelayan itu merasa cemburu juga. Betapa santainya hidup seperti orang tua itu, pikir mereka. Namun mereka hanya ingin enaknya saja, tak mau pula mereka ikut gila sepertinya.
"Hei, lihat itu! Pak Jhon lagi bicara sama pohon!"
"Enak betul ya, kalau beneran bisa bicara sama pohon."
"Enak gimana?"
"Ya, enak dong. Pohon itu jujur, ndak seperti kita, manusia ini. Toh pohon-pohon itu ndak punya kepentingan apa-apa untuk tidak jujur."
"Ah, sok tahu kowe! Lagakmu sok politikus!"
"Lihat, lihat. Sekarang Pak Jhon lagi melamun."
"Menurut kalian nih, ya. Pak Jhon itu lagi mikirin apa sih? Kan dia gila. Emang orang gila bisa berpikir, gitu?"
"Ya, bisa dong. Dia kan menganggap dirinya seekor burung. Berarti Pak Jhon berpikir seperti apa yang seekor burung sedang pikirkan. Dan aku kira, menjadi burung itu menyenangkan, lho!"
"Ah, sok tahu kamu. Emang kamu pernah jadi burung?"
"Kasihan juga tapi, ya. Pak Jhon ingin bebas merdeka. Kan cuma burung yang bebas merdeka di dunia ini, bisa pergi ke mana pun ia mau, makan apa yang disediakan alam, dan tak ada yang memburunya untuk dimusnahkan. Semoga usianya tak panjang, ya. Biar dia cepat mati dan mendapatkan kemerdekaannya yang hakiki."
"Alah, alah. Sok filosofis kamu, lagakmu udah mirip orang-orang sinting di ILC itu saja! Dengerin ya, dengan menjadi gila, Pak Jhon sudah meraih kemerdekaannya. Di negeri ini cuma dua hal yang bisa memerdekakan manusia. Ya, itu, gila atau mati!"
Para pelayan tertawa terkikik-kikik. Salah seorang dari mereka mengalihkan perhatian dengan mengomentari berita di TV. Dengan ke-sok-tahuannya, pelayan berkepala plontos itu ngotot bahwa sang jenderal yang harus bertanggungjawab atas hilangnya para aktivis di tahun '98. Tak ada satu pun yang berselera untuk menanggapi si plontos. Si plontos meneruskan bicaranya, tak peduli apakah rekan-rekannya masih mendengarkan atau tidak.
"Lihat. Kalian lihat? Prajurit-prajurit yang disidang itu adalah contoh betapa tidak merdekanya negara ini. Mereka kan bawahan, hanya menerima perintah dari atasan. Kenapa malah mereka yang disalahkan? Dengar. Hanya orang gila yang mau disuruh membunuh! Yang benar saja, masa orang gila dibawa ke pengadilan!"
Ia terus saja menjelaskan pemahamannya mengenai orang gila, disahuti angin dan dijawab oleh pembaca berita yang molek, bahwa para prajurit itu "memerdekakan" diri mereka saat melakukan penculikan. Itulah sebabnya maka sang jenderal lepas dari tanggung jawab. Sedang yang lain tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Dalam hati, walaupun enggan untuk menanggapi, mereka semua menyetujui pendapat si plontos. Hanya saja, mereka sepertinya memang tak berminat dengan cerita-cerita yang hanya bisa membikin syaraf menjadi tegang. Mereka hanya ingin waktu istirahat ini dihabiskan dengan obrolan-obrolan receh dan menyegarkan. Dan, sepertinya, hanya soal mengenai Pak Jhon sajalah yang bisa menyenangkan hati mereka semua.
Malam semakin larut dan restoran Asrama Perwira sudah sedari tadi ditinggalkan oleh para pelanggannya. Para pelayan mulai bubar satu per satu, meninggalkan si plontos di sini, dan Pak Jhon yang masih berjongkok di atas trotoar di sana.
***

PADA suatu malam di awal bulan Oktober, restoran Asrama Perwira kedatangan satu rombongan keluarga yang tampak harmonis sekali. Kepala keluarganya berdasi, dengan kemeja licin berwarna biru langit. Istrinya gemuk dan kelihatan sangat bahagia. Senyumnya lebar, mengerling ke segala arah, seperti burung merak yang jumawa akan keindahan bulu-bulunya. Anaknya dua, sepasang, yang tampaknya sedang seru membicarakan teman-teman sekolah mereka. Tak lama mereka duduk, sang suami dan sang istri terlibat perdebatan yang seru.
"Kalau amangku itu sembuh, tak akan lagi ia merasa bahagia. Di pikiran warasnya itu, dunia ini sudah gila. Biarkan sajalah dia merasa waras di kegilaannya sendiri."
"Pikirkan lagilah, Bang. Apa kata orang-orang nanti?"
"Pukimaklah sama orang-orang! Yang penting amangku bahagia!"
"Bahagia cemana pula?"
"Lah, kau lihat sendiri. Coba lihat. Bahagia tidak?"
Jari telunjuk sang suami terus-menerus menunjuk ke arah luar, sedang sang istri menghindari pandang sang suami dengan bibir yang dimonyong-monyongkan. Dan, kedua anak mereka masih terus mengobrol soal teman-teman sekolahnya.
"Lae, saya pesan kopi pahit. Tolong kasikan ke bapak saya di luar sana," tunjuk si kepala keluarga ke arah pintu restoran. Salah seorang pelayan restoran yang paling muda segera berlari ke arah dapur. Sebentar kemudian ia tampak membawa nampah dengan secangkir kopi hitam di atas tangan kanannya. Ia berjalan melenggang dengan gaya yang aduhai, melenggak-lenggok menuju ke arah pintu restoran. Di luar restoran, pelayan itu tampak bingung. Meletakkan nampah di meja kasir lalu berbalik ke meja rombongan keluarga yang harmonis sekali itu.
"Permisi, Bapak. Kopinya mau di antar ke mana, ya?"
Si kepala keluarga melirik tajam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menjawab dengan ketus; "Bapakku yang di luar sana, Lae. Yang duduk di atas trotoar!"
Si pelayan muda terhenyak seketika. Ia melongo tak percaya. Begitupun para pelayan lain yang sedang membereskan meja-meja yang telah kosong. Si pelayan muda segera menganggukkan kepalanya seraya berlari ke arah kasir. Ia Melirik rekan-rekannya yang juga melirik ke arahnya, lantas berjalan keluar restoran.
Begitulah. Sejak malam itu, tahulah para pelayan itu siapa Pak Jhon sesungguhnya. Dari informasi yang coba dikumpulkan melalui para pelanggan restoran, si pelayan muda menjelaskan pada rekan-rekannya dengan antusias yang berlebihan.
"Pak Jhon itu bekas seorang tentara, loh! Entahlah pangkat terakhirnya apa. Yang pasti, ia merasa bahwa dirinya seekor burung semenjak Pak Harto lengser ke prabon!"
"Wah! Sudah lama berarti, ya!"
"Heran juga. Tentara kok bisa gila, ya?"
"Ya, bisa saja. Siapa pun bisa jadi gila di negeri ini. Bahkan kita pun sebenarnya gila, tho? Gila kerja!"
"Terus? Kok anaknya tega banget, ya?"
"Tega gimana?"
"Ya, itu. Membiarkan Pak Jhon seperti itu. Dibawa ke rumah sakit jiwa gitu dong."
"Iya, juga, ya. Apa anaknya itu juga sudah gila, ya?"
Percakapan mereka baru berakhir setelah restoran Asrama Perwira tutup pada pukul 1 dini hari. Setelah itu mereka akan bubar satu per satu, masuk ke dalam kamar-kamar yang sempit dan terlupa sama sekali pada Pak Jhon dan segala kegilaan yang baru saja mereka perbincangkan. Sebab kegilaan terlalu gila untuk dipikirkan secara serius.
***

 

*Ilustrasi cover oleh Aga Depresi

Leave a Comment

Baca Juga