Degil Zine

AKU masih sangat hapal betul peristiwa malam itu. Malam ketiga di awal tahun enam puluh enam. Malam yang seluruh isi kampung penuh cemas dan sunyi. Anjing-anjing penjaga kampung sekalipun tak berani menggonggong lewat pukul tujuh malam. Beda hal dengan kerumunan kodok ijo di persawahan yang terus meminta hujan. Pohon dan semak merayakan bunyi paling sunyi. Angin juga sesekali ikut terlibat dalam hening.

Sejak meletusnya peristiwa berdarah akhir tahun lalu, ketakutan dan kecurigaan lalu lalang di pikiran kami. Waktu itu aku masih berusia sepuluh tahun. Dimana anak-anak seusiaku yang sebagian besar adalah anak-anak petani yang jarang mendapatkan pendidikan di sekolah rakyat ikut turut terjun ke sawah. Tetapi, aku salah satu orang yang beruntung.

Pamanku, adik paling bungsu dalam keluarga bapakku, seorang guru di kota. Meskipun ia seorang guru di kota dan merantau ke kota, ia tak sekali pun melupakan kampung kami. Tanah kelahirannya. Tanah buyutnya.

Dua kali dalam seminggu ia datang ke kampung. Mengajari anak-anak kampung membaca dan menulis. Setiap awal sore, sekira pukul tiga, sepeda kumbangnya sudah terparkir di halaman rumah kami. Lalu ibu menyeduhkan teh atau kopi dan beberapa potong ubi goreng yang diambil dari ladang. Berdatanganlah anak anak lainnya yang baru saja selesai membantu ibu bapaknya di sawah. Sebuah pondok bambu yang dibuat dari swadaya masyarakat kampung menjadi tempat belajar kami dalam dua kali seminggu.

Tiga jam menjadikan waktu kami untuk mengenali huruf-huruf, menyusunnya menjadi kalimat, membaca dan menuliskannya di buku yang dibelikan oleh Paman. Tidak banyak memang anak yang belajar dengan pamanku, tapi itu tidak menjadikan hati Paman mengecil dan putus asa. Ia pernah bertitah, "kalian-kalian inilah nantinya yang akan mengajarkan adik-adik kalian menulis dan membaca." Sejak saat itu, dalam benakku, aku bercita-cita menjadi seorang guru. Seseorang yang mengajari puluhan anak-anak membaca dan menulis. Menyelamatkan satu generasi dari garis kebodohan di kampungku. Paling tidak, itulah niatku saat ini. Kata Ibu, segala sesuatu harus dimulai dengan niat yang baik dan tulus agar Tuhan pun ikut meridhoi keinginan tersebut.

Dua tahun Paman menjadi guru bagi dua belas anak di kampung kami. Dua belas anak-anak seusiaku terselamatkan dari buta huruf. Bagi keluarga kami dan sebelas keluarga lainnya, Paman menjadi seorang pahlawan. Seperti seorang nabi yang datang membawa pencerahan bagi suatu kaum. Seorang Mesias di abad dua puluh. Kami pun sudah pandai membaca dan menulis. Paman sudah mulai membawakan koran untuk kami baca, untuk mengetahui apa-apa yang sedang terjadi, lalu aku membacanya dan memberitahukan setiap peristiwa yang tercatat di surat kabar kepada Bapak. Bapak selalu tersenyum ketika aku menjelaskan peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di negara ini. Kemudian Bapak melihat sawahnya kembali.

"Tahun ini memang tahun yang kurang baik," kata Bapak.

Berbulan-bulan kampung kami dilanda kemarau panjang. Biasanya, pertengahan tahun sudah terlihat tanda-tanda akan memasuki musim hujan, tapi lain halnya dengan tahun ini. Bapak memang seorang yang giat dalam bekerja. Belum lagi matahari terlalu tinggi membumbung, Bapak sudah berada di sawah. Mencangkul atau membajak sawah. Bapak salah satu anggota dari kelompok tani yang tujuannya untuk membangun koperasi para petani di kampung kami.

Harga bahan pangan sering naik, begitu pun harga gabah. Tengkulak-tengkulak sering memonopoli harga gabah, imbasnya terhadap petani yang terus didera ketimpangan. Beruntung Bapak salah satu anggota kelompok tani, kelompok yang mengelolah hasil panen dan menentukan harga padi sebelum diserobot para ijon.

Memasuki akhir bulan September tahun enam puluh lima, peristiwa besar terjadi di negeri kami. Siaran warta radio memberitakan telah terjadi kudeta yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisir dari sebuah partai, tujuannya untuk merebut kekuasaan.

"Tujuh Jenderal disiksa dan dibunuh, lalu dimasukan ke dalam sumur tua," begitu kata warta berita yang kami dengar di radio milik kepala kampung.

Banyak orang mengutuk keras tindakan kelompok yang membunuh para Jenderal dan ingin merebut kekuasaan. Kekacauan dan demonstrasi dimana-mana. Huru-hara terjadi di setiap daerah. Koran-koran ramai berita. Untuk terakhir kalinya, Paman datang dengan membawakan sepotong koran untuk kami baca sepekan setelah terjadinya peristiwa berdarah di ibu kota. Sejak saat itu, kabar pamanku raib dari kampung kami. Seperti ikut tenggelam bersama pusaran keadaan. Anak-anak di kampung sebagian merasa kehilangan sosok pahlawan dalam hidup mereka, tanpa terkecuali aku sendiri sebagai keponakannya.

Sejak tragedi yang terjadi di Jakarta, kampung kami semakin mencekam. Semakin pekat gelapnya malam. Meski kampung kami berada sangat jauh dari kota Jakarta, kampung kami juga turut mencekam. Semakin bising bunyi sunyi. Apa lagi sejak tersebar isu-isu miring tentang penculikan dan pembunuhan di beberapa tempat. Di segala sudut negeri ini semakin dilanda ketakutan dan kecurigaan. Rasa was-was dan curiga membuntuti tiap-tiap pasang bola mata dimana pun. Kami tak lagi memiliki rasa percaya pada siapa pun, karena di setiap detik apa saja bisa berubah. Beberapa detik yang lalu menjadi seorang teman, beberapa detik kemudian bisa menjadi seorang pembunuh. Mengerikan. Bumi kami seperti kehausan darah. Negeri kami terus meminta tumbal daging dan darah. Nyawa manusia tak ada bedanya dengan hewan buruan. Masing masing saling membunuh agar tidak dibunuh.

Mereka yang bersenjata dengan leluasa dan tanpa dosa membunuh yang tak berdaya.

Awal tahun enam puluh enam, minggu ketiga awal tahun, sebuah peristiwa yang akan selalu tinggal dalam ingatanku terjadi. Pukul delapan malam, angin berhembus pelan. Suara kodok minta hujan diam-diam merayap masuk kedalam lubang-lubang tepas rumah. Anjing-anjing penjaga kampung seperti memiliki firasat yang ganjil pada kampung kami. Mereka semua terlihat pucat dan hanya rebah di teras-teras rumah penduduk. Burung hantu tak bertamu malam itu. Konser keheningan melanda kampung.

Terdengar suara mesin, sebuah truk berhenti beberapa rumah dari rumah kami. Derap sepatu berlompatan ke tanah kering. Ibu mengintip dari balik tirai jendela. Sepasukan tentara mendobrak pintu rumah Pak Kosim. Tak lama pecahlah suara tangis dari rumahnya. Pak Kosim, teman bapakku di kelompok tani, dan anaknya yang baru saja menikah dimasukan ke dalam truk dengan tangan terikat. Lalu berpindahlah mereka ke rumah Pak Bahar, kepala kampung yang juga menjadi kepala kelompok tani. Ia disergap tak berdaya, lalu dicampakan bagai mayat binatang buruan ke dalam truk.

Malam semakin pekat warnanya. Bulan kian pucat di langit. Daun-daun terdiam di pohon. Ternak tak miliki nyali untuk bersuara. Memang setiap makluk memiliki insting. Begitu juga anjing-anjing kampung yang tak berani melolong. Yang terdengar hanyalah isak tangis dari para perempuan yang akan segera ditinggal suami untuk rentang waktu yang tak diketahui.

Bayi-bayi melolong menangis keras. Sebuah tembakan pecah di rumah Pak Khaidir. Pecah pula tangis istri dan anaknya. Ketakutan merajam kampung kami. Wajah ibu kian putih pucat. Ibu berlari ke kamar untuk berkemas, memindahkan pakaian-pakaian menjadi gembolan. Bapak terburu-buru menggantikan sarung dengan celana yang terpotong. Adikku paling kecil terbangun dan menangis. Aku mencoba mengintip ke luar jendela. Seorang diinterograsi.

"Mana yang lain?", bentak seorang tentara disusul dengan penyodokan gagang senapan ke dahi kepala Bang Mansur.

"Kalau kamu diam, kamu bisa mati saya tembak!"

Dengan satu pukulan di kepalanya, laki-laki itu rubuh jatuh pingsan. Tangannya diikat lalu tubuhnya dibawa masuk ke dalam truk.

Beberapa orang tentara berjalan menuju rumah kami. Aku berlari menghampiri ibu yang berkemas. Belum selesai ibu memasukan pakaian dan surat-surat, dobrakan pintu terdengar kencang. Seorang dengan suara keras memanggil nama Bapak. Suara dan derap sepatunya semakin mengencangkan tangis adikku. Bapak disergap waktu hendak membuka pintu belakang rumah. Sebuah pukulan datang ke dada Bapak yang kurus. Bapak terjatuh, tetapi tak pingsan. Bapak diseret keluar rumah. Kemudian sepasang tangannya diikat dengan tali. Bapak ikut dibawa ke dalam truk, beberapa orang yang lebih dulu di dalam truk dengan tubuh tanpa daya tertunduk. Ibu menangis dan memohon agar bapak tidak dibawa. Sia-sia. Ibu terjatuh di depan pintu. Matanya yang ditenggelamkan air mata mengikuti laju truk yang makin lama makin menghilang di kegelapan. Pecahlah suara tangis di kampung kami. Anjing-anjing penjaga mulai melolong. Raungnya memecah sunyi. Langit yang pucat baru saja meninggalkan kilat petir di angkasa. Asap truk, bau mesiu, dan amis darah menjadi bau busuk di hidung kami. Udara terasa sesak. Rongga dada kami begitu hampa. Tinggallah kami menunggu kabar, ataupun menanti berita duka.

Bertahun tahun setelah peristiwa itu. Aku tak mendapatkan kabar tentang Bapak. Sekalipun tidak. Begitu juga dengan Ibu. Juga teman-temannya yang ikut dibawa pergi. Ibu sudah pasrah dan rela pada kepergian Bapak. Baginya, hanya Tuhanlah yang tau di mana keberadaan Bapak sekarang ini. Tak ada sepucuk kabar pun datang setelah Bapak dibawa pergi. Hanya doa dan harapan yang membuat Ibu tetap bertahan hidup sampai sekarang. Walau setelah peristiwa malam itu, Ibu pulang kerumah kakek membawa aku dan kedua adikku. Ibu belajar mengubur peristiwa malam itu di hatinya yang paling dalam. Kata orang, rumah kami dibakar. Sawah kami digarap oleh orang asing. Entah bagaimana cara Ibu memendam duka abadinya. Yang aku tahu, senyum Ibu tidak seperti dulu lagi.

Aku mencoba melupakan itu semua. Ketika aku tumbuh dewasa. Marah dan dendam juga ikut ku kubur di bawah tumit kakiku. Aku meminta restu pada Ibu untuk pergi ke kota. Mencari pekerjaan. Mencari kehidupan yang barangkali tidak akan ditemukan di kampung ibuku. Dengan keterampilanku dalam hal menulis yang diajarkan oleh Paman, aku mendatangi sebuah perusahaan jawatan. Aku masuk ke dalam ruangan kepala jawatan. Amplop coklat yang berisi surat permohonan untuk bekerja aku serahkan. Kepala jawatan membuka dan membacanya. Kemudian matanya menodong mataku. Lama ia terdiam menatap kosong wajahku, kemudian diselingi dengan mengecek kembali daftar riwayat diriku. Aku terdiam. Aku tidak mengerti membaca isyarat tubuh orang lain. Lambat lambat terdengar suara keluar dari mulut kepala jawatan dengan mata yang masih menodongku.

"Kamu anak dari anggota PKI?"

Matanya menyalak. Menembakkan anak panah tepat di jantung. Mati seketika mesin di tubuhku. Aku terdiam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sebelum mulutku mengeluarkan kata-kata jawaban, tangan si kepala jawatan menuju ke arah pintu. Aku paham tentang isyarat satu ini, ia mengajukan aku untuk keluar dari ruangannya secepat mungkin. Aku takkan bisa lagi menjawab pertanyaan si kepala jawatan. Untuk sekarang ataupun di waktu berikutnya. Sebuah belati sudah ia tusukkan ke dadaku. Menembus langit biru di luar sana. Rasa sesak yang pernah datang beratus-ratus tahun lalu, datang kembali. Begitupun langkah kaki kaku yang ku seret keluar menuju senyum terakhir Bapak di malam penjemputan itu.

***

Medan, 02 Mei 2018.

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

1 thought on “PENJEMPUTAN TERAKHIR

  1. sebuah deskripsi sejarah yang menarik dengan kemasan narasi yang apik, mampu membuat aku mengenang peristiwa demi peristiwa yang mengenaskan. gejolak politik semasa yang memicu “perang” saudara hanya karena mengaminkan keinginan segelintir orang dan kepentingan dunia luar, tapi mengorbankan banyak orang yang tak berdosa.

Leave a Comment

Baca Juga

AKU masih sangat hapal betul peristiwa malam itu. Malam ketiga di awal tahun enam puluh enam. Malam yang seluruh isi kampung penuh cemas dan sunyi. Anjing-anjing penjaga kampung sekalipun tak berani menggonggong lewat pukul tujuh malam. Beda hal dengan kerumunan kodok ijo di persawahan yang terus meminta hujan. Pohon dan semak merayakan bunyi paling sunyi. Angin juga sesekali ikut terlibat dalam hening.

Sejak meletusnya peristiwa berdarah akhir tahun lalu, ketakutan dan kecurigaan lalu lalang di pikiran kami. Waktu itu aku masih berusia sepuluh tahun. Dimana anak-anak seusiaku yang sebagian besar adalah anak-anak petani yang jarang mendapatkan pendidikan di sekolah rakyat ikut turut terjun ke sawah. Tetapi, aku salah satu orang yang beruntung.

Pamanku, adik paling bungsu dalam keluarga bapakku, seorang guru di kota. Meskipun ia seorang guru di kota dan merantau ke kota, ia tak sekali pun melupakan kampung kami. Tanah kelahirannya. Tanah buyutnya.

Dua kali dalam seminggu ia datang ke kampung. Mengajari anak-anak kampung membaca dan menulis. Setiap awal sore, sekira pukul tiga, sepeda kumbangnya sudah terparkir di halaman rumah kami. Lalu ibu menyeduhkan teh atau kopi dan beberapa potong ubi goreng yang diambil dari ladang. Berdatanganlah anak anak lainnya yang baru saja selesai membantu ibu bapaknya di sawah. Sebuah pondok bambu yang dibuat dari swadaya masyarakat kampung menjadi tempat belajar kami dalam dua kali seminggu.

Tiga jam menjadikan waktu kami untuk mengenali huruf-huruf, menyusunnya menjadi kalimat, membaca dan menuliskannya di buku yang dibelikan oleh Paman. Tidak banyak memang anak yang belajar dengan pamanku, tapi itu tidak menjadikan hati Paman mengecil dan putus asa. Ia pernah bertitah, "kalian-kalian inilah nantinya yang akan mengajarkan adik-adik kalian menulis dan membaca." Sejak saat itu, dalam benakku, aku bercita-cita menjadi seorang guru. Seseorang yang mengajari puluhan anak-anak membaca dan menulis. Menyelamatkan satu generasi dari garis kebodohan di kampungku. Paling tidak, itulah niatku saat ini. Kata Ibu, segala sesuatu harus dimulai dengan niat yang baik dan tulus agar Tuhan pun ikut meridhoi keinginan tersebut.

Dua tahun Paman menjadi guru bagi dua belas anak di kampung kami. Dua belas anak-anak seusiaku terselamatkan dari buta huruf. Bagi keluarga kami dan sebelas keluarga lainnya, Paman menjadi seorang pahlawan. Seperti seorang nabi yang datang membawa pencerahan bagi suatu kaum. Seorang Mesias di abad dua puluh. Kami pun sudah pandai membaca dan menulis. Paman sudah mulai membawakan koran untuk kami baca, untuk mengetahui apa-apa yang sedang terjadi, lalu aku membacanya dan memberitahukan setiap peristiwa yang tercatat di surat kabar kepada Bapak. Bapak selalu tersenyum ketika aku menjelaskan peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di negara ini. Kemudian Bapak melihat sawahnya kembali.

"Tahun ini memang tahun yang kurang baik," kata Bapak.

Berbulan-bulan kampung kami dilanda kemarau panjang. Biasanya, pertengahan tahun sudah terlihat tanda-tanda akan memasuki musim hujan, tapi lain halnya dengan tahun ini. Bapak memang seorang yang giat dalam bekerja. Belum lagi matahari terlalu tinggi membumbung, Bapak sudah berada di sawah. Mencangkul atau membajak sawah. Bapak salah satu anggota dari kelompok tani yang tujuannya untuk membangun koperasi para petani di kampung kami.

Harga bahan pangan sering naik, begitu pun harga gabah. Tengkulak-tengkulak sering memonopoli harga gabah, imbasnya terhadap petani yang terus didera ketimpangan. Beruntung Bapak salah satu anggota kelompok tani, kelompok yang mengelolah hasil panen dan menentukan harga padi sebelum diserobot para ijon.

Memasuki akhir bulan September tahun enam puluh lima, peristiwa besar terjadi di negeri kami. Siaran warta radio memberitakan telah terjadi kudeta yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisir dari sebuah partai, tujuannya untuk merebut kekuasaan.

"Tujuh Jenderal disiksa dan dibunuh, lalu dimasukan ke dalam sumur tua," begitu kata warta berita yang kami dengar di radio milik kepala kampung.

Banyak orang mengutuk keras tindakan kelompok yang membunuh para Jenderal dan ingin merebut kekuasaan. Kekacauan dan demonstrasi dimana-mana. Huru-hara terjadi di setiap daerah. Koran-koran ramai berita. Untuk terakhir kalinya, Paman datang dengan membawakan sepotong koran untuk kami baca sepekan setelah terjadinya peristiwa berdarah di ibu kota. Sejak saat itu, kabar pamanku raib dari kampung kami. Seperti ikut tenggelam bersama pusaran keadaan. Anak-anak di kampung sebagian merasa kehilangan sosok pahlawan dalam hidup mereka, tanpa terkecuali aku sendiri sebagai keponakannya.

Sejak tragedi yang terjadi di Jakarta, kampung kami semakin mencekam. Semakin pekat gelapnya malam. Meski kampung kami berada sangat jauh dari kota Jakarta, kampung kami juga turut mencekam. Semakin bising bunyi sunyi. Apa lagi sejak tersebar isu-isu miring tentang penculikan dan pembunuhan di beberapa tempat. Di segala sudut negeri ini semakin dilanda ketakutan dan kecurigaan. Rasa was-was dan curiga membuntuti tiap-tiap pasang bola mata dimana pun. Kami tak lagi memiliki rasa percaya pada siapa pun, karena di setiap detik apa saja bisa berubah. Beberapa detik yang lalu menjadi seorang teman, beberapa detik kemudian bisa menjadi seorang pembunuh. Mengerikan. Bumi kami seperti kehausan darah. Negeri kami terus meminta tumbal daging dan darah. Nyawa manusia tak ada bedanya dengan hewan buruan. Masing masing saling membunuh agar tidak dibunuh.

Mereka yang bersenjata dengan leluasa dan tanpa dosa membunuh yang tak berdaya.

Awal tahun enam puluh enam, minggu ketiga awal tahun, sebuah peristiwa yang akan selalu tinggal dalam ingatanku terjadi. Pukul delapan malam, angin berhembus pelan. Suara kodok minta hujan diam-diam merayap masuk kedalam lubang-lubang tepas rumah. Anjing-anjing penjaga kampung seperti memiliki firasat yang ganjil pada kampung kami. Mereka semua terlihat pucat dan hanya rebah di teras-teras rumah penduduk. Burung hantu tak bertamu malam itu. Konser keheningan melanda kampung.

Terdengar suara mesin, sebuah truk berhenti beberapa rumah dari rumah kami. Derap sepatu berlompatan ke tanah kering. Ibu mengintip dari balik tirai jendela. Sepasukan tentara mendobrak pintu rumah Pak Kosim. Tak lama pecahlah suara tangis dari rumahnya. Pak Kosim, teman bapakku di kelompok tani, dan anaknya yang baru saja menikah dimasukan ke dalam truk dengan tangan terikat. Lalu berpindahlah mereka ke rumah Pak Bahar, kepala kampung yang juga menjadi kepala kelompok tani. Ia disergap tak berdaya, lalu dicampakan bagai mayat binatang buruan ke dalam truk.

Malam semakin pekat warnanya. Bulan kian pucat di langit. Daun-daun terdiam di pohon. Ternak tak miliki nyali untuk bersuara. Memang setiap makluk memiliki insting. Begitu juga anjing-anjing kampung yang tak berani melolong. Yang terdengar hanyalah isak tangis dari para perempuan yang akan segera ditinggal suami untuk rentang waktu yang tak diketahui.

Bayi-bayi melolong menangis keras. Sebuah tembakan pecah di rumah Pak Khaidir. Pecah pula tangis istri dan anaknya. Ketakutan merajam kampung kami. Wajah ibu kian putih pucat. Ibu berlari ke kamar untuk berkemas, memindahkan pakaian-pakaian menjadi gembolan. Bapak terburu-buru menggantikan sarung dengan celana yang terpotong. Adikku paling kecil terbangun dan menangis. Aku mencoba mengintip ke luar jendela. Seorang diinterograsi.

"Mana yang lain?", bentak seorang tentara disusul dengan penyodokan gagang senapan ke dahi kepala Bang Mansur.

"Kalau kamu diam, kamu bisa mati saya tembak!"

Dengan satu pukulan di kepalanya, laki-laki itu rubuh jatuh pingsan. Tangannya diikat lalu tubuhnya dibawa masuk ke dalam truk.

Beberapa orang tentara berjalan menuju rumah kami. Aku berlari menghampiri ibu yang berkemas. Belum selesai ibu memasukan pakaian dan surat-surat, dobrakan pintu terdengar kencang. Seorang dengan suara keras memanggil nama Bapak. Suara dan derap sepatunya semakin mengencangkan tangis adikku. Bapak disergap waktu hendak membuka pintu belakang rumah. Sebuah pukulan datang ke dada Bapak yang kurus. Bapak terjatuh, tetapi tak pingsan. Bapak diseret keluar rumah. Kemudian sepasang tangannya diikat dengan tali. Bapak ikut dibawa ke dalam truk, beberapa orang yang lebih dulu di dalam truk dengan tubuh tanpa daya tertunduk. Ibu menangis dan memohon agar bapak tidak dibawa. Sia-sia. Ibu terjatuh di depan pintu. Matanya yang ditenggelamkan air mata mengikuti laju truk yang makin lama makin menghilang di kegelapan. Pecahlah suara tangis di kampung kami. Anjing-anjing penjaga mulai melolong. Raungnya memecah sunyi. Langit yang pucat baru saja meninggalkan kilat petir di angkasa. Asap truk, bau mesiu, dan amis darah menjadi bau busuk di hidung kami. Udara terasa sesak. Rongga dada kami begitu hampa. Tinggallah kami menunggu kabar, ataupun menanti berita duka.

Bertahun tahun setelah peristiwa itu. Aku tak mendapatkan kabar tentang Bapak. Sekalipun tidak. Begitu juga dengan Ibu. Juga teman-temannya yang ikut dibawa pergi. Ibu sudah pasrah dan rela pada kepergian Bapak. Baginya, hanya Tuhanlah yang tau di mana keberadaan Bapak sekarang ini. Tak ada sepucuk kabar pun datang setelah Bapak dibawa pergi. Hanya doa dan harapan yang membuat Ibu tetap bertahan hidup sampai sekarang. Walau setelah peristiwa malam itu, Ibu pulang kerumah kakek membawa aku dan kedua adikku. Ibu belajar mengubur peristiwa malam itu di hatinya yang paling dalam. Kata orang, rumah kami dibakar. Sawah kami digarap oleh orang asing. Entah bagaimana cara Ibu memendam duka abadinya. Yang aku tahu, senyum Ibu tidak seperti dulu lagi.

Aku mencoba melupakan itu semua. Ketika aku tumbuh dewasa. Marah dan dendam juga ikut ku kubur di bawah tumit kakiku. Aku meminta restu pada Ibu untuk pergi ke kota. Mencari pekerjaan. Mencari kehidupan yang barangkali tidak akan ditemukan di kampung ibuku. Dengan keterampilanku dalam hal menulis yang diajarkan oleh Paman, aku mendatangi sebuah perusahaan jawatan. Aku masuk ke dalam ruangan kepala jawatan. Amplop coklat yang berisi surat permohonan untuk bekerja aku serahkan. Kepala jawatan membuka dan membacanya. Kemudian matanya menodong mataku. Lama ia terdiam menatap kosong wajahku, kemudian diselingi dengan mengecek kembali daftar riwayat diriku. Aku terdiam. Aku tidak mengerti membaca isyarat tubuh orang lain. Lambat lambat terdengar suara keluar dari mulut kepala jawatan dengan mata yang masih menodongku.

"Kamu anak dari anggota PKI?"

Matanya menyalak. Menembakkan anak panah tepat di jantung. Mati seketika mesin di tubuhku. Aku terdiam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sebelum mulutku mengeluarkan kata-kata jawaban, tangan si kepala jawatan menuju ke arah pintu. Aku paham tentang isyarat satu ini, ia mengajukan aku untuk keluar dari ruangannya secepat mungkin. Aku takkan bisa lagi menjawab pertanyaan si kepala jawatan. Untuk sekarang ataupun di waktu berikutnya. Sebuah belati sudah ia tusukkan ke dadaku. Menembus langit biru di luar sana. Rasa sesak yang pernah datang beratus-ratus tahun lalu, datang kembali. Begitupun langkah kaki kaku yang ku seret keluar menuju senyum terakhir Bapak di malam penjemputan itu.

***

Medan, 02 Mei 2018.

*Ilustrasi oleh Aga Depresi

1 thought on “PENJEMPUTAN TERAKHIR

  1. sebuah deskripsi sejarah yang menarik dengan kemasan narasi yang apik, mampu membuat aku mengenang peristiwa demi peristiwa yang mengenaskan. gejolak politik semasa yang memicu “perang” saudara hanya karena mengaminkan keinginan segelintir orang dan kepentingan dunia luar, tapi mengorbankan banyak orang yang tak berdosa.

Leave a Comment

Baca Juga